PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Rencana Senja


__ADS_3

Satya ibaratkan bukan sebagai suami, tapi bisa menjadi kakak dan orang tua untuk istrinya, Deo tersenyum, tapi sedetik kemudian pria itu bergidik karena tidak bisa membayangkan jika ia yang berada di posisi Ranga tidak akan sanggup.


"Jadi apa rencana Abang?" tanya Leo kepada Ranga.


"Kita lihat sejauh mana keduanya mau bermain-main," ucap Ranga.


Ayah Nugraha yang sedari tadi diam, berkata."Kita bisa awasi Leon Ferdi apa mereka terlibat!"


Satya menatap Ayahnya, sedangkan Senja berjalan duduk di samping mertuanya. Melihat Senja seperti itu Ranga  dan yang lainnya saling tatap.


"Apa?" tanya Ayah Nugraha.


"Ayah lihat," bujuk Senja.


"Ini pesan untuk Ayah, Nak." Ayah Nugraha mencoba meyakinkan menantunya.


"Yang!" kata Satya.


Lagi dan lagi wanita itu hanya patuh akan ucapan suaminya. Melihat Itu Ayah Nugraha tidak tega dan memberikan kepada Senja.


Senja membacanya dan menatap Ranga lekat. Wanita itu menatap adik iparnya itu membuat Satya merasa heran.


"Mas, lihat ini?" tanya Senja.


Satya membaca kertas dan langsung menggenggamnya, pria itu menatap Ayahnya dan bertanya."Ranga kamu nanti antara Senja bisa?"


"Antar kemana?" tanya Ranga,


"Ke Malang, Kak," jawab Senja membuat Satya melotot.


Senja langsung tergelak melihat ekspresi dari suaminya yang terlihat begitu shock. Alan melihat itu berkata."Kalau Bang Ranga tidak bisa biar gue aja."


"No, Aku mau Kak Ranga," kata Senja sambil memeletkan lidahnya ke Alan.


Satya hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah istrinya itu saat bersama sahabatnya.


"Gue malas, lo mau kemana sih?" tanya Ranga.


"Ada meeting dan itu harus gue yang datang besok," ujar Satya.


Ranga hanya mengangguk karena ia tidak ingin berada di lapangan langsung sekarang, Senja melihat itu begitu lega, begitu juga dengan Ayah Nugraha.


Ranga sama sekali tidak curiga akan apa yang dikatakan Senja dan Satya. Pria itu beranjak dari duduknya hal itu membuat Senja khawatir.


"Kakak mau ke mana?" tanya Senja.

__ADS_1


"Istirahat, kenapa mau ikut?" tanya Ranga membuat Satya melempar bantal kepada Ranga. 


Melihat itu Senja hanya tersenyum, karena ia khawatir jika pria itu menemui Diana.


"Jangan terlalu takut, percaya kepada Ranga." Ayah Nugraha mencoba menenangkan  menantunya.


Satya mengajak istrinya untuk duduk di sampingnya, Kini tinggal Ibnu dan sahabat Senja serta Ayah Nugraha.


"Dari informasi dari rekan saya jika Leon ingin membalas sakit hati mamanya," ujar Leo.


"Maksudnya?" tanya Satya.


Leo menceritakan jika Mama Leon dan Ferdi menikah karena dijodohkan, Sampai Mama Leon melahirkan dan meninggal sama sekali membuat Ferdi tidak menyesal. Semua itu terjadi karena Ferdi masih begitu mencintai Fifi,.


"Itu bukan salah Bunda Fifi," ucap Senja.


"Bentul, tapi menurut Leon karena Bunda Fifi mamanya meninggal," ujar Leo.


Satya terdiam, karena selama ini Leon kuliah di luar negeri. Pria itu menatap ibnu dan bertanya," Lalu siapa yang menceritakan ke Leon?" 


"Wanita yang merawatnya dari kecil," jawab Leo.


Satya hanya mengangguk, ia tidak habis pikir kenapa ada orang bersifat dendam begitu. Ibnu hanya menepuk bahu sahabatnya itu.


"Apa keduanya terlibat" tanya Deo.


Semua diam karena rekan Leo belum sampai situ untuk mencari informasinya, butuh waktu supaya lebih berhati-hati. Sebelum ada rencana yang matang mereka semua pamit untuk pulang, Senja mengantarkan sahabatnya sampai depan teras, sedangkan suaminya tengah mengobrol bersama Ibnu.


