
Sesuai rencana semalam, pagi ini Satya dan Senja akan pergi ke Dokter, Bunda juga akan ikut mengantarkan anak dan menantunya untuk periksa.
Senja yang sedang berganti pakaian, merasa bingung disatu sisih ia belum siap menjadi seorang Ibu. Namun, melihat harapan dari suami dan mertuanya membuatnya bingung.
Satya yang dari tadi melihat kegelisahan Istrinya, merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
"Mmy," panggil Satya
Senja menoleh kesamping tempat suaminya berada.
"Ia Bby," jawab Senja.
Satya segera menghampiri wanita yang sudah membuat hatinya enggan melirik wanita lain diluar sana.
"Ada apa...? bby perhatikan dari tadi Mmy begitu gelisah," ucap Satya sambil mengusap pipi putih Senja.
Senja menarik nafas dalam-dalam, ditatapnya wajah tampan yang kini ada didepannya.
"Mmy takut, Bby dan yang lainnya kecewa nanti saat hasilnya negatif," ujar Senja.
Satya tersenyum di kecupnya kening istrinya, ia yakin kalau bukan itu yang menjadi beban Senja.
Satya juga tidak ingin dirinya terlalu memaksakan diri, saat Istri kecilnya tidak mau mengatakan.
Bunda datang dengan senyum yang mengembang, ia begitu antusias untuk mengantarkan mantunya untuk periksa.
Satya dan Senja tersenyum, melihat Wanita yang masih terlihat cantik di umur yang tidak muda lagi itu.
"Apa Bunda terlihat begitu cantik, hah! sampai kalian melihat wanita tua ini terpesona." ucap Bunda sambil mengedipkan matanya.
"Bunda selalu cantik setiap hari," jawab Senja.
"Terimakasih sayang, mantu idaman," kata Bunda.
Satya hanya bisa menghela nafas panjang, melihat Bundanya kalau sedang dipuji cantik pasti langsung senyumnya secerah mentari di pagi hari.
"Jadi enggak nih...," kata Satya.
"Jadi dong sayang," jawab Bunda kemudian mereka segera berangkat menuju rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Satya sampai kerumah sakit.
Mereka segera menuju tempat pendaftaran, Bunda dengan sabar menunggu anaknya.
"Ibu Senja silahkan duduk, maaf ya Bu kita timbang berat badan dan cek tekanan darah dulu," kata Seorang perawat yang sedang bertugas.
"Ia Sus," jawab Senja.
Setelah selesai keduanya menghampir Bunda, kemudian mereka menunggu di ruang kusus untuk antri di depan ruangan Dokter kandungan.
Setelah menunggu selama tiga puluh menit, akhirnya nama Senja di panggil.
Ketiganya masuk mebuat Dokter wanita yang masih cantik merasa bingung.
"Ibu Senja silahkan duduk," kata Dokter wanita yang bernama Helima itu.
__ADS_1
Setelah Senja duduk di depan Dokter, Dokter Helima menggeryitkan dahinya.
"Maaf, bukan Ibu yang periksa?" tanya Dokter.
" Enggak Dok, tapi mantu saya," jawab Bunda.
Satya mengulum senyumnya, saat melihat Bundanya kesal.
"Oh...maaf Ibu, silahkan Dek naik keatas," kata Dokter Helima.
Senja di bantu Satya segera naik keranjang kecil di ruangan Dokter.
Suster mulai membuka baju gadis kecil didepannya, kemudian dia mengolesikan jel perut Senja.
Setelah itu Dokter Helima mulai mengerakkan alat diperut Senja, kemudian ia tersenyum sambil menunjukkan titik dilayar.
"Itu apa Dok?" tanya Satya.
"Alhamdulillah, adek anda hamil dan titik itu janin yang baru berumur dua Minggu," jawab Dokter.
"Alhamdulillah, selamat sayang akhirnya nanti ada yang memanggil uti,"kata Bunda sambil memeluk Satya.
"Mama Satya sesak," ujarnya.
"Maaf sayang, Dokter....Senja ini mantu Saya loh."ucap Bunda.
"Oh...maaf saya kira adiknya Anda," jawab Dokter dengan manatap Satya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Dok." Jawab Satya.
Kemudian mereka menuju Apotek untuk menebus obat.
Setelah selesai Satya segera menghampiri istri dan Bundanya, mereka segera keluar rumah sakit menuju ke mobil.
