
"Senja jangan lari!" teriak Mentari.
Yoga hanya bisa menatap Satya datar saat membiarkan istrinya berlari dengan perut besar. Kini merak masuk ke rumah Nugraha. DI ruang keluarga sudah ramai ada keluarga besar dari Ayah maupun Bunda.
Senja yang sedari tadi menunggu sahabatnya Sari, Alan, Deo dan Leo tapi belum Sampai juga. Wanita itu ikut bergabung dengan suaminya dan Ayahnya.
"Bumil lo kenapa sih gelisah gitu?" Arga yang memperhatikan Senja gelisah.
"Jangan bilang perut lo mules lagi," Sahut Ranga.
Yoga dan Satya ikut menoleh ke arah Senja, melihat itu Satya mendekat ke istrinya. "Sabar ya mereka lagi di jalan ini Ibnu kirim pesan."
Senyum mengembang di bibir ranum wanita itu, Satya ikut tersenyum dan mengacak rambut istrinya. Yoga melihat di setiap tempat ada keluarga besar Satya yang rata-rata dia mengenalnya.
"Yang, nanti malam kita tidur di hotel saja, kalau enggak pulang ke rumah ya," kata Satya.
"Kenapa?" tanya Senja polos.
"Kalau ramai gini bagaimana cara menjenguk adik bayinya," ucap Satya membuat Yoga menatapnya jengah sedangkan Arga dan Ranga yang enggak tahu apa maksudnya hanya diam saja.
"By!" kata Senja dengan wajah merona hal itu membuat Arga dan Yoga menatap sepasang suami istri itu.
"Bagaimana cara jenguknya?" tanya Ranga
Yoga dan Satya saling tatap membuat Arga menautkan alisnya, pria itu tahu kalau Satya dan Yoga menyembunyikan sesuatu. Tak lama rombongan Sari dan yang lainya sampai.
"Kangen," kata Senja memeluk Sari dari samping.
"Senja lo sama gue enggak kangen," kata Alan yang ditatap tajam oleh Satya membuat Ibnu tertawa.
Ibnu menatap Senja yang terlihat susah untuk bergerak sedangkan Sari yang hamil empat bulan masih terlihat lincah.
"Apa kabar?" tanya ibnu tersenyum menatap Satya yang selalu waspada saat ada Alan.
"Seperti yang lo lihat," jawabnya.
"Kapan rencana lahirannya?" tanya Ibnu.
"Bulan depan, tapi kata Bunda tadi kalau sudah sering kontraksi palsu kemungkinan lebih cepat dari perkiraannya dokter.
"Semoga nanti lancar."
"Amin." Jawab Satya.
Senja yang sedang menatap suaminya hanya tersenyum, dia tahu Satya paling tidak suka kalau ada Alan diantara mereka.
"Sari, kenapa perut lo lebih besar dan enggak jauh beda sama punya Senja?" tanya Deo dengan santai.
__ADS_1
"Gue badanya lebih tinggi dan anak gue twin," jawabnya.
"What? serius!" teriak Leo menatap Ibnu seakan tak percaya.
Ibnu hanya tersenyum menatap sepupunya itu, tapi walau hamilnya masih muda tapi sudah terlihat lebih besar yang membuatnya senang ada dua nyawa yang ada di dalam sana.
"Mantap lo sekali tembak langsung jadi dua," sahut Arga.
"Tombaknya enggak tahu beberapa kali, bahkan semalam melebihi dosis minum obat," sahut Ibnu santai.
"Mas!" kata Sari sambil melotot karena suaminya kalau sudah berkumpul dengan teman-temannya suka bocor.
Ranga dan yang lainnya hanya bisa menelan salivanya mendengar ucapan Ibnu, Alan tak menyangka baru kali ini si dosen killer bisa bicara seperti itu. Senja terkekeh melihat Alan yang masih diam.
"Kamu kenapa?" tanya Senja merasa heran melihat sahabatnya itu.
"Gue enggak bisa membayangkan kalau jadi Sari," jawabnya.
"Ya enggak mungkin lo laki!" kata Deo.
"Kalau kamu penasaran sana nikah sama Sasa," kata Senja yang langsung dipelototin oleh Alan.
"Gila masak gue nikah sama mukluk kayak dia!" katanya kesal.
"Hati-hati nanti jodoh lo."
Alan semakin kesal saat Leo mengatakan itu, "Gue kangen sama Diana," kata Alan sambil melirik ke arah Ranga.
