PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 66


__ADS_3

Malam harinya Satya dan Senja masih tertidur di ruang keluarga, Bunda yang turun untuk mengambil air minum terkejut melihat anak dan mantunya tidur di sofa.


Bunda segera menghampiri anaknya, kemudian membangunkan Satya dan Senja.


Satya berlahan membuka matanya, ia melihat Bundanya sedang menggelengkan kepalanya.


"Bunda," ucapnya.


"Sudah jangan berisik, lebih baik kamu gendong Istrimu bawa kekamar," kata Bunda.


Satya tanpa menjawab, segera mengangkat tubuh istrinya menuju kekamarnya.


"Apa bawakan bayinya," lirih Bunda.


Saat Bunda hendak naik tangga, ia melihat pintu depan terbuka.


Muncul wajah tampan Arnold, Bunda terlihat panik bukannya Arnold akan pulang ke Jakarta," batin Bunda.


"Bunda kenapa?" tanya Arnold yang melihat wanita paruh baya itu terlihat gugup.


"Enggak, Nak." jawab Bunda kemudian ia masuk kekamarnya.


Arnold hanya menghela nafas panjang, kemudian ia segera masuk kamar tamu.


Arnold merasa bingung, siapa yang mencarikan Papanya pengacara dengan bayaran yang fantastis itu.


Karena terlalu lelah, Arnold akhirnya tertidur.


Di dalam Kamar Ayah Nugraha.


Bunda menatap wajah suaminya, ia merasa gugup bagaimana kalau Arnold bertemu dengan Angkasa da Melati.


Haruskah ia minta tolong suaminya, untuk menyembunyikan sahabatnya itu.


Sedang persidangan kurang dua Minggu lagi.


Bunda membangunkan suaminya, kalau sampai Ayah Nugraha tidak tahu kalau Arnold masih disurabaya bisa bahaya.


"Apa sih Bun, Ayah ngantuk," kata Ayah saat tubuhnya di goyang-goyang Istrinya.


"Ayah, dibawah ada Arnold," kata Bunda berbisik ditelinga suaminya.


"Apa? bukannya dia pulang ke Jakarta?" tanya Ayah.


"Itu dia, tadi Bunda lihat dia baru pulang." bisik Bunda.


Ayah Nugraha menatap istrinya, ia juga bingung bagaimana kalau Arnold mengetahui kalau Tantenya masih hidup.


"Sebaiknya besok, kita kasih tahu mereka. Namun, Arnold harus bisa menjaga rahasia ini," ucapnya.


"Bunda setuju aja, Yah. Sepertinya Arnold ada di pihak kita," kata Bunda.


Kemudian keduanya berbaring lagi, Bunda tersenyum saat suaminya memeluknya dari belakang.


"Bunda, mau lagi," bisik Ayah Nugraha ke telinga Istrinya.


"Enggaklah Bunda capek, Yah," kata Bunda segera memeluk gulingnya.


"Sekali aja Bunda," rayu Ayah.

__ADS_1


"Besok lagi ya," jawab Bunda


Terdengar helaian nafas Ayah yang terdengar begitu berat, saat dirinya ingin olahraga malam Istrinya menolaknya. Namun bukan Ayah Nugraha namanya kalau tidak biasa menaklukkan Istri bar-barnya.


Ia berbalik kembali lagi memeluk istrinya, Bunda yang merasakan pelukankan hangat suaminya hanya tersenyum. Pasti banyak cara suaminya, untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.


"Bun...dosa lo nolak melayani suami," ucap Ayah dengan senjata pamungkasnya.


Bunda menarik nafas panjang, ia berbalik menatap suaminya. Ayah Nugraha tersenyum, saat melihat senyum termanis Istrinya.


Keduanya kemabli lagi merengkuh kenikmatan, untuk membuat Adik Satya. Kini keduay kembali lagi terlelap, karena kelelahan.


Pagi hari suara burung-burung berkicau sangat merdu, Senja semenjak siap sholat subuh merasa tubuhnya semakin lemas.


Ia keluar dari kamar mandi, sudah rapi karena hari ini ada kuliah pagi. Saat Senja akan turun tangga merasakan kepalanya semakin pusing, Ia segera duduk di tangga paling atas.


Arnold yang baru dari dapur untuk membuat kopi terkejut, melihat istri dari sahabatnya itu duduk bersandar di tangga.


"Lo ngapain?" tanya Arnol dari bawah.


Senja membuka matanya, kemudian dilihatnya Arnold dengan pandangan yang kabur.


"Kenapa Om Arnold jadi ada banyak?" tanya Senja sambil menggeleng kepalanya.


