
Setelah membaringkan istrinya Satya segera keluar kamar, kini ia duduk di samping bundanya. Ayah Nugraha
tersenyum menatap anaknya yang terlihat lelah, ketiganya saling diam.
“Apa kamu akan pergi di pernikahan Arnold?” tanya Ayah Nugraha sambil menatap ke arah Satya
yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu.
“Belum tahu Yah,” jawabnya sambil menarik nafas dalam.
Bunda yang dari tadi hanya diam kini mulai melihat ke arah suami dan anaknya, wanita yang
masih terlihat cantik itu tak lama tersenyum kepada Satya.
“Apa alasannya kamu enggak pergi, bukankah dia sudah kamu anggap seperti saudaramu
sendiri,” ucapnya sambil menatap lekat anaknya.
“Senja kemarin sempat ngeflek Bun, jadi dia tidak boleh terlalu capek,” ujarnya.
“ Kok bisa! Jadi tadi kalian dari Dokter?” tanyanya bertubi-tubi.
“Sudah kemarin dari Dokter nya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Apa kata dokter, Nak?” tanya Ayah.
Satya langsung menoleh ke arah ayahnya, ia tersenyum merasa bingung haruskah ia menceritakan
ke pada kedua orang tuanya. Namun, kalau ia tidak bicara jujur pasti bundanya akan terus bertanya kepadanya.
“Sebenarnya sebelumnya Satya yang salah,” katanya sambil menatap kedua orang tuanya.
“Bunda kurang faham kamu salah apa?”tanya bunda sambil menghadap ke arah anaknya.
“Bby terlalu kuat goyangannya Bun,” sahutnya yang sudah di tangga paling bawah.
Bunda dan Ayah saling tatap, setekah itu keduanya tertawa lepas. Satya yang malu langsung
menutup wajahnya, berbeda dengan Senja yang berjAlan santai ke arah dapur untuk mengambil es cream buatannya kemarin.
“Bby kenapa?” tanyanya yang heran melihat suaminya menutup wajahnya pakai tangan.
Satya wajahnya sudah merah, begitu juga dengan bunda dan ayah Nugraha. Senja begitu heran di saat ia jujur tapi kedua mertuanya malah tertawa, mata Ayah Nugraha sampi keluar air mata.
“Satya gerah mau mandi dulu,” ucapnya sambil segera pergi ke lantai dua.
Bunda dan Ayah Nugraha masih tertawa, saat melihat anak semata wayangnya pergi meninggalkan ruang keluarga dengan rasa malu.
“Ingat goyangannya jangan kuat-kuat!” teriak bunda
Senja hanya tersenyum menatap kedua orang tuan suaminya itu, ia juga merasa bingung kepada
suaminya apa dia salah, kalau ia kenapa tak menegurnya.
Bunda dan Ayah segera pamit ke Senja karena sudah mulai sore, Senja mengantarakan ke dua
__ADS_1
mertuanya sampai di teras rumahnya. Kemudian ia melambaikan tangannya kepada
keduanya, setelah mobil yang dikendarai oleh Ayah Nugraha pergi meninggalkan rumahnya
wanita itu segara masuk rumah. Senja segera masuk kamar untuk membersihkan diri,
tapi ia tak melihat suaminya.
Kini dia pergi ke ruang kerja suaminya, sayup-sayup ia mendengar kalau Satya sedang berbicara
dengan seseorang. Senja juga melihat wajah suaminya merah setelah mendapatkan telepon
dari seseorang.
Senja segera menghampiri suaminya, ia mengusap lengan suaminya berharap tidak ada masalah apa-apa.
“Siapa yang telepon?” tanyanya sambil melihat suaminya menahan marah.
“Pak Kusuma,” jawabnya.
Senja hanya mengangguk, walau Alan adalah sahabatnya, tapi kalau masalah bisnis keduanya wanita yang tengah hamil muda itu tidak mau ikut campur.
Senja juga tidak tahu mengapa suaminya bisa semarah itu, di tatapnya Satya yang tengah
memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya yang mungkin terasa pusing. Senja
mengecup kening suaminya, ia berharap suaminya mau berbagai masalahnya
kepadanya.
Satya membuka matanya dilihatnya istrinya kini berdiri di belakangnya, kemudian ia memutar
“Apa Mmy akan mempertahankan rumah tangga kita apapun yang terjadi nantinya,” ucapnya.
