PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 144


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan istrinya Ayah Nugraha hanya tersenyum, baginya nanti saja dijelaskan kepada sang mantunya.


"Jadi mau beli rumah di mana, Nak?" tanya Ayah Nugraha sambil mengusap bahu anaknya.


"Kalau bisa dekat kampus Diana, Yah." jawabnya sambil tersenyum malu.


"Baiklah coba kamu lihat-lihat dulu, o.... ia kemarin Arga kasih tahu kalau kerjaanya perkiraan enggak sampai tiga bulan selesai." Ujarnya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah Bunda ikut senang, tapi apa boleh Arga pulang ke Surabaya dulu, Yah?" tanya Bunda sambil menghampiri suaminya.


Ayah Nugraha hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya, "sebaiknya kita lihat nanti saja. Satya juga masih ada beberapa kerjasama yang baru didapat di Jakarta." jelasnya.


Wanita itu hanya mengangguk, sebenarnya ia begitu rindu dengan Arga, rindu saat anak-anaknya berkumpul lagi seperti dulu sebelum keduanya menikah.


Istri dari Nugraha itu takut kalau anak-anaknya akan melupakan dirinya saat sudah berkeluarga, rasa yang begitu dirasakan oleh seorang ibu kelak setelah anaknya menikah.


Ranga yang melihat Bunda hanya melamun merasa heran, terlihat tatapan wanita itu kosong walau kini ia sedang menatapnya.


"Bunda kenapa?" tanya Ranga.


Ayah Nugraha kini melihat ke sampingnya , istrinya tengah melamun, lelaki paruh baya itu menarik nafas panjang.


"Apalagi yang mengganggu pikiran istriku ini?" tanyanya.


"Ayah, nanti kalau mereka sudah menikah aku sama siapa?" tanyanya sambil menatap suami dan bergantian dengan Ranga.


Ayah Nugraha terkekeh mendengarnya, "tentu denganku, kita akan seperti waktu pacaran lagi. Tanpa gangguan mereka!" katanya sambil mengedipkan matanya.


Ranga hanya tersenyum melihat sikap Ayah Nugraha yang selalu hangat untuk keluarganya, apalagi saat Bunda sedang sedih seperti ini. Pria itu selalu merasa tak terbebani  dan merasa kalau dirinya selalu baik-baik saja di depan anak dan istrinya.


"Ranga istirahatlah, Nak. Kamu masih terlihat lelah, ingat sayang jangan terlalu banyak memikirkan masalah pernikahan mu," ucapnya sambil tersenyum kepada putra bungsunya itu.


"Iya Bun, Ayah Ranga istirahat dulu." Pamitnya kemudian menuju lantai dua.


Setelah kepergian Ranga, wanita itu melihat suaminya yang sedang menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.


"Apa ada masalah, Yah?" tanya Bunda yang merasa suaminya menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


"Bun, beberapa hari ini dada Ayah suka sesak dan nyeri." katanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Bunda terkejut, dalam kondisi seperti itu suaminya masih bisa tersenyum hangat kepadanya." sekarang Bunda panggilan Faisal ya," katanya.


Ayah hanya menganggukkan kepalanya, Bunda segera membawa suaminya untuk istirahat di kamarnya, tak lama ia menghubungi Faisal dan menceritakan apa yang dikeluhkan suaminya.


"Kenapa Bunda baru kasih tahu, ya udah nanti Fai akan datang dengan rekan Fai, Bun." jawabnya dari seberang sana.


Bunda merasa lega karena Faisal langsung datang dengan sahabatnya seorang dokter ahli jantung. Dilihatnya suaminya sudah tertidur, tak sedikitpun wanita itu meninggalkan suaminya yang sedang terbaring dengan lelapnya.


Tak lama bik Ida datang memberi tahu kalau Faisal datang, Bunda membuka pintu menyuruh dokter keluarganya masuk.


Faisal memeluk wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri, "Apa sekarang masih sering sakit dadanya, Bun?" tanya Faisal.


"Tadi agak sesak katanya," jawab Bunda.


"Bunda kenalkan ini Clara dia dokter spesialis jantung terbaik di rumah sakit tempat Faisal kerja," ujarnya.


"Sore Tante," sapa Clara sambil tersenyum menatap Bunda.


"Sore Nak, tolong kamu cek suami Bunda ya," kata Bunda dengan raut wajah yang terlihat khawatir . Bunda duduk di tepi ranjang perlahan ia membangunkan suaminya.


