
Melihat suaminya makan begitu lahap, membuat Sari begitu senang. Wanita itu segera mengambil nasi bubur untuk dirinya sendiri.
Ibnu tersenyum, istrinya itu tidak berubah walaupun ia telah menyakitinya.
Setelah keduanya selesai sarapan, kini duduk santai di ruang keluarga. Sari menarik napas panjang. Banyak pertanyaan yang akan diajukan kepada suaminya itu.
Ibnu mengusap perut istrinya, matanya melebar saat ada pergerakan dari dalam.
Sari terkekeh melihat raut wajah suaminya itu, wanita menganggukan kepala tanda benar itu anak mereka yang memberikan refleks saat disentuh oleh Ibnu.
"Maafkan, Ayah sayang, selama ini tidak memperhatikan pertumbuhanmu," ujar Ibnu sambil meneteskan air matanya.
Pria itu mengecup perut buncit istrinya dengan lembut, seakan anaknya tahu kalau itu Ayahnya yang sedang menyapanya.
"Sayang, gerakannya semakin kencang. Apa itu tidak sakit?" tanya Ibnu sambil menatap istrinya.
"Enggak, Mas," jawab Sari.
"Syukurlah," kata Ibnu.
"Mas, apa boleh aku tanya siapa wanita itu?" tanya Sari dengan nada yang terdengar berbeda dari sebelumnya.
Ibnu membetulkan duduknya, lalu dia menggenggam tangan istrinya lembut. Pria itu menceritakan dari awal siapa Rahma dan Desti. Mata Ibnu menatap intens kedua mata indah milik istrinya itu.
"Apa Mas menyukainya?" tanya Sari lembut.
"Tidak, sayang percayalah hanya kamu yang aku sayang," ujar Ibnu merasa khawatir jika istrinya akan meninggalkan dirinya.
Sari menarik napas dalam, walau hatinya sakit, tapi dia juga salah sudah kabur dari rumah meninggalkan suaminya.
"Aku minta maaf, tak seharusnya aku pergi dari rumah, Mas!" kata Sari.
Ibnu memeluk tubuh sang istri, ia tak ingin Sari merasa bersalah dengan apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Ibnu juga yang membuat wanita yang tengah hamil darah dagingnya itu pergi.
Ibnu benar-benar merutuki kebodohannya selama ini, karena dia yang seharusnya ada di saat Sari tengah berbadan dua.
"Sayang, kita mulai lagi dari awal ya," kata Ibnu
"Enggak mulai dari nol!" kata Sari
Ibnu tersenyum istrinya itu selalu membuat suasana yang tadinya akan haru biru menjadi candaan.
"Iya deh dari nol," ucap Ibnu.
Sari terkekeh, ia ingat selama ini tidak pernah menghubungi mertuanya itu.
Pasti mama Tika sudah marah kepada putranya itu jika tahu dia kabur.
__ADS_1
'Mas, mama apa kabar? mama kapan pulang?" tanya Sari beruntun.
"Alhamdulillah mama baik dan sehat," jawab Ibnu.
"Mas, sekarang kita pulang ke Surabaya ya, nanti kalau mama pulang kita tidak di rumah bagaimana?" tanya Sari
"Kamu tenang saja, mama sudah di rumah, dan telinga ini sudah kebal selalu ditariknya," kata Ibnu sambil tersenyum mengingat mamanya.
"Astagfirullah," kata Sari sambil menutup mulutnya.
Tiba-tiba wajahnya menjadi pias, hal itu membuat Ibnu heran.
"Kamu kenapa, Yang?" tanya Ibnu.
"Mas, mama marah enggak aku kabur dari rumah?" tanya Sari.
Ibnu tahu kalau istrinya sedang ketakutan, tak lama pria itu mengambil ponselnya dan langsung menekan nomor mamanya untuk vcall.
"Assalamualaikum, Ada apa? Jangan bilang kamu belum menemukan istrimu, hah! Jika benar enggak usah pulang!" teriak mama Tika
"Mama, udah marah-marahnya!" kata Ibnu kesal.
Ibnu langsung mengalihkan kameranya arah Sari. Hal itu membuat wanita paruh baya itu teriak histeris memanggil menantunya.
"Sari … Mama kangen sayang, pulang ya, Nak!" pinta Mama Tika dengan mata berkaca-kaca.