Setelah mobil mereka tidak terlihat lagi Senja dan Satya kembali lagi masuk. Melihat Ayahnya sudah tidak ada Satya mengajak istrinya untuk istirahat.


Sesampai di kamar, Senja menatap suaminya yang kini sedang memainkan pipi gembul Jingga. Wanita itu mendekatinya dan berkata."Apa kita ikuti permainan kedua orang itu sayang."


Satya menatap istrinya, ia juga begitu lelah, tapi tidak mungkin membiarkan Ranga menghadapinya sendiri. 


Senja berjalan menuju meja rias, wanita itu melepaskan hijabnya. Satya melihat itu tersenyum dan langsung memeluk istrinya.


" Jangan terlalu dipikirkan sayang, aku tidak mau kamu sakit. Sekarang cukup kamu jaga anak kita dan layani aku," bisik Satya lembut.


"Iya Mas," jawab Senja sambil tersenyum.


Satya mengajak istrinya untuk istirahat, keduanya membaringkan tubuhnya yang begitu lelah. Senja mendengar dengkuran suaminya perlahan ia bangun. Wanita itu menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya.


Senja perlahan keluar dari kamar, wanita itu saat mau ke dapur melihat Ranga dan Bunda sedang berada di meja makan.


"Kakak dari mana?" tanya senja.

__ADS_1


"Cari angin," jawab Ranga.


Bunda mendengar  itu tersenyum, putranya itu masih sama berbicara dengan Senja walau nantinya ujungnya bertengkar.


Ranga yang dulu sudah tidak ada lagi, kini ada Ranga yang dingin dan datar. Senja menatap pria di depannya dan berkata."Kakak buktikan kalau sudah move on dari wanita itu. Mau lompat dan terjun biarkan saja," ujar Senja kesal.


"Sudah makan itu ini Mienya. Senja mau, Nak?" tanya Bunda.


"Boleh ya, Bun?" tanya Senja.


"Boleh dong," jawab Bunda sambil tersenyum menatap menantunya yang saat ini sedang menatap mie kuah milik Ranga.


"Mau?" tawar Ranga.


"Ogah," jawab Senja kesal karena sedari tadi ingin mencicipi, tapi pria itu tidak menawarinya.


Selang beberapa lama, makanan Senja datang, dan berkata."Terima Kasih, Bun."


Bunda hanya tersenyum dan ikut makan bersama anak dan menantunya, wanita itu saat mendengar dari suaminya jika Ranga dan Diana tidak mungkin bisa bersatu lagi atas apa yang terjadi,


Senja yang asik makan tidak menyadari jika Ranga sedari tadi memperhatikannya, Ada rasa kasihan dan juga senang karena akan lepas dari Diana.


Ia tersenyum tipis, selama ini dipermainkan oleh Diana dan Leon. Ranga menatap bunda dan Senja bergantian.


"Bun, kalau siap bercerai aku pergi keluar negeri boleh?" tanya Ranga.


Senja mendengar itu mengangkat wajahnya, ditatapnya wajah tampan Ranga yang cuek bahkan menatapnya saja tidak.


"Nanti dah pergi lupa untuk kembali, Kak!" kata Senja ketus.


"Hanya mau tenangkan diri saja, Senja." Ranga menatap kesal istri Satya itu.


"Kalau bunda, tidak setuju." Bunda menatap putranya itu sendu.


Ranga hanya mengangguk karena apa yang ia rencanakan akan gagal jika Senja tidak ikut bersamanya. Namun, untuk izin dari yang empunya malu.


Ranga mengusap wajahnya kasar dan bilang ." Senja lo bilang sama laki lo untuk temani gue ke tempat Diana.


"Ada aman, Kak?" tanya Senja.


"Iya gue mau talak Diana, Namun, jika tetap ia tidak mau  ya harus mau." Ranga sambil terkekeh.


Senja berharap jika semua akan baik-baik saja, tapi jika Diana tidak mau di cerai itu yang membuatnya pusing.


Senja merasa kenyang saat mie kuah buatan mertuanya langsung kandas begitu saja, Ranga melihat itu berkata," Makan itu dikunyah Senja tidak langsung telan."

__ADS_1


__ADS_2