PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 92


__ADS_3

Setelah mendengar kabar dari Rendy ketiganya segera pergi ke rumah sakit tempat Kakek Roby dirawat, selama diperjalanan Senja terus menerus menangis dipelukan mertuanya.


Bunda dengan sabar menenangkan menantunya, dia juga ikut bersedih dengan keadaan Kakek Roby. Namun, sekarang yang bisa ia lakukan hanya berdoa semoga beliau tidak apa-apa.


Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit mobil yang dikemudikan Satya sampai di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya.


Ketiganya segera menuju ke UGD tempat kakek Roby yang sedang ditangani oleh bagian medis, Dari jauh Senja melihat Om Rendy berdiri sambil bersandar di dinding dekat pintu UGD.


"Om," ucapnya sambil memeluk Rendy.


"Kita doakan kakek tidak apa-apa," ucapanya sambil memeluk ponakannya.


"Bagaimana bisa terjadi, Nak?" tanya Bunda.


"Rendy juga kurang tahu, Bun."


Satya hanya diam menyimak pembicaraan antara Bunda dan Rendy, tapi sebenarnya dia juga cemas dengan keadaan Kakek Roby.


Sudah satu jam mereka menunggu, tapi belum ada juga Dokter atau suster yang keluar dari ruangan UGD.


"Bagaimana dengan Ibu, Om?" ucapanya dengan sedih.


"Nanti saja mengabarinya, setelah Dokter keluar," jawab Rendy dengan raut wajah khwatir.


Walaupun papa Roby bukan ayah kandungnya, tapi beliaulah yang selalu ada untuknya. Baginya lelaki paruh baya itu tetap Ayahnya walau kenyataannya bukan.


Kini mereka menunggu dengan harap-harap cemas, bagaimana tidak sudah hambir satu jam lebih belum ada kabar.


Ceklek... terdengar suara pintuk terbuka, Dokter Intan yang dulu menangani kakek Roby keluar sambil menatap Rendy.


"Bagaimana Dok?" tanyanya


"Pasien saat datang tadi sudah kritis, tapi Alhamdulillah sekarang beliau sudah bisa melewatinya," ujarnya.


"Dok jadi sekarang Kakek sudah sadar?" tanya Senja yang terlihat khawatir dari raut wajahnya.


Dokter Intan menatap Senja dengan Intens, kemudian ia menghela nafas panjang.


"Pak Roby saat jatuh kepalanya terbentur begitu kuat, beliau mengalami


hematoma intrakranial,"ucapanya


"Apa itu Dok?" tanya Satya yang dari tadi hanya diam


"Akibat benturan yang kuat mengakibatkan cedera kepala yang bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang ada di sekitar otak atau tulang tengkorak bagian dalam," ujarnya sambil menepuk pundak Rendy.


Rendy yang mendengar ucapan Dokter Intan memejamkan matanya, hatinya begitu sedih.


Senja sudah menangis dipelukan suaminya, kenapa cobaan tidak berhenti di keluarganya besarnya.


Bunda menatap Rendy dan Senja dengan sendu, begitu juga Dokter Intan.


"Tolong berikan pengobatan yang terbaik buat beliau," kata Bunda kepada Dokter Intan.


"Saat ini pasien masih koma akibat adanya pembekuan darah di celah antara otak dan tulang tengkorak," jelasnya.


Senja makin terisak mendengarnya, Satya memapah istrinya untuk duduk di kursi tunggu.


Rendy hanya bisa diam, tatapannya kosong. Bunda yang melihat itu hanya bisa menghela nafas berat, sepertinya ia harus memberi tahu suaminya.

__ADS_1


"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang ICU," kata Dokter Intan memecahkan keheningan.


"Baik Dok," jawab Rendy dengan raut wajah yang susah diartikan.


"Dokter," panggil Senja di tengah Isak tangisnya.


"Iya," jawaabnya sambil menoleh kearah Senja.


"Kira-kira kapan Kakek akan sadar?" tanyanya.


"Kondisi yang beliau alami sangat serius, dimana kondisi ini bisa meningkatkan tekanan dalam tengkorak, kemudian mengakibatkan hilangnya kesadaran atau bahkan kerusakan otak permanen,"ujarnya.


Semua yang ada disitu menatap kearah Dokter Intan, wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian ia pergi meninggalkan keluarga pasien.


"Kita doakan semoga masih ada keajaiban buat beliau," kata Bunda menatap Rendy dan Senja.


"Om, sebaiknya Ibu tahu," ucapnya sambil menangis


Rendy haya menganguk, kemudian dia pergi untuk mengurus pemindahan Papa Roby ke ruang ICU.


Di Jakarta.


Malam ini entah kenapa Mentari begitu gelisah, ia kepikiran akan papa Roby.


