PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Berita duka


__ADS_3

Senja hanya tersenyum, entah mengapa ia sedang tidak ingin bercanda. Satya menatap istrinya lekat dan bertanya."Sayang jangan berpikir yang tidak-tidak."


"Mas coba lihat Bunda, aku khawatir," kata Senja.


"Sayang Bunda di jaga Ayah, kamu bawa santai saja. Ingat ada kami yang akan menjaga dirimu sayang." Satya mencoba menghibur istrinya.


Walau ia tahu itu tidak berefek untuk istrinya, hingga ponsel Satya berdering jika mobil Bunda Fifi sudah diledakkan di jurang. dipastikan tidak akan ada korban selamat.


"Ada apa Mas?" tanya Senja.


"Laporan dari Leo jika mobil bunda Fifi sudah dijatuhkan ke jurang," ucap Satya.


Senja hanya bisa menarik napas dalam, sampai sekarang belum ada kabar dari  Leo kapan ia bergerak. Wanita itu sudah tidak sabar untuk melihat keduanya habis dan entah apa yang akan dilakukan petugas.


****


Di rumah sakit, Diana dan Leon duduk berdua. Ponselnya berdering jika panggilan dari rumah Papanya.


"Halo," ucap seseorang dari seberang sana.


"Tuan, tadi ada polisi menghubungi jika mobil Ibu Fifi masuk jurang tidak lama langsung meledak," kata pelayan itu.


Leon menatap Diana dan berkata."Mobil Bunda masuk jurang dan langsung meledak."


Diana hanya santai, wanita itu sungguh berbeda saat ini, menangis saja tidak ia lakukan. Leon menatap tidak percaya jika Diana tidak ada rasa kasihan kepada Bundanya.


Leon dan Diana berdiri, wanita itu berkata."Kak aku mau istirahat."


Leon tidak mendengarkan apa kata Diana, pria itu menarik wanita itu dan membawanya ke tempat di mana mobil Fifi meledak. 


Mobil yang dikemudikan oleh Leon melaju dengan kecepatan tinggi, Wanita itu yang tidak terima langsung merebut setir kemudi dan akhirnya keduanya terjadi pertengkaran sengit hingga tanpa sadar mobil yang dikemudikan Leon menabrak pembatas jalan. Benturan yang begitu keras itu membuat mobil bagian depan hancur.


Pengendara yang melewati jalan itu langsung menghentikan  perjalanannya dan membantu korban kecelakaan itu. Setelah satu jam Leon dan Diana bisa dikeluarkan, dengan luka yang begitu parah.


Ambulan datang membawa dua korban kecelakaan tunggal itu, sedangkan Ferdi yang mendengar jika mobil istrinya masuk jurang langsung tidak sadarkan diri saat di kantor dan segar dilarikan ke rumah sakit oleh Jimmy orang kepercayaannya.


Berita kecelakaan tunggal Leon langsung cepat menyebar Satya yang mendengar itu terkejut. Pria itu yang kini sedang bersama keluarganya menatap  Ranga yang terlihat hanya diam. 


Ayah Nugraha menarik napas dalam, Ranga beranjak dari duduknya, melihat putranya berdiri Bunda mencekal tangannya dan bertanya, "Kemana Nak?"

__ADS_1


"Ke kamar Bun, jangan khawatir Ranga tidak apa-apa," jawab Ranga.


Bunda hanya mengangguk dan melepaskan tangan putranya, sedangkan  Senja kini yang sedang duduk menatap suaminya dan berkata, "Kita ke rumah sakit."


Satya mengangguk karena Diana masih menantu dari Nugraha walau apa yang dilakukannya membuat semua kecewa.


"Ayah ikut," kata Ayah Nugraha.


Satya hanya mengangguk, tidak lupa Satya memberitahu Leo jika Leon dan Diana mengalami kecelakaan dan meminta untuk membawa Bunda Fifi.


Satya menatap istrinya dan berkata," Ranga harus ikut."


Senja yang paham apa maksud suaminya itu, wanita itu segera naik ke lantai dua. Di mana kamar suaminya itu kini di tempati oleh Ranga.


