PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 157


__ADS_3

Pagi udara terasa dingin, Afkar yang terbiasa bangun pagi sudah bangun, dilihatnya Pak Iwan sudah duduk di teras padahal matahari belum keluar.


"Kenapa duduk di luar, Pak?" tanyanya sambil ikut duduk di sampingnya.


"Udara pagi ini masih segar, Nak." Jawabnya.


"Iya Pak, oh ... iya Pak apa nanti bisa antar saya ke rumah juragan," ucapnya.


Pak Iwan hanya menatap pria tampan di sampingnya dengan datar, kemudian dia menarik napas dalam-dalam. Jika Hanum sudah menceritakan kepada Afkar percuma saja dia tutupi.


"Biar itu menjadi tanggung jawab Bapak, Nak."


"Maaf Pak, izinkan saya untuk membantu keluarga ini. Saya sudah tidak ada lagi keluarga dan semenjak kemarin bisa bertemu Bapak dan Ibu rasanya saya memiliki keluarga kembali," ujarnya.


"Jangan jadikan beban, Nak."


"InshaAllah tidak akan, Pak."


Tanpa keduanya sadari Hanum mendengar apa yang dikatakan Afkar kepada Bapaknya, rasa haru bercampur ia rasakan saat ini. Lelaki yang dikenalnya arogan ternyata memiliki sisi baik untuk menolong sesama.


"Kamu itu suka sekali menguping," kata Ibu saat membawa kopi untuk suami dan calon menantunya.


"Ibu ...." Katanya dengan nada manjanya.


"Udah sana bawa kopinya!" perintahnya sambil memberikan nampan kepada Hanum.


Hanum menarik napasnya sebelum berjalan menuju ke arah teras, Bapak yang melihat putrinya membawa kopi tersenyum begitu juga dengan Afkar.


"Ini bukan buatanmu, Nak. Biasa kalau kamu yang bikin biasa harum sesuai dengan namamu Hanum," Goda pria paruh baya itu sambil terkekeh.


Hanum hanya cemberut saat di goda Bapaknya, berbeda dengan Afkar yang merasa senang dengan keluarga barunya.


"Kopi buatannya tidak diragukan lagi, Pak." kata Afkar ikut menggoda Hanum.


Wajah gadis itu langsung merona karena ini pertama kalinya pria dingin itu memuji kopinya buatannya.


"Benar Nak, kadang Bapak rindu sama kopi buatannya."


Hanum yang merona segera masuk rumah, wajahnya merasa panas kalau masih diantara pria itu. Harun yang melihat sang Kakak menutup wajahnya menjadi heran.


"Kakak kenapa?" tanyanya sambil menaikan alisnya.

__ADS_1


"Enggak ada," jawabnya sambil berjalan menuju ke dapur untuk membantu Ibunya membuat sarapan.


 Setelah keduanya sibuk selama satu jam akhirnya sudah siap. Hanum membuka tikar di lantai untuk makan bersama. Dia sudah rindu  suasana seperti ini makan bersama sambil lesehan.


Tak lama Pak Iwan dan Afkar masuk dan langsung duduk, mata Afkar menatap semua hidangan di depannya. Pria itu menatap Hanum, sedangkan yang di tatapnya duduk di sebelah Afkar dengan senyum manisnya.


"Pak, di sini tidak ada makanan Jepang, yang ada jipan," kata Hanum sambil menunjukan tumis jipan.


Afkar melihat itu hanya mendengus, ingin rasanya dia menghukum calon istrinya itu. Hanum mengambil nasi buat calon suaminya dia bingung pria dingin itu mau makan pakai apa.


"Mau pakai lauk apa, Mas?" tanyanya.


Afkar terdiam entah mengapa saat gadis itu memanggilnya Mas di depan orang tuanya rasanya hatinya berdesir. Ditatapnya wajah Hanum yang menunggu jawaban darinya.


"Aku mau makan kamu aja," godanya sambil berbisik


"Cih, dasar mesum," cibirnya membuat bibir Afkar naik ke atas.


Hanum mengambil tempe goreng dan telur dadar untuk pria dingin itu, Afkar menerima piring yang diberikan gadis sebelahnya. Melihat kedua orang tua Hanum dan adiknya makan lahap, perlahan Afar memulainya.


