
Diana segera pergi dari tempat persembunyiannya, ia juga sebenarnya khawatir kalau sampai ketahuan.
Sementara di ruang UGD, Satya melihat istrinya sedang berbaring.
"Sayang, jangan bikin Bby khawatir," ucap Satya.
"Maaf," jawab Senja.
Satya mengecup kening istrinya, Senja tersenyum kikuk, karena ada suster yang melihatnya. Ia merasa orang tadi sengaja ingin melukai dirinya, tapi siapa? Selama ini dia tidak merasa punya musuh.
Melihat istrinya menatap kosong kedepan, Satya segera mengusap bahu Senja.
"Bby, kira-kira siapa ya yang menabrak Mmy tadi?" tanya Senja.
"Itu yang akan diselidiki sayang," ucap Satya
Senja hanya mengangguk, tapi yang menjadi pertanyaannya siapa dia. Ia semakin pusing memikirkannya, Rendy menatapnya dengan intens.
"Besok-besok jangan pernah pergi sendirian lagi," katanya yang begitu khawatir.
"Ia Om, Senja akan lebih berhati-hati,"jawabnya sambil tersenyum.
Sekarang Senja sudah diperbolehkan pulang, ia kini pasti akan susah untuk keluar sendiri. Ditambah peristiwa dulu saat ia kecelakaan, tapi dia tidak akan membuat orang-orang yang menyayanginya khwatir.
Saat mobil sampai depan rumah, di halaman sudah ada mobil Ayah Nugraha dan mobil satu lagi yang tak asing untuk Senja.
"Assalamualaikum...," ucapnya sambil masuk rumah diikuti yang lainnya.
"Walaikumsalam," jawab semua kompak.
"Sayang sini duduk, tadi Bunda lagi masak kue waktu Satya bilang ada yang mau mencelakai kamu di jalan," ujar Bunda.
"Ia Bun, tapi Alhamdulillah Allah SWT masih melindungi Senja dan anak yang ada diperut.," kata Senja dengan senyum cerianya.
"Kamu ini bikin Ayah dan Ibu sport jantung," ucap Mentari.
"Hahahah...maaf ya.. sudah membuat khwatir, insyaallah nanti akan lebih waspada. seperti apa kata Bang Napi," kata Senja sambil tertawa.
Mentari hanya menggelengkan kepalanya, ia sadar kalau anaknya ini susah dikasih tahu. Satya yang melihat istrinya tertawa tanpa beban hanya tersenyum, karena ia tahu dibalik senyuman manisnya itu ada luka yang tertoreh.
Yoga dan Rendy sedang membicarakan projek yang akan dikerjakan bulan depan, sedangkan Ranga dengan Radit membicarakan pengendara motor yang akan mencelakai Senja.
"Menurut lo tadi, bagaimana ciri-cirinya?" tanya Ranga.
"Dia sepertinya perempuan," jawab Radit sambil menerawang kejadian singkat siang tadi.
"What..., jangan bercanda Lo!!" teriak Ranga.
"Sialan...lo... enggak usah teriak juga kali!" umpat Radit.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ayah Nugraha
"Orang yang mau menanbrak Senja itu wanita Om, tapi di motornya ada seperti keranjang," ujar Radit.
"Wanita?....tapi enggak mungkin dia," kata Senja.
"Dia siapa sayang?" tanya Satya.
"Diana wanita yang suka bikin masalah waktu dihotel," jawab Senja.
Ranga terdiam, seingatnya malam itu juga sahamnya langsung ditarik. Paginya Perusahaan itu masuk berita kalau akan gulung tikar, tapi setelah itu tidak ada kabar berita lagi.
"Apa mungkin dia?" tanya Ranga.
"Sebaiknya kita cari Cctv arah kejalan depan kampus," kata Satya.
"Senja mulai hari ini, kalau mau keluar harus ditemani," kata Rendy .
"Om...jangan lebay deh...," elaknya.
"Om Rendy benar' sayang," sahaut Satya.
Akan tetapi, Senja merasa jengah. Ia paling tidak suka kalau di awasi atau apa lagi dikawal, dia merasa keluarganya terlalu parno akan kecelakaannya yang dulu.
Bunda yang melihat itu hanya tersenyum, ia tahu bagaimana rasanya yang biasa bebas harus selalu kawal.
*****
Akan tetapi, hatinya bergitu terenyuh saat mendengar wanita yang akan ia tabrak tadi sedang hamil. Hampir saja ia akan mencelakainya, ia menangis disudut kamarnya.
