PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Kesempatan kedua Ibnu


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat sudah hampir satu minggu Sari pergi dari rumah, Ibnu selama seminggu itu sudah mencari sampai dia menghubungi Papa Erlangga untuk menanyakan istrinya, bukannya mendapatkan petunjuk, kedua orang tua Sari begitu marah setelah Ibnu menceritakan apa yang terjadi.


Awalnya Papa Erlangga melarang Ibnu untuk mencari putrinya jika nanti akan disakiti lagi, tapi karena menantunya sudah berjanji tidak akan mengulang yang sama, pengusaha sukses itu akhirnya memberikan kesempatan kedua untuk suami anak kesayangannya itu.


Erlangga berharap sari segera ditemukan, tapi diam-diam ia juga mengerahkan  anak buahnya untuk melacak dimana putrinya. Walau dia jauh dari anak semata wayangnya itu sebenarnya dia tahu dimana Sari sekarang, karena sudah menyuruh salah satu kepercayaannya untuk mengawasi putrinya.


Ibnu menatap foto pernikahannya dengan Sari, air matanya menetes begitu saja. Pria itu begitu merutuki kebodohannya. Ia menyadari kalau selama ini rumah tangganya dengan Sari kurang komunikasi yang baik, ia tidak pernah cerita kepada istrinya apa yang dialami selama ini. Namun, bodohnya dia berbagi dengan wanita lain yang tidak ada hubungan dengan dirinya.


Mama Tika melihat putranya yang kini duduk dilantai sambil memeluk foto istrinya hatinya begitu perih, saat Ibnu mengatakan akan menikah itu sungguh kejutan yang luar biasa akhirnya putranya bisa membuka hatinya kembali untuk wanita lain, tapi tanpa sepengetahuannya selama ini Sari memendam sendiri apa yang sudah dilakukan putranya.


Mama Tika menghampiri putranya dan berkata, "Ayo temani mama makan, Nak."


Ibnu menatap wanita itu dengan tatapan sendu, lagi-lagi air matanya mengalir di pipinya. Ia tak peduli mau dikatakan cengeng atau apa sama mamanya. yang sekarang dia perlukan hanyalah dukungan dari wanita yang sudah melahirkannya itu.


Mama Tika membantu Ibnu untuk berdiri kondisi tubuh anaknya terlihat lemah karena sudah dua hari Ibnu tidak mau makan, dia begitu menyesali apa yang sudah diperbuat kepada istrinya.


"Kamu harus bangkit, Nak. Cari istri dan anakmu," kata Mama Tika.


Ibnu hanya diam sambil mengunyah makanannya yang terasa hambar, ***** makannya hilang selama seminggu ini. Padahal sebelumnya saat Sari mengajaknya makan selalu bilang sudah kenyang.


"Mama, aku akan mencari ke bandung saman Deo besok," kata Ibnu.


"Apa sudah ada titik terangnya, Nak?" tanya Tika.


"Belum Ma, cuma kakaknya Deo selama seminggu ini jika di telepon enggak pernah mau angkat, jadi dia curiga kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dea," ujar ibnu sambil  menghabiskan minumnya.


"Mama harap segera ketemu," kata Mama Tika.


Ibnu hanya mengangguk dia langsung pergi ke ruang keluarga di sana dia beberapa kali melihat sosial media istrinya tapi tidak satupun dia lihat postingan terbaru dari Sari. Nomor teleponnya sampai sekarang juga belum aktif membuatnya frustasi.


Ibnu mengambil kunci mobilnya, melihat itu mama Tika segera mengejarnya sambil bertanya," Mau kemana, Nak?" 


"Mau ke rumah Satya, Mama tenang saja," kata Ibnu menatap wanita paruh baya itu yang terlihat begitu khawatir.

__ADS_1


Mama Tika hanya mengangguk, dilihatnya mobil putranya mulai menjauh dan sampai tidak terlihat lagi. 


"Doa mama, semoga secepatnya menemukan istrimu, Nak!" katanya lirih.


****


Di kediaman Nugraha tengah ramai karena Arga dan Ranga baru pulang bulan madu, Ranga memutuskan akan tinggal bersama mertuanya terlebih dahulu sambil menunggu rumahnya selesai direnovasi.