Satya menjalankan mobilnya membelah kemacet, Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit mereka akhirnya sampai di rumah.
Satya tersenyum saat melihat istrinya tertidur, Bunda yang melihat itu menyuruh agar Satya mengangkatnya.
Satya berlahan menggangkat tubuh kecil Istrinya, sedangkan Bunda membantu menutup pintu mobil.
Mereka masuk rumah, sampai di rumah Bunda melihat kegusaran diwajah suaminya. Bunda menghampir laki-laki yang sudah 30 tahun lebih menemaninya.
"Ada apa, Yah," tanya Bunda.
"Sidang pertama Ronald dinyatakan pasti akan bebas, karena tidak ada saksi," jawab Ayah.
"Bukankah kita sudah ada kunci dari saksinya, kapan sidang keduanya?" tanya Bunda.
"Dua Minggu lagi sayang," jawab Ayah.
Seulas senyum tersungging dari bibir wanita yang begitu percaya diri itu, ia akan berjuang demi sahabatnya Melati.
Ayah Nugraha merasa curiga, saat melihat istrinya seperti waktu ia pertama bertemu. Bunda yang merasa diperhatikan, melirik suaminya melalui ujung matanya.
Namun, ia segera mendekati suaminya dan duduk di pangkuan Ayah Nugraha. Satya yang baru turun seketika menghentikan langkahnya, Ia menarik nafas panjang melihat Bunda dan Ayahnya saling bercumbu di ruang keluarga.
__ADS_1
Satya menghampiri keduanya, kemudian ia duduk di sofa.
"Dikamar sana, buatkan Satya adik," ucap Satya.
Tanpa memperdulikan anaknya, Ayah Nugraha segera mengangkat tubuh istrinya tanpa melepaskan ciumannya dari benda yang begitu seksi itu.
Satya melotot saat keduanya pergi, tanpa mengatakan sesuatu kepadanya.
"Cih....dasar," gerutu Satya.
"Kenpaa kamu terlihat kesal, Nak?" tanya Om Angkasa yang baru masuk dengan mendorong kursi roda Istrinya.
"Eh... enggak apa-apa,Om," jawab Satya yang terkejut.
Om Angkasa duduk di samping Satya, dan Istrinya duduk di seberangnya. Namun, mata Tante Mela memperhatikan Satya dengan intens.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Tante Mela.
"Alhamdulillah Tante, hasilnya positif baru umur dua Minggu," jawab Satya.
"Alhamdulillah selamat ya sayang, Tante ikut senang," ucap Tante Mela.
"Ia terimakasih, Tante."jawab Satya.
"Nak Om ajak Tantemu istirahat dulu ya," kata Om Angkasa.
"Ia Om, silahkan," ucap Satya .
Kemudian keduanya menuju kamar tamu, sedangkan Satya menghubungi Ranga.
"Halo, Assalamualaikum Bos," ucap Ranga.
"Walaikumsalam, Ga lo bawa dokumen yang membutuhkan tanda tangan gue ya," kata Satya di balik telepon.
"Baiklah...eh...lo kagak balik kekantor?" tanya Ranga yang baru menyadari.
"Enggak, Ga!" kata Satya
Belum sempat Ranga menjawab, Satya lebih dulu mematikan sambungan teleponnya.
Satya tersenyum, pasti asistennya itu sedang mengumpatinya. Senja yang melihat suaminya senyum-senyum merasa heran, apa kadar kesadarannya mulai berkurang.
"Bby..., hayo pasti lagi ngembangin wanita seksi ya..." goda Sejak sambil tersenyum.
Satya mendelik, mendengar ucapan Istrinya. Namun, saat matanya menangkap ke perut Istrinya seulas senyum tersungging.
"Mmy pengen makan apa?" tanya Satya dengan lembut.
"Tidak ada, hanya ingin seperti ini," kata Senja yang baring di paha Satya.
Satya tersenyum, ia membelai rambut Istrinya yang panjang. Akhirnya ia sebentar lagi akan menjadi Ayah, dan Yoga akan menjadi kekmud( Kakek muda).
Senja yang merasa di usap-usap kepalanya menjadi ngantuk, Satya terkekeh melihat istrinya tertidur lagi.
Tak lama Satya bersandar di sofa, mataanya sudah mula ngantuk. Akhirnya keduanya ketiduran di ruang keluarga.
__ADS_1
Bersambung ya ...jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