Senja terdiam, ia tidak mengerti dengan maksud suaminya. Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu suaminya, tapi rasanya sudah tidak ada yang ditutupi keduanya.
Senja menarik nafas panjang, dia paling tidak suka kalau di suruh berjanji karena itu
akan membuat beban untuk dirinya. Dan kenapa baru sekarang suaminya menanyakan
hal ini kepadanya.
“Tergantung, seperti apa yang harus dipertahankan,” jawabnya.
Satya menganggukkan kepalanya, ia tahu perusahan yang di milik grup Kusuma sangat besar ada cabang di setiap kota. Yang Satya tahu Alan lah pewaris tunggal dari grup Kusuma.
“Seandainya kamu disuruh milih, harta dengan keluarga kamu pilih mana?” tanya Satya sambil menarik istrinya supaya duduk di pangkuannya.
“Apa Bby tidak tahu, pernikahan kita ini terjadi karena harta! Jadi kalau Bby suruh Mmy milih
tentu harta, bukankah itu yang Bby mau,” ucapnya tegas tanpa senyum.
Satya hanya diam, bukan maksud hatinya untuk menyinggung istrinya. Namun ini ada hubungannya
dengan permintaan Kusuma.
__ADS_1
“Sayang bukan maksud Bby seperti itu, kita lupakan masalah itu,” ucapnya sambil menenggelamkan
wajahnya di tengkuk istrinya.
Satya menghirup aroma yang begitu memabukkan aroma dari tubuh istrinya ini, mau tidak mau ia harus mengatakan permintaan Kusuma tadi.
“Bby sebenarnya ada apa?” tanyanya sambil menatap ke arah suaminya dengan intens.
Satya menceritakan kalau pak Kusuma tadi menghubunginya hanya ingin mengikuti permintaan istrinya, Istri pak Kusuma berharap kalau Senja bisa menikah dengan Alan karena istrinya sudah telanjur sangat menyayangi Senja.
Senja yang mendengar itu terkejut, di tatapnya suaminya dengan intens. Apa Alan tidak memberi taukan
ke orang tuanya kalau ia sudah menikah.
“Bby di suruh mendekatkan mu dengan Alan, karena mulai besok Alan akan turut langsung memimpin proyek kerja sama dua perusahan di tambah dengan perusahan kakek yang kini Rendy pegang.
“Apa yang dia tawarkan?” tanya Senja.
Satya tersenyum menatap istrinya, ia kecup bibir yang terlihat cemberut itu. Tapi bukanya membalas Senja yang kesal malah menggigit bibir Satya.
“Sayang sakit, berdarah kan! “ ucap Satya yang memegang bibirnya berdarah karena digigit oleh istrinya.
“Jawab, apa yang di janjikan oleh Pria itu!” teriaknya.
Satya terkejut, Senja menangis di depannya. Satay yakin kalau istrinya sudah salah paham
dengan dengannya.
“Sayang apapun yang di janjikan nya, Bby tidak akan terima,” ucapnya sambil menatap istrinya
yang sudah berlinang air matanya.
“Bukankah dengan menukarkan ku untuk menjadi istri Alan, perusahan Anda akan untung besar
dari kerja sama itu,! Teriaknya.
Satya langsung memeluk istrinya dengan erat, di mencium kening istrinya supaya tenang.
“Sayang jangan teriak-teriak, biar Bby jelaskan apa yang tadi di bicarakan oleh Ayahnya Alan,”
ucapnya.
Senja yang sudah bisa tenang kini ia menatap suaminya dengan inténs, di lihatnya suaminya
menarik nafas dalam-dalam kemudian melihat ke arahnya.
“Sepertinya dia tidak tau kalau kita sudah menikah, dan mereka tahunya kalau kita hanya saudara
sepupu. Namun, kita harus bertemu dengan Alan apa dia tahu rencana orang tuanya
ini.” ujarnya panjang lebar.
“Apa Bby yakin kalau orang tua Alan tidak tahu kalau Mmy istrinya Bby?” tanyanya
“Iya sayang, kamu percaya kepada anak itu kan,” katanya.
__ADS_1
Senja hanya mengangguk dan ia akan mengirimkan pesan kepada Alan kalau Ayah nya tadi telepon suaminya,
menceritakan kepada sahabatnya untuk memberitahukan kepada ayahnya kalau ia sekarang sudah menikah