Sesampainya Senja di kamar Ranga langsung mengetuk pintunya, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Perlahan Wanita itu memutar handle pintu. Ia melihat sekeliling kamar kosong dan tidak lama ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Senja serba salah mau mengetuk rasanya kenapa tidak sopan, tapi kalau tidak kasihan di bawah semua sudah mengganggu di mobil.


Saat Senja akan keluar, pintu kamar mandi terbuka. Rangga keluar dari hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Melihat itu Senja tertegun, tidak lama langsung menutup wajahnya."Ya Allah mataku sudah ternoda."


Ranga langsung menyentil kening istri Satya itu hingga Senja mengaduh tanpa berani membuka matanya.


"Kakak pakai baju dulu sana habis itu kita ke rumah sakit," kata Senja langsung keluar dari kamar Ranga.


"Rumah sakit? siapa yang sakit, Senja." Ranga hendak keluar menuruni tangga langsung ditarik telinganya oleh Bunda.


"Ranga pakai baju sana Bunda tunggu!"seru wanita paruh baya itu sambil menggelengkan  kepalanya. Pantas Senja keluar dari kamar dengan wajah yang sudah memerah.


Ranga tanpa menunggu perintah dua kali, pria itu bergegas pergi  ke kamarnya dan memakai kaos dan celana panjang Jean. Setelah itu segera bergabung di ruang tamu.


"Ada apa?" tanya Ranga karena semua tegang.


"Kita langsung ke rumah sakit," ucap Satya yang dianggukkan oleh semuanya.


Ranga semakin bingung, apalagi pria itu dilarang mengemudikan mobilnya sendiri.


"Ayah, Bunda apa ini masih tentang Diana?" tanya Ranga.


"Ikut saja, Nak," ujar Bunda walau sebenarnya merasa iba akan nasib rumah tangga Rangga.

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan Satya  sampai di rumah sakit di sana sudah ada Leo dan Ibnu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Satya langsung berjalan menuju UGD.


"Lihat sendiri," jawab Ibnu.


Satya dan Senja saling pandang, kini keduanya masuk diikuti Ranga dan Ayah Nugraha. Sedangkan Bunda sengaja menunggu Fifi yang sedang dijemput Alan karena selama ini disembunyikan di sana.


Dokter keluar menatap semuanya, tidak lama Faisal datang dan ikut bergabung, Pria itu menatap Satya dan Ranga.


"Lo harus sabar," ucap Faisal.


"Katakan!" kata Ranga.


Faisal menarik napas dalam dan kini ia menatap Bunda dan Fifi yang baru datang. Tidak lama Ferdi datang bersama Ilham.


"Satya, bagaimana keadaan Leon?" tanya Ferdi terlihat begitu panik.


"Kami mohon maaf, kedua korban tidak ada yang selamat," kata Faisal terlihat begitu sedih saat menyampaikan berita duka itu.


"Tidak mungkin, Diana!" teriak Bunda Fifi histeris dan tidak lama tidak sadarkan diri.


Ferdi terdiam, kini pria paruh baya itu tatapannya kosong. Ayah Nugraha memapahnya untuk duduk di ruang tunggu.


Satya melihat Ranga yang kini masuk, segera mengikutinya. Sedangkan Senja menatap Ferdi dengan sendu. Tidak lama Satya memberikan kode ke istrinya supaya menemani Ranga.


"Sayang kamu temani Ranga ya, aku mau mengurus semuanya," ucap Satya bergegas keluar.


"Sat, lo yakin Ranga tidak apa-apa?" tanya Ibnu saat sahabatnya itu mengajaknya pergi mengurus jenazah Leon dan Diana.


"Moga enggak apa-apa," ucap Satya.


Kini keduanya berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit, sedangkan di ruang UGD. Ranga berdiri di samping jenazah istrinya dan sebelah kirinya jenazah Leon.


Senja kini mengusap air matanya, walaupun Diana keterlaluan, tapi wanita itu juga merasa kehilangan.


"Kak, ikhlaskan dan maafkan," ucap Senja dengan suara serak karena menahan air matanya.


Berita meninggalnya Diana dan Leon langsung menyebar ke rekan bisnisnya, Ferdi minta baik Diana dan Leon dibawa pulang ke rumahnya. Sedangkan Ranga hanya mengangguk karena bagaimanapun dalam Agama wanita itu masih sah istrinya.

__ADS_1


__ADS_2