PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 110


__ADS_3

Mendengar ancaman dari Dosennya sari tidak kaget lagi pasalnya selalu di ancam mau  cium, Ibnu tersenyum menatap Sari yang santai  saat dirinya mengancam akan menciumnya.


Tanpa izin Ibnu langsung mengecup bibir ranum milik Sari, wanita itu terkejut tubuhnya menegang dengan detak jantung yang begitu kencang.


Dengan lembut sentuhan Ibnu mampu menghanyutkannya, keduanya sekarang membalas sampai pasokan oksigen keduanya menipis baru terlepas.


Sari yang malu wajahnya sudah merona karena tingkahnya tadi begitu menikmati sentuhan lembut kekasihnya, Ibnu menatap kekasihnya dengan mata yang terlihat masih  berkabut.


Kini pria tampan itu mengulanginya lagi, tapi ini lebih berani ia mulai mengusap bahu Sari, hal Itu membuat yang empunya mengeluarkan desahan. Sari masih berpikir untuk melepaskannya, tapi tubuhnya bereaksi saat tangan hangat itu mulai menyentuh sesuatu yang dia yang sensitif bagi kaum hawa.


“Pak….” panggilnya sambil mengigit bibir bawahnya.


Ibnu yang tersadar langsung melepaskan , di tatapnya  wajah Sari dengan  intens melihat Sari menggelengkan kepalanya  Ibnu mengerti.


“Maaf,’ ucapnya segera masuk kamar mandi untuk melepaskan sesuatu yang sudah  mengantung.


Sari yang menyadari kemeja terbuka tiga kancing dari  atas segera membetulkannya, kini sari duduk di sofa sambil mengambil berkas yang akan di ceknya.


Setelah satu jam barulah Ibnu keluar dari kamar mandi dengan segar, melihat itu Sari tersenyum yang langsung di tarik hidungnya oleh Ibnu. Namun, ada rasa bangga di hatinya laki-laki yang kini duduk di depannya ini begitu bisa menahan sesuatu yang akan terjadi nanti jika ia tidak melepaskannya.


“Kamu cek ini kalau ada yang janggal tolong kamu kasih  tanda ya!” perintahnya kepada Sari.


Wanita itu hanya mengangguk, tak lama datang bik Ijah membawakan minuman dingin untuk kedua majikannya, bik Ijah tahu kalau wanita yang kini ada di ruangan majikannya adalah calon istrinya  Ibnu.


“Terima kasih bik,” ucapnya sambil tersenyum menatap bik Ijah.


Bik Ijah hanya tersenyum melihat wanita yang cantik dan ramah kepada siapa saja itu.


Kini keduanya mulai lagi sibuk dengan kerajaan masing-masing, hal itu membuat waktu tak terasa sudah mau sore. Mama yang melihat keduanya serius tidak ada yang menyadari kehadiran dirinya.


“Serius kali!” katanya sambil duduk di samping calon istri dari  Ibnu itu.


Ibnu mendongakkan kepalanya saat mendengar suara mamanya, kini ia melihat Sari yang juga terkejut karena tak melihat mama datang.


"Mama," ucapnya terkejut.


"Kenapa kalian tidak turun-turun?" tanya Mama sambil menatap anaknya dan beralih ke arah Sari.


"Ini dikit lagi, Mam," jawabnya sambil kembali lagi mengecek berkas di mejanya.


"Ya sudah Mama tunggu di bawah," jawabnya .

__ADS_1


Sari merasa iba dengan wanita paruh baya itu, ingin rasanya ia turun kebawah untuk menemaninya.


"Pak, boleh saya turun duluan?" tanyanya.


Ibnu menatap wajah cantik wanitanya, ia menarik nafas panjang.


"Iya, tapi jangan pulang dulu," ucapnya.


Sari hanya tersenyum menanggapi ucapan Dosennya itu, saat ia akan membuka pintu wanita itu berbalik badan mendekati Ibnu yang sedang serius.


Cup


Sari dengan cepat mencium pipi kekasihnya, setelah itu ia langsung ngacir keluar ruangan.


Ibnu tertegun menatap ke arah pintu, ia menggelengkan kepalanya sambil mengusap-usap pipinya yang habis di kecup mahasiswanya.


"Gadis nakal!" katanya sambil tersenyum tipis.


Kini ia kembali lagi berkerja, tapi entah kenapa Kecupan Sari tadi mengangu pikirannya.


