PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Keusilan Leon part 2


__ADS_3

Ferdinand  terlihat  begitu gelisah, kata- kata putranya  itu begitu mengganggu  pikirannya.


"Pria mana yang akan kamu jodohkan dengan Fifi?" tanya Ferdi akhirnya.


Leon mengejapkan  matanya karena ia baru saja akan terlelap.


"Papa mau tahu, atau-"kata-kata Leon langsung  terhenti karena Ferdi menyelanya.


"Fifi cinta pertama, Papa," ujar Ferdi.


Leon terkejut,  kalau keduanya pernah ada masalah. Pria itu semakin penasaran dan bertanya."Kapan itu, Pa?"


Ferdinand  mulai menceritakan  kepada putranya,  karena dulu waktu kuliah ia pernah  menjalin hubungan  dengan Fifi, tetapi  semua  itu kandas karena ia belum siap untuk menikah. Namun, Fifi  di depan oleh orang tuanya karena  waktu itu Ayahnya ingin sekali menikahkan putri semata wayang ya.


Fifi begitu kecewa karena Ferdi belum siap, hingga Feri adiknya yang maju untuk menikahinya.


Sejak saat itu Ferdi begitu membenci  adiknya hingga berimbas kepada Fifi  dan Diana saat ayah Diana  tiada  dan perusahaannya langsung  Ferdi ambil alih karena itu perusahaan  keluarga.


Leon mendengarkan  dengan seksama, pria itu menatap iba dan sekaligus  merasa kalau papanya tidak benar-benar  mencintai Bunda Fifi  waktu itu.


"Apa Papa sampai  sekarang  masih mencintai Bunda?" tanya Leon.


Ferdinand  hanya mengangguk, hal itu membuat Leon menarik napas dalam.


"Jika Papa ingin membahagiakan Bunda, Leon enggak masalah, tapi kalau hanya akan menyakiti sebaiknya  jangan!" Leon  menatap Papanya dengan tajam.


Ferdinand  hanya mengangguk, lalu ia bertanya., "Apa Diana akan setuju?"


'Diana hanya terserah kepada Bunda saja, Yang penting Papa tidak menyakitinya, "ujar Leon.


Ferdinand  terlihat  begitu berbinar, sudah mengantongi restu dari Leon dan Diana. Kini hanya tinggal  mengungkapkan  isi hatinya yang dari dulu coba ia kubur dalam-dalam. 


Cinta itu datang dengan sendirinya, mungkin itu jodoh yang digariskan kepadanya dan Fifi.


Leon geleng-geleng melihat Papanya senyum sendiri. 


"Pa, kalau kambuh jangan sekarang, rumah sakit  jiwa penuh!" goda Leon sambil menahan tawanya.


"Anak durhaka  kamu!"seru Ferdi kesal.


Leon langsung  tergelak, ia paling suka melihat pria yang sedang jatuh cinta itu kesal kepadanya. 


"Papa jangan marah gitu, jadi kapan akan melamar Bunda?" tanya Leon.

__ADS_1


"Kenapa jadi kamu yang tidak sabar, Papa saja masih santai," kata Ferdi ke putranya.


"Jangan nyesel kalau nanti ke dahuluan rekan bisnis Leon, Pa!" seru Leon sambil mengulum senyum.


"Papa bilang batalkan itu, kamu tahu papa masih cinta sama Bundamu!" perintah Ferdi.


Leon menutupi wajahnya dengan selimut tebalnya, pria itu tertawa di balik selimut itu. Baginya kapan lagi ia bisa membuat pria sombong dan Arrogant kelimpungan karena ulahnya.


"Leon, Papa serius!" Ferdi membuka selimut yang menutup wajah putranya.


"Ih, Leon ngantuk!" Leon menarik selimutnya itu kembali.


"Ya sudah Papa pergi sebentar ya," kata Ferdi keluar dari ruang rawat anaknya.


Leon hanya menaikan bahunya, rasanya begitu puas saat bisa menjahili pria sombong yang tak lain Papanya sendiri itu.


Di luar ruang rawat Ferdinand mencoba menghubungi Fifi, tetapi dua kali panggilan tak terjawab hanya suara operator saja yang terdengar.


Ferdinand merasa frustasi, pria itu kembali menghubungi nomor Fifi, tak lama terdengar suara yang begitu lembut.


"Halo, Mas ada apa?"terdengar suara Fifi dari seberang sana.


"Maaf menghubungimu malam-malam." ujar Ferdi.


Ferdinand terdiam sebentar ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih ragu. Namun, ia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya untuk kedua kalinya.