Arnold mengkerutkan keningnya, ia melihat kekanan dan kirinya tidak ada orang.


"Lo masih ngantuk ya," kata Arnold.


"Om tolong Senja," kata Senja dengan lirih.


Arnold yang hendak pergi meninggalkan Senja berhenti dan berbalik badan, dilihatnya Senja wajahnya terlihat sangat pucat dan keringat dingin mulai keluar.


"Tolong gue Om," lirih Senja.


Arnold segera mengangkat tubuh Senja, dan membaringkan di sofa dekat tangga. Kemudian Arnold segera mengetuk-getuk pintu kamar Satya, mendengar teriakkan Arnold membuat penghuni yang lainnya terbangun.


Tak lama pintu kamar Satya terbuka, Ia terlihat begitu kesal dengan Arnold.


"Apaan sih?" tanya Satya.


"Tuh...lo....lihat Senja sudah mau pingsan," kata Arnold sambil menunjuk sofa yang ada Senja.


Satya mengikuti arah pandangan Arnold, seketika matnya membelalak.


"Mmy!" teriak Satya yang terlihat panik.


"Bby... kepala Mmy pusing," ucap Senja lirih.


"Ia sayang, sekarang kita istirahat dikamar ya," kata Satya.


Satya segera memindahkan Istrinya ke kamarnya yang dibantu oleh Arnold, Satya begitu Khawatir saat badan Senja panas.


"Bro, tolong telepon Faisal dan panggilkan Bunda," ucap Satay.


"Ok," jawab Arnold yang terlihat juga panik.


Setelah menghubungi Faisal, Arnol segera kekamar Bunda.


Tok...tok...tok...

__ADS_1


"Bunda....Ayah...," triak Arnold.


Angkasa dan Mela yang mendengar kehebohan dari pagi ingin keluar, tapi takut karena sudah dilarang oleh Ayah Nugraha jangan keluar kamar dulu karena ada Arnold dirumahnya.


Sedangkan dikamar Satya, melihat istrinya masih demam begitu gelisah. Pasalnya Istrinya sedang hamil anaknya.


Bunda jalan tergopoh-gopoh dengan Ayah Nugraha menuju kamar Satya.


"Sejak kapan demamnya, Nak," kata Bunda.


"Kurang tahu juga, Bun," jawab Satya.


Mendengar itu Bunda langsung memukul lengan Satya, merasa gemes. Namun, rasa khawatirnya kepada Senja mengalahkan emosinya.


Tak lama datang Dokter Faisal, ia segera masuk kamar Satya.


"Sejak kapan demam," kata Faisal.


Satya hanya menggelengkan kepalanya, melihat itu Arnold segera menceritakan saat Senja duduk di tangga.


Semua yang ada dikamar menatap Satya dengan heran, Faisal tersenyum setelah itu segera mengecek tekanan darah Senja.


"Selamat ya, ia tengah hamil, tapi darahnya rendah jangan sampai kelelahan." kata Faisal.


Mendengar itu yang lain merasa lega, mereka kira Senja ada penyakit serius.


Setelah selesai Faisal segera pamit, Satya melihat Arnold kemudian ia tersenyum.


"Terimakasih, bro." kata Satya.


"Ia sama-sama, kayak sama siapa aja." jawab Arnold sambil mengusap bahu Satya .


Satya melihat kepergian sahabatnya hanya tersenyum, ia kembali lagi mengompres Istrinya.


Tak lama, Bik Sum datang membawa bubur untuk Istrinya. Satya mulai mengaduk-aduk bubur dalam mangkuk supaya cepat dingin.


Senja melihat itu sekilas terlihat senyum dibibirnya, suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Sayang, ayo bangun kita sarapan habis itu minum obatnya," ucap Satya sambil mengulurkan suapan kemulut Senja.


Senja mulai memakan, dengan mata yang terpejam ia merasakan rasa buburnya begitu aneh.


"Kenapa?" tanya Satya.


"Buburnya rasanya hambar, Bby." Kata Senja


"Benarkah, coba Bby rasa," kata Satya sambil tersenyum.


"Bagaimana! enggak enakkan rasanya," kata Senja.


"Sayang ini enak, rasanya gurih," jawab Satya.


"Huwaaa, jangan-jangan Indara perasa Mmy rusak Bby," teriak Senja .


Satya begitu terkejut, melihat istrinya menangis histeris.


"Ada apa?" tanya Bunda yang terkejut, karena saat keluar kamar mendengar tangis Senja.


Bersambung ya...jangan lupa tinggalkan jejak 🙏

__ADS_1


__ADS_2