PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
episode 107


__ADS_3

Alan yang sedang mendengarkan musik sambil main game di handphonenya tiba-tiba ada pesan masuk dari bidadari surga, pria tampan itu hanya tersenyum melihat. Kemudian ia segera membuka pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu.


Alan begitu terkejut membaca pesan yang dikirimkan Senja padanya, Alan segera keluar kamar menuju ruang keluarga dimana ada Papa dan Mamanya yang sedang mengobrol serius.


"Papa, jangan bikin malu diri Papa sendiri," ucapnya sambil duduk di depan kedua orang tuanya.


"Alan sopan dikit kalau bicara dengan Papamu, Nak!" kata mama sambil menatap tajam ke arah anaknya.


Alan hanya menarik nafas panjang, ia begitu kesal. Namun, ia masih ada waktu untuk memperbaikinya saat ini.


"Pa, apa perasaan papa kalau ada yang ingin mendekati  Mama, dan orang itu menginginkan Mama untuk menjadikan istrinya," kata Alan sambil menatap kedua orangtuanya.


"Kamu ini kenapa? apa salah minum obat, hah?" tanya Mama sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang semakin aneh.


"Pasti papa akan pasang badan," jawabnya tegas.


Alan tersenyum, ia yakin orang tuanya tidak tahu siapa Senja. Jika tahu pasti tidak akan pernah meminta Satya untuk mendekatkan Senja dengan dirinya.


"Begitu juga yang akan Satya lakukan, dia memasang badan saat ada rekan bisnisnya yang menginginkan istrinya untuk  di jodohkan dengan anak tunggalnya," ujar Alan sambil menatap keduanya dengan seksama.


"Kamu itu ya kebiasaan, mama hanya menyuruh Papa untuk menghubungi Satya supaya Senja dan kamu bisa dekat. Karena Mama yakin dia wanita yang istimewa," ucapnya sambil tersenyum menatap anaknya.


"Asal Mama dan Papa tahu Senja itu istrinya Satya," katanya sambil menggelengkan kepalanya melihat Mama dan Papanya bergantian.


Hening keduanya sama-sama terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja di dengarnya."Apa kamu serius?" tanya Mamanya.


"Iyalah...," jawabnya.


"Astagfirullah, jadi kita bikin keduanya ribut enggak?" tanya Mamanya.


Alan menarik nafas dalam-dalam, harusnya hal itu tidak dibicarakan lagi. Mungkin jika dirinya di posisinya Satya mungkin akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan yang bersangkutan.


"Besok papa akan ke kantornya, untuk minta maaf," ucapnya.


Alan tak menjawab, tapi ia tahu kalau orang tuanya juga shock seperti dirinya waktu itu mendengar kalau Senja adalah istri dari seorang Satya Nugraha


Alan segera kembali ke kamarnya, melihat itu mamanya menjadi tak enak begitu juga dengan suaminya ada rasa bersalah kepada Satya.


“Papa besok kita datang ke rumahnya saja bagaiman? biar mama ikut,” ucapnya karena merasa bersalah kepada Senja. .

__ADS_1


Papa Kusuma sebenarnya merasa malu, benar apa kata Alan tadi jangan bikin malu diri sendiri.


“Iya…sekarang kita istirahat dulu, besok pagi kita ke rumah Satya.” Ucapnya sambil tersenyum menatap istrinya. Kini keduanya masuk ke kamar untuk istirahat,


*****


Pagi yang cerah, secerah wajah wanita yang kini tenang hamil tiga bulan, Senja merasa sangat lega karena kehamilannya sudah memasuki tiga bulan, itu artinya kini ia sudah mulai kurang mualnya. Wanita itu sudah bisa meminu susu hamil tanpa memuntahkannya.


“Bby, Alan ada balas pesan Mmy semalam, dia minta maaf atas nama orang tuanya,” ucapnya sambil memakai bajunya.


“Iya,’ jawab Satya singkat.


Senja tersenyum mendengar jawaban singkat dari suaminya.


“Singkat banget jawabnya babang tamfan,” godanya sambil mengecup bibir suaminya.


Satya hanya menarik nafas panjang, karena istrinya pagi-pagi sudah mengodanya. Pada hal dari tadi Satya mencoba menahannya saat melihat istrinya memakai baju  di depannya.


