
Diana hanya menarik nafas, kemudian ia pergi berjalan keluar untuk mengangkat teleponnya. Melihat itu, Ranga segera mengikuti wanita yang sudah membuat hatinya sakit itu. Rasa cemburu saat melihat wanita yang ia cintai berjalan dengan lelaki lain, membuatnya menjauhi Diana.
Diam-diam Ranga berdiri di belakang Diana yang sedang mendengarkan telepon dari seseorang, saat wanita itu berbalik badan ia begitu terkejut dengan sosok tinggi menjulang di depannya. Untung saja Ranga membekap mulutnya, kalau tidak pasti seisi rumah akan keluar semua mendengar teriakan Diana.
Setelah Diana tenang Ranga berlahan melepaskan tangannya, Diana langsung menunduk. Namun, Ranga
segera mengangkat dagu wanita itu. Ada gelayeran aneh di dadanya saat mata keduanya saling pandang.
“Maaf,” ucapnya lirih, tapi masih didengar oleh Diana.
Diana hanya mengangguk, tapi dalam hati ia senang karena pria tampan di depannya sudah tidak dingin lagi kepadanya. Keduanya kini bisa bernafas lega , Ranga segera menarik tubuh Diana ke dalam pelukannya. Namun, tak lama ada seseorang menarik telinganya Ranga.
“Dasar Bunda cari rupanya asik meluk anak gadis orang, hah! Kalau suka cepat di lamar terus menikah yang terakhir kasih bunda cucu yang gemesain,” ujarnya panjang lebar sambil menarik telinga Ranga ia bawa masuk ke dalam rumah.
Diana begitu malu sudah ketahuan, yang membuatnya terkekeh ternyata Ranga begitu takut dengan Bundanya.
“Eh….bunda, dia sudah besar jangan di jewer juga telinganya,” bela Ayah Nugraha yang melihat Ranga meringis, apa lagi telinganya sudah merah.
“Ampun Bun, nanti pasti akan Ranga nikahi kok, tunggu waktu yang tepat saja,” ucapnya sambil mengusap telinganya yang terasa panas.
Yoga dari tadi menahan tawanya dari dulu memang Ranga diantara mereka yang sering terkena jeweran bunda, Ranga melihat Yoga mengulum senyum menatapnya dengan sinis.
“Iya tapi jangan di jewer juga Bun!” kata Ayah.
“Bagi Bunda mereka masih anak-anak,” jawabnya.
“Terus kalau mertua Satya?” tanyanya sambil menaikkan alisnya
Bunda menatap Yoga, Yoga hanya tersenyum jujur ia lebih suka dianggap anak dari pada besan, walau kenyataannya anaknya menikah dengan anak Ayah Nugraha.
Bunda menarik nafas panjang sebelum menjawab, kemudian ia tersenyum, dipeluknya Mentari yang kini duduk di sampingnya.
“Kalian anak bunda juga,” ucapnya.
Yoga ikut tersenyum menatapnya, ia begitu bahagia kedua Orang tua Satya tidak berubah dengannya walau kini ada hubungan besan.
“Ayo kita makan,” ajak bunda.
Kini semua makan bersama, hanya ada keheningan saat mereka makan. Namun, tiba-tiba ada suara yang keluar. Semua saling pandang sedangkan yang membuang gas hanya santai ikut saling pandang, Bunda menatap anaknya dengan tatapan tajam. Satya hanya menaikkan bahunya, sedangkan Senja menahan senyumnya. Pada hal dirinya yang sudah tidak tahan tapi kelepasan.
Setelah selesai makan, semua duduk di ruang keluarga karena terlalu banyak yang muda ada yang duduk lesehan di bawah.
“Gue enggak menyangka seorang Satya turun pamornya membuang gas beracun saat makan,” ledek
Yoga sambil tersenyum.
__ADS_1
Mendengar itu Satya hanya menatap Yoga datar, Mentari tersenyum. Ia melihat anaknya senyum-senyum ia yakin pelaku utama adalah anaknya.
“Jodoh memang!” kata Mentari.
“Maksudnya ?” tanya bunda.
“Istri tukang buang gas sembarangan, eh dapat suami yang samaan,” jawabnya.
Seketika semua tertawa, Satya langsung menatap istrinya. Senja hanya tersenyum, Satya heran kenapa bisa sama?
“Itulah jodoh, yang penting I love Bby,” ucapnya lembut.
Ranga hanya bisa menggeleng melihat kebucinan kedua pasangan suami istri di depannya.
“Ranga, bagaimana kalau pernikahan mu dan Arga di samakan aja,” ucap Ayah Nugraha.
“Lah memangnya sudah ada calon si kunyuk ini,” kata Yoga.
Ranga langsung melempar bantal sofa ke arah Yoga, hal itu membuat bunda memijit pelipisnya.
“Ini calon gue,” ucapnya percaya diri sambil menggenggam tangan Diana.
“Emang, udah jadian!” kata bunda Fifi sambil mengedipkan matanya ke arah Ranga.
Ranga langsung bergaya seperti orang pingsan, hal itu membuat yang lain tertawa.
“Ya..elah masih panggil om aja lo, Bund Fifi jangan kedipkan matanya jantung Ranga langsung lemah,” katanya sambil memegang dadanya.
Bunda yang mendengar itu begitu gemes dengan anaknya yang satu ini, Ayah Nugraha hanya bisa tertawa mendengarnya. Yang lainnya sudah tidak kaget lagi dengan banyolan Ranga.
“Kalau kamu bagaimana Fi, sebagai walinya saya pribadi melamar Diana untuk Ranga, mungkin waktunya kurang tepat,” ujarnya ayah Nugraha.
“Kalau saya terserah Diana saja, karena dia yang akan menjalaninya,” ucapnya sambil tersenyum menatap ke anaknya.
Hal itu membuat Diana gugup, jujur Ranga saja belum pernah mengatakan cinta padanya. Ia ingin merasakan seperti yang lainnya ada lelaki yang mengutarakan cinta kepadanya.
“Sekarang gue ingin lo ungkapin isi hati lo ke Diana di depan kita semua,” ucap Yoga dengan senyum kemenangannya.
Semua begitu terkejut dengan permintaan Yoga, begitu juga dengan Ayah Nugraha. Pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak-anaknya.
“Berani enggak Om,” tantang Senja.
Ranga hanya mengangguk, kemudian ia menatap bunda dan ayah Nugraha. Setelah itu beralih ke bunda Fifi.
Ranga kini berjongkok di depan Diana, hal itu membuat yang lain terkejut.
__ADS_1
“Aku.. tidak dapat menjanjikan kebahagiaan, tapi aku ingin kita bersama-sama mencari kebahagiaan itu dengan cara menjadikan mu ibu dari anak-anakku nantinya,” ucapnya dengan tatapan penuh cinta.
Yang lain di buat bengong dengan kata-kata yang dirangkai dengan mendadak, bunda tersenyum menatap Yoga begitu serius mengungkapkan isi hatinya. Bukan untuk pacaran tapi langsung seperti untuk mencari kebahagiaan bersama.
“Ayo di jawab,” kata Senja.
Diana wajahnya sudah merah, selain malu ia juga ada rasa bahagia dengan ucapannya Ranga tadi membuatnya melayang.
“Bunda…” ucapnya dengan menatap bunda Fifi.
Yang lain tertawa, melihat tingkah Diana yang bukanya menjawab malah memanggil bunda Fifi.
“Jawablah Nak, ikuti kata hatimu,” ucapnya tersenyum.
“I…i…iya Diana mau,” jawabnya dengan gugup.
Ranga langsung memeluk Diana dengan erat, sambil mengecup keningnya. Hal itu membuat yang lain terkejut.
“Ranga belum sah!” teriak bunda
Ranga hanya cengengesan mendengarnya, kini ia sudah melepaskan pelukannya dari Diana, tapi bunda masih menatapnya tajam karena tangan keduanya masih saling bergemgaman.
“Hihihi….maaf khilaf,” ucapnya.
“Gatal lo,” sahut yoga.
“Guekan normal Mas bro,” jawab Ranga.
Ayah Nugraha lagi-lagi harus mendengar pertengkaran kecil dari anak-anaknya, ia yang ingin menyampaikan sesuatu jadi lupa.
“Bagaimana kalau kalian menikah sebelum puasa, jadi pas makan sahur kalian ada alarm yang bangunin,” kata Ayah Nugraha.
“Ranga setuju Yah,” jawabnya semangat.
“Ranga!” bentak bunda merasa malu dengan tingkah anaknya.
Diana hanya tersenyum saat mendengar Ranga langsung setuju saja, Satya yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Lo pastikan dulu sama Diana , kalau lo siap belum tentu Diana siap,” ujarnya.
Ranga langsung menatap Diana, Diana hanya menunduk malu saat semuanya menatapnya.
“Bagaimana yang, mau..ya..mau..” bujuk Ranga yang langsung terkena lemparan bantal sofa oleh Yoga.
“Lo jangan maksa anak orang woe,” teriaknya.
__ADS_1
Yang lain ikut tertawa melihat keributan yang terjadi, Ranga begitu kesal dengan Yoga.