PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Niat Baik


__ADS_3

Bunda menarik napas panjang, ia juga tidak tahu kapan, Wanita itu menatap putrinya. Kemudian keluar dari ruang kerjanya menuju ke kamar. Sebelum menutup pintu, Ranga memanggilnya.


"Apa Bunda tahu kalau Papa Ferdi dirawat?" tanya Ranga.


"Apa? kamu serius Nak?" tanya Bunda Fifi terlihat khawatir.


Diana yang baru keluar dari ruang kerja Bundanya merasa heran karena kedua orang itu terlihat begitu serius.


Ada apa, Mas?" tanya Diana.


Ranga menceritakan kalau Jimmy habis menghubunginya kalau Papa Ferdi di rawat tadi malam, Diana menatap Bundanya dan berkata."Kita ke rumah sakit."


Ketiganya langsung bersiap, Saat berada di dalam mobil Bunda hanya diam hal itu membuat Diana merasa sedih. Ranga memegang tangan istrinya seakan mengatakan kalau semua baik-baik saja.


Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit mobil memasuki area rumah sakit. Ranga juga mengirim pesan kepada Satya kalau Papa Ferdi dirawat.


Saat sampai ruang rawat Leon ketiganya berhenti karena ada Jimmy sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Kak, bagaimana keadaan Papa?" tanya Diana.


"Baru sadar, sekarang Leon sedang ada di dalam," ujar Jimmy sambil tersenyum menatap Ranga.


Pintu ruang rawat terbuka, Leon keluar dengan wajah kesal, pria itu terkejut saat melihat Bunda dan adiknya sudah berada di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Papa, Kak?" tanya Diana.


Leon hanya menarik napas dalam, ia tidak tahu harus berkata apa. Tak lama Bunda berkata."Boleh Bunda masuk."


Leon hanya mengangguk, tak lama Bunda Masuk ke ruang rawat Ferdinand, dilihatnya pria itu sedang membelakanginya.


"Untuk apa masuk lagi, kalau hanya marah-marah saja sama Papa," kata Ferdinand  tanpa melihat siapa yang berada di belakangnya.


Bunda Fifi  hanya tersenyum, kini ia mengerti  kenapa Leon  keluar terlihat kesal.


"Jadi aku keluar aja ya," kata Bunda  Fifi langsung  membalikan  badannya.


"Fifi," kata Ferdinand  menghentikan  langkah  wanita yang dalam waktu semalam membuat hatinya hancur.


Bunda Fifi tersenyum, ia membalikan  badannya menatap pria yang  kini sedang  menatapnya dengan wajah pucat.


"Sakit apa, Mas? Kok sampai dirawat?" tanya  Bunda sambil duduk di kursi  samping ranjangnya.


"Biasa sudah tua, Fi," jawab Ferdinand  sambil  tersenyum  getir  menatap wanita  yang sedang  tersenyum  menatapnya.


"Kenapa buburnya belum dimakan?" tanya Bunda Fifi.


"Fi, kamu marah atas kejadian  tadi malam?" tanya Ferdinand  tanpa menjawab pertanyaan  wanita yang dicintainya  itu.


"Untuk apa aku harus marah, aku hargai  kejujuranmu, Mas!" kata Bunda Fifi sambil  tersenyum.


"Maaf," ucap Ferdinand  merasa bersalah.

__ADS_1


Bunda Fifi  menatap  pria yang kini duduk bersandar  di ranjangnya.


"Kenapa meminta maaf, Mas. Kamu enggak salah," kata Bunda sambil memberikan  mangkuk berisi  bubur.


"Terimakasih," ucap Ferdinand  sambil menerima  mangkuknya.


Kini hanya hening, keduanya sama-sama  diam. Rasanya begitu cengeng.


"Mas," panggil Bunda Fifi.


"Iya," jawab Ferdinand  menatap wajah cantik wanita di sampingnya.


"Apa masih ada kesempatan  tadi malam," kata Bunda Fifi.


Ferdinand  mengernyitkan  dahinya, pria itu mencoba mencerna  apa yang dikatakan Fifi.


"Tentang  ungkapan  tadi malam?" tanya Ferdinand.


"Iya, apa aku masih bisa merubah jawaban  dari tidak menjadi Iya," ujar Bunda Fifi sambil menunduk karena malu.


Wajah yang tadinya sendu, kini terlihat  begitu bahagia. Ferdinand  tidak menyangka kalau Fifi  akan menerimanya  lagi.


"Apa kamu yakin," kata Ferdinand  sambil menggenggam  tangan Fifi.


"Iya, Mas," jawab Bunda  sambil tersenyum.


