
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, selama perjalanan keduanya sama-sama terdiam, Ibnu fokus menatap ke depan. Tak sekalipun ia menatap wanita yang duduk di sampingnya sekarang.
Ibnu kembali dingin seperti saat dia mengajar di kelas hal itu membuat Sari menjadi tidak tenang, bukan maksud dia untuk mengakhiri hubungannya dengan dosennya. Namun, untuk menikah dia rasanya belum siap di usia muda seperti ini.
Sesampainya di rumah Sari Ibnu hanya diam, kemudian Sari keluar dari mobil hanya mengucapkan terima kasih setelah itu mobil melaju dan kecepatan tinggi membelah keheningan malam.
Sari menarik nafas dalam-dalam, ia sungguh tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Aku masih mencintaimu, Killer," lirihnya lalu masuk ke rumah.
Sedangkan Ibnu yang sudah sampai rumah langsung masuk kedalam kamar, ia harus menenangkan hatinya.
Ibnu menyadari kalau umur keduanya terpaut jauh, wajar kalau Sari menolaknya. Namun, kenapa baru sekarang?
Ibnu begitu dibuat frustasi, apa yang akan ia katakan kepada Kedua orang tuanya dan Neneknya nantinya.
Apakah ia harus meninggalkan kota ini dan kembali lagi ke Jakarta, kota yang mengingatkan dirinya dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu.
Dimana ia harus kehilangan wanita yang begitu di cintainya, tapi di saat dia menemukan wanita yang lain sayangnya kekasihnya belum siap untuk menikah dengannya.
Ibnu sekarang masuk kamar mandi untuk berendam, mungkin dengan begitu ia bisa lebih berfikir jernih untuk memutuskan apa yang akan ia lakukan kemudian.
*****
Pagi hari yang cerah di kediaman Wijaya.
Radit yang baru sampai dengan istrinya langsung masuk menuju ruang kerja papanya, hal itu yang membuat Mery heran.
Papa Wijaya melihat anaknya yang seperti menahan marah merasa heran, kini keduanya saling pandang.
"Ada apa?" tanya papa Wijaya.
"Apa mas'ud papa untuk merubah proposal kerja sama dengan keluarga Nugraha?" tanyanya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ingat kita bisnis harus sama-sama menguntungkan!" katanya sambil mentap tajam kearah anaknya.
Papa Wijaya tidak menyangka kalau Radit masih sering main wanita,pada hal ia sudah ada isteri.
Semua ia dapat dari laporan anak buahnya yang ia suruh mengawasi anaknya itu.
__ADS_1
Selama Radit menikah dengan Mery dua Minggu yang lalu, entah kenapa papa Wijaya merasa kinerja anaknya menurun.
Namun, pria paruh baya itu tersenyum karena akhirnya anaknya menikah.
Walau pernikahan mereka di lakukan di luar negeri, karena demi nama grup Wijaya.
Egois memeng itu yang kini papa Wijaya lakukan, tapi bagi Radit tak membuat acara pesta di pernikahannya tidak masalah karena ia kurang menyukai keramaian.
"Radit ingat besok kamu harus sudah ke Bali, untuk mengurus perusahaan yang disana" ucapnya mengingatkan anaknya.
"Iya Pa, Radit ingat," jawabnya sambil bersandar di sofa ruangan papanya.
Ini adalah resikonya ia menikahi Mery, harus mau memegang anak cabang yang ada di Bali. Radit berharap ia dan istrinya bisa saling mencintai.
Melihat suaminya hanya diam saja membuat Mery merasa bosan, ingin keluar ruangan rasanya enggak sopan sama mertuanya.
Mantan istrinya Satya Nugraha itu kini menatap Radit yang masih memejamkan matanya.
"Mas, ke luar yuk," ajaknya lirih.
Radit membuka matanya sambil bersandar di sofa, ia hanya mengangguk. Namun, baru saja akan melangkah keluar papa Wijaya menghentikannya.
Mendengar itu Radit hanya memutar matanya, berbeda dengan Mery terlihat begitu bahagia karena akan bertemu dengan Satya mantan suaminya.
Papa Wijaya melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, entah sampai kapan ananya tidak menyukai Satya.
Andai kejadian memalukan itu tidak terjadi kepada anaknya, pasti ia tidak akan merasakan malu seperti ini kepada Satya.