Ranga membeli Rumah dari hasil jerih payahnya sendiri, dia tidak ingin mertuanya tinggal di ruko lagi, pria itu sengaja membeli rumah tak jauh dari kawasan butik milik Bunda Fifi, agar mertua dan istrinya lebih mudah untuk sampai ke tempat usahanya.


Suci begitu gemes melihat El yang kini ada di gendongannya, sedangkan Diana sedang menggendong Jingga. Melihat istrinya begitu senang dengan anak kecil Arga tersenyum. Dia ingat saat masih di paris kalau istrinya tidak ingin menunda kehamilannya.


"Kak, lihat deh lucukan," kata Suci saat melihat suaminya menghampirinya,


"Iya, semoga kita cepat di beri juga amanah," ujar Arga tersenyum menatap istrinya.


"Amin," balas Suci.


Senja yang baru turun dari lantai dua langsung ikut bergabung di ruang keluarga, dan duduk di samping suaminya. Satya mengusap punggung tangan istrinya. Melihat itu Yoga tersenyum tipis, entah kenapa saat mendapat nasehat dari Ayah Nugraha kemarin ia melihat banyak perubahan dari menantunya itu lebih perhatian kepada putrinya.


"Acara apa?" tanya Arga dan Ranga bersamaan.


"Kekehan Jingga dan El, kali ini Senja dan Mentari hanya akan mengundang saudara terdekat saja, dan anak yatim piatu," kata Ayah Nugraha.


"Kamu yakin, Nak?" tanya Bunda kepada menantu dan Mentari.


"Iya Bunda, kami ini acaranya sederhana saja, setelah pengajian dari warga komplek setempat dilanjutkan dengan makan bersama dengan anak-anak yatim," jelas Senja.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Senja yang lain ikut tersenyum, Mama muda itu begitu memiliki jiwa yang terlihat dewasa walau umurnya masih muda membuat yang lain kagum. Senja walaupun memiliki suami seorang Direktur tak semata-mata membuatnya lupa akan siapa dirinya.


Senja tidak pernah pergi shopping seperti kebanyakan istri seorang pemimpin perusahaan lainya. Penampilan yang terlihat sederhana menjadi daya tarik tersendiri untuk suaminya.


Ibnu masuk bersamaan dengan dokter Faisal yang juga baru datang karena bertemu di luar tadi.

__ADS_1


"Assalamualaikum," kata keduanya kompak.


"Waalaikumsalam," jawab Semuanya.


Senja melihat wajah Ibnu terlihat pucat, ada rasa khawatir pada dirinya, jika keputusan Sari meninggalkan suaminya menjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Bagaimana?" tanya Satya.


"Belum ada perkembangan, cuma mertua gue melarang lapor polisi," jawab Ibnu.


"Ada apa ini?" tanya Faisal yang tidak tahu apa-apa karena dia baru pulang dari seminar di Bandung.


Satya menceritakan semuanya, hal itu membuat pria itu hanya menarik napas panjang. Namun, dia yakin kalau istri dari Ibnu akan kembali karena anaknya akan begitu membutuhkan sosok seorang Ayah.


Faisal menatap Arga dan Ranga yang merasa tidak bersalah kepadanya, karena jam empat dini hari tiga pengantin baru menghubunginya karena hal yang sensitif bagi wanita.


"Apa lo lihat-lihat?" tanya Arga.


"Cih, lo berdua enggak ada akhlak, hubungi gue jam empat dini hari minta maaf pun tidak!" kata Faisal kesal jika mengingat saat itu.


"Lo, kan dokter. Jadi wajar dong gue hubungin lo," jawab Arga.


"Bilang aja jiwa jomblo lo meronta-ronta," kata Ranga diiringi tawa.


Satya dan Yang lainya hanya menyimak saja,  karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh ketiga pria itu.


"Kenapa mereka  telepon lo subuh-subuh?" tanya Satya penasaran.


"Dia minta resep salep buat bininya," jawab Faisal.


Satya yang tahu maksud dari Faisal hanya tersenyum menatap tiga wanita yang sedang asik mengobrol.


"Lo enggak ada persiapan mau gituan?" tanya Satya.

__ADS_1


Bersambung ya...


__ADS_2