PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 150


__ADS_3

"Hanum, kamu kenapa?" Afkar bertanya sambil mengguncangkan tubuh gadis di sebelahnya.


Air matanya tak berhenti mengalir, apa lagi saat pria arogan di sampingnya mengguncang-guncang bahunya.


"Hanum."


"Saya enggak apa-apa, Pak." Hanum menjawab sembari mengusap air matanya.


Afkar keluar dari mobil, pria itu berjalan menuju penjual minum di pinggir jalan, saat ia kembali matanya menatap nanar wajah pucat yang berusaha tersenyum. Pria itu memberikan satu botol yang sudah dibukanya untuk Hanum.


"Apa kamu pernah trauma?" tanya Afkar sambil mengirimkan pesan ke Satya.


"Tidak pernah, Pak. Hanya ...." Kata Hanum terhenti saat Afkar memeluk tubuhnya.


"Diamlah, dulu saat aku ketakutan Ibuku selalu memberikan pelukan hangatnya seperti ini," ujarnya.


Tubuh Hanum langsung menegang, karena baru kali ini ia di peluk lelaki selain Ayah dan Adiknya. Jantungnya berdebar kencang, ia yakin pria yang memeluknya merasakan juga. Hingga Afkar melepaskan pelukannya saat handphonenya berdering.


"Kita jemput pak Satya dulu, ya" ucapnya sambil kembali menghidupkan mobilnya.


Hanum tak menjawab, gadis itu masih begitu shock atas kejadian barusan. Kini mobil yang dikemudikan oleh Afkar membelah keramaian jalan ibu kota. Setelah empat puluh lima menit mobil yang dikemudikan asisten Arga itu sampai di depan mall di mana Satya dan Senja menunggunya.


Hanum segera turun, saat Satya dan Senja akan masuk mobil. Melihat itu Afkar hanya menggelengkan kepalanya.


"Masuklah!" titahnya.


"Tapi Pak ...." Hanum menghentikan ucapannya kala Afkar menatapnya tajam.


Gadis itu akhirnya kembali lagi duduk di samping Afkar, sedangkan Senja tersenyum tulus saat matanya bertemu dengan Hanum. Mobil kembali melaju menuju ke rumah Yoga sesuai permintaan Satya.


"Af, minggu depan aku harus balik ke Surabaya, jadi urusan kantor kamu yang handle," ucapnya sambil mengusap perut Senja.


"Iya Pak," jawabnya sambil fokus mengemudikan mobilnya.


"Kak Afkar, kenapa enggak dikenalkan? siapa dia?" tanya Senja sambil tersenyum.


"Itu enggak penting, Nyonya," jawab Afkar.


"Hai, siapa bilang enggak penting!" teriak Senja marah, ia paling tidak suka kalau ada wanita tak di hargai.

__ADS_1


"Siapa namamu?" tanya Senja kepada Hanum.


"Saya Hanum, Nyonya," jawabnya.


"Jangan panggil saya Nyonya, saya enggak setua itu Hanum, bahkan umur kita sepertinya tidak begitu jauh." Ujarnya.


Satya hanya diam mendengarkan apa kata sang istri, sedangkan Afkar beberapa kali harus menelan salivanya saat Senja menatapnya tajam, sesekali wanita yang sedang hamil tua itu memukul lengan Afkar yang sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.


Tak lama mobil sudah memasuki gerbang rumah milik Yoga, bersamaan dengan kedatangan Yoga dan Mentari yang baru sampai juga.


"Kalian dari mana?" tanya Tari menatap anaknya.


"Habis nonton, Bu." Jawabnya sambil menatap Hanum yang berdiri di samping Afkar.


"Af, kamu langsung pulang saja, tapi kamu antarkan dulu Hanum ya," selanya sambil menggandeng tangan Senja untuk masuk rumah.


"Baik Pak," jawabnya kemudian pria itu masuk mobil yang diikuti oleh Hanum.


"Pak, saya turun di simpang depan saja," katanya.


"Kenapa?"


Afkar tetap melajukan mobilnya, pria itu tak mengindahkan perkataan gadis di sampingnya. Hanum hanya bisa menarik napas panjang, ia berharap asisten dingin di sebelahnya ini.


