
Saat Satya yang sedang mengemudikan mobilnya untuk pulang, ia melihat istrinya yang sudah tertidur lelap.
Rencana ia akan singah ke rumah bunda terlebih dahulu, tapi melihat istrinya yang sepertinya lelah akhirnya ia langsung membelokkan mobilnya menuju ke arah rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Satya sampai di depan rumah.
Tak menunggu lama diangkatnya tubuh kecil Istrinya, Senja hanya mengeliatkan tubuhnya saat merasakan pelukankan hangat suaminya.
Satya hanya terkekeh, pak Yanto dengan sigap membuka pintu untuk majikannya itu.
"Terimakasih, Pak," ucapnya sambil tersenyum.
"Sama-sama, Den," jawanya sambil menutup pintu kembali.
Sesampainya di kamar pria itu berlahan membaringkan tubuh istrinya di ranjang, setelah itu Satya segera menyelimuti tubuh istrinya sampai di dada.
Sebelum pergi pria itu mengecup kening istrinya dengan pelan, ia takut mengganggu tidur istrinya.
Satya keluar dari kamarnya, saat akan keluar rumah ia bertemu dengan Bik Sum.
"Bik, saya pergi kerumah bunda sebentar," pamit Satya.
"Iya Den, hati-hati," jawabnya sambil tersenyum menatap kepergian Satya.
Bik Sum hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar teriakkan Senja memanggil suaminya.
"Ada apa, Non?" tanya Bik Sum.
"Bik Bby mana?" tanyanya balik sambil menuruni tangga.
"Tadi katanya mau kerumah Ayah Nugraha," ucapnya.
"Di tinggalkan lagi deh..." ucapnya.
Bik Sum hanya tersenyum mengikuti Nonanya menunju meja makan, ia kini duduk sambil bersandar di kursi.
"Bik ada es krim enggak?" tanya Senja.
"Semenjak Nona hamil, Den Satya melarang stok es krim," jawabnya merasa tidak enak.
Senja menarik nafas panjang, ia begitu kesal karena suaminya main meninggalkannya. Wanita itu kalau kesal pasti akan melampiaskan ke es krim, baginya dengan makan es krim kepala dan hatinya kembali dingin.
Senja segera naik kelantai dua menuju ke kamarnya, di lihatnya handphonenya, setelah itu ia mengambil uang tiga lembar kemudian menuruni tangga menuju ke luar.
Pak Yanto yang melihat Nonanya ingin membuka pagar segera menghentikannya.
"Non mau kemana?" tanya Pak Yanto.
"Mau ke depan bentar, Pak," Senja segera melangkah meninggalkan pak Yanto yang memanggilnya beberapa kali.
Senja saat sampai di dekat simpang mini market dari jauh ia melihat mobil suaminya pulang, ia yakin pak Yanto menghubungi suaminya.
Senja yang ingin menenangkan diri saja, karena ia kesal di tinggalkan begitu saja oleh suaminya.
__ADS_1
Wanita itu memanggil ojek pangkalan dekat mini market, setelah memberi tahu tujuannya motor langsung melaju meninggalkan mini market.
Satya yang baru sampai rumah, merasa heran melihat pak Yanto dan bik Sum begitu gelisah.
"Ada apa?" tanyanya sambil menghampiri keduanya.
"Itu...Den....aduh....," kata bik Sum merasa bingung cara menyampaikannya.
"Ada apa Bik?" tanya Satya.
"Non.... Senja jalan kedepan, katanya mau beli sesuatu, Den," ujarnya.
"Kanapa di biarkan sendiri!" kata Satya lalu masuk mobil kembali.
Satya merasa heran bukannya tadi istrinya tidur, karena takut saat Senja terbagun tidak ada dirinya pasti nanti istrinya sedih.
Sejak hamil istrinya terkadang lebih posesif kepada dirinya, sesampainya Satya di mini market segera menghubungi nomor ponsel Senja. Namun, tidak ada jawaban.
Satya langsung masuk mini market, tapi ia tidak menemukan istrinya. Satya bertanya kepada seorang penjual kerak telur yang biasa mangkal di dekat pangkalan ojek.
