
Satya hanya mengangguk, ia berharap Ranga tidak bersikap konyol lagi. Namun, ada yang mengganjal hatinya. Apa sampai sekarang Deo masih mencintai Diana.
Ditatapnya istrinya dan bertanya."Yang, apa Deo masih menyukai Diana?"
Bunda dan Ayah langsung menatap putranya karena terkejut, Sedangkan Senja melotot ke suaminya karena membahas masalah ini di depan Ayah dan Bunda.
"Kenapa?" tanya Satya yang tidak menyadari pertanyaannya itu.
Senja hanya menarik napas dalam dan menjawab."Tidak lagi, Deo sudah move on."
"Apa Diana sebelumnya pernah berhubungan dengan Deo?" tanya Bunda.
"Tidak Bun, hanya kagum saja," jawab Senja sambil menginjak kaki Satya membuat suaminya langsung berteriak.
Bunda melihat putranya yang meringis menatap penuh curiga dan bertanya."Kalian tidak menutupi apa-apa' kan?"
Satya dan Senja menggelengkan kepalanya kompak, dan berkata."Bun, Senja ke atas dulu,"
Bunda hanya mengangguk, kini ditatapnya putranya yang langsung beranjak ke rumah kerjanya.
****
Di kediaman Bunda Fifi.
Ranga yang baru sampai langsung duduk di sofa butik karena ia masih lemas, Diana melihat itu tersenyum dan bertanya."Mas, nggak istirahat di kamar?"
"Sini aja dulu," jawab Ranga.
Diana lalu berjalan menuju lantai dua, Ranga menarik napas dalam. Pria itu berharap rumahnya segera siap renovasinya karena kasihan melihat istrinya sedang hamil harus naik turun tangga.
Ranga beranjak dari duduknya, perlahan ia naik tangga, sesampai di atas dilihatnya istrinya sedang sibuk di dapur.
"Kok nggak pesan saja?" tanya Ranga.
Diana tersenyum mendengar apa kata suaminya, wanita itu setelah memanasi lauk segera menyusun ke atas meja makan.
"Bunda mana, Yang?" tanya Ranga.
"Di rumah Papa mungkin, dari pagi pergi belum ada kabar," ujar Diana sambil mengambilkan suaminya masih dan lauk.
Ranga dengan senang hati menerima piring yang sudah berisi dengan lengkap. Keduanya makan bersama tidak ada yang bersuara hanya terdengar dentingan sendok saja.
Setelah selesai makan Diana membereskan meja makan, melihat istrinya seperti itu Ranga membantunya.
"Mas, biar aku saja," tolak Diana.
"Kita kerjakan sama-sama biar cepat selesai sayang," ujar Ranga.
Diana hanya mengangguk karena kata-kata suaminya itu tak terbantahkan. Kini keduanya berjalan menuju ke kamar. Bunda Fifi semenjak menantunya masuk rumah sakit menutup butiknya sementara dan itu di dukung oleh Diana. Namun, selama empat hari juga Fifi hanya sebentar berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Yang," panggil Ranga.
"Iya Mas, kenapa? apa butuh sesuatu?" tanya Diana.
"Ini sudah pukul sepuluh lewat kenapa Bunda belum pulang?" tanya Ranga lagi.
Diana hanya tersenyum, ada rasa bangga dalam hatinya karena suaminya tidak hanya menerimanya saja melainkan Bunda juga. Dari dulu ini yang di inginkan wanita yang kini sedang hamil muda itu.
"Bunda menemani Papa Ferdi lembur, Mas." Diana tersenyum melihat suaminya sambil mengernyitkan keningnya.
"Papa Ferdi minta bunda menemani lembur?" tanya Ranga rasanya tidak percaya.
Diana hanya menganggukan kepalanya, awalnya saja ia tidak percaya kalau Papa Ferdi begitu manja dengan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Yang, kira-kira Bunda siap nikah langsung punya anak enggak ya?" tanya Ranga.
Diana yang menatap Ranga, entah apa yang dipikirkan suaminya itu, bisa-bisa menanyakan hal yang selama ini tidak pernah terlintas sama sekali olehnya.
"Kalau Bunda hamil bagus dong, Mas. Aku jadi bukan anak tunggal lagi," ucap Diana.
