
Setelah selesai sidang semuanya kembali ke rumah masing-masing begitu juga dengan Satya.
Mereka berencana nanti malam akan makan malam bersama di rumah kakek Roby.
Satya merasa sangat lelah, kemudian dia naik ke lantai 2 dengan gontai menuju kamarnya.
Perlahan Ia membuka pintu, matanya menatap mengelilingi ruang kamarnya. Namun, dia tidak menemukan istrinya.
Karena sudah merasa sangat lelah, kemudian Satya menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tidak menunggu lama kemudian ia terlelap dalam mimpi.
Senja yang baru masuk kamar, terkejut melihat suaminya sudah pulang. Dengan begitu telaten, Senja melepas sepatu dan kaos kaki suaminya, kemudian menyimpannya.
Dipandangnya wajah lelah suaminya, ia berharap, seandainya nanti anaknya laki-laki akan tampan seperti suaminya. Namun, jika perempuan akan mirip dengannya.
Harapannya hanya satu selalu berada di samping suaminya, dalam suka maupun duka.
Sementara di kediaman Ayah Nugraha.
Hari ini begitu ramai, karena keluarga dari Nenek Wati hadir. Semuanya berkumpul menjadi satu di ruang keluarga, Bunda dibantu oleh Suci menyiapkan makan siang untuk semuanya.
Kebahagiaan yang tak terkira bagi keluarga saat terkumpul, mereka saling bercanda dan bercengkrama di antara satu keluarga dan keluarga yang lainnya.
Hari ini merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagi Nenek Wati, sebenarnya adalah rasa sedih di hatinya karena Ronald harus dipenjara.
Tapi itu setimpal, dengan apa yang telah ia lakukannya kepada keluarga Nugraha dan keluarga Roby.
Arga diam-diam menyelinap menuju ke dapur, ia tersenyum saat melihat Suci bercanda dengan Bunda.
"Astagfirullah, Arga....," teriak Bunda saat berbalik tiba-tiba ada badan besar menjulang tinggi.
Arga hanya cengengesan, saat melihat Bundanya terkejut karena ulahnya. Namun, Suci tersenyum melihat tingkah Arga yang lucu menurutnya. Baru sekali ini Suci melihat kelucuan dari seorang Arga pria yang digadang-gadangkan selalu bersikap acuh.
Arga yang melihat suci tersenyum, segera menghampirinya.
"Apa masak sudah siap?" tanya Arga dengan lembut.
Suci hanya tersenyum dengan mengangguk, kemudian Arga memegang tangannya untuk mengikuti ke belakang.
Sesampainya di taman Arga menyuruh Suci untuk duduk di bangku taman, gadis kecil itu begitu senang berada di taman ini. Banyak bunga-bunga yang tertata rapi sangat indah warnanya, kemudian Suci berdiri melangkah mengikuti Jalan setapak menuju ke danau kecil.
Arga melihat itu sangat senang karena danau kecil itu tempat untuk menyendiri bila ada masalah yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun.
Keduanya duduk berdampingan di tepi danau, menatap air yang bergerak seperti gelombang karena hembusan angin.
__ADS_1
"Apa kamu suka tempat seperti ini?" tanya Arga memecahkan keheningan.
Gadis kecil tak menjawab, tapi seulas senyum di bibirnya menandakan bahwa dia sangat menyukai tempat indah seperti ini.
"Ini sangat indah Kak," jawab Suci dengan tersenyum menghadap kearah Arga.
"Suci boleh aku berkata jujur kepadamu, maaf jika diam-diam aku mulai tertarik kepadamu," kata Arga.
Suci masih kurang faham, mencoba mencerna apa yang Arga ucapkan.
"Maksud kakak apa?" tanya Suci sambil tersenyum dengan polosnya.
"Suci, dengerkan baik-baik ya...apa kamu mau menjadi ibu dari anak-anakku kelak," kata Arga dengan keringat dingin disekitar keningnya.
Suci terdiam terpaku, ia menatap Intens mata Arga dari situ Suci menangkap keseriusan dari laki-laki tampan di depannya.
"Apa yang membuat Kak Arga memilih Suci?" tanyanya.
Arga menceritakan waktu awal dia melihat Suci, sudah tertarik kepada gadis yang cuek. Gadis kecil yang tidak terpengaruh dengan apapun yang lewat di depannya.