Ferdinand  langsung  memeluk tubuh  Bunda Fifi dan memberikan  kecupan  hangat di keningnya. 


Tanpa kedua orang itu sadari ada Ayah Nugraha dan istrinya, dan yang lainya semua  mendengar  apa yang dikatakan  kedua pasangan  yang sedang  di mabuk asmara itu.


Wajah kedua pasangan  langsung  melepaskan  pelukannya.


Semua ikut masuk, Leon tersenyum  melihat  Papanya kembali terlihat  bahagia. 


"Ini baru mabuk cinta, kalau tadi malam mabuk apa, Jim?" tanya  Leon.


"Alkohol," jawab Jimmy  singkat.


Semua yang mendengar itu terkejut, Papa Ferdinand hanya menggaruk kepalanya  yang tidak gatal itu.


"Jadi Mas dirawat  karena  mabuk," kata Fifi.


"Mabuk ditolak cinta," cibir Leon.


"Diam anak nakal!" seru Ferdinand  menatap tajam putranya  itu.


Semua yang ada di ruangan  itu tertawa karena ulah Leon yang tidak hening menggoda papanya itu.


"Jadi kapan, ingat niat baik jangan ditunda- tunda," kata Ayah Nugraha.


"Secepatnya," jawab Ferdinand membuat yang lain tertawa.

__ADS_1


"Tunggu Leon  sehat dulu, biar bisa siapkan semuanya," ujar Leon menatap Bunda dan Papanya


"Sebaiknya diadakan sederhana  saja," ucap Bunda Fifi.


"Bunda!" seru Leon dengan nada memohon


"Kami sudah tua, malu kalau sampai ada pesta," ujar Fifi sambil tersenyum menatap Diana dan Leon yang akhirnya mengangguk menyetujuinya.


"Jangan sungkan, sungkan kalau ada apa-apa  nanti," kata Ayah  Nugraha  mengusap  bahu Leon.


Kini yang lain keluar karena akan pergi ke kantor. Leon juga kembali  ke ruang  rawatnya.


Jimmy  duduk  di sofa sambil menatap laptopnya.


Sedangkan Leon sibuk membalas  email dari rekan kerjanya.


"Jim, apa kerja sama dengan Nugraha dan Wijaya sudah ada yang di acc?" tanya Leon.


"Dari Nugraha  sudah, tinggal tanda tangan dan survei  lokasi, sedangkan  dengan grup wijaya agak alot karena pemilik lahan tidak mau menjualnya." Jimmy  berdiri  memberikan  dokumen  kepada bosnya itu.


Leon membaca dengan seksama, matanya menyipit saat membaca  alasan kenapa tidak mau menjual lahannya.


"Hanya karena ini ia tidak mau menjual," kata Leon.


"Ya, itu katanya," ucap Jimmy.


"Sore ini buat janji dengan CEO Wijaya!" perintah  Leon.


Jimmy  hanya mengangguk, ia langsung  mengirimkan  pesan kepada sekretaris  dari grup wijaya. pria berumur dua puluh tujuh tahun itu menatap Leon dengan seksama.


Leon merasa diperhatikan langsung menatap ke arah Jimmy, keningnya berkerut dan berkata." Kamu masih pria normal' kan!"


"Cih, sialan. Kamu pikir aku suka jeruk makan jeruk apa!" kata Jimmy kesal.


Leon langsung tergelak karena berhasil membuat asistennya itu marah dan kesal kepadanya. ia sampai mengeluarkan air mata karena tertawa terlalu lepas.


Jimmy yang terlihat kesal langsung beranjak dari duduknya dan keluar ruang rawat bos gilanya itu. Saat sampai di luar ia bertemu Ranga yang hendak masuk ruang Leon.


"Ada apa?" tanya Ranga melihat Jimmy mengumpat tidak jelas.


"Enggak ada," kata Jimmy.


"Jim, kapan kita buat janji?" tanya Ranga.


Jimmy menatap Ranga, ia juga lupa belum membuat agenda pertemuan dengan Satya, pria itu menatap Ranga dan berkata."Nanti dikabari."


Ranga hanya mengangguk, saat akan menekan tombol lift ia melihat Ibnu dan Sari berjalan beriringan, belum sampai memanggil Ibnu, bahunya ditepuk seseorang.


Ranga membalikan badan, matanya membola melihat siapa yang berada di depannya sekarang.


"Lo!" seru Ranga menatap orang yang kini tertawa di depannya.

__ADS_1


Bersambung ya....


Ayo tebak siapa .... uh....gantung lagi ….


__ADS_2