"Lama-kelamaan bisa gila gue," ucapnya sambil beranjak keluar untuk menuju lantai di bawah


Sampai di bawah Ia melihat Mamanya dan Sari tengah berbincang dengan serius, tapi sebentar keduanya tertawa cekikikan.


"Ini hanya kusus wanita saja," jawab mama sambil mengusap air matanya yang menetes saat mendengar cerita dari Sari kalau anaknya itu di panggil Dosen killer


Ibnu hanya diam saja, sambil menganti channel televisinya. Kini Sari menatap wajahnya pria tampan yang sedang serius memlihat siaran televisi itu.


Sari sebenarnya tidak pernah untuk berfikir akan menjadi kekasihnya Sang dosen killer di kampusnya, Namun, pertemuannya di rumah Senja waktu itu awalnya.


Sampai sekarang ia juga belum berani mengatakan kepada kedua orang tuanya, ada rasa takut jika keduanya tidak merestuinya. Namun, andai boleh memilih ia akan memelilih Ibnu dari pada tingal di rumah besar tapi tidak ada perhatian dari orang tuanya.


Saat Sari sibuk berselancar dengan pikirannya, ini sudah mendekatkan wajahnya hanya tinggal beberapa centi meter saja.


Cup....


Habis itu ia segera pergi ke ruang makan di mana sudah ada nenek dan kedua orang tuanya Ibnu.


Sari hanya tersenyum sambil mengusap bibirnya, dia langsung menghampiri yang lainya untuk makan bersama.


Meraka makan dengan hening, tiba-tiba Sari terperajat saat ada sesuatu yang mengusap-usap kakinya.

__ADS_1


Sari langsung menatap tajam ke arah Ibnu, tapi pria itu hanya cuek. Padahal dalam hatinya ia terkekeh melihat wajah mengemeskan wanita di depannya.


Setelah selesai makan mereka kini duduk santai di ruang tamu, Ibnu yang hanya ingin berdua dengan pasangannya saja ahirnya mengatakan kalau perkerjaannya masih banyak.


Sari hanya diam, tapi tak menunggu lama Ibnu langsung naik kelantai dua. melihat itu Sari merasa bingung apa menyusul Ibun atau tetap berada di ruang keluarga dengan yang lainya.


Sari sangat merindukan keluarga utuh seperti ini, tapi sedang asik-asiknya Ia berselancar dikejutkan dengan kedatangan Leo, begitu juga dengan Leo yang terkejut melihat ada sahabatnya langsung mengerutkan keningnya.


"Kok lo disini?" tanya Leo merasa heran.


"Kamu itu datang bukankannya salam atau tanya kabar tante malah langsung lihat Sari," ucapnya sambil menatap Leo.


"Eh....iya, Tante apa kabar?" tanya Leo sambil nyengir.


"Basi!" katanya ketus.


"Kamu kenal, Nak sama Sari," tanya Nenek sambil tersenyum saat Leo duduk di samping Neneknya.


"Bukan hanya kenal, Nek," ucapnya.


Tak lama Ibnu datang dan terkejut saat melihat ada Leo sepupunya, keduanya tos ala anak muda.


Sekarang Sari yang di bikin kaget oleh sahabatnya, setahu dia kalau Leo dan Ibnu tidka sedekat ini di kampus. Namun, sekarang yang ia lihat keduanya akrab.


"Lo enggak jadi ke butik Diana?" tanya Leo sambil menatap Sari.


"Enggak jadi," jawabnya.


"Lah kenapa? bukannya kalian sudah merencanakan jauh-jauh hari sebelumnya.


"Iya Senja enggak boleh capek, katanya kandungan bermasalah," jawab Sari.


Leo hanya mengangguk menanggapi ucapan sahabatnya itu, kini pria muda dan tampan itu ingat tujuan untuk apa singah ke rumah Ibnu.


"Bang, kata mama ada anak dari teman arisannya yang mau kenal sama Abang, nah....siapa tahu berjodoh," ucapnya santai


Deg....Sari menatap Ibnu dan Leo bergantian, kemudian ia mengambil tasnya dan berjalan menuju kedapur untuk pamit kepada Mamanya Ibnu.


Setelah itu Sari pulang lewat pintu samping yang di tunjukan oleh art.


Saat mendengar suara mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Ibnu baru sadar itu suara mobil siapa.

__ADS_1


"Shit!" umpatnya langsung mengambil kunci mobil dan buru-buru keluar.


Leo merasa bingung! dengan sikap keduanya.


__ADS_2