PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Merindu


__ADS_3

Satya menyipitkan matanya, saat ada mobil mengikuti mobil Senja. Satya mencengkeram  kemudinya. Ia tidak habis pikir kenapa kemana istrinya pergi ada yang mengikutinya. Satya yakin sang istri sadar kalau ada dua mobil yang mengikutinya. Hingga Senja yang harusnya belok ke kanan, kini mengambil arah ke kiri.


Senja tersenyum tipis wanita berhijab itu makin melajukan kecepatan mobilnya hingga harus membanting setir ke kanan karena tiba-tiba sebuah mobil menutup akses jalannya. Dari mobil di depannya ada empat orang turun dan langsung menghampiri mobil Senja. 


Senja keluar dari mobil dengan tangan melingkar di dadanya, wanita itu masih terlihat santai saat ke empat pria keluar lagi dari mobil yang satu lagi.


"Wah, ternyata target kita cantik," kata salah satu pria yang terlihat tato di lengannya.


Senja hanya diam, tanpa mereka tahu jika wanita itu sedang mencari celah untuk bertahan nanti, sebuah mobil mengklakson, tidak lama Satya keluar dari mobil membuat Senja membulatkan matanya.


"Tuan, Nona mobil Anda menghalangi mobilku," kata Satya sambil mengedipkan matanya ke istrinya.


Senja hanya menatap malas suaminya sudah dikatakan jika jangan mencarinya, tapi masih saja nekat. 


"Kamu bisa mencari jalan lain, anak Muda, "jawab pria itu.


"Maaf saya buru-buru, Tuan, Tolong pinggirkan mobilnya dan kamu juga Nona!" kata Satya yang mulai dingin.


Senja sama sekali tidak bergeming, sedangkan pria itu mengepalkan kedua tangannya karena merasa Satya akan menghalanginya untuk menangkap targetnya.


"Serang pria itu, "kata salah satu yang terlihat seperti pemimpin.


Satya dengan senang hati melawan dan menghindar, karena hanya satu orang dengan mudah Satya melumpuhkan lawannya.  Melihat anak buahnya dengan mudah dikalahkan oleh Satya membuat pria itu begitu geram.


"Serang pria itu!" perintahnya kepada anak buahnya.


Senja yang melihat suaminya di lawan enam orang merasa tidak mungkin Satya mampu melumpuhkannya, dengan gerakan cepat wanita itu menyerang pria yang dirasa bosnya itu.


Satya yang baru kali ini melihat Senja berkelahi seulas senyum mengambang dari bibirnya. Keduanya saling hindar dan lawan hingga Satya tinggal melawan empat orang lagi yang lebih kuat dari yang lainnya. Senja dengan lihai mengeluarkan  pisau kecil dari pergelangannya ia langsung menyayat denyut nadi pria itu di bagian lehernya.


"Tuan kalau tidak ke rumah sakit ,Anda akan mati kehabisan darah," ujar Senja langsung membantu suaminya karena Satya mulai terdesak. 


Satya yang melihat istrinya mendekat ke arahnya langsung berbisik."I love you  Mmy."


Senja hanya menggelengkan  kepalanya bisa-bisa suaminya itu menggodanya  dalam keadaan terdesak seperti ini.


Dalam hitungan menit Satya dan Senja bisa melumpuhkan  musuhnya, musuh langsung di bawa masuk mobil oleh temannya. 


"Sayang," Satya langsung memeluk istrinya erat.


"Mas nggak mau dengar jangan mencariku!" kata Senja kesal.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, bagaimana aku bisa hanya berdiam diri di rumah sedangkan istriku di luar bersama anakku." ujar Satya.


"Siapa yang kasih tahu Mas kalau aku ada di sini?" tanya Senja.


Satya hanya tersenyum, pria itu menatap sang istri lekat." Ayo aku kangen dengan Jingga sayang."


Senja hanya bisa menarik napas dalam, sudah susah payah ia kabur dan wanita itu lupa siapa suaminya yang sebenarnya.


Mobil keduanya sampai di depan rumah sederhana, Bik Sum keluar menatap Satya terkejut. Namun, Satya tersenyum  menatap bik sum dan Jum yang sama-sama terkejut.


"Kok bisa, Non ?" tanya Bik Sum,


Senja menceritakan kepada semuanya jika ia tidak sengaja bertemu, saat itu apa ;pagi karena sudah ada dua mobil mengikutinya.


