
Acara yang tadinya baik-baik saja, kini mulia ricuh, Sari masih terdiam begitu shock saat pelukan Leon mulai meregang. Mata Sari melebar saat tubuh itu kini terjatuh tertelungkup di karpet bersimbah darah dari punggungnya.
Anak buah Leon sudah menangkap pelakunya, Ibnu langsung memeluk istrinya barulah Sari menangis. Ayah Nugraha begitu marah, tak lama ambulan datang perawat langsung membawa Leon ke rumah sakit karena khawatir kalau peluru itu mengenai organ vitalnya.
Diana dan Ranga ikut ke rumah sakit sedang Bunda Fifi ikut di ambulan. Setelah mobil ambulan pergi, Satya matanya menatap nanar wanita yang kini kedua tangannya terikat di belakang. Desti matanya menatap lekat ke arah Sari. Tatapan membunuh terpancar dari matanya. Ibnu melihat itu begitu murka, perlahan ia melepaskan tubuh istrinya dan berjalan menghampiri Desti. Namun, langkahnya terhenti saat tangan lembut menyentuh bahunya.
"Ingat ada istrimu yang sedang hamil," kata Bunda.
Ibnu mengepalkan kedua tangannya, Senja yang dari tadi diam berjalan menghampiri Desti. Wanita itu terlihat wajahnya begitu marah. Semua melihat itu membiarkan apa yang akan dilakukan ibu satu anak itu.
Plak, satu tamparan mendarat di wajah pipi Desti hingga wanita itu langsung terjatuh ke lantai. Mentari melihat itu terkejut ia tak menyangka apa yang kini dilakukan anaknya.
"Itu tamparan karena kamu berani datang di acara anakku!" kata Senja sambil tersenyum sinis.
Senja matanya menatap tajam wajah Desti, ia tahu wanita yang kini ada di depannya sedang menentangnya.
Tiba-tiba plak tamparan yang kedua senja berikan kepada Desti lebih kuat terbukti bibir wanita itu berdarah.
Terdengar suara rintihan dari mulutnya, saat Senja akan menamparnya lagi tangannya dihentikan oleh Satya. Pria itu tidak ingin istri kecilnya menjadi sosok yang jahat di depan kedua orangtuanya.
Tubuh Senja dipeluknya, bik Sum datang membawakan air untuk anak yang dari kecil dijaganya.
Saat semua sedang memperhatikan Senja dikejutkan dengan kedatangan Ferdinand Pap dari Leon. Pria itu datang bersama polisi yang akan membawa Desti.
Polisi dan Ferdinand langsung bertemu dengan Ayah Nugraha, ada juga Yoga yang duduk di sofa ruang tamu. Karena riwayat Desti yang pernah masuk rumah sakit jiwa akan susah untuk memenjarakannya. Kalau di rumah sakit juga takutnya nanti kabur lagi.
Mendengar apa yang dijelaskan Ibnu dan Satya, polisi dan Tuan Ferdinand pamit. Desti dijaga ketat untuk dibawa ke rumah sakit jiwa lagi. Sekarang wanita itu akan dijaga selama 24 jam supaya wanita itu tidak bisa kabur.
Satya melihat Ibnu masih mencoba menenangkan istrinya, melihat itu Senja menghampiri sahabatnya sedangkan Leo dan Deo hanya diam duduk tidak tahu akan berbuat apa.
Dea duduk di samping Bunda dan Bik Sum, semua seakan masih shock atas apa yang terjadi barusan. Sari sudah terlihat tenang, Bik Ida mengambil teh hangat untuk istri Ibnu itu supaya lebih tenang.
__ADS_1
"Kenapa kita tak ada yang melihatnya dia masuk? tanya Bunda.
"Tamu sebanyak itu Bun, Apa sudah ada kabar dari Ranga bagaimana keadaan Leon? tanya Ayah Nugraha.
"Belum Yah, Ibnu lo disini saja gue mau lihat Leon di rumah sakit," kata Satya.
"Bang, gue ikut," kata Alan yang diangguk kan oleh kedua sahabatnya.
