
Mentari dan Rendy kini sedang berada di ruang tamu pengacara almarhum papa Roby, Pak Anton tersenyum saat kedua anak sahabatnya itu datang. Ia menarik nafas dalam, begitu prihatin melihat Mentari yang pernah menjadi korban ke keegoisan Papanya sendiri.
“Apa kabar, Nak?” tanyanya sambil melihat ke arah mentari dan berganti ke Rendy.
“Alhamdulillah baik, Om,” jawab Rendy sambil tersenyum.
Pak Anton tidak banyak basa basi ia langsung memberikan surat wasiat yang baru di perbarui oleh Roby sahabatnya, kini Rendy dan Mentari membacanya.
“Om, saya hanya anak angkatnya yang berhak ini kak Mentari,” ucapnya sambil mengembalikan surat yang tadi nya ia baca.
Mentari menggelengkan kepalanya, baginya Rendy juga berhak atas usah almarhum Papanya. Kini Mentari menatap Om Anton dengan seksama.
“Saya terima, perusahan papa di pegang oleh Rendy, karena saya akan ikut suami saya ke Jakarta,” ucapnya.
“Tapi Kak….ini,” ucap Rendy terhenti saat Mentari menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada tapi-tapian itu kamu berhak, kamu tahu kakak tidak mengerti tentang perusahan yang selama ini Papa kelola,” ujarnya sambil tersenyum.
Rendy tidak bisa menolak lagi, tapi ia akan membagi apa yang akan menjadi hak Mentari nantinya. Terlebih ia ingat apa kata mamanya yang menyuruhnya untuk menguasai harta papa Roby seutuhnya, hal itu tidak akan ia lakukan. Sedangkan saham 5% yang di berikan papa Roby ke mamanya akan ia berikan juga haknya.
Rendy yakin mamanya akan marah kalau ia tahu hanya menerima 5% saja, tapi itu masih lama bisa ia pikirkan nanti lagi. Kini keduanya segera undur diri, Mentari yang tahu suaminya kini sedang berada di rumah anaknya rencana akan ikut menyusul ke sana.
Rendy hanya mengangguk saat kakaknya minta antar ke rumah Senja saja, tapi sampai sekarang Rendy masih
ke pikiran masalah ayah kandungnya. Ia juga harus ke Jakarta minggu depan untuk menghadiri pernikahan Arnold.
“Kak, apa rencana Kakak selanjutnya?” tanyanya sambil melihat kakaknya sebentar.
“Enggak ada Ren, kakak hanya ingin menghabiskan masa kebersamaan dengan suami dan anaknya nantinya,” jawabnya sambil tersenyum menatap adiknya.
“Oh ia…apa Popy tetap jadi sekretarismu nantinya?” tanyanya sambil tersenyum.
“Tidak Kak, tapi dia akan memegang perusahaan satu lagi yang biasa Rendy pegang, Rendy akan fokus ke perusahan Papa,” jawabnya.
“Ide bagus,” jawabnya.
“Apa Kakak yakin tidak ingin kerja kantoran seperti cita-cita Kakak dulu?” tanyanya
__ADS_1
“Tidak itu hanya masa lalu, tapi kakak akan membuka butik di Jakarta nantinya,” ujarnya.
Rendy tersenyum, ia sangat bahagia sekarang melihat kakaknya bisa tersenyum begitu lepas, beda saat ia belum berkumpul dengan suaminya
Tanpa terasa mobil sudah sampai di depan rumah Satya, bik Sum yang melihat mobil Rendy tersenyum. Wanita paruh baya itu segera menghampirinya, senyumnya mengembang saat melihat Mentari ikut datang. Namun, ia terlihat bingung kenapa Popy tidak ada ikut.
“Bibik cari siapa?” tanya Rendy yang melihat bik Sum mengintip ke dalam mobil.
“Eh….Non Popynya mana?” tanyanya lagi.
Mentari dan Rendy tersenyum, ia tahu bik Sum begitu suka dengan Popy karena keduanya sama-sama dari Bandung. Katanya sih klop kalau lagi ngobrol.
“Ada di rumah Bik, sengaja Rendy umpet in biar enggak ada lelaki yang lihatin,” ucapnya sambil mengedipkan matanya.
“Ada-ada saja,” jawabnya wanita paruh baya itu sambil ikut masuk ke dalam rumah Satya.
