PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 113


__ADS_3

Malam ini Satya dan istrinya akan menghadiri makan malam bersama yang diadakan oleh ayah Nugraha, Kata bunda nanti ada berapa pengusaha lain yang ikut bergabung.


Sebenarnya Satya Sangat malas untuk pergi, tapi di paksa oleh ayah Nugraha mau nggak mau ia pergi membawa istrinya.


Sekarang waktu menunjukkan pukul 5 sore, Satya melihat istrinya sedang asyik menonton film favoritnya.


Pria itu menghampiri Senja, kini dia duduk di samping istrinya.


"Sayang, kita nanti pergi makan malam yang di adakan oleh Ayah Nugraha ya," kata Satya.


"Iya Bby," jawabnya tapi tidak sedikitpun melihat kearah suaminya.


Satya hanya menarik nafas panjang, saat melihat ia di kalahkan dengan Drakor yang di tonton istrinya.


Satya hanya diam sambil membaringkan tubuhnya di sofa, ia berbantalkan paha isterinya, Senja yang terkejut langsung menatap suaminya sambil tersenyum.


Wanita itu tahu kalau suaminya sedang bermanja dengannya, Senja membelai rambut suami dengan lembut. Namun, tak lama terdengar dengkuran halus suaminya.


Senja tersenyum saat melihat wajah tampan yang kini tidur di pangkuannya, di pandangnya wajah yang putih dan bersih tanpa ada jerawat itu dengan intens.


Tak lama terdengar suara bising di luar, Senja yang tak ingin suminya terganggu tidurnya berlahan memindahkan kepala suaminya ke bantal sofa.


Setelah itu ia buru-buru keluar untuk melihat siapa yang datang, seketika matanya melotot saat melihat siapa yang datang.


"Diana," panggilnya.


Diana hanya tersenyum, saat melihat Senja menuruni tangga.


"Kamu sama siapa?" tanyanya .


"Sama kak Ranga," jawabnya sambil tersenyum.


Senja langsung mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan rumahnya, ia mencari Ranga. Namun, tak menemukannya.


"Bik, Om Ranga mana?" tanya Senja.


"Itu Non lagi makan di dapur," jawab bik Sum sambil tersenyum memberikan minuman untuk Diana.


"Terimakasih ya Bik," ucap Diana saat bik Sum meletakkan jus jeruk di depannya.


"Iya sama-sama, Non," jawanya tersenyum menatap Diana yang terlihat anggun dengan pakaian muslimnya.


Kini keduanya saling cerita dan Diana menceritakan kalau Sari kemarin menghubunginya sambil menangis.


"Ada apa lagi itu anak?" tanya Senja.


"Katanya sih Killer ngajak serius untuk menikah, malahan udah beli rumah untuk mereka tinggali nantinya setelah sah menjadi suami-istri," ujar Diana.

__ADS_1


"Bagus dong.....," jawab Senja.


"Tapi Sari belum siap, dan sudah dua hari ini killer enggak ada menghubunginya," kata Diana sangat antusias menceritakan kepada Senja.


Senja hanya diam sebenarnya ia juga dulu tidak pernah membayangkan akan menikah di usia 18 tahun, tetapi mungkin itu jodoh yang telah diberikan Allah SWT.


Ia harus menikah muda dengan pria beda 10 tahun dengannya, tapi Senja merasa bersyukur walau pertama suaminya begitu dingin dan acuh kepadanya. Namun, seiring berjalannya waktu Satya mulai menerima pernikahan ini.


Tak lama Ranga datang sudah berpakaian resmi seperti mau menghadiri undangan, dia duduk di samping Diana sambil tersenyum menatap kekasih hatinya itu.


"Satya mana? kenapa lo belum siap-siap sih?" tanya Ranga yang melihat istri Satya itu masih memakai baju rumahannya.


"Sabar napa,Om," katanya sambil pergi menuju ke lantai dua.


Saat Senja sampai kamar melihat suami sudah memakai baju yang ia siapkan tadi, wanita itu tersenyum saat kedua matanya beradu dengan suaminya melalui pantulan cermin.


"Sayang, gantilah baju" katanya sambil menatap wajah istrinya.


"Iya, Bby kebawah saja dulu," katanya sambil mengamati handuk menuju kamar mandi.


Satya hanya menarik nafas saat istrinya rupanya belum mandi, kini ia segera keluar menuju ruang keluarga, sesampainya dia melihat Diana dan Ranga sedang asik mengobrol.


"Udah lama?" tanya Satya.


"Udah....sampai lumutan," jawab Ranga.


"Gila Lo!" katanya kesal.


Diana hanya tersenyum menanggapi kekasihnya yang suka berdebat dengan


suami sahabatnya itu.


"Gue