Yoga sedari tadi memperhatikan istrinya hanya menghela nafas panjang.


"Sayang, kenapa sih...dari tadi gelisah terus,"ucapnya sambil menghampiri istrinya.


"Mas... entah mengapa perasaanku enggak enak dari habis magrib tadi," jawabnya sambil duduk bersandar di dipan.


"Coba kamu telepon Rendy," katanya sambil membelai rambut wanita yang kini bersandar di dada bidangnya.


"Bagaimana?" tanya Yoga


Menatari hanya menggelengkan kepalanya, nomer Rendy bisa ia hubungi. Namun, tidak diangkatnya.


"Enggak diangkat," jawabnya terlihat sediih.


Yoga menoleh kearah handphonenya, ada nada pesan masuk. Dia kemudian segera meraih ponselnya, ia begitu terkejut saat membaca pesan chat dari Rendy. Yoga mengalihkan pandangannya ke arah istrinya.


"Sayang istirahatlah, kalau belum ada balasan dari Rendy kita besok ke Surabaya," ucapnya.


"Ada enggak apa-apa? kita baru dari sana," ucapanya.


"Iya sayang, ayo istirahat," kata Yoga sambil menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.


Yoga merasa ragu untuk memberitahukan kepada istrinya keadaan papa Roby saat ini, biyarlah sekarang ia rahasiakan dulu.


Setelah sampai ke Surabaya biar istrinya tahu sendiri, Yoga tidak tega melihat istrinya sedih.


Tak menunggu lama Mentari sudah terlelap diperlukannya, berlahan ia memindahkan istrinya ke bantal.


Yoga segera menuju ruang kerjanya untuk menghubungi Satya, sudah dua kali ia menghubungi sahabat sekaligus anak mantunya itu. Namun, tidak diangkatnya.


Tak lama Satya telepon balik ke ayah mertuanya.


"Halo... Assalamualaikum," ucapa Yoga


"Waalaikumsalam," jawab Satya dari seberang sana.

__ADS_1


"Gue besok ikut penerbangan pagi, tapi tolong kasih tahu Senja untuk tidak memberitahukan terlebih dulu ke Ibunya dengan keadaan Kakeknya sekarang," ujar Yoga segera memutuskan sambungan teleponnya.


Setelah selesai menghubungi menantunya Yoga segera kembali ke kamarnya, ditatapnya istrinya yang sudah tidur.


"Maafkan aku, semoga besok sampai Surabaya enggak marah," ucapanya lirih sambil ikut berbaring disamping Istrinya.


Di Surabaya


Satya belum sampai menjawab sambungan telepon dari ayah mertuanya sudah terputus, ia hanya menghela nafas panjang.


"Untung mertua gue," lirihnya


" Apa kata Ayah Bby ?" tanya Senja.


"Besok pagi mereka datang, ikut penerbangan pagi," jawabnya


"Semoga Kakek cepat sadar," katanya.


"Amin, Mmy ayah pesan tadi kalau ibu belum sampai jangan kasih tahu keadaan kakek yang sekarang ya," ujar Satya sambil mengecup kening istrinya.


"Iya Bby," jawabnya singkat.


Rendy yang melihat keponakannya masih duduk diruang tunggu depan ICU segera menghampirinya.


"Pulanglah, biar om saja yang jagain di sini," ucapnya.


"Senja juga Om," jawabnya.


"Senja, kamu lagi hamil muda enggak baik malam-malam begini belum tidur," ucapnya.


Senja hanya mengangguk menanggapi ucapan Omnya, Satya segera pamit untuk mengantarkan istrinya pulang.


Rendy hanya mengangguk, tapi kemudian dia memanggil Satya.


"Sat...lo enggak usah balik lagi, sebentar lagi Popy datang," ucapnya.


"Baiklah, kasih tahu gue kalau ada apa-apa," katanya sambil menepuk pundak Rendy.


"Pasti bro," jawabnya sambil tersenyum yang terlihat dipaksakan.


Rendy duduk diruang tunggu saat Satya dan istrinya sudah pergi, tak lama datang wanita memakai jaket hoodie menghampiri Rendy.


"Assalamualaikum," ucap Popy sambil duduk disamping calon suaminya.


"Waalaikumsalam," jawab Rendy sambil tersenyum.


Rendy merasa agak lega setelah kedatangan Popy, karena apapun masalah atau beban kita saat pasangan selalu mendampingi insyaallah akan lebih nyaman dan bisa melaluinya.


Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍


Vote


Jika suka berikan hadiahnya 🙏


Jangan lupa baca juga karya aku yang lain


🌾 Takdir Cinta Khansa


🌾 Menikah Muda

__ADS_1


✍️ cerpen


__ADS_2