Mendengar apa yang diucapkan Senja wanita itu begitu panik dan berkata." Nona tidak apa-apakan?"


"Bibik tenang saja, aku tidak apa-apa," jawab Senja.


"Syukurlah," kata Bik Sum.


"Non, itu suaminya?" tanya bik Jum yang baru saja kali ini bertemu dengan Satya.


"Iya Bik," jawab Senja.


"Bik Jum salah, yang membuat bik Sum awet muda itu pak Yanto," sahut Satya.


"Mas!"seru Seru Senja.


Satya hanya tergelak saja, karena istrinya galak, tapi begitu menggemaskan . Satya memberikan putrinya ke bik Sum kemudian pria itu langsung mengangkat sang istri untuk dibawanya ke kamar.


"Ya Allah Mas, malu tahu!" seru Senja saat sudah berada di dalam kamar.


Satya memeluk istrinya erat, saat keduanya sedang berpelukan dengan Senja yang masih pakai hijab, Satya mengangkat telepon dari Rendy.


"Apaan?" tanya Satya.


"Ponakan laknat lo, tahu gue ada acara ,malah bawa Senja dan Jingga pergi!" kata Rendy kesal.


Satya Video call Rendy tidak lama terlihat wajah Omnya yang kesal. Wajah Mentari berbinar saat menantunya bisa menemukan putri dan cucunya.


Mentari sudah tahu karena besannya yang cerita, wanita itu tidak bisa menyalahkan Bunda atau pun Senja karena saat ini hanya yang terpenting hanya ingin anak dan mertuanya itu akan kembali hangat. Namun, ia juga yakin kalau putrinya akan memaafkan Diana.

__ADS_1


Mentari juga begitu kecewa atas sikap Diana karena demi Bundanya selamat ia harus membiarkan anak dan cucunya terluka.


"Sayang," panggil Mentari.


Senja yang tadinya sembunyi di dada bidang suaminya mulai menampakan wajahnya. Melihat itu mentari menjadi malu karena ia belum menutup auratnya sedangkan  anaknya sudah siap.


"Ibu," panggil Senja dengan air mata yang menganak sungai.


"kamu masih nakal, mana cucu Ibu, Nak?" tanya Mentari.


"Ada Bu, sama Bik Sum," jawab Senja.


Saat  Senja sedang asik bercerita dengan Mentari, Satya sibuk membuat tanda kepemilikan di tempat favoritnya walau kini harus berbagi dengan Jingga.


Senja yang tidak ingin Ibunya tahu apa yang sedang dilakukan suaminya. Langsung mengambil alih ponselnya.


Satya sesekali membuat istrinya saat berbicara tak jarang hampir mendesah. Yoga yang kini sedang memberi wejangan kepada putrinya.


"Lain kali kalau ada masalah dihadapi bukan kabur sayang," ujar Yoga.


"Iya yah, maafkan Senja," ujar Senja.


"Minta maaflah kepada Bunda karena beliau sekarang masih dirawat, karena langsung drop saat tahu kalau kamu tidak ada di rumah, Nak." Yoga menasehati putrinya supaya mau mengerti akan kondisi mertuanya itu.


"Bunda sakit, Yah?" tanya Senja merasa sedih.


"iya apa Satya tidak cerita, mana ana itu, bisa-bisanya anak Ayah tidak dikasih tahu!"seru Yoga  kesal.


Senja hanya tersenyum saat Ayahnya mencari menantunya itu." Mas, Ayah cari."


Satya dengan terpaksa menyudahi apa yang sudah ia lakukan, wajahnya terlihat cemberut di tatapnya ponsel yang hanya berisi wajah Yoga saja.


"Kamu dari mana?" tanya Yoga.


"Huff kalau nggak ingat bini gue anak lo udah gue kirim lo ke antartika sana!" Seru Satya kesal.


"Menantu durhaka lo!"seru Yoga.


Satya hanya menatap Yoga kesal, pria itu ingin cepat mengikuti istrinya mandi dan bertanya." Masih ada yang mau diomongin lagi nggak?" 


"Lo mau kemana?" tanya Yoga.

__ADS_1


Satya lagi-lagi hanya mendengus dan berkata," Mau ikut Senja mandi."


Satya langsung mematikan panggilan teleponnya ia tidak peduli jika Yoga akan marah saat bertemu nanti.


__ADS_2