
Bunda menarik napas panjang, ia juga tidak tahu kapan, Wanita itu menatap putrinya. Kemudian keluar dari ruang kerjanya menuju ke kamar. Sebelum menutup pintu, Ranga memanggilnya.
"Apa Bunda tahu kalau Papa Ferdi dirawat?" tanya Ranga.
"Apa? kamu serius Nak?" tanya Bunda Fifi terlihat khawatir.
Diana yang baru keluar dari ruang kerja Bundanya merasa heran karena kedua orang itu terlihat begitu serius.
Ada apa, Mas?" tanya Diana.
Ranga menceritakan kalau Jimmy habis menghubunginya kalau Papa Ferdi di rawat tadi malam, Diana menatap Bundanya dan berkata."Kita ke rumah sakit."
Ketiganya langsung bersiap, Saat berada di dalam mobil Bunda hanya diam hal itu membuat Diana merasa sedih. Ranga memegang tangan istrinya seakan mengatakan kalau semua baik-baik saja.
Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit mobil memasuki area rumah sakit. Ranga juga mengirim pesan kepada Satya kalau Papa Ferdi dirawat.
Saat sampai ruang rawat Leon ketiganya berhenti karena ada Jimmy sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Kak, bagaimana keadaan Papa?" tanya Diana.
"Baru sadar, sekarang Leon sedang ada di dalam," ujar Jimmy sambil tersenyum menatap Ranga.
Pintu ruang rawat terbuka, Leon keluar dengan wajah kesal, pria itu terkejut saat melihat Bunda dan adiknya sudah berada di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Papa, Kak?" tanya Diana.
Leon hanya menarik napas dalam, ia tidak tahu harus berkata apa. Tak lama Bunda berkata."Boleh Bunda masuk."
Leon hanya mengangguk, tak lama Bunda Masuk ke ruang rawat Ferdinand, dilihatnya pria itu sedang membelakanginya.
"Untuk apa masuk lagi, kalau hanya marah-marah saja sama Papa," kata Ferdinand tanpa melihat siapa yang berada di belakangnya.
Bunda Fifi hanya tersenyum, kini ia mengerti kenapa Leon keluar terlihat kesal.
"Jadi aku keluar aja ya," kata Bunda Fifi langsung membalikan badannya.
"Fifi," kata Ferdinand menghentikan langkah wanita yang dalam waktu semalam membuat hatinya hancur.
Bunda Fifi tersenyum, ia membalikan badannya menatap pria yang kini sedang menatapnya dengan wajah pucat.
"Sakit apa, Mas? Kok sampai dirawat?" tanya Bunda sambil duduk di kursi samping ranjangnya.
"Biasa sudah tua, Fi," jawab Ferdinand sambil tersenyum getir menatap wanita yang sedang tersenyum menatapnya.
"Kenapa buburnya belum dimakan?" tanya Bunda Fifi.
"Fi, kamu marah atas kejadian tadi malam?" tanya Ferdinand tanpa menjawab pertanyaan wanita yang dicintainya itu.
"Untuk apa aku harus marah, aku hargai kejujuranmu, Mas!" kata Bunda Fifi sambil tersenyum.
"Maaf," ucap Ferdinand merasa bersalah.
__ADS_1
Bunda Fifi menatap pria yang kini duduk bersandar di ranjangnya.
"Kenapa meminta maaf, Mas. Kamu enggak salah," kata Bunda sambil memberikan mangkuk berisi bubur.
"Terimakasih," ucap Ferdinand sambil menerima mangkuknya.
Kini hanya hening, keduanya sama-sama diam. Rasanya begitu cengeng.
"Mas," panggil Bunda Fifi.
"Iya," jawab Ferdinand menatap wajah cantik wanita di sampingnya.
"Apa masih ada kesempatan tadi malam," kata Bunda Fifi.
Ferdinand mengernyitkan dahinya, pria itu mencoba mencerna apa yang dikatakan Fifi.
"Tentang ungkapan tadi malam?" tanya Ferdinand.
"Iya, apa aku masih bisa merubah jawaban dari tidak menjadi Iya," ujar Bunda Fifi sambil menunduk karena malu.
Wajah yang tadinya sendu, kini terlihat begitu bahagia. Ferdinand tidak menyangka kalau Fifi akan menerimanya lagi.
"Apa kamu yakin," kata Ferdinand sambil menggenggam tangan Fifi.