Bunda Fifi yang melihat anaknya tidak keluar kamar, segera menghampirinya.
"Di...kamu baik-baik saja sayang," kata Bunda Fifi
Diana tidak ingin Bundanya khwatir, segera mengusap air matanya. Kemudian ia segera membuka pintu dengan menguap, Bunda merasa lega melihat anaknya baik-baik saja.
"Bunda..maafkan Diana ya...., gara-gara Diana Bunda harus kehilangan Ayah," ucapnya sambil menangis.
"Sudah Nak, jangan menyalahkan dirimu. Berjanjilah sama Bunda jangan pernah melakukan hal yang akan menyulitkan kita lagi," ujar Bunda sambil tersenyum menatap anak satu-satunya yang kini ia punya.
Kini keduanya berpelukan, andai Bundanya tahu ia tadi hampir mencelakai Senja dan anaknya pasti Bunda akan shock.
"Ia Bunda, Diana janji tidak akan buat Bunda khawatir lagi,".ucapnya.
"Bunda harap kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang kamu lakukan kemarin," kata Bunda.
Diana hanya menghela nafas, andai waktu bisa ia putar pastinya Ayahnya masih hidup. Namun, kini hanya tinggal ia dan Bundanya saja.
"Kamu tetap kuliah ya..., nanti Bunda akan kerja buat biayanya," kata Bunda.
__ADS_1
"Bunda....Diana enggak mau kuliah lagi," katanya sambil menangis.
"Tidak sayang, Bunda sudah janji sama Ayah," kata wanita yang masih terlihat cantik itu.
Diana hanya menghela nafas, sambil mengusap air matanya. Bagaimana ia bisa kuliah lagi sedangkan sahabatnya yang dulu menjauhinya semua.
Ditatapnya wajah yang kini sedang sholat, ia akan kuliah sambil kerja. Kasihan kalau Bundanya sendiri yang kerja, tapi apa Ibu Ani mau menerimanya lagi.
Diana segera mengambil air wudhu untuk sholat Maghrib, ia akan minta maaf dengan Senja saat dikampus besok.
Harapannya, Senja tidak melaporkannya ke polisi. Namun, kalau dia akan melaporkannya ia sudah pasrah.
Setelah selesai sholat, Diana segera mencari Bundanya untuk menceritakan kejadian tadi siang.
Namun, sang Bunda tak ia temukan.
Saat Diana membuka pintu, seketika matanya terbelalak. Ia melihat Lelaki yang begitu ia takuti kini sedang mengobrol dengan Bundanya diteras depan.
"Sini sayang," panggil Bunda kepadaku.
Seulas senyum tersungging dibibir sepasang suami istri yang kini sedang duduk didepan Bunda, Diana segera duduk di samping Bunda dengan menunduk.
"Kamu ini siap sholat itu buka dulu mukenahnya," kata Bunda Fifi.
Diana hanya tersenyum, ia baru menyadari masih pakai mukenah.
"Sayang, Om dan Tante turut berduka cita atas meninggalnya Ayahmu ya, Nak," kata Ayah Nugraha.
Diana terkejut, kalau sepasang suami istri itu datang ke kontrakannya untuk mengucapkan turut berdukacita. Ia merasa lega, tadi mengira mereka akan mengadukan ke Bundanya tentang kejadian tadi siang.
"I...ia, terimakasih, Om," ucapnya sampai gugup
Bunda Fifi melihat anaknya yang menjadi gugup tersenyum, pasalnya selama mereka tinggal di kontrakan baru kali ini ada yang berkunjung.
"Begini Fi, kedatangan kami kesini selain ingin silaturahim. Namun, kenyataan yang baru kami dengar begitu mengejutkan," kata Ayah Nugraha terlihat sedih.
Bunda yang melihat suaminya menunduk, ia mengusap bahu suaminya. Bagaimanapun mereka dulu dekat, tapi sekarang hanya tinggal kenangan.
"Aku pribadi minta maaf atas nama Mas Pras, kalau selama ia hidup ada salah," kata Bunda Fifi sambil mengusap air matanya.
Melihat Bundanya menangis, Diana memeluk wanita yang begitu disayanginya itu. Suasana begitu pilu, mereka dulu hidup begitu mewah. Namun, sekarang karena sebuah kesalahan dari anaknya yang membuat seorang Satya Nugraha menjadi murka.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
__ADS_1
🌾 Takdir Cinta Khansa
🌾 Menikah Muda