"Bukan itu masalahnya, kalau Bunda siap menikah langsung hamil bagaimana saat kamu melahirkan nanti," tanya Ranga.
Diana menatap suaminya yang kini mengikutinya berbaring di ranjang, Ranga menatap sang istri yang terlihat bingung untuk menjawab.
"Mas, kalau Bunda hamil. Itu berarti Allah masih memberikan amanah." Diana menjelaskan ke suaminya supaya tidak berpikir macam-macam.
"Mas kenapa sih? Jangan terlalu berpikiran buruk nanti ujungnya juga nggak bagus, Mas," ucap Diana.
Ranga tersenyum. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Dilihatnya istrinya yang beranjak dari duduknya di tepi ranjang.
"Mau kemana?" tanya Ranga.
"Ambil minum aku haus," jawab Diana.
Ranga hanya mengangguk. Pria itu memainkan ponselnya. Tidak lama ada pesan masuk dari Arga yang menanyakan kondisinya saat ini.
Ranga tidak membalas, iya tahu Arga Akan selalu menganggapnya seperti anak kecil.
"Mas kok belum tidur, mikirin apa sih?" tanya Diana sambil memeluk tubuh Ranga.
"Nggak ada sayang," jawab Ranga.
"Yakin enggak mikirin apa-apa?" tanya Diana pasti.
Ranga memeluk tubuh istrinya dan berkata."Maaf belum bisa membawamu pindah ke rumah yang lebih layak."
Diana tersenyum dan berkata."Ini sudah cukup jangan memikirkan hal lain lagi."
"Mas janji secepatnya," ujar Ranga.
__ADS_1
"Mas untuk kamu tetap berada di sampingku sudah cukup, Sayang," ucap Diana mengecup pipi suaminya.
"Terima Kasih," balas Ranga.
"Tapi Mas janji jangan balapan lagi!"kata Diana tegas menatap suaminya tajam.
"Kok gitu menatapku," kata Ranga.
Diana kembali lagi menyandarkan kepalanya di dada Ranga dan berkata."Mas tahu waktu aku dengar kamu kecelakaan, rasanya aku tidak sanggup hidup lagi kalau sampai terjadi sesuatu padamu."
"Maaf, sudah membuatmu khawatir," kata Ranga merasa bersalah kepada istrinya.
Diana yang tahu jika suaminya melakukan balapan karena cemburu kepada Deo, walau ia tahu dari Leon sepupunya.
"Sudah malam kita bobok ya," kata Ranga.
Diana mengangguk, karena ia juga begitu lelah. Ia juga yakin kalau Bundanya membawa kunci cadangan saat pulang nanti.
Baru saja Diana akan memejamkan mata ponselnya berdering.
"Halo," kata Diana tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Astagfirullah Dek, ucap salam dulu," ucap Leon dari seberang sana.
Diana terkekeh, walau matanya masih memejam.
"Ada apa kak, aku ngantuk?" tanya Diana.
"Kakak hanya mau kasih tahu, Malam ini Bunda tidur di rumah. Kamu tenang saja nggak satu kamar kok sama Papa," ujar Leon.
"Leon," teriak Bunda membuat Diana tersenyum yang mendengar suara Bundanya.
"Sayang, jangan kamu dengar apa kata Kakakmu," ucap Fifi.
"Iya, Bun. Bunda baik-baik ya. Aku sudah ngantuk," kata Diana sambil mematikan ponselnya.
Ranga hanya tersenyum, dibetulkannya posisi istrinya supaya lebih nyaman.
"Kamu pasti lelah, Yang," kata Ranga lirih sambil memberikan kecupan lembut kepada istrinya.
Pria itu perlahan bangun dan membetulkan selimut istrinya, Ranga mengambil tas kerjanya. Diambilnya laptop dan dibawanya keluar kamar. Sampai meja makan Ranga mulai mengerjakan pekerjaannya untuk mendesain rumah yang diimpikan istrinya. Walau sudah direnovasi lima puluh persen. Namun, untuk area taman belum selesai ia desain.
Ranga tidak menyadari kalau jam sudah menunjukan pukul empat itu artinya sebentar lagi adzan subuh berkumandang.
"Mas," panggil Diana yang masih terlihat mengantuk.
"Yang, kok udah bangun?"
bersambung ya...
__ADS_1