
Ranga yang sudah tahu bagaimana kejadiannya hingga istrinya harus dirawat di rumah sakit. Begitu menyesal sudah membentak Senja dan wajar jika Satya begitu marah dengannya.
"Bun, Satya mana?" tanya Ranga.
"Mengantarkan Jingga pulang, Nak. tidak baik anak bayi lama-lama di rumah sakit." Bunda tidak ingin membuat Ranga semakin merasa bersalah.
"Fokuslah kepada istrimu!" kata Bunda sambil tersenyum.
Ranga hanya mengangguk, walau ada rasa salah kepada Senja dan suaminya. Namun, benar apa kata Bunda jika ia harus fokus dengan Diana.
"Apa anak itu masih ngampus?" tanya Ranga.
"Gue nggak mudah harus langsung mengeluarkan, Ga. Kampus juga punya prosedur," ujar Ibnu.
"Iya gue paham, semoga ini tidak akan terulang lagi," ucap Ayah Nugraha.
Sari yang duduk di samping brankar Diana menatap sedih. Ia berharap kandungan sahabatnya akan baik-baik saja sampai melahirkan nanti.
Setiap peristiwa pasti akan ada hikmah, asal bisa menerima dengan ikhlas.
Ibnu menatap istrinya, ia tidak tahu jika tadi yang didorong oleh Sasa istrinya.
Dihampirinya istrinya dan berkata," kita 0ulang, kamu pasti ingin baring."
Sari tersenyum, karena semenjak hamil sembilan bulan ia tidak kuat kalau duduk lama-lama. Maunya bawa tiduran sampai mertuanya bilang hamil kucing. Dimana sang Ibu saat mengandung maunya tidur saja.
Sari dan suaminya pamit, sedangkan Ayah Nugraha dan Bunda juga pamit.
"Kami pulang dulu, Nak. Jaga istrimu baik-baik." Ayah Nugraha mengusap bahu Ranga.
"Fi, yang sabar Diana dan cucu kita pasti akan baik-baik saja." Bunda memeluk Bunda Fifi untuk memberi kekuatan.
Kini tinggal Leon, Ferdinand , Ranga dan Bunda Fifi.
Arga dan Suci sedang keluar karena ada janji dengan sahabatnya untuk periksa.
"Ranga, kamu istirahat Nak." Bunda Fifi merasa iba kepada menantunya itu karena belum pulih benar dari kecelakaan malam itu.
Rangga tetap duduk di samping Diana, pria itu ingin jika nanti istrinya sadar hanya dirinya yang dilihat untuk pertama kalinya.
Ranga mengecup kening istrinya, dan berkata." Sayang bangun, jangan buat kita khawatir yang ada di sini."
Fifi mendengar apa yang dikatakan menantunya itu hatinya berdesir, ada rasa bangga karena putrinya mendapatkan pria yang begitu menyayangi Diana.
Lagi-lagi air matanya menganak sungai, Feri melihat calon istrinya sedih langsung memeluk pinggang Fifi.
"Jangan sedih, percayalah pasti Diana kuat," kata Ferdinand.
"Makasih ya Mas, maaf kamu jadi nggak ngantor," ucap Fifi merasa bersalah.
"Diana juga anakku, jangan terlalu dipikirkan," ucap Ferdi tersenyum.
__ADS_1
Leon melihat Papanya sudah tidak sedingin sebelumnya merasa senang, setidaknya saat menikmati hari tua tidak sendirian.
Ferdi melirik putranya karena senyum-senyum sendiri menjadi curiga dan bertanya."Kenapa?"
"Semoga Papa dan Bunda selalu begini sampai tua nanti," kata Leon.
"Dasar anak nakal, kamu kira Papamu ini masih muda." Ferdi langsung menyentil kening Leon yang berada di sampingnya.
"Bun," adu Leon membuat Ferdi melebarkan matanya.
"Mas sudah, benar apa kata Leon kalau kita muda," goda Fifi membuat Ferdinand mendengus kesal.
Ranga hanya tersenyum, tidak lama pintu terbuka Arga datang membawa makanan untuk semuanya.
"Ga, lo harus makan!" perintah Arga.
"Nanti gue tunggu bini gue sadar, "ucap Ranga.
Arga hanya menarik napas dalam, Suci memberikan kode supaya suaminya jangan memaksa Ranga.
Saat yang lain sedang makan, perlahan Diana mengerjapkan matanya. Wanita itu merasakan jika tangannya ada yang menggenggam.
