
Senja yang sudah merasa on juga hanya mengangguk, siang hari mereka meluapkan rasa yang tidak ada habisnya. Hingga keduanya sama-sama ingin meraih kepuasan. Tiba-tiba suara Jingga dan ketukan pintu membuyarkan konsentrasi olahraganya.
"Mas, jingga nangis," kata Senja.
"Nanggung sayang," jawab Satya yang sudah mau mencapai puncak.
Senja terlihat kesal karena suaminya itu tidak mau mengerti.
"Kamu kamar mandi dulu, biar Mas ambil Jingga!"perintah Satya kepada istrinya.
Setelah memakai celana pendek dan kaos santai. Pria itu membuka pintu.
"Kenapa Jingga, Bik?" tanya Satya langsung mengambil alih putrinya.
"Rewel dari tadi, Den," jawab Bik Ida kemudian pamit.
Satya membawa putrinya masuk kamar, tak lama Senja keluar dari kamar mandi. Wanita itu hanya menarik napas dalam saat melihat putrinya masih sesenggukan.
"Uh, anak cantik Mama, sini sayang."Senja mengambil putrinya dari gendong Suaminya.
"Mas mandi." saat melihat Satya akan naik ranjang.
Tanpa menjawab pria itu langsung mengambil handuk dan masuk kamar mandi untuk menyelesaikan ritualnya.
Setelah lima belas menit Satya keluar dan menghampiri Senja yang sedang memberikan asupan gizi untuk putrinya.
"Sayang, kamu yakin bulan depan akan mulai kuliah lagi?" tanya Satya.
"Iya, Mas. Apa Mas keberatan?" tanya Balik Senja.
"Tidak, asal kamu tidak lupa akan tabung jawabmu karena sekarang kamu bukan hanya istri melainkan ibu dari Jingga," ujar Satya.
"InshaAllah Mas, aku tidak akan lupa," jawab Senja.
"Satu lagi jangan mengemudikan mobil lagi!" kata Satya tegas.
Senja hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tahu suaminya begitu khawatir karena kecelakaan yang dulu dokter melarangnya jangan sampai kepalanya terbentur lagi.
Satya mengambil laptop dari dalam tas kerja, Senja yang melihat itu langsung bertanya."Mas enggak balik ke kantor?"
"Enggak, kerjain di rumah aja, apa Jingga sudah tidur sayang?" tanya Senja
"Sudah, "jawab Senja hendak beranjak dari duduknya. Namun dicegah oleh suaminya.
"Di sini saja!"pinta Satya.
"Aku kelaparan dulu, Mas mau minum apa?" tanya Senja.
"Kopi aja, Yang," jawab Satya kembali lagi menatap ponselnya.
Senja segera keluar ke kamar sebelum bayi besarnya meminta hal yang tidak masuk akal.
Senja saat sampai ruang keluarga melihat sudah ada kedua mertuanya.
"Bunda kapan pulang?" tanya Senja sambil tersenyum.
"Baru Nak, Jingga mana?" tanya Bunda.
__ADS_1
"Tidur Bun, Ayah mau minum teh," tawar Senja.
"Boleh Nak, apa Satya tidak kembali ke kantor?" tanya Ayah Nugraha karena saat pulang ada mobil putranya.
"Enggak Yah, kerjain di rumah saja," sahut Satya yang baru keluar dari kamar dan bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Yang, Bik Sum nggak pulang. Diminta Rendy bantuin di rumah sakit," ujar Satya.
"Iya nggak apa-apa," jawab Senja sambil ikut duduk di samping Satya.
"Bagaimana dengan kerja sama dengan Leon, apa ada kendala?" tanya Ayah Nugraha menatap Putranya.
"Tidak Yah, aman saja. Cuma aku harus pergi ke Papua untuk mengecek lahan di sana," jelas Satya.
"Jauh banget, Mas." Senja menatap suaminya.
Satya tersenyum menatap istrinya dan berkata."Hanya tiga hari percayalah. Semua aman."
"Ingat minggu depan Bunda Fifi menikah, Nak. Kamu kapan berangkat?" tanya Bunda.
"Dua minggu lagi, Bun. Masih lama." Satya terkekeh saat melihat istrinya melotot.
"Kamu ini masih lama udah pamit," kata Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya.
****
Di rumah sakit tempat Ranga dirawat, Diana dengan tulus menemani suaminya. Walau Bunda memintanya untuk pulang istirahat. Namun, wanita yang tengah hamil muda itu selalu menolaknya.
