PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 165


__ADS_3

Di sebuah Apartemen di Jakarta, Afkar sedang memeriksa email di laptopnya. Hanum yang melihat suaminya sibuk enggan untuk mengganggu, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati wanita itu.


Afkar menoleh di mana istrinya yang kini sedang duduk di sofa depannya," Ada Apa?"


"Mas, apa boleh aku besok kerja seperti biasanya?" tanya Hanum.


"Kenapa harus kerja lagi?" tanya balik Afkar.


Hanum menatap mata suaminya intens, ia beranjak dari duduknya dan berpindah di samping Afkar.


"Maaf, aku hanya tidak ingin suntuk dan berdiam diri di rumah," ucap Hanum.


"Kamu boleh kerja, tapi pindah divisi," kata Afkar.


Hanum terkejut, wanita itu merasa kesal. Apa suaminya malu kalau dirinya masih di bagian OB. Apa begitu rendah pekerjaan itu di mata Afkar. 


"Kenapa diam?" tanya Afkar.


"Besok saya ke kantor untuk memberikan surat pengunduran diri," kata Hanum.


Afkar tersenyum, ia begitu bahagia karena istrinya mau mengerti apa yang dia inginkan. Dipeluknya tubuh kecil sang istri sambil mengucapkan," Terimakasih sayang."


Hanum hanya bisa menarik napas dalam-dalam, ada rasa sakit di hatinya ternyata suaminya malu dengan pekerjaannya selama ini.


Setelah ia keluar akan mencari kerja tempat lain, ini dia lakukan hanya untuk menjaga agar Afkar tidak malu dengan apa yang dia kerjakan.


"Besok nggak usah datang ke kantor, biar aku saja yang akan memberikan surat pengunduran diri ke HRD," ujar Afkar.


Hanum hanya mengangguk, ia tidak tau mau ngomong apa lagi.


"Kenapa hanya diam?" tanya Afkar sambil mencium pipi istrinya.


"Mas!" seru Hanum karena tangan suaminya sudah mau kemana-mana.


"Apa?" tanya santai.


Hanum tidak menjawab, tapi dia melepaskan pelukan suaminya dan berjalan menuju dapur.


Afkar hanya menarik napas dalam, istrinya itu kadang susah ditebak. Pria itu kembali menghidupkan laptopnya, sebagai lelaki normal dia juga menginginkan pelepasan, tetapi dia menahan semuanya itu karena pernikahan dengan Hanum dadakan, ia khawatir membuat istrinya terbebani.


Sejauh ini Hanum tidak pernah menceritakan apa yang ada di hatinya apa bahagia atau tidak. Gadis itu masih terlihat canggung dengannya.


Afkar melihat jam sudah jam sebelas malam, ia melihat ke arah dapur, tapi istrinya sudah tidak ada di sana.


Afkar berjalan ke dapur untuk mengambil air putih dan membawanya ke kamar karena itu kebiasaannya.

__ADS_1


Sampai di kamar ia tidak mendapatkan istrinya, tapi pria itu merasakan hembusan angin dari balkon kamar.


"Sayang," sapa Afkar memeluk Hanum dari belakang.


"Sudah siap kerjanya, Mas?" tanya Hanum dengan lembut.


Afkar hanya menganggukan kepala, "kamu kenapa belum tidur apa tidak capek dari Surabaya langsung ke Jakarta?"


"Aku sudah biasa," jawab Hanum sambil tersenyum walau suaminya tidak bisa melihatnya.


Hanum memejamkan matanya, saat suaminya mulai mengecup tengkuknya, kini ia ingat apa kata ibunya jangan pernah menolak keinginan suami, dan ingat apa yang ibu ajarkan. 


"Mas," kata Hanum dengan suara tertahan.


"Apa kamu sudah siap, sayang?" tanya Afkar dengan napas yang terasa berat menahan sesuatu.


Hanum hanya mengganggu, ini malam pertama yang tertunda untuk keduanya, Afkar mengangkat istrinya ala birded steal membawanya ke ranjang, tidak lupa menutup pintu balkon kamarnya.


Malam ini menjadi sejarah bagi keduanya untuk merasakan apa itu surga dunia, bersama mengarungi rasa yang sama-sama keduanya baru rasakan( bayangkan sendiri ya ...)