Papa Wijaya begitu kagum dengan Satya, ia mampu menyimpan perlakuan anak dan mantan istrinya. Pria paruh baya itu tidak bisa membayangkan seandainya waktu itu ahli waris dari grup Nugraha itu membeberkan apa yang sebenarnya terjadi.
Papa Wijaya memijit pelipisnya, kini ia harus benar-benar meminta maaf kepada Satya dan keluarganya.
Pria paruh baya itu akan menerima apa keputusan dari ahli waris grup Nugraha itu.
Tak berapa lama papa Wijaya keluar dari ruangan kerjanya, saat ia menuruni tangga terdengar pertengkaran antara Radit dan istrinya.
Papa Wijaya yang tak mau ikut campur urusan rumah tangga anaknya, kini mengurungkan niatnya untuk kebawah.
Pria paruh baya itu hanya bisa menghela nafas panjang, kalau saja waktu itu Radit tidak merengut keperawanan Mery pastinya hal ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
Sementara di di lantai bawah, Radit sekekeh tidak ingin ikut untuk menghadiri acara makan malam bersama keluarga Nugraha.
Sedangkan Mery memaksanya harus ikut, Radit bukannya bodoh! ia tahu maksud dari tujuan istrinya agar ikut acara nanti malam.
Radit berharap Mery benar-benar melupakan Satya, karena ia begitu yakin kalau pria itu sekarang sudah bahagia dengan istrinya yang sekarang.
"Mas....pokoknya kita harus ikut," ucap Mery sambil menatap wajah suaminya.
"Kita pergi ketempat lain saja," jawabnya sambil menyeringai.
"Aku enggak mau!" katanya langsung berdiri sambil menghentakkan kakinya kelantai.
Hal itu membuat Radit hanya tersenyum menanggapi tingkah istrinya, tapi ia berharap istrinya mau mengerti maksudnya tadi.
Radit harus lebih bersabar menghadapi Mery, ia yakin wanita itu akan berubah berlahan. Namun, ia berharap Mery dan Mamanya bisa dekat seperti Senja dan Bundanya Satya.
Apa lagi nanti ia akan pindah ke Bali pastinya akan jauh dari kedua orangtuanya.
Radit segera naik ke lantai dua untuk melihat istrinya yang sedang kesal kepadanya, tapi saat ia hendak masuk kamar bersamaan dengan kedua orang tuanya keluar dengan pakaian yang rapi.
"Papa sama Mama mau kemana?" tanyanya sambil menautkan kedua alisnya melihat keduanya berpakaian santai.
"Mau shoping," jawab keduanya kompak.
Radit hanya mengangguk, kemudian ia segera masuk kamar, saat melihat Mery tidur sambil dia hanya tersenyum. Tak lama ia juga ikut berbaring di samping istrinya, istri yang sampai sekarang masih belum bisa move on dari mantan suaminya.
Sakit, tapi tak berdarah itu yang kini ia rasakan. Namun, dia yakin sekarang sudah bisa mencintai Mery walau wanita itu belum mencintainya.
Jika suatu saat nanti, ia dan istrinya belum juga bisa saling mencintai selama setahun sesuai perjanjian keduanya akan berpisah.
Namun masih banyak waktu buat Radit, untuk membuat istrinya mampu mencintainya lahir dan batin.
Meskipun itu bukan hal gampang baginya, tapi bila ia lebih bersabar menghadapi sifat kekanak-kanakannya Mery. Insyaallah hari itu akan datang masanya ia akan mengarungi rumah tangga bahagia bersama istri dan anaknya kelak.
Berlahan di usapnya pipi Mery dengan lembut, sebenarnya wanita ini baik. Namun, sayangnya ia terpengaruh dengan sahabatnya yang suka main ke club' yang membuat Radit meradang waktu itu.
Seandainya saja istrinya izin mau pergi ke mall atau ke tempat orang tuanya, sudah pastinya waktu itu ia izinkan. Namun, Mery izin untuk pergi ke club malam jelas saja ia tidak mengizinkannya.
Dari situlah awal pertengkaran keduanya, tapi ia yakin akan bisa membuat Mery berubah untuk menjadi Ibu dari anak-anaknya kelak.
__ADS_1
Kalau saja ia bisa berubah, sudah pastinya istrinya juga bisa. Hanya saja waktunya yang belum tepat untuk istrinya menyadarinya.