
Siang ini setelah di rawat 3 hari di rumah sakit Senja di perbolehkan pulang, tidak ada yang berbeda dari wanita yang kini hamil lima bulan itu.
Kini ia sudah membereskan semua barang-barangnya, tapi sudah menunggu lama Satya belum juga datang. Wanita itu kini duduk di sofa menyandarkan kepalanya karena lelah menunggu akhirnya ia tertidur dengan posisi duduk.
Bunda dan Ayah Nugraha yang datang menjemput sampai ruangan rawat berlahan membuka pintu.
Deg....Bunda terkejut karena ranjang kosong hanya ada tas kecil. Ayah Nugraha yang tadi sempat ke pikiran mantunya kabur lagi kini tersenyum dengan lega.
"Lihat Bun...dia tidur sambil duduk," kata Ayah Nugraha.
"Astagfirullah, bentar bunda bangunkan saja," kata Bunda sambil menghampiri menantunya itu.
"Sayang, ayo bangun, Nak," kata bunda dengan lembut.
Senja berlahan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena posisi tidurnya sambil duduk.
"Bunda, kapan datang? maaf Senja ketiduran," katanya sambil membetulkan posisi duduknya karena merasa tak enak.
"Bunda baru sampai, Nak."
"Ayo kita pulang, suamimu sedang ada meeting jadi enggak bisa jemput," kata Bunda merasa tidak enak hati dengan menantunya.
"Iya Bun, enggak apa-apa," jawabnya.
Padahal dalam hatinya merasa heran, bukannya tadi suaminya minta izin untuk tanda tangan saja. Namun, wanita itu berlahan menepis pikiran negatifnya.
Selama di perjalanan Senja hanya diam, sesekali hanya menjawab apa yang dikatakan oleh mertuanya.
Tak menunggu lama mobil yang dikemudikan oleh Ayah Nugraha sampai di rumah Satya. bik Sum yang melihat majikannya pulang segera menghampirinya.
"Bik tolong jagain Senja ya....kami langsung pulang," kata Bunda.
"Iya Nyonya," jawab bik Sum.
"Terimakasih Bun," kata Senja sambil tersenyum menatap mobil yang sekarang mulai tak terlihat lagi.
"Ayo.... Non ... masuk," ajak bik Sum sambil memapah Senja.
__ADS_1
“Iya Bik, Senja ke kamar dulu ya,” katanya sambil berlahan menaiki tangga pelan-pelan.
Sampai kamar Senja membaringkan tubuhnya, ia menatap langit-langit kamarnya, kemana Bby kenapa enggak ada menghubunginya, batinnya. DItatapnya handphonenya, akhirnya ia mengirimkan pesan kepada suaminya tapi masih centang satu. Senja melemparkan handphonenya ke sampingnya, ia lelah akhirnya tertidur.
Jam 7 malam bik Sum masuk ke kamarnya Senja karena Nonanya itu dipanggil tak ada jawaban, bik Sum membuka pintu sambil menghidupkan lampu, karena kamar terlihat gelap.
“Nona, bangun sudah malam,” kata bik Sum.
Senja meregangkan otot-ototnya, dilihat wanita paruh baya yang kini duduk di tepi ranjangnya.
“Bik..apa Bby sudah pulang?” tanya Senja sambil duduk.
“Belum Non, tadi pagi pulang mengambil baju saja.” Katanya sambil menatap Senja dengan sendu.
“Ambil Baju?” tanya Senja sambil mengerutkan dahinya.
“Iya, Den Satya pergi sambil membawa koper kecil. Apa Nona enggak tahu kalau Den Satya hendak keluar negeri?” tanya Bik Sum.
Senja diam membeku saat mendengar suaminya pergi ke Singapore tanpa memberi tahu dirinya, dadanya terasa sesak. Wanita itu meneteskan air matanya.
“Non…” panggil bik Sum merasan khawatir.
“Sabar ya … Non,” katanya sambil memeluk Nona kecilnya itu.
“Bik…tolong kemasi baju Bibik ya, dan baju Senja juga kita pergi ke Jakarta,” kata Senja sambil berlalu masuk kamar mandi.
Bik Sum terkejut mendengar permintaannya Nonanya itu! ia bingung, tapi tak mungkin ia membiarkan Senja pergi sendiri dalam keadaan tidak baik-baik saja seperti ini.