Alan hanya mengangguk, begitu juga dengan Senja dia begitu rindu dengan temannya itu, tapi karena perutnya selalu kontraksi membuat dirinya hanya di rumah saja. Satya melarangnya untuk pergi.
Senja juga ingin berkunjung ke tempat Nenek Marni, tapi belum bisa. Ia ingat pesan Kakeknya dulu jangan pernah membencinya, hanya karena melihat kesalahan saja, tapi ingatlah saat dia begitu menyayangimu dulu.
Senja menyandarkan tubuhnya di sofa sambil mengusap perutnya, sedangkan yang lain sibuk bercerita. Satya yang melihat istrinya lelah akhirnya mengusap kepala wanita yang membuatnya begitu bahagia, dia sudah tidak sabar untuk menanti hadirnya buah hatinya yang sebentar lagi lahir.
"Gue antar Senja dulu untuk istirahat," pamitnya kepada teman-temannya.
Yang lain hanya mengangguk, perlahan Satya memapah sang istri untuk menuju ke tangga, karena istrinya harus banyak berjalan kalau ingin lahiran normal, walaupun Ayah Nugraha sudah memasang lift untuk menantunya tak menampik kalau wanita hamil tua harus banyak bergerak. Sesampainya di kamar Senja langsung memiringkan tubuhnya dengan memeluk guling.
"Sayang, apa yang kamu rasakan?" tanyanya
"Enggak ada, By. Hanya ingin baring saja," ucapnya.
Satya berbaring di belakang istrinya dengan mengusap perut sambil berucap, "Sayang baik-baik di dalam ya, Nak."
Senja tersenyum, dengan perhatian suaminya entah kenapa hatinya begitu merasa nyaman saat Satya selalu mengutamakan keluarganya.
"Mas."
__ADS_1
Satya terdiam, ia melepaskan pelukannya dan berpindah baring di samping Senja supaya bisa berhadapan, "Tumben panggil Mas?" tanyanya.
"Dari awal aku panggil Mas, kalau enggak Om," ujarnya.
"Benarkah?"tanyanya sambil menatap sang istri.
"Iya, tapi kalau di depan Kakek," jawabnya sambil tersenyum.
"Sayang, kamu mau panggil By atau Mas itu sama saja, tapi mulai sekarang kalau bisa biasakan memanggil Ayah atau Papa, mau yang mana?' tanya Satya.
"Kalau panggil Ayah nanti dikira aku panggil Ayah Yoga, kayaknya panggil Papa saja."
"Boleh juga," sahut Satya.
"Kenapa enggak Daddy?" tanya Senja.
"Enggak!" jawab Satya singkat.
"Kenapa?"
"Aku berasa menikah dengan Sugar Daddy."
Senja langsung tawanya pecah sambil memegang perutnya, apa lagi wajah suaminya terlihat begitu mengemaskan. Wanita itu mengusap air matanya, Satya melihat itu hanya menggelengkan kepala.
"Sudah tertawanya nanti perutnya sakit," kata Satya.
"Hah, maaf."
"Jadi dell nih, panggil Papa dan Mama?" tanya Senja sambil tersenyum.
"Yang, jangan goda itu. Nanti dia bangun," kata Satya sambil cemberut.
Senja semakin menjadi menggoda Satya, hingga akhirnya Satya duduk menatap istrinya kesal, mau tak mau dia masuk kamar mandi lagi.
"Papa, buka pintunya! Mama ikut!" teriak Senja.
Satya diam saja, ia hanya bisa menghembuskan napasnya kasar, ternyata pesan dokter Mela tak bisa dia lakukan, apa lagi istrinya sering mengalami kontraksi palsu membuatnya tak tega walau senja bilang tidak apa-apa.
Setelah tiga puluh menit Satya keluar dari kamar mandi dengan wajah lelahnya, hal itu membuat Senja mengulum senyumnya. "Bajunya sudah aku siapin di sini, Pa."
"Hem."
"Jangan marah lagi, besok kita konsultasi lagi ya. Pasti boleh," bujuknya.
Satya tak menjawab dia hanya mengangguk menanggapi ucapan istrinya, Wanita itu mengambil teh yang sudah disiapkan tadi dan kue yang di dapat dari Bundanya tadi.
"Ini apa?" tanya Satya sambil menunjukan kotak bulat ke arah istrinya .
__ADS_1
Bersambung ya ....
Ayo tebak apa yang di pegang Satya