
Kelas kini telah usai, Senja terkejut melihat ada mobil yang tak asing baginya. Wanita itu segera menuju mobil yang ia tahu itu mobil Kakeknya, dari jauh ia bisa melihat Ayah Yoga bersandar di mobil sambil melipatkan tangannya di dada, tidak lupa ia juga menggunakan kaca mata hitamnya.
Senja melihat tidak suka, saat Ayahnya menjadi perbincangan para wanita yang seakan haus aka belaian lelaki tampan, Yoga tersenyum saat Senja sudah tepat di depanya
“Ayah sengaja tebar pesona ya di depan wanita itu!” kata Senja sambil mencibirkan bibirnya.
Yoga hanya terkekeh melihat anaknya yang kesal kepadanya, pada hal tidak ada maksud untuk tebar pesona. Ia hanya ingin melihat kampus tempat ia kuliah dulu, ternyata sudah banyak perubahan.
“Kamu ini, Ayah tidak ada tebar pesona,” ucapnya sambil menoel hidung anaknya.
“Kenapa ibu enggak ikut?” tanya senja.
“Ibu sedang bikin kue di rumah Bunda,” jawabnya sambil tersenyum.
Senja hanya mengangguk mendengar penjelasan Ayahnya, ia begitu senang saat Ayahnya di Surabaya untuk meluangkan waktunya menjemputnya di kampus . Andai itu dulu waktu ia Tk Ayahnya ada pasti ia tidak akan di katakan tidak memiliki Ayah, tapi kini Ayahnya mengantikkan semuanya itu.
Senja senyum-senyum merasa begitu bahagia, begini rasanya di jemput oleh seorang yang di panggilnya ayah.
“Ayah tadi sudah kasih tahu Bby kan, kalau jemput Senja?” tanyanya sambil tersenyum.
“Sudah sayang, pada hal dia juga tadi ingin jemput, tapi ayah bilang untuk mengantikkan 18 tahun yang lalau biarkan ayah yang antar jemput kamu selama ayah ada di Surabaya,” ujarnya sambil tersenyum.
Senja langsung memeluk lengan Ayahnya ia merasa tersanjung dengan waktu yang di berikan oleh Ayahnya yang begitu ia rindukan.
Tanpa terasa mobil memasuki gerbang rumah Ayah Nugraha, Senja begitu senang saat melihat Ibunya duduk di teres dengan bundanya. Senja berlari membuat Bunda dan Mentari terkejut.
“Astagfirullah, dasar kamu ini ceroboh nanti kalau jatuh bagaimana!” teriak Mentari tidak berhenti mengomeli anaknya itu.
Yoga tertegun melihat istrinya yang baru kali ini dilihatnya keluar jiwa emak-emaknya memarahi anaknya. Bunda hanya tersenyum ia mengusap bahu Senja.
“Lain kali jalan saja, itu sangat berbahaya apa lagi kamu sedang mengandung,” ujarnya dengan lembut.
Senja hanya mengangguk, sedangkan Mentari menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya. Yoga tersenyum sambil mengusap rambut istrinya dengan lembut.
“Anakmu itu ceroboh,” kata Mentari.
__ADS_1
“ingat dia anakmu juga.” Jawabnya .
Keduanya saling tatap setelah itu tertawa bersama, bunda hanya tersenyum melihat kebersamaan keduanya. Bunda juga tidak menyangka kalau ibu dan anak itu hamil bersamaan, ia yakin ini anugerah yang tertunda di balik kesabaran Yoga dan Mentari.
“Ayo kita masuk,” ajak bunda, yang di ikuti oleh ketiganya.
Kini mereka duduk di ruang keluarga, rencananya merekam ingin makan bersama sebelum Mentari pulang ke Jakarta nantinya.
“Jadi apa rencananya nanti?” tanya bunda.
“Insha’Allah setelah lahirkan ingin buka butik, tapi lihat nanti bagai mananya.” Jawab mentari sambil tersenyum.
“Kalau Yoga terserah saja asal tidak melupakan tanggung jawabnya,” katanya sambil melihat anak dan istrinya.
Bunda hanya mengangguk benar apa yang di katakan oleh yoga sebaik fokus kehamilan dulu.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti saat Senja akan berdiri bunda langsung mencegahnya,
“Jangan lari lagi,!” perintahnya mengingatkan Senja, tak jadi berdiri kini ia menunggu sofa yang datang, dan benar tembakannya Satya dan Ranga datang bersamaan.