Suapan pertama merasa enak, dan suapan kedua membuatnya makan lahap apalagi sambalnya yang begitu enak. Hanum tersenyum melihat Afkar makan pagi dengan lahap. Dia menatap wanita di sampingnya yang mengambil tumis sayur yang katanya jipan itu.


Afkar hanya mengangguk, dia memakan sedikit setelah tahu rasanya enak dia minta di ambilkan lagi. Melihat itu Pak Iwan merasa senang melihat calon menantunya makan dengan lahap walau hanya masakan sederhana.


Setelah selesai makan Afkar masuk kamar dia merasa lidahnya terbakar, Hanum merasa curiga kenapa pria itu enggak keluar juga dari kamarnya.


"Mas, apa aku boleh masuk?" tanyanya.


"Ada apa?" tanya Afkar sambil membuka yang muncul wajahnya saja.


Hanum mendorong pintu, dia menatap pria itu merasa khawatir, sedangkan Afkar berjongkok sambil menggigit bibirnya yang terasa panas. Dia heran saat makan tadi enak. kenapa setelah selesai baru terasa pedasnya sampai di kepala.


Hanum keluar kamar menuju dapur untuk membuka kulkas, diambilnya air dingin dan gelas tidak lupa dia membuat minum sirup. Harun yang melihat Kakaknya buru-buru hanya bisa mencibirkan bibirnya acuh.


"Ini minumlah," kata Hanum sambil memberikan sirup dingin kepada Afkar.


Sekali teguk minuman dingin itu langsung habis, Afkar menatap gadis di depannya merasa heran padahal dia juga memakan sambal.


"Kamu enggak kepedasan?" tanyanya sambil bersandar di dipan.


"Saya sudah biasa makan sambal buatan Ibu, Mas. Oh iya nanti kita pergi ke tempat pak RT dan RW ya," ucapnya sambil melipat selimut yang pakai Afkar tadi malam.

__ADS_1


"Ini KTP dan KK yang di minta Bapak semalam," katanya.


Hanum mengambil dan melihat fotonya, kemudian dia menatap pria di sampingnya. Keningnya berkerut menatap Afkar.


"Kenapa?' tanyanya heran menatap gadis di sampingnya yang sedang menahan tawa.


"Kenapa lebih imut di KTP dari pada aslinya," godanya.


Afkar menaikan kedua alisnya, ia melihat fotonya yang di pegang Hanum. Terbesit jahil di hatinya.


"Benarkah!"


"Hem, coba perhatikan!" pintanya


Gadis itu mendekat ke arah Afkar sambil memperlihatkan KTP yang dipegangnya. Pria itu bukannya melihat apa yang dipegang oleh Hanum, tapi memperhatikan wajahnya dan cup.


Tubuh Hanum mematung dan langsung terdiam, dipegangnya pipinya yang dicium oleh pria di sampingnya. wajahnya merona membuat Afkar gemes.


Cup, kini keningnya yang dicium oleh Afkar dan agak lama, mata keduanya beradu. Wajah yang biasa terlihat dingin dan datar itu kini berubah begitu hangat di mata Hanum. Afkar memegang tangan wanita yang akan menjadi istrinya itu.


"Kita belajar untuk saling mencintai mulai sekarang," ujarnya.


"Apa Mas yakin dengan keputusan ini, kalau enggak masih bisa untuk mundur," kata Hanum sambil menunduk.


"Tidak, aku sudah yakin kalau kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti."


Wajah Hanum langsung merona karena malu, dia begitu terharu dengan apa yang dikatakan pria yang akan menjadi Ayah dari anak-anaknya nanti, Air matanya mengalir deras di pipinya. Afkar yang melihat itu mengusapnya.


"Jangan sedih lagi, kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri. Kamu bisa berbagi denganku apapun masalah yang kamu hadapi."


"Kamu adalah wanita yang  akan menjadi tanggung jawabku karena bapak sudah memberikan restu."


"Percayalah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, hanya satu kuncinya saling terbuka." Ujarnya.


Hanum tak mampu menjawab apa yang dikatakan oleh asisten yang selama ini begitu menyebalkan, tapi hari ini semua berubah nyata di depannya.


Afkar menarik tubuh Hanum dalam dekapannya bersamaan dengan pintu terbuka, wajah Ibu langsung menegang di susul Bapak yang berdiri di belakangnya.


"Astagfirullah, kenapa nggak sabar menunggu sah dulu baru berpelukan!" teriak Ibu Hanum.


Bersambung ... ya...

__ADS_1


__ADS_2