"Sejak kapan kamu panggil Bang ke laki gue?" tanya Senja mencoba mencairkan suasana yang begitu mencekam.
"Engak dapat lo setidaknya gue jadi adik kalian tak apa," jawab Alan yang langsung dipelototi oleh Satya.
Yoga yang dari tadi diam akhirnya tersenyum, ia baru tahu kalau Alan menyukai Senja putrinya. Satya dan alan langsung keluar menuju mobil masing-masing. Dea tinggal karena begitu iba dengan Sari.
"Ibun, kamu bawa istrimu untuk beristirahat, Nak!" kata Bunda.
Ibnu hanya mengangguk, pria itu membawa istrinya untuk istirahat di kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Bik Sum. Kini tinggal Dea dan Senja. keduanya terlihat begitu canggung karena baru pertama bertemu. Suci datang membawa akan cemilan untuk Senja Dan Dea.
"Pergi sama Ayah dan Bunda untuk melihat Leon di rumah sakit," ujarnya sambil tersenyum.
Suci sedari tadi tidak membayangkan jika peluru itu mengenai Sari atau EL yang sedang bersama. Jujur ia juga terkejut biasa mendengar tembakan sedang menonton di film. Namun, kali ini semua nyata di depannya.
Senja menatap Ibnu yang baru keluar dari kamar tamu dan berkata," Dea, nanti temani Sari."
"Iya Pak," jawab Dea.
"Lo mau kemana?" tanya Yoga yang kebagian di rumah bersama para wanita.
"Gue mau ke rumah sakit, enggak kebayang jika tadi Leon tidak melihatnya," kata Ibnu mengusap wajahnya dengan kasar.
Mendengar itu Yoga mengusap bahu Ibnu, setelah itu ibnu keluar dari rumah. Sedangkan Yoga melihat para wanita sedang berada di ruang keluarga.
__ADS_1
****
Di rumah sakit.
Di depan ruang operasi semua terlihat begitu khawatir karena sedari tadi lampu itu masih menyala tandanya operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Leon belum selesai.
Diana menangis dipelukan suaminya, sedangkan Ayah Nugraha sedang duduk bersama Tuan Ferdinand. Semua terlihat begitu cemas karena hampir satu jam operasi masih berlangsung.
Bunda Fifi hanya terdiam dari tadi. Wanita itu takut kalau sampai Kakak Iparnya itu memakinya karena apa yang terjadi kepada putranya. Wanita itu sedari tadi hanya menunduk. Bunda yang tahu kalau besannya itu sedang tidak baik-baik saja mengusap punggungnya.
Bunda Fifi mengangkat kepalanya keduanya saling tatap, Air mata dan sedetik kemudian saling berpelukan. Rasa untuk saling menguatkan antara keduanya.
Setelah dua jam lampu operasi mati, semua terlihat tegang, seorang dokter keluar dan tersenyum. Melihat itu semua bernapas lega.
Bagaimana, Dok?" tanya Tuan Ferdian.
"Operasi berjalan lancar, tinggal menunggu pasien sadar," ujar Dokter itu sambil tersenyum.
Leon dipindahkan ke ruang rawat, semua diurus oleh Satya atas permintaan Ayah Nugraha. Pria itu merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Leon.
Kini Leon sudah terbaring lemah dengan infus dan oksigen yang masih terpasang. Pria itu kini dengan posisi telungkup karena peluru bersarang di punggungnya.
"Sedikit saja akan mengenai jantungnya," kata Tuan Ferdinand menatap putranya.
"Allah masih memberinya kesempatan," kata Ayah Nugraha.
"Benar," jawab Tuan Ferdian yang terlihat lelah.
Satya ikut bergabung duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan rawat Leon. Bunda Fifi duduk di samping ranjang keponakannya itu, Tuan Ferdinand diam-diam memperhatikan adik iparnya yang terlihat begitu sedih melihat putranya berbaring lemah itu.
Tuan Ferdinand ingin sekali menegurnya, tetapi rasa gengsinya lebih besar hingga hanya diam sedari tadi. Ayah Nugraha tahu kalau rekan bisnisnya itu sedang dilema untuk menyapa Fifi.
__ADS_1