"Pak," panggil Satya.
"Eh.....iya, ada apa atau mau beli?" tanyanya kepada Satya.
"Bapak tadi lihat istri saya kesini beli kerak telor enggak?" tanya Satya balik.
"Apa belum sampai rumah, tadi si Mamat yang ngantar," ucapnya.
Satya terkejut kalau istrinya pulang naik ojek, tapi kenapa ia tak bertemu di jalan tadi.
"Pak apa yang namanya Mamat sudah pulang?" tanyanya.
"Mamat," panggil pak Harto si penjual kerak telur itu.
"Iya, ada apa?" tanyanya sambil menghampiri lelaki paruh baya itu.
"Wanita tadi kamu antar kemana?" tanya pak Harto.
"Oh wanita yang barusan itu," jawabnya.
Satya segera memberikan handphonenya, menunjukkan foto istrinya.
"Yang Ini, Mas," kata Satya.
"Iya Mbak ini tadi minta antar ke kafe pelangi dunianya es krim," jawabnya.
Satya yang mengerti, langsung menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak menunggu lama mobil yang dikemudikan oleh Satya sampai di depan kafe pelangi.
Satya langsung keluar dari mobil, ia masuk ke kafe dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe.
Senyumnya mengembang saat melihat wanita yang duduk di sudut belakang menghadap ke arah kolam ikan.
__ADS_1
Satya segera menghampiri istrinya, tapi saat ia sampai di dekat meja Senja matanya melotot melihat lima mangkuk es krim yang sudah kosong.
"Sayang," panggil Satya.
Senja menoleh di lihatnya suaminya kini duduk di sampingnya.
"Maaf," kata Satya.
Senja tak bergeming, saat suami mengatakan minta maaf. Satya tahu istrinya marah karena sudah di tinggalkan saat tidur, diusapnya bibir istrinya yang belepotan makan es krim pakai tisu.
"Bby pulang saja, Mmy masih mau disini," ucapnya.
"Bby temani, Sayang," katanya lembut.
Senja hanya menarik nafas panjang, baginya seperti ini sudah biasa ia rasakan sebelum menjadi istrinya Satya.
Jadi ia tidak terlalu merasa sedih, tapi yang membuatnya merasa kesal suaminya yang meninggalkannya.
"Yang, jangan cuek gitu," rayu Satya.
"Mmy enggak apa-apa, ini sudah sering Mmy alami," jawabnya.
Satya menarik nafas panjang, tidak mudah untuknya merayu istrinya yang keras kepala ini.
"Yang....marahnya nanti saja ya, sekarang kita pulang," kata Satya.
Senja menatap wajah suaminya jengah, ia hanya bisa mengangguk dari pada nanti makin runyam.
"Bayarin dulu!" titahnya kepada Satya.
"Iya... Yang," jawab Satya.
Setelah membayar keduanya kini berjalan beriringan menuju mobil Satya.
Satya dengan sigap membukakan pintu mobil untuk istri kecilnya, setelah itu ia segera memutar dan duduk di samping kemudi.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Senja membuka jendela mobil dengan lebar.
"Bby....kita keliling-keliling dulu ya," ucapnya. Mendengar itu Satya tersenyum merasa lega.
Istri kecilnya sudah tidak merajuk lagi, kini mobil tidak jadi belok ke arah simpang rumah Satya.
"Kita mau kemana, Sayang?" tanya Satya.
"Jalan saja, Bby," jawabnya.
Satya hanya mengangguk, pria itu juga merasa bingung karena mengemudikan mobilnya tanpa tujuan yang jelas.
Mobil terus melaju membelah jalanan besar kota Surabaya saat mau magrip, Satya kini melajukan mobilnya karena jalan begitu lengang.
"Bby, kita pulang saja karena Mmy juga sudah capek," ucapnya.
"Iya sayang," jawabnya.
__ADS_1
Gila kalau ada Ranga dan Yoga bisa habis dirinya pasti di tertawakan,.
Mobil belok ke arah simpang rumahnya, tak menunggu lama mobil yang dikemudikan Satya sampai di depan gerbang yang kokoh.