"Ayah, ayo bangun sayang! coba lihat siapa yang datang," kata wanita itu dengan lembut.


"Dasar anak kurang ajar! kamu datang kalau kami ada yang sakit, hah!" kata Ayah sambil menyuruh Faisal mendekat  kemudian ia memeluk Ayah Nugraha dengan erat.


"Bukan begitu Ayah, Faisal banyak kerjaan." Jawabnya sambil tersenyum.


Faisal memperkenalkan Clara kepada Ayah Nugraha, tanpa menunggu lama dokter cantik itu mulai memeriksa lelaki paruh baya itu dengan teliti.


"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja, Tante. Kalau sekarang saya belum bisa memutuskan," kata Clara sambil tersenyum menatap Ayah Nugraha.


"Apa sekarang saja, Nak?" tanya Bunda yang terlihat khawatir.


"Tante tenang ya, sebaiknya sekarang saja. Fai!" kata Clara.


Faisal yang tahu langsung membantu Ayah Nugraha untuk bangun, sedangkan Bunda segera buru-buru masuk kamar Ranga.


"Sayang, ayo bangun kita bawa Ayah ke rumah sakit," kata Bunda yang terlihat khawatir.


Ranga yang mendengar kata rumah sakit langsung duduk, ia memapah Bunda untuk menuruni tangga, melihat itu Faisal geram.

__ADS_1


"Ranga lo bantu gue, biar dokter Clara sama Bunda!" kata Faisal.


Ranga bingung, tapi dengan cepat ia menghampiri Ayah Nugraha dan Faisal. Kini keduanya membantu Ayah menuruni tangga, "Apa yang terjadi Fai?" tanya Ranga saat semua sudah di dalam mobil.


"Sepertinya Ayah terkena serangan jantung, " bisik Faisal ke telinga Ranga yang kini mengemudikan mobilnya.


Tanpa sadar Ranga mengerem mendadak, hal itu membuat Faisal dan yang lainya terkejut.


"Ranga!" teriak Faisal.


"Maaf, gue terkejut!" ucapnya sambil kembali mengemudikan mobilnya.


Ia merasa bersyukur tadi tidak ada kendaraan lain di belakangnya, sehingga tidak membuat yang lainnya celaka.


Setelah menempuh perjalan selama empat puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Ranga sampai di depan UGD, Clara dengan cepat segera minta tolong perawat untuk mengambil kursi roda, wanita itu dibantu Faisal membawa Ayah ke ruang tempat biasa ia menangani pasiennya.


"Tante dan Mas sebaiknya tunggu di luar, Fai lebih baik lo tenangin mereka sepertinya keduanya sama-sama panik," kata Dokter Clara mendorong Faisal untuk keluar. 


Faisal hanya mendengus karena diusir oleh sahabatnya itu, tapi dokter muda itu hanya menurut saja. Kini Faisal duduk di samping Bunda sedangkan Ranga hanya berdiri bersandar di dekat pintu dimana Ayah Nugraha diperiksa.


"Apa kita kasih tahu Satya dan Arga, Nak?" tanya Bunda sambil mengusap bulir-bulir bening yang sedari tadi ditahannya.


"Sebaiknya jangan dulu, kita tunggu hasil pemeriksaannya dari dokter Clara, Bunda," kata Faisal sambil mengusap tangan Wanita yang terlihat begitu khawatir dari mimik wajahnya.


Bunda hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Ranga hanya mondar-mandir di depan pintu, hal itu membuat Faisal kesal dan pusing.


"Bro, lo bisa duduk enggak sih!" katanya dengan nada kesal.


Ranga tak menjawab kata-kata Faisal, ia hanya menatapnya sebentar kemudian ia berganti menatap Bunda yang tengah meremas kedua tangannya saat sedang khawatir.


Pria itu menghampiri wanita itu dan memeluknya," kita berdoa saja semoga Ayah hanya kelelahan," ucapnya.


Bunda hanya menganggukkan kepalanya sambil membalas pelukan anak bungsunya itu, dalam keadaan seperti ini ingin rasanya Ranga menghubungi Arga dan Satya. Namun, mengingat belum ada kabar bagaimana keadaan Ayahnya membuatnya menahannya.


Maaf baru bisa up lagi ini bonus visual Satya dan Senja perbedaan umur 10 tahun membuat keduanya sama-sama saling melengkapi.



__ADS_1


__ADS_2