
Pagi hari menjelang, Senja merasakan tubuhnya begitu lemah. Namun, ia tidak ingin kalau sampai suaminya mengetahui kalau dirinya sedang tidak enak badan.
Ia bangun, kemudian segera kekamar mandi, Satya yang sedang meregangkan otot-otot tubuhnya melihat disampingnya sudah kosong. Ia mendengar suara gemericik air dikamar mandi hanya menyungingkan bibirnya, kemudian Satya mengambil benda pipih diatas nakas samping ranjang.
"Bby," kata Senja saat keluar dari kamar mandi melihat suaminya hanya memakai kaos tipis dan celana bokser.
Satya menoleh sambil tersenyum, direngkuhnya tubuh kecil Istrinya yang begitu harum.
"Kenapa enggak menunggu Bby, mandinya." Goda Satya.
"Uhhhhh....kustum Bby, begitu menggoda," balas Senja sambil tertawa.
Satya hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia segera kekamar mandi. Senja terkekeh melihat suaminya yang berniat menggodanya kini dibuat salah tingkah olehnya.
Senja segera membereskan barang-barangnya, karena sebentar lagi mereka akan segera ke Bandara.
Satya yang sudah siap, segera mengambil pakaiannya yang sudah disiapkan oleh istrinya.
"Sayang, kita sarapannya dikamar saja," kata Satya.
"Ia Bby, ini Mmy susah menutupnya," ucap Senja.
Satya menghela nafas, saat melihat istrinya yang ingin memakai baju dengan lengan puntung.
"Ganti bajunya, Bby tidak mau orang lain melihat ini," ujar Satya sambil menunjuk lengan Senja.
Dengan malas, Senja segera mencari kaos lengan panjang dan celana jeans. Kemudian ia segera mengikat rambutnya seperti ekor kuda, Satya hanya tersenyum menanggapi tatapan Istrinya yang sedang cemberut.
Tak berapa lama, sarapan yang di pesan oleh Satya sudah datang. Keduanya sarapan sambil menonton televisi.
Setelah selesai Satya melihat Jam di tangannya, sudah menunjukkan jam 8.30. Ia segera menghubungi Romi untuk menyiapkan mobil, karena sebentar lagi akan berangkat.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke lift, sesampainya di lobby Romy segera menghampirinya.
Ada rasa bersalah kepada sahabatnya itu, di tariknya Satya agak menjauh dari isterinya.
"Ada apa?" tanya Satya.
"Sebaiknya, Mama Marni jangan sampai tahu kalau kalian berpencar." ucapnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ronald!" kata Satya.
__ADS_1
"Ia bos, dari laporan anak buah gue. Kalau sebelumnya Marni dan Ronald sering bertemu," kata Romy
"Shit!" guman Satya matanya nyalang menatap sekitarnya.
"Apa Rendy tahu masalahnya," lirih Satya saat melihat istrinya berjalan mendekatinya.
"Enggak Bos," jawab Romi supaya Senja tidak mencurigainya.
"Lo kirim semuanya ke email gue..," kata Satya kemudian ia segera menuju mobil untuk berangkat ke Surabaya.
Senja yang melihat perubahan dari suaminya, merasa heran. Lagi-lagi ia hanya diam, tidak ingin ikut campur urusan bisnis Satya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Satya bingung bagaimana cara ia menghubungi Ranga, ia begitu khawatir kalau sampai Rendy membohongi dirinya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan macet, akhirnya mereka sampai ke Bandara Husein Sastranegara.
Satya segera berjalan dengan cepat, karena takut tertinggal. Ia cepat menyelesaikan cek in.
"Sayang, ayo cepat kita langsung naik pesawat," kata Satya yang melihat istrinya begitu lambat berjalannya.
Senja hanya menurut, seperti sudah tidak ada tenaga. Ia hanya bisa mengikuti suaminya dari belakang.
Sampai di pesawat, Senja langsung duduk di samping suaminya. Satya melihat istrinya begitu lemas, kemudian ia membisikkan sesuatu ke telinga senja.
"Enggak Bby, entah kenapa badanku rasanya lemas." jawab Senja.