Perlahan pintu terbuka, Arga yang baru sampai menatap adiknya yang sedang terlelap. Pria itu dan istrinya langsung masuk memeluk Bunda Fifi dan Diana.
"Apa Ranga sudah sadar?" tanya Arga.
"Kamu yang sabar ya," ucap Suci lembut sambil mengusap bahu Diana.
"Terimakasih," jawab Diana.
Arga berjalan menghampiri adiknya, dan berkata." Kenapa kamu sering buat aku khawatir."
Bunda Fifi menghampiri Arga dan berkata." Bunda tahu bagaimana perasaanmu, Nak."
"Bun, terimakasih sudah menjaganya," ucap Arga.
"Kamu ini, Ranga itu biar menantu Bunda. Sudah seperti anak sendiri," ujar Bunda Fifi.
Arga tersenyum, jujur saat adiknya mengatakan ingin menikah. Ada rasa was-was karena terkadang pikiran Ranga masih seperti anak kecil apalagi kalau sedang marah hanya Bunda yang mampu menenangkannya.
"Kamu jangan khawatir, InshaAllah cepat pulih," kata Bunda Fifi.
"Iya Bun," jawab Arga.
Bunda Fifi membiarkan Arga duduk di samping adiknya. Tidak lama Ranga mengerjapkan matanya. Ia begitu terkejut saat melihat saudara kembarnya.
"Kapan lo datang?" tanya Ranga.
"Gimana kabarnya?" tanya Arga balik.
"Gue masih hidup," jawab Ranga asal.
__ADS_1
Mendengar apa jawaban adiknya Arga hanya mendengus dan berkata." Lo udah buat orang khawatir."
"Maaf," ucap Ranga.
Arga hanya mengangguk, ia juga bingung mau bicara apa karena ada Bunda dan adik iparnya juga di ruang rawat Ranga.
"Jangan bilang lo mau ceramahin, gue!" Ranga menatap curiga saudara kembarnya itu.
Arga hanya menatap datar, ia akhirnya beranjak berdiri.
"Bun, Arga antar Suci dulu ke rumah Ayah," pamit Arga.
"Iya Nak, hati-hati," balas Bunda Fifi.
Arga dan Suci segera keluar dari ruang rawat Ranga.
"Mas, kok cepat sekali pulangnya," kata Suci merasa bingung.
Arga hanya tersenyum, jujur sedari tadi ingin sekali memarahi Ranga yang sembrono main balap liar karena dari dulu ia melarang adiknya.
Suci yang melihat suaminya hanya diam lalu, mengusap bahu Arga dan berkata." Mas mikirin apa sih."
"Enggak ada, Sayang." Arga langsung masuk mobil.
Setelah menempuh perjalan selama empat puluh menit. Arga sudah sampai di kediaman Ayah Nugraha. Ia dan istrinya langsung masuk karena pintu terbuka.
"Assalamualaikum, Bunda anak tampanmu pulang!" teriak Arga.
"Waalaikumsalam, jangan teriak di sini bukan hutan!" gerutu Satya kesal karena ia terkejut.
Arga hanya terkekeh, langsung memeluk Bunda dan berganti ke Ayah Nugraha. Begitu juga dengan Suci. Namun, langsung menuju ke arah Senja yang sedang memangku Jingga.
"Kenapa nggak minta jemput?" tanya Bunda menatap putranya.
"Naik taksi aja Bun, langsung ke rumah sakit tadi," ujar Arga.
Bunda hanya mengangguk, dan bertanya."Rendy anaknya sudah lahir."
"Hah, serius Bun. Itu anak nggak napa-napa' kan?" tanya Arga.
"Lihat anaknya pingsan," jawab Satya.
"Kok bisa?" tanya Arga.
Senja langsung menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Arga, pria itu langsung tergelak sambil mengusap air matanya.
"Gila itu Rendy," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mas," kata Suci karena mengatakan kalau Om Rendy gila.
"Santai saja Kak, aku aja tadi gemes apalagi Bik Sum ikut latah tergeletak di lantai juga," ujar Senja.
"Hah, serius Yang?" tanya Satya.
"Iya Mas, para perawat sudah tertawa sampai sakit perut," jawab Senja sambil tersenyum mengingat kejadian siang tadi.
Ayah Nugraha menatap Arga dan bertanya."Arga kamu tidak marahin Ranga 'kan, Nak?
__ADS_1
bersambung ya….