Bik Sum segera membereskan pakaian Senja dan pakainya, setelah selesai ia kembali ke ruangan keluarga di sana ada bik Ida yang sedang menangis memeluk Senja.
Senja segara pamit yang di antarkan Pak Yanto ke Bandara. Pak Yanto merasa kasihan kepada majikannya itu, ia mengira Satya pergi pamit kepada istrinya. Senja memutuskan untuk ke Jakarta, tinggal bersama kedua orang tuanya.
Kini keduanya sudah di dalam pesawat Senja menatap bik Sum, yang hanya diam dari tadi.
“Bibik kenapa?” tanya Senja kepada wanita yang sudah mengurusnya dari kecil itu.
“Bibik tahu ini salah, Non meninggalkan rumah di saat suaminya tidak ada di rumah,” katanya.
__ADS_1
“Bibik jangan khawatir aku udah kirim pesan kepada Bby dan kedua mertua ku kalau aku mau mengunjungi Ibu dan ayah.” Kata Senja sambil tertawa melihat wajah bik Sum yang terlihat gelisah dari tadi.
“Kapan Non kirim pesannya?” tanyanya.
“Pas mau matikan handphonenya barusan,” katanya sambil cengengesan.
Bik Sum hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Senja. Setidaknya mertuanya tidak akan khawatir kalau dia pergi.
“Senja juga mengirimkan pesan kepada kedua orang tuanya kalau ia akan ke Jakarta selama suaminya di Singapore, Senja tak ingin ada kesalahpahaman antara ayah dan suaminya.
Biar dia sendiri yang merasakan sesak di dadanya, walau sebenarnya ia kesal dengan suaminya. Namun, ia tak boleh egois karena belum mendengar penjelasan dari suaminya.
Sementara Di kediaman Ayah Nugraha, bunda yang baru siap sholat isya segera menuju meja riasnya karena ia malam in berencana akan menginap di rumah Satya. Saat akan mengambil handphonenya bunda melihat pesan dari menantunya,
“Bunda … ayo berangkat,” kata ayah Nugraha.
“Ayah … Senja sudah pergi.” Kata bunda dengan terduduk lemas.
“Pergi kemana?” tanya Ayah.
“Dia ke Jakarta dengan bik Sum, pada hal bunda baru akan mengatakan nanti kalau suaminya terpaksa harus ke Singapore, bunda takut anak itu salah paham lagi dan meninggalkan Satya,” kata bund sambil meneteskan air matanya.
Ayah Nugraha mencoba menenangkan istrinya, sekarang kita tunggu Satya pulang. Handphonenya habis daya tadi, Ayah bisa menghubungi Arga, katanya besok Satya baru pulang.
“Besok kita ke Jakarta ya ..,Yah.” Kata Bunda kepada suaminya.
“Ayah harus tetap di Surabaya Bun, kasihan Ranga kalau Ayah juga pergi,” ujarnya sambil mengusap kepala istrinya.
“Kita doakan semua baik-baik saja, Bun,” kata ayah Nugraha merasa bersalah karena sudah memaksa Satya untuk berangkat karena ada masalah dengan kerjasamanya di sana.
“Bunda akan hubungi Mentari dulu,” kata Bunda segara mengambil handphonenya untuk menghubungi besannya itu dan menjelaskan semuanya. Supaya tidak ada salah paham.
Ayah Nugraha hanya menganggukan kepalanya menatap istrinya yang sedang menghubungi Mentari, tapi ia juga merasa bersalah Satya dan Senja baru saja baikan.
“Bagaimana?” tanya ayah.
“Enggak diangkat Yah … , apa mereka sudah tahu?” tanyanya sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Sayang cobalah berpikir positif, kamu baca pesan dari Senja kalau ia juga sudah izin kepada suaminya berarti keduanya enggak ada masalah apa-apa.” Ujarnya sambil menatap istrinya.
Bunda hanya menganggukkan kepalanya, tak lama ada pesan masuk dari Senja, menantunya itu mengirimkan pesan dan foto kepada mertuanya kalau ia sudah sampai, dan ada fotonya dengan Yoga dan Mentari. Barulah bunda bisa bernafas lega, perempuan paruh baya itu tersenyum menatap suaminya