Hanum yang merasa lelah, dan perih karena suaminya minta lagi dan lagi, hingga waktu jam menunjukan pukul tiga dini hari.


"Terimakasih sayang, kamu sudah menjaganya hanya untukku," kata Afkar karena begitu senang kalau dirinya orang yang pertama menyentuh tubuh istrinya , dia yang pertama untuk merenggut kehormatan seorang wanita yang begitu berharga di dunia ini.


Afkar hanya tersenyum, biasa di apartemen ini tidur hanya memeluk guling kini bisa memeluk tubuh istrinya yang kini sudah menjadi candu untuknya.


Hanum yang lelah langsung terlelap tak lama di susul oleh Afkar yang tenaganya sudah habis untuk memuaskan istrinya eh salah untuk memuaskan nafsunya.


Pagi harinya Hanum merasakan kalau gulingnya begitu harum, ia menciumnya dan merasakan wangi dari gulingnya, tapi dia merasa heran karena gulingnya berdetak kencang seakan hidup. Perlahan Ade membuka matanya. Mata Indah itu langsung melebar saat menyadari apa yang ia cium sedari tadi.


"Apa sengaja?" tanya Afkar yang menahan sesuatu karena ulah istrinya.


"A-aku hanya-," ucapnya terhenti karena suaminya kembali membuatnya lelah, Afkar sudah tidak bisa menahannya lagi, ia langsung menyerang sang istri untuk merasakan bagaimana nikmatnya tubuh Hanum.


Satu jam berlalu, kini keduanya sudah selesai membersihkan tubuhnya, Hanum wajahnya cemberut karena Afkar tidak menepati janji yang katanya hanya sekali, tapi nyatanya di kamar mandi yang seharusnya hanya lima belas menit jadi satu jam karena ulah suaminya.


"Jangan cemberut, layani suami harus ikhlas," kata Afkar tersenyum.


"Tadinya mau ikhlas jadi enggak bisa!" seru Hanum.


Hanum terduduk di sofa,  karena  ia merasakan kalau intinya begitu sakit dan seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.


"Sayang, ayo kita sarapan," ajak Afkar yang melihat istrinya masih duduk di sofa belum berpakaian hanya menggunakan handuk.


"Apa, mau lagi?' " tanya Afkar sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Enggak!"seru Hanum kesal.


"Jadi kenapa?" tanya Afkar menatap istrinya penuh cinta.


"Sakit," kata Hanum lirih.


Afkar yang belum paham maksud istrinya hanya mengernyitkan keningnya, dilihatnya wajah Hanum yang terlihat pucat.


"Kamu sakit?" tanya Afkar.


Hanum hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan suaminya, Afkar memegang kening istrinya." Enggak panas."


"Buka itu," kata Hanum.


"Jadi?" tanya Afkar menaikan kedua alisnya.


Hanum begitu gemes dengan suaminya, ingin rasanya sekarang menendang Afkar yang berlutut  di karpet tebal di kamarnya.


"Ini," kata Hanum sambil menunjuk intinya.


Afkar mengangguk baru paham tak lama ia mengambil ponselnya," kita ke rumah sakit?"


"Enggak!" tolak Hanum dengan suara agak tinggi membuat Afkar terjingkat.


Afkar menarik napasnya supaya tidak ikut emosi menghadapi istrinya yang tiba-tiba teriak kepadanya.


"Sebentar," kata Afkar.


Afkar mengirimkan pesan kepada Faisal apa obat untuk inti istrinya itu, tapi sayang pesannya tidak dibaca oleh dokter itu. Diteleponnya nomor Faisal tak lama diangkat.


"Halo, ada apa?" tanya Faisal dari seberang sana.


"Gue mau tanya, bini gue Itunya sakit," kata Afkar sambil menatap istrinya karena ia berdiri agak jauh dari Hanum.


"Itunya apa sih, lo ngomong yang jelas!" geram Faisal.


"Inti istri gue sakit," kata Afkar sambil menahan emosinya.


"What? gila lo ya! heran gue enggak lo,  Arga dan Ranga tanya hal yang sama, sialan kalian semua!" geram Faisal merasakan jiwa jomblonya seakan meronta.


Afkar hanya terkekeh membayangkan wajah dokter keluarga Nugraha yang begitu kesal kepadanya.


bersambung ya....


Ada ide enggak untuk nama anak Senja dan Mentari

__ADS_1


__ADS_2