Satya mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa kalau di rumah godaan dari istrinya semakin kuat. Pria tampan itu semakin takut kalau sampai khilaf, membuat anaknya berbahaya di dalam sana.


Dilihatnya istrinya sudah siap untuk turun, Senja menarik tangan suaminya supaya turun bersama.


Kini keduanya sedang duduk di meja makan, saat sedang sarapan tiba-tiba bel rumah berbunyi bik Ida yang di dapur segera berlari kecil menuju pintu depan, untuk melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini.


“Den ada pak Kusuma di ruang tamu,” kata bik Ida.


Satya terkejut mendengarnya, kini ia segera berdiri untuk menemui tamunya di pagi hari. Senja yang sudah siap sarapan segera menuju ke dapur untuk membuat teh untuk tamunya, di lihatnya bik Ida tangan membuat teh.


“Bik ada kue enggak?” tanyanya.


“Ada Non,” jawabnya sambil mengeluarkan bronies buatan bik Sum yang masih hangat. Senja segera menyusun di piring kemudian ia mengangkatnya untuk di suguhkan  ke tamunya, saat Senja sampai ruang tamu ia melihat mama dan Papanya Alan tersenyum melihatnya.


“Silahkan Om, Tante,” ucapnya sambil meletakan teh ke atas meja,


“Terimakasih, Nak,” ucapnya lembut sambil menatap Senja.


“Sama-sama Tante,” jawabnya tersenyum ramah kepada tamu suaminya.


“Begini kedatangan kami ke sini untuk meminta maaf atas kekurangajaran saya sudah menyuruh Nak Satya untuk mendekatkan Alan dengan Senja,” ujarnya sambil menatap Satya dan Senja bergantian.

__ADS_1


“Saya rasa karena miss komunikasi saja, Pak,” jawab Satya sambil tersenyum walau dalam hati ia begitu geram.


“Senja maafkan tante ya, semoga kalian berdua segera diberi momongan,” ucapnya sambil menatap Senja.


“Alhamdulillah , ini sedang isi, jawab Satya sambil tersenyum menatap istrinya.


 


Mama Alan terkejut, karena ia sebagai dokter kandungan tidak melihat kalau Senja sedang hamil. Diperhatikannya perut Senja.


“Benarkah Nak?” tanya mama Alan.


“Iya Tante, tidak kelihatan karena saya memakai baju agak longgar,” jawabnya.


Senja merasa lega akhirnya kesalahpahaman ini selesai, tapi ia melihat suaminya sepertinya masih begitu kesal kepada pak Kusuma dan istrinya.


“Ya sudah kami pamit ya Nak. kalau mau periksa datang saja ke klinik tante,” ucapnya sambil tersenyum.


“Iya tante Insha’Allah.” Jawabnya.


Keduanya mengantar pak Kusuma dan istrinya sampai di teras, setelah mobil pak Kusuma tidak terlihat lagi keduanya baru masuk ke dalam.


“Bby masih kesal ya?” ucapnya.


“Maaf Bby selalu terngiang permintaan di telepon kemarin, sayang.” Jawabnya sambil menarik istrinya ke pangkuannya.


“Bby ingat baru mau masuk tiga bulan,” kata Senja membuat Satya cemberut.


“Kamu hari ini ikut ke kantor saja ya, yang.” Ucapnya.


Senja menatap suaminya, hari ini dia memang tidak ada


kelas. Namun, ia ada janji dengan sari untuk melihat butik Diana.


“Bby nanti siang Mmy ada janji sama sari untuk melihat ke butik Diana,” ucapnya.


“Nanti sari biar diantar oleh ibnu,” jawabnya.


Kalau sudah seperti itu Senja sudah tidak berkutik lagi dibuatnya, mau enggak mau ia akan membatalkan janjinya kepada Sari. Satya tersenyum saat melihat istrinya mengetik sesuatu ke ponselnya, Senja melirik lewat ujung matanya ke suaminya .

__ADS_1


Satya terkekeh melihat istrinya yang sok galak tapi begitu mengemaskan baginya. Kini keduanya sudah di dalam mobil, selama di perjalanan Senja memutar musik lagu salah satu band indonesia, terkadang ia ikut bernyanyi.


Hal itu membuat Satya seperti mengulang lagi masa-masa ia kuliah dulu, tapi bedanya sekarang istrinya yang kuliah.


__ADS_2