Mendengar itu, Satya segera mengecek kening Senja. Ia menaikkan kedua alisnya, Karena merasa ragu kembali lagi mengecek leher istrinya.
"Enggak demam!" kata Satya.
"Yang bilang Mmy demam siapa sih... sayang!"Jawab Senja.
Satya terkekeh melihat Senja kesal kepadanya, kemudian ia memeluk bahu Istrinya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu wanita yang sangat dicintainya.
Senja menghela nafas, melihat suaminya yang sekarang begitu manja kepadanya. Namun, Senja merasa senang, karena Satya selalu minta di perhatian dari hal terkecil.
Tanpa terasa, pesawat yang mereka tumpangi sekarang sudah sampai di Bandara Juanda Surabaya.
Keduanya dengan santai melangkah meninggalkan pesawat, jalan beriringan menelusuri tiap lorong. Sesampainya di bagasi Dua sijoli itu ikut mengantri menunggu barangnya.
Setelah selesai, Satya dan Istrinya segera keluar. Dari jarak 10 meter ia melihat Pak Yanto, sudah berdiri sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Selamat datang kembali ke Surabaya, Nona dan Aden," sapa Pak Yanto sambil mengambil alih tas yang dipegang Satya.
"Terimakasih, Pak," jawab Satya
"Maaf Den, kita mau langsung ke rumah Aden atau ke rumah Tuan besar?" tanya pak Yanto.
"Langsung ke rumah Ayah saja Pak, Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Ayah," jawab Satya.
"Baik Den," jawab Pak Yanto.
Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang, selama diperjalanan Senja hanya menyandarkan kepalanya. Begitu juga dengan Satya, ia menatap keluar jendela entah apa yang telah dipikirkannya.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 30 menit, karena jalan begitu macet. keduanya segera keuar dari mobil, menuju ke ruang keluarga rumah Ayah Nugraha.
Ayah dan Bunda yang melihat kedatangan anak dan menantunya begitu senang, mereka berpelukan. Satya segera mengajak Ayahnya ke ruang kerja.
"Ada apa, Nak?" tanya Ayah.
Satya kemudian menceritakan kepada Ayahnya, tentang anak buah Romi yang sering melihat Nenek Marni dan Ronald bertemu secara diam-diam. Ia juga mengatakan sebenarnya rendy itu sudah tahu atau belum tentang Nenek Marni yang terlibat untuk menguasai harta dari Kakek Roby.
Ayah Nugraha begitu terkejut, saat mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya. Kemudian ia memijat pelipisnya. Satu masalah belum selesai,
kini timbul satu masalah lagi, yang lebih mengejutkannya adalah, wanita yang begitu terlihat anggun dan bersahaja ikut ambil dalam menguasai harta Roby Sanjaya.
Ayah Nugraha menatap Satya dengan intens.
"Ayah rasa, Rendy tidak tahu apa-apa masalah ini, Nak. Sepertinya Marni dan Ronald mereka mempunyai suatu hubungan yang selama ini disembunyikannya." ujar Ayah Nugraha
Satya hanya mengangguk, menanggapi ucapan Ayahnya. Namun, ia masih begitu curiga dengan Ronald.
Sepertinya mereka tidak bekerja sendiri, tapi Satya tidak mau membahasnya terlebih dahulu kepada Ayahnya. karena ia akan menunggu Rangga dan Rendy, ia ingin mereka yang menyelidiki lebih dalam masalah ini.
Sedangkan di ruang tengah, Senja yang masih begitu lemas menyandarkan kepalanya di bahu Bunda. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum, sambil mengusap kepala Senja dengan sayang.
Dari lantai dua, Satya melihat Bunda dan istrinya begitu akrab. Ia tak ingin, membuat obrolan keduanya menjadi berhenti karena kehadirannya.
Kemudian Satya segera pergi kekamarnya, ia ingin berendam di bathtub.
Sementara Senja yang ada di ruang tengah, segera ke kamar karena ia merasa sangat lelah dan ingin segera istirahat.
Sampai dikamar Senja begitu terkejut, karena suaminya sudah segar dengan rambut yang basah. Sengaja enggak dia sisir.
__ADS_1
Bersambung ya jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku. insyaallah up setiap hari.