"Mas," kata Diana lirih.
"Sayang kamu sudah sadar," ucap Ranga langsung memberikan kecupan di tangan istrinya.
"Mas, aku haus," kata Diana terdengar lemah.
Ranga mengambil air dan memasukkan pipet supaya istrinya mudah untuk meminumnya. Tidak lama doktor dan perawat datang diikuti Arga.
"Bagaimana, Dok?" tanya Fifi.
"Kondisinya sudah membaik, tapi harus tetap batres ya," kata dokter itu tersenyum.
"Terimakasih Dokter," ucap Ranga yang disambut senyuman saja.
"Saya kamu makan bubur ya," ucap Ranga.
Diana hanya menangguk, melihat adiknya sudah baik-baik saja. Leon langsung pamit karena dua jam lagi akan ada meeting.
"Bunda dan Papa pulang aja, biar Ranga saja yang jaga Diana," ucap Ranga.
Fifi sebenarnya ingin menolak, tapi ia juga tidak enak dengan Ferdinand karena dirinya pria itu jadi tidak bekerja.
"Mas, anak kita amankan?" tanya Diana menatap suaminya intens.
"InshaAllah, kamu dengar apa kata Dokter. Jangan lelah dan stres." Ranga mengingatkan istrinya lagi.
"Iya Mas, Maaf. Harusnya aku tadi mendengar apa katamu untuk di rumah saja." Diana begitu menyesalinya.
"Jangan dipikirkan, yang penting kamu dan anak kita baik-baik saja," ucap Ranga.
__ADS_1
Air matanya perlahan akhirnya menganak sungai. Hampir saja ia kehilangan janinnya.
"Maaf ya Mas," kata Diana.
"Iya sayang, sekarang kamu minum vitamin ya," kata Ranga.
Diana hanya mengangguk, entah kenapa ia merasa bersalah kepada suaminya, rasanya ini teguran dari Allah SWT karena tidak mengindahkan ucapan Ranga.
***
Di kediaman Ibnu.
Sari yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggelengkan kepalanya karena melihat suaminya sedang memainkan game cacingnya.
"Mas," panggil Sari menatap suaminya dari pantulan cermin.
"Hem," jawab Ibnu.
Sari memutar bola matanya karena suaminya itu kalau sudah main game akan lupa waktu, setelah selesai memakai pelembab ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Ibnu.
"Mas!"seru Sari.
Namun, Ibnu tidak bergeming ia begitu fokus dengan ponselnya. Sari menghembuskan napasnya kasar kemudian ia meringis."Mas, perutku sakit."
"Hah, kok bisa Yang, apa mau lahiran?" tanya Ibnu.
"Enggak tahu, Mas." Sari mencoba menahan senyumnya supaya tidak ketahuan suaminya.
Ibnu terlihat begitu panik ,apalagi Mamanya harus pergi ke rumah Paman di semarang, pria itu menatap sang istri yang meringis.
"Yang, kita ke rumah sakit ya," ajak Ibnu.
"Enggak usah, aku bawa baring aja." Sari menolak ajakan suaminya karena kalau sampai ke dokter pasti akan ketahuan kalau sudah berbohong.
"Istirahat di rumah sakit kalau ada apa-apa ada dokter dan perawat yang membantu, tapi kalau di rumah hanya ada Mas. Mama lagi ke semarang dua minggu lagi baru pulang." ujar Ibnu.
Sari menggelengkan kepalanya, ia tidak mau ke rumah sakit. Ibnu semakin frustasi, bagaimana untuk membujuk sang istri.
"Kita ke rumah sakit ya," bujuk Ibnu lagi.
"Enggak ini hanya kontraksi palsu," ujar Sari.
Ibnu menatap sang istri karena sedari tadi tidak mau melihat ke arahnya saat berbicara. Ibnu mendengus baru disadari jika Sari sudah membohonginya.
"Kamu nakal ya, aku sudah panik malah senyum-senyum!"seru Ibnu kesal.
Sari langsung tergelak karena sedari tadi sudah menahannya dan berkata."Maaf Mas."
"Candamu itu buat aku jantungan!" kata Ibnu dengan suara naik satu oktaf.
Sari terdiam karena Ibnu membentaknya, air matanya menetes membasahi kedua pipi gembulnya.
__ADS_1
Ibnu yang menyadari kalau sudah berbuat kasar langsung berkata."Yang, Maafin aku ya."
Bersambung ya….