Sari hanya mengangguk menanggapi ucapan mertuanya itu.
"Eh, gila lo ya bikin orang rompong nyariin lo tahu nggak!" kata Leo sambil menangis karena dia begitu menyayangi sahabatnya itu.
Sari mengusap air matanya, Ibnu melihat itu langsung memeluk tubuh istrinya.
"Lo jangan bikin bini gue sedih, Leo!" seru Ibnu.
"Cih, elo yang bikin dia kabur, Killer!" seru Leo tidak terima.
Ibnu melotot ke arah adik sepupunya itu yang sudah memanggilnya killer, pria itu tidak terima dipanggil seperti itu apalagi ada istrinya.
"Lo panggil apa tadi?" tanya Ibnu kesal.
Leo bukannya menjawab, tapi pria itu tergelak dan bertanya," lo tahu itu nama sayang dari siapa?"
Sari mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya, membuat mama Tika mengerutkan keningnya karena menantunya itu terlihat takut.
"Siapa?" tanya Ibnu penuh selidik.
"Bini lo," jawab Leo membuat mama Tika yang sekarang tergelak.
__ADS_1
Ibnu menatap istrinya yang menunduk, tak lama sambung vcall di putus begitu saja oleh pria itu.
"Sayang, jadi!" kata Ibnu.
"Mas dulu suka sekali hukum aku," jawab Sari sambil tersenyum dan memberikan kecupan di bibir tebal suaminya itu.
"Yang, jangan mancing!" ancam Ibnu.
"Emang ikan dipancing," sahut Sari sambil melangkah ke dapur.
Ibnu mengusap wajahnya dengan kasar, dia sudah lama sekali puasa karena jika mendekat dulu Sari bilang dirinya bau. Hingga membuatnya frustasi, tapi bukan berarti dia jajan di luar sana.
Sari kembali sambil membawa jeruk dingin, wanita itu duduk di samping suaminya yang sedang menonton berita tentang bencana alam.
"Mas, jadi sore ini kita pulang?" tanya Sari,
"Iya, tapi tunggu Deo ya," jawab Ibnu.
"Deo?" tanya Sari.
Sari baru sadar jika Dea tidak pulang pasti sekarang dia sedang berkumpul dengan adik kembarnya itu dan membiarkan dirinya dengan Ibnu untuk berbicara leluasa. Wanita itu hanya bisa mendesah saja.
"Di mana sekarang, Mas?" tanya Sari.
"Lagi jalan-jalan, nih dia bilang kita pulang duluan saja. Dia masih mau di Bandung karena ada urusan," ujar Ibnu.
"Ya sudah," jawab Sari sambil minum jusnya.
"Mas kita beli oleh-oleh dulu yuk," ajak Sari.
Ibnu menatap istrinya yang terlihat susah bergerak karena perutnya semakin besar itu, ia ingin rasanya melarangnya, tapi takutnya itu keinginan anaknya.
Kini keduanya sudah berada di dalam taksi untuk menuju salah satu toko penjual oleh-oleh khas Bandung. Setelah merasa cukup, keduanya langsung pulang menuju kos Dea. Ibnu membantu sang istri untuk mengemas semua oleh-oleh yang diborong oleh istrinya.
Setelah selesai keduanya tinggal menunggu taksi yang dipesan oleh ibnu, taksi datang dan keduanya masuk langsung menuju ke bandara. Selama di mobil keduanya hanya diam.
***
Surabaya.
Satya yang mendapatkan telepon dari Bu Tini, pagi ini untuk datang ke kampus. Membuat pria itu merasa heran karena kemarin dia sudah dari kampus dan aman-aman saja. Senja yang melihat suaminya berdiri di balkon kamar sambil memijit pelipisnya merasa kasihan.
"Apa ada masalah lagi, Pa?" tanya Senja.
Satya membalikan tubuhnya, harum dari tubuh Senja itu membuatnya tenang, tapi tidak dengan adik kecilnya.
"Ada panggilan ke kampus, Yang,"jawab Satya.
__ADS_1
Senja hanya mengangguk, itu berarti suaminya akan bertemu dosen baru itu lagi, entah mengapa membuat ibu satu anak itu terlihat waspada.
Bersambung ya….