"Kita cari makan dulu, ingat jangan kabur lagi!" telaknya sambil menghentikan mobilnya di depan restaurant.


"Pak, saya masih ada ini." ucapnya sambil memperlihatkan bungkusan dari restaurant.


"Itu pasti sudah dingin, Ayuk aku sudah lapar." Ajaknya.


Afkar hanya menarik napas saat gadis itu tidak turun juga, ia kembali lagi masuk ke mobil. Ditatapnya Hanum yang menangis tanpa ia tahu apa penyebabnya.


"Kenapa?" tanyanya lembut sambil mengusap air mata yang mengalir bebas di wajah mulus Hanum.


"Bapak itu enggak tahu' kan? saya menghabiskan uang saya untuk bulan ini hanya membeli ini!" katanya sambil menunjukan bungkusan di tangannya.


"Terus apa hubungannya?' tanya Afkar merasa frustasi.


"Saya harus jalan kaki saat pulang dan pergi kerja satu bulan ini, dan ini uang satu lembar terakhir sampai akhir gajian."

__ADS_1


"Kalau saja Anda enggak mengajak saya makan di restaurant jepang tadi, pasti saya masih bisa makan nasi sampai akhir bulan."


"Bapak kalau mau makan, sudah sana makan saja. Saya mau pulang, dan terimakasih atas tumpangannya," jelasnya setelah itu Hanum keluar dari mobil.


Afkar hanya menatap punggung gadis itu yang kian menjauh berjalan, ia akhirnya menjalankan mobilnya menuju apartemennya.


"Apa aku terlalu kejam kepadanya, maksudnya uang terakhir?'


Pria itu sibuk dengan kata-kata yang dikatakan oleh Hanum tadi, hingga mobil yang dikemudikannya sampai di apartemennya. Afkar segera memesan makanan lewat online karena sudah begitu lapar.


***


Di ruang sempit seorang gadis sedang berbaring memikirkan hidupnya, kerja menjadi OB terpaksa ia lakukan demi untuk kedua orang tuanya di kampung. Bertahan hidup di kota sungguh membuatnya harus sehemat mungkin.


Hari ini seakan ia begitu lupa kata hemat, saat harus membayar makanan mahal yang sampai sekarang belum disentuh. Rasanya kalau bisa akan ia pajang makanan yang super mahal itu.


"Dasar pria menyebalkan!" gerutunya saat mengingat Afkar yang menyuruhnya untuk membayar sendiri makanannya tadi.


Karena merasa gerah, Hanum segera mengambil handuk dan masuk kamar mandi. Dia menatap wajahnya di cermin, kemudian memejamkan matanya mengingat besok harus pergi kerja jalan kaki.


Setelah lima belas menit gadis itu sudah selesai membersihkan tubuhnya, karena sudah sangat lapar akhirnya ia membuka bungkusan yang da di atas meja, matanya seketika melotot saat melihat ikan mentah ada beberapa potong.


"Ya Allah, ini ikan mentah."


Hanum segera menuju dapur di ambilnya ikan mentah yang hanya berjumlah tiga potong itu, tak menunggu lama ia menggorengnya. Bibirnya tak henti-hentinya berceloteh melihat masakan yang membuat dompetnya langsung gersang tadi.


Setelah semua tersaji, barulah ia mulai memakan begitu lezat mungkin karena dia begitu lapar dari siang belum makan apa-apa.


Hanum yang merasa penasaran akan makanan yang tadi dibelinya langsung mencari di internet, matanya seketika melebar saat mengetahui nama makanan yang tadi dia habiskan.


"Tuna Sashimi." Katanya sambil melihat foto di ponselnya.


Hanum terkekeh, saat ia mengira kalau restaurant itu pelit hanya memberikan tiga potong ikan ternyata ada alasannya tradisi di Jepang untuk menyajikan jumlah potongan sashimi yang ganjil di atas piring yang disebut mukozuke, karena dianggap sial jika memiliki jumlah yang genap. Sashimi sering dikira hidangan Jepang populer lainnya, sushi, hidangan yang dibuat dengan ikan mentah dan nasi cuka.


Hanum hanya mendesah, ia lebih baik makan pakai ikan asin saja dari pada makanan mentah, baginya itu akan membuatnya mual nantinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2