Di ruang keluarga masih ada Satya dan Yoga keduanya sedang main ps, sedangkan Senja mengerjakan tugas kuliahnya. Mentari hanya menggelengkan kepalanya melihat suami dan mantunya kadang saling umpat, Senja tersenyum saat melihat ibu dan Omnya datang.
Rendy segera merebut stik milik Satya , ia sudah lama enggak main ps dengan mas Yoga. Kini permainan keduanya terlihat sangat seru. Satya akhirnya mengalah , kini ia duduk dekat istri dan ibu mertuanya.
“Belum selesai yang?” tanyanya sambil tersenyum.
“Serius kali kalau udah pada main ps,” kata Mentari yang melihat suami dan adiknya.
“Iya, sudah lama enggak main,” jawab Satya.
Mentari hanya tersenyum menatap mantunya yang kini duduk memperhatikan Senja yang tengah membuat tugas.
“Ibu, kenapa tante Popy enggak ikut?” tanya Senja sambi mematikan laptopnya.
“ Dia akan pergi ke ulang tahu anak temannya,” jawab Mentari sambil mengambil kue yang baru di siapkan bik Sum.
Yoga menghampiri istrinya, ia terlihat cemberut, sedang kan Rendy begitu ceria karena selalu menang. Mentari hanya menggelengkan kepala melihat keduanya seperti anak kecil.
“Tadi gue main sama Satya menang terus,” kata Yoga.
“Mas Yoga lupa kalau Rendy jagonya,” sahut Mentari terkekeh mendengar curhatan suaminya.
__ADS_1
Yoga hanya diam saat mendengar istrinya membela adiknya, tapi ia mengakui kalau Rendy memang dari dulu sanggat jago main ps nya. Namun, Yoga tidak mau mengucapkan takutnya anak itu akan besar kepala.
“Mas ….jangan lupa tiket bulan madunya,” ucapnya.
“ Memangnya om Rendy mau bulan madu kemana?” tanya Senja.
“Rahasia,” jawabnya sambil tertawa lepas
Senja hanya mencibirkan bibirnya saat mendengar Omnya yang suka menjahili nya, ia tahu betul Rendy suka sekali mengganggunya. Satya tersenyum melihat istrinya kesal, ia mengacak rambut Senja gemes.
“Lo mau kemana bulan madunya, biar Adrian langsung menyiapkan,” jawab Yoga.
“ Gue mau mentahnya saja Mas.” Jawabnya sambil menaikkan kedua alisnya.
Yoga hanya menggelengkan saja, ia tahu betul kalau Rendy hanya bercanda. Namun, terkadang ide konyol Rendy
bisa di acungi jempol.
“Jangan mau Yah, paling-paling hanya buat beli ps baru lagi,” ucap Senja yang tahu betul kolasi game Omnya.
Rendy langsung menatap Senja, ia hanya bisa menarik nafas panjang. Ponakannya itu dulu yang suka membongkar kamarnya, jadi tak heran kalau Senja tahu apa saja kolesinya. Namun, ia ingat saat Rendy membeli majalah dewasa senja begitu marah sampai mengadu ke ka kakek Roby.
“Senja, kamu itu anak kecil jangan ikut campur,” katanya menatap ponakannya kesal.
“Om lupa kalau anak kecil ini, bisa membuat baby lucu,” jawabnya sambil mengedipkan matanya ke suaminya.
Satya hanya tersenyum, saat melihat istrinya mengedipkan matanya. Mentari juga tersenyum ia begitu kangen dengan suasana seperti ini, dulu sering Rendy dan Senja bertengkar masalah yang sepele. Jika dulu ada Kakek Roby yang selalu membelanya, tapi sekarang tidak ada lagi. Tanpa terasa air matanya menetes, tapi segera ia
mengusapnya takut ketahuan yang lainnya.
Kini Yoga dan Mentari segera pamit, begitu juga dengan Rendy. Kini tinggallah sepasang suami istri itu duduk di ruang tamu, Senja segera menatap suaminya. Saat melihat televisi ada iklan piza Senja entah kenapa sangat ingin memakannya.
“Bby…kita beli itu yuk,” ucapnya sambil menelan ludahnya.
“kita pesan online saja ya,” jawab Satya.
“Oke bos,” ucapnya sambil bersandar di dada suaminya.
__ADS_1
Satya hanya tersenyum ,apa ini yang dikatakan ngidam, tapi kalau ngidam nya mudah seperti ini gampang menurutnya.