"Kamu tidka harus menjawab sekarang Suci, Kakak akan memberikan waktu," kata Arga.
Suci terdiam, sebenarnya ia sendiri sudah tertarik dengan pria tampan disampingnya kini, tapi dia ada rasa takut,.... takut kalau ia ditinggalkan oleh Arga.
Arga menoleh kesamping, dilihatnya Suci terdiam sambil menatap lurus ke depan. Arga khawatir kalau Suci tidak menerima cintanya.
Suci terdiam, kemudian ia menatap punggung lelaki yang mulai melangkah menjauhinya.
Gadis kecil itu segera berdiri dan berlari mengejar Arga, sampai di belakangnya Suci langsung memeluk pria yang sudah membuatnya merasakan jatuh cinta.
Deg....detak jantung Arga berdebar dengan kencang, saat melihat tangan yang melingkar diperutnya.
Arga memutar badannya berbalik ke arah Suci, gadis kecil itu mendongak menatap wajah tampan yang jaraknya begitu dekat.
"Suci mau menjadi ibu dari anak-anak kakak, dan menjadi istri yang patuh pada suami.
Arga mendengar itu begitu bahagia, tanpa menunggu lama iya menempelkan benda merona itu ke bibirnya.
Tidak ada balasan dari Suci, ia hanya melotot saat ciuman itu mendarat di bibirnya.
Tapi perlahan dengan pasti gadis kecil itu memejamkan matanya, ia juga memindahkan tangannya melingkar dileher lelaki tampan di depannya.
Tanpa mereka sadari, Arnold berkacak pinggang sambil menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
" Woi, nikah dulu baru melakukan itu," teriaknya.
Arga dan Suci seketika wajahnya memerah karena malu, Arnol sudah mengetahui bagaimana ia dan suci berciuman tadi.
Setelah selesai mengatakan itu, Arnold segera berbalik dan melangkah masuk dalam rumah.
Sedangkan Arga dan Suci keduanya sama-sama tersipu malu,
"Maaf membuatmu mulu,"ucap Arga sambil mengusap bibirnya Suci dengan ibu jarinya.
Suci yang malu langsung tertunduk, entah mengapa jantungnya berdetak dengan kencang. Ia memegang dadanya yang seakan jantungnya mau lepas dari sarangnya.
Arga begitu panik melihat Suci yang memegang dadanya.
"Sayang kenapa? apa ada yang sakit!" kata Arga yang terlihat khawatir.
"Kak entah kenapa jantungku berdebar sangat kencang sekali!" ucap Suci.
Arga mendengar itu terkekeh, betapa polos wanita di depannya ini.
"Tidak apa-apa sayang, itu tandanya kamu mencintaiku," goda Arga.
Suci mendengar itu tersipu malu, kemudian Arga menggenggam tangannya mereka jalan beriringan menuju ke rumah.
Sebelum sampai rumah Arga mengecup kening wanita yang sangat dicintainya.
Suci sangat terkejut, mendapat serangan mendadak dari Arga.
"Kak... jangan begitu, nanti ada yang melihat," ucap Suci dengan tersipu malu.
Arga melihat wajah kekasihnya merah jadi gemes, ia tangkup kedua pipi Suci dengan kedua tangannya. Lalu ia mendaratkan kecupan di mata, hidung dan terakhir bibir.
Setelah merasa puas ia berjalan duluan, Suci hanya menggelengkan kepalanya. Melihat sikap Arga kepadanya.
"Ehmmm.... lama-lama bisa hilang keperawananku, Astagfirullah," kata Suci sambil memukul kepalanya.
"Suci," panggil sesorang.
Suci melihat sekeliling kosong tidak ada orang, karena begitu ketakutannya gadis kecil itu menutup matanya.
"Ampun, tolong jangan ganggu gue jin penunggu taman. Gue janji tidak akan ciuman sembarangan," kata Suci sambil berjongkok dengan menarik kedua telinganya.
Bunda yang melihat tingkah Suci seketika langsung tertawa terbahak, karena dari tadi sudah tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
Suci yang mendengar tawa yang mengerikan itu semakin ketakutan, tiba-tiba tubuh Suci terkulai lemas di atas rumput.
Bersambung ya... jangan lupa tinggalkan jejak