“Ayah belum selesai meetingnya, Bun.” Jawab Satya sambil duduk di samping istrinya begitu hinga Ranga kini duduk di samping Bunda.
Bunda hanya menggelengkan kepalanya, Ranga baru ingat saat Bunda menarik telinganya.
“Ampun Bun, Ranga lupa,” ucapnya sambil tersenyum.
“Bunda tidak mau tahu kamu jemput sekarang juga!” perintahnya.
Dengan lunglai Ranga keluar untuk menjemput Diana, Satya terkekeh saat ingat karena dirinya selalu mengajak Ranga mengobrol jadi lupa untu menjemput Diana.
“Kenapa bisa lupa padahal sudah berapa kali bunda ingatkan tadi?” tanya bunda sambil menatap Satya.
“Keasyikan ngobrol Bun, jadi lupa apa yang tadi bunda
pesan,” jawab Satya .
__ADS_1
“Belum ada tiga puluh juga sudah pikun!” ledek Yoga,
Satya hanya menatap datar ke ayah mertuanya, Senja sudah yakin pasti keduanya akan saling ledek jika di biarkan. Senja segera berdiri menuju ke kamar suaminya, Satya segera mengikutinya kini keduanya berjalan beriringan menaiki tangga. Saat Satya melihat ke bawah, Yoga menatapnya sambil menggelengkan kepalanya sedangkan Satya melambaikan tangannya dad…da…..
Melihat tingkah mantu dan ayah mertuanya Bunda hanya mengusap wajahnya, ia enggak menyangka sebelumnya
kalau Yoga yang ini suami dari Mentari. Andai ia tahu sebelumnya pasti ia dan suaminya akan bertindak dengan cepat ke Roby
“Kalian itu kapan alurnya,” kata bunda sambil menggelang kepalanya.
Yoga hanya tersenyum melihat ke arah bundanya, tak lama pintu terbuka Ayah Nugraha yang terlihat lelah bersenyum saat melihat ada besannya, ia melihat sekeliling ken tidak ada yang lainnya.
“Yang lainnya mana, Bun?” tanya Ayah Nugraha .
“Senja sedang di kamar dengan suaminya, kalau Ranga lagi jemput Diana,” jawab bunda sambil membawa teh untu suaminya.
“Bukanya tadi sekain pulang kerja, Bun?” tanya Ayah .
“Biasa Yah, faktor umur pada lupa,” jawab yoga .
Ayah Nugraha hanya tersenyum, ia juga sebenarnya sangat lelah. Namun, acara ini sudah lama di rencanakan oleh istrinya.
Rangga yang baru masuk dengan bunda Fifi dan Diana segera masuk ke kamarnya, ia begitu lelah saat ini. Mungkin dengan membersihkan diri ia akan terlihat segar lagi.
Diana hanya diam, ia tahu Ranga marah dengannya karena pernah melihatnya jalan dengan Deo
minggu lalu. Pada hal Diana tidak menjelaskan kepada Ranga kalau mereka tidak sengaja bertemu ,
Tetapi sekarang Ranga sepertinya tak mempercayai dirinya lagi, selama di perjalan tadi saja Ranga hanya menjawab apa yang ditanyakan bundanya. Bund Fifi sepertinya tahu apa yang di alami olehnya, ia harus siap-siap di tanya oleh bundanya nanti.
Ranga yang lamarannya di lantai duaan sedari tadi memperhatikan wanita yang sempai membuat hatinya bergetar, tapi seminggu ini ia hatinya begitu sakit saat melihat Diana di ajakan dengan pria lain yang ia tahu kalau dia kawan kampusnya.
Ranga melihat gadis itu menatap ke langit yang sebentar lagi akan menjadi gelap, Diana segera masuk tapi ia mengambil air wudhu semuanya akan sholat berjamaah yang di imam oleh yoga.
Ranga yang sudah memakai baju koko, segar bergabung dengan yang lainnya. Setelah selesai sholat mereka kini berkumpul di ruang keluarga, kebersamaan yang terlihat begitu hangat.
__ADS_1
Ranga menatap Diana yang dari tadi hanya diam, sedangkan yang lain ikut mengobrol dan bercanda. Ranga mengirimkan pesan ke Diana, tapi wanita itu hanya diam sedangkan Ranga yakin kalau pesannya sudah ia kirim ke nomer Diana.