"Iya, Mas," jawab Bunda sambil tersenyum.
Ferdinand langsung memeluk tubuh Bunda Fifi dan memberikan kecupan hangat di keningnya.
Tanpa kedua orang itu sadari ada Ayah Nugraha dan istrinya, dan yang lainya semua mendengar apa yang dikatakan kedua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
Wajah kedua pasangan langsung melepaskan pelukannya.
Semua ikut masuk, Leon tersenyum melihat Papanya kembali terlihat bahagia.
"Ini baru mabuk cinta, kalau tadi malam mabuk apa, Jim?" tanya Leon.
"Alkohol," jawab Jimmy singkat.
Semua yang mendengar itu terkejut, Papa Ferdinand hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Jadi Mas dirawat karena mabuk," kata Fifi.
"Mabuk ditolak cinta," cibir Leon.
"Diam anak nakal!" seru Ferdinand menatap tajam putranya itu.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa karena ulah Leon yang tidak hening menggoda papanya itu.
"Jadi kapan, ingat niat baik jangan ditunda- tunda," kata Ayah Nugraha.
"Secepatnya," jawab Ferdinand membuat yang lain tertawa.
__ADS_1
"Tunggu Leon sehat dulu, biar bisa siapkan semuanya," ujar Leon menatap Bunda dan Papanya
"Sebaiknya diadakan sederhana saja," ucap Bunda Fifi.
"Bunda!" seru Leon dengan nada memohon
"Kami sudah tua, malu kalau sampai ada pesta," ujar Fifi sambil tersenyum menatap Diana dan Leon yang akhirnya mengangguk menyetujuinya.
"Jangan sungkan, sungkan kalau ada apa-apa nanti," kata Ayah Nugraha mengusap bahu Leon.
Kini yang lain keluar karena akan pergi ke kantor. Leon juga kembali ke ruang rawatnya.
Jimmy duduk di sofa sambil menatap laptopnya.
Sedangkan Leon sibuk membalas email dari rekan kerjanya.
"Jim, apa kerja sama dengan Nugraha dan Wijaya sudah ada yang di acc?" tanya Leon.
"Dari Nugraha sudah, tinggal tanda tangan dan survei lokasi, sedangkan dengan grup wijaya agak alot karena pemilik lahan tidak mau menjualnya." Jimmy berdiri memberikan dokumen kepada bosnya itu.
Leon membaca dengan seksama, matanya menyipit saat membaca alasan kenapa tidak mau menjual lahannya.
"Hanya karena ini ia tidak mau menjual," kata Leon.
"Ya, itu katanya," ucap Jimmy.
"Sore ini buat janji dengan CEO Wijaya!" perintah Leon.
Jimmy hanya mengangguk, ia langsung mengirimkan pesan kepada sekretaris dari grup wijaya. pria berumur dua puluh tujuh tahun itu menatap Leon dengan seksama.
Leon merasa diperhatikan langsung menatap ke arah Jimmy, keningnya berkerut dan berkata." Kamu masih pria normal' kan!"
"Cih, sialan. Kamu pikir aku suka jeruk makan jeruk apa!" kata Jimmy kesal.
Leon langsung tergelak karena berhasil membuat asistennya itu marah dan kesal kepadanya. ia sampai mengeluarkan air mata karena tertawa terlalu lepas.
Jimmy yang terlihat kesal langsung beranjak dari duduknya dan keluar ruang rawat bos gilanya itu. Saat sampai di luar ia bertemu Ranga yang hendak masuk ruang Leon.
"Ada apa?" tanya Ranga melihat Jimmy mengumpat tidak jelas.
"Enggak ada," kata Jimmy.
"Jim, kapan kita buat janji?" tanya Ranga.
Jimmy menatap Ranga, ia juga lupa belum membuat agenda pertemuan dengan Satya, pria itu menatap Ranga dan berkata."Nanti dikabari."
Ranga hanya mengangguk, saat akan menekan tombol lift ia melihat Ibnu dan Sari berjalan beriringan, belum sampai memanggil Ibnu, bahunya ditepuk seseorang.
Ranga membalikan badan, matanya membola melihat siapa yang berada di depannya sekarang.
"Lo!" seru Ranga menatap orang yang kini tertawa di depannya.
__ADS_1
Bersambung ya....
Ayo tebak siapa .... uh....gantung lagi ….