PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode160


__ADS_3

Hanum terpaku saat melihat suaminya keluar kamar, apa dia salah kalau bisa belum melakukannya.


Gadis itu duduk di tepi ranjang, rasa bersalah saat melihat kekecewaan di mata pria yang kini sah menjadi suaminya. Ia bingung haruskah keluar mencari Afkar dan meminta maaf.


Sibuk dengan perasaan yang kalut, sampai tidak menyadari kalau suaminya sudah duduk di sampingnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Afkar membuyarkan lamunan sang istri.


"Astagfirullah, kapan Mas masuk?" tanya Hanum terkejut melihat suaminya sudah ada di sampingnya.


Afkar hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya, pria itu merasa lelah membaringkan tubuhnya. Hanum melihat itu tiba-tiba menjadi gugup.


"Hanum, tidurlah!" titahnya tanpa membuka matanya.


Perlahan gadis itu naik keranjang dan membaringkan tubuhnya, tapi tiba-tiba tubuhnya menegang saat Afkar menariknya dalam dekapannya.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut suaminya, yang ada hanya terdengar dengkuran halus. Jangankan untuk tidur menggerakkan tubuhnya saja Hanum tak berani hingga jam 3 dini hari baru terlelap.


Pagi harinya Afkar yang lebih dulu terbangun saat mendengar suara adzan subuh berkumandang, pria itu ingat saat Harun mengajak untuk sholat berjamaah di masjid.


Perlahan dilepaskannya tubuh istrinya yang kini sedang memeluknya seperti guling.


Cup.


Setelah mengecup kening Hanum, Afkar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah lima belas menit dia keluar melihat istrinya masih tidur hanya menggelengkan kepalanya.


"Hanum," panggilnya sambil mengusap lengan istrinya dengan lembut.


"Ibu aku masih ngantuk," racaunya.


Afkar terkekeh, ia membisikkan sesuatu di telinga istrinya, "Bangun atau aku minta hakku sekarang!" ancamnya.


Gadis itu perlahan membuka matanya, wajah tampan dan aroma maskulin semerbak di Indra penciumannya.


"Kenapa apa aku tampan," godanya sambil menyentil kening istrinya yang masih menatapnya tak berkedip.


"Au, Mas sakit," rintihnya sambil mengusap dahinya.


"Sudah mandi sana, aku mau pergi ke masjid," pamitnya keluar dari kamar sudah mengenakan baju Koko dan sarung.


Hanum hanya tersenyum, tak lama ia bangun dan segera ke kamar mandi, setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim ia keluar dari kamar menuju ke dapur.


"Ibu," panggilnya.


"Hem, gimana rasanya?" tanya Ibu menatap anak sulungnya.


"Gimana apanya?" tanya Hanum bingung.


"Malam pertamanya," kata Ibu sambil tersenyum menatap wajah anaknya yang membeo.


"Ibu!" 

__ADS_1


"Assalamualaikum," kata Pak Iwan yang baru pulang dengan anak dan menantunya.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu dan Hanum.


Afkar langsung masuk kamarnya, rencana hari ini dia akan langsung terbang ke Surabaya untuk menghadiri resepsi Arga dan Suci, tapi dia lupa belum mengatakan kepada istrinya.


Tak lama pintu terbuka, Hanum tersenyum sambil memberikan teh hangat kepada suaminya.


"Terimakasih, Sayang," kata Afkar menerima cangkir yang diberikan sang istri.


"Iya."


"Han, nanti jam sepuluh kita langsung ke Surabaya ya," katanya.


"Kok Surabaya, Mas?" tanyanya.


"Iya karena enggak enak kalau enggak datang di resepsi Arga," ujarnya.


"Apa sudah bicara sama bapak dan Ibu?" tanyanya.


"Belum nanti setelah sarapan aku bicarakan."


Tak lama Hanum mengajak suaminya untuk sarapan, kali ini mereka duduk lesehan di depan televisi, Afkar tersenyum saat melihat nasi goreng ditaburi sesuatu warna hijau. 


"Mas ini punyamu yang enggak ada mutiara hijaunya," katanya.


"Mutiara hijau?"


"Petai Bang, masa gitu aja enggak tahu," sahut Harun.


"Pak, InshaAllah hari ini saya mau ajak Hanum untuk ke Surabaya," katanya.


"Loh, mau bulan madu ya," jawabnya.


"Bukan Pak, tapi bos saya menggelar resepsi di sana," jelasnya.


"Ya sudah, tapi nanti sering-sering kemari ya ,Nak." 


"InshaAllah, Pak."


Ibu menatap sendu kepada anak dan menantunya, dia sebenarnya masih kangen, tapi mau bagaimana lagi putrinya sudah menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya. 


"Hanum ingat pesan ibu jadilah istri yang menurut kepada suami, jangan lupa apa yang ibu ajarkan tadi."


"Ibu," katanya dengan manja.


"Kamu diajarin apa sama ibumu, Nak?" Tanya Bapak karena dia tahu mulut istrinya suka ceplas-ceplos.


"Ajarin buat cucu untuk Ibu, dengan berbagai gaya," ujarnya.


Afkar yang mendengar apa kata ibu mertuanya langsung tersedak, dengan cepat Hanum memberikan air minum.

__ADS_1


"Ibu ini, lihat menantu kita jadi tersedak!" kesal Bapak.


Wajah Hanum sudah seperti kepiting rebus saat ibunya menceritakan kepada Afkar dan Bapaknya.


"Nak, Afkar Hanum itu masih polos, jadi harus diajari berbagai gaya," kata ibu vulgar.


"Ibu sudah, kalau masalah gaya tentu menatu kita lebih pintar teorinya daripada kita," sahut bapak menimpali.


Harun yang sibuk dengan game tidak menyimak apa yang sedang dibicarakan, hal itu membuat gadis itu lega adiknya tidak terkontaminasi oleh ucapan Ibu dan Bapak.


Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi Afkar segera mengajak sang istri untuk bersiap, hal itu membuat Hanum memilih segera kabur dari godaan Ibu dan bapaknya.


***


Di Surabaya.


Semua keluarga Nugraha dan Angkasa sudah berada di hotel, begitu juga dengan keluarga Diana walau hanya dihadiri oleh Bunda dan beberapa karyawan butik. Namun, yang membuatnya sedih gadis itu menikah tanpa sang Ayah.


Bunda Fifi juga sudah menghubungi Omnya Diana, tapi mereka tidak bisa hadir dan tidak mau tahu lagi dengan anak dan istri kakaknya. Sebagai seorang Ibu ia paham apa yang dirasakan putrinya sekarang.


Bunda Fifi mengatakan kalau Omnya tak hadir, pada hal dia yang berhak menikahkan Diana dan Ranga. Ayah Nugraha mendengar itu segera konsultasi dengan penghulu, tapi yang mengejutkan kalau wali hakim tidak bisa karena masih ada adik kandung dari Ayahnya mempelai wanita. Apa lagi masih tinggal satu kota.


Ranga sudah duduk di depan penghulu, sedangkan Satya begitu siaga mendampingi sang istri yang duduk dekat Mentari mertuanya.


Jam menunjukan masih pukul delapan, sedangkan Ijab kabul masih lama dimulai, Ayah Nugraha wajahnya seketika tegang saat tahu kalau Omnya Diana tidak bisa datang. Sedangkan hanya dia yang bisa menikahkan Diana karena Ayahnya telah tiada.


Satya yang melihat ada masalah karena jarang sekali pria yang begitu dia kagumi itu terlihat tegang. Yoga menatap Satya dan beralih ke Ayah Nugraha.


"Kamu di sini saja, biar gue yang kesana," kata Yoga.


Yoga dan Arga berjalan menghampiri Ayah Nugraha untuk menanyakan sesuatu, setelah Ayah Nugraha menceritakan semuanya, Arga mengepalkan tangannya.


"Biar Arga yang urus!" katanya tegas


Arga berjalan agak menjauh, tak lama Ibnu datang di ikuti oleh Alan, Deo dan Leo. Mereka berencana menjemput Omnya Diana secara paksa, karena masih ada waktu hampir dua jam lebih.


"Apa aku harus ikut?" tanya Satya.


"Jangan kamu jaga Senja saja, biar gue dan yang lainya saja pergi," kata Yoga.


"Masalahnya gue kenal dengan Omnya Diana, karena kami pernah menjalin kerja sama," kata Satya.


Semua yang ada saling pandang, ini akan mudah meminta tolong, akhirnya Satya pergi dengan yang lainya kecuali Yoga yang tinggal.


Ayah Nugraha merasa lega, kalau Satya mengenal Omnya Diana. Pria paruh baya itu berharap pernikahan Ranga dan Diana tidak batal.


Bersambung ya....


Sambil menunggu yang lain up Aa ada Novel baru yang berjudul.


DILEMA KARENA CINTA.

__ADS_1




__ADS_2