"Kamu bisa keluar sebentar enggak?" tanya Ferdinand.


"Sekarang?" tanya balik Fifi merasa aneh.


"Iya ada yang mau aku sampaikan, Fi," ujar Ferdinand.


"Baiklah, aku tunggu," jawab Bunda Fifi.


Sambungan telepon terputus, Ferdinand mengusap dadanya yang berdetak kencang padahal ia belum bertemu dengan Fifi. Pria itu berjalan melewati lorong rumah sakit menuju ke lift, sesampai di lobby ia berjalan menuju di mana mobilnya terparkir.


Perlahan mobil melaju meninggalkan area rumah sakit, Ferdinand beberapa kali menarik napas panjang. Hati yang sudah tertutup untuk wanita lain, kini mulai terbuka oleh cinta yang pertama yang sempat tidak bisa diwujudkan karena kebodohannya.


Ferdinand tidak akan mengulangi hal yang sama, apa lagi putranya itu dengan kurang ajarnya akan menjodohkan Fifi dengan pria lain. Demi apa pun, ia akan mengungkapkan isi hatinya kepada wanita yang masih bertahta dalam hatinya.


Mobil sudah memasuki butik di mana ia melihat wanita sedang duduk di depan pintu yang tertutup rapat.


"Maaf menunggu lama," kata Ferdinand.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" tanya Fifi merasa ada sesuatu yang begitu penting.


"Fifi, kamu sudah lama mengenalku bahkan tahu apa yang aku suka dan tidak," ujar Ferdinand.


"Mas kamu ini ngomong apa!"seru Fifi lirih.


Ferdinand tersenyum melihat wanita yang kini di depannya malu-malu itu, ia merasa semakin gugup dan tangannya mulai berkeringat.


"Fi, apa kita bisa merangkai cinta kita seperti dulu lagi," kata Ferdinand dengan menatap mata Wanita di depannya yang terlihat terkejut itu.


Deg, Fifi menutup mulutnya yang sempat terbuka karena shock mendengar apa yang dikatakan pria yang kini berstatus menjadi kakak iparnya itu.


"Maaf, aku tidak bisa. Sebaiknya Anda pulang karena malam kian larut!" usir Fifi tegas dan langsung masuk meninggalkan Ferdinand yang kini berdiri tak bergeming dari tempatnya saat mendengar apa yang dikatakan wanita yang dicintainya itu.


Dadanya begitu sesak, ia membalikan badan dan masuk dalam mobil. Rasa sakit yang dulu ia rasakan saat melihat wanita yang dicintainya menikah dengan adiknya. Kini luka itu kembali berdarah di saat ia akan memulainya.


Dicengkeramnya kemudi dengan begitu erat, ia tidak akan mengganggu wanita itu lagi. sekarang tujuannya menuju ke club. Tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi itu akan menjadi pilihan terakhir malam ini.


*****


Di kediaman Ayah Nugraha.


Satya yang baru pulang kerja, melihat di ruang tamu dan ruang keluarga  sepi. Pria itu langsung  menuju ke kamarnya. Senyum mengembang  saat melihat Jingga yang sedang menyusu, tepi Senja tertidur di sampingnya.


Satya langsung  meletakkan  tas kerjanya dan menuju kamar mandi, pria itu hanya butuh waktu lima belas menit saja untuk menyelesaikan  ritualnya.


Ia membuka lemari, diambilnya kaos hitam dan celana pendek. Diciumnya Jingga dan bergantian  ke kening istrinya. 


Satya tahu kalau istrinya itu begitu lelah dan kurang istirahat, Diambilnya Jingga yang kini sudah terjaga dari tidurnya. perlahan ia keluar dari kamar dan menutup pintu pelan-pelan jangan sampai sang istri terbangun.


Satya di lantai bawah melihat ada Yoga sedang asyik membaca majalah bisnis, pria itu tersenyum saat Satya datang membawa cucunya.


"Kapan pulang?" tanya Yoga.


"Belum lama," jawab Satya.


Yoga menatap wajah cantik Jingga yang mirip dengan putrinya itu. Melihat Yoga memperhatikan putrinya merasa ada sesuatu yang dipikirkan mertuanya itu.


"Jangan terlalu banyak mikir, nanti Kakek makin tua," goda Satya membuat Yoga menatapnya kesal.


"Enggak semua Kakek itu tua, buktinya gue masih muda!" seru Yoga tidak mau kalah.


"Intinya tetap Kakek!" kata Satya langsung  tergelak.

__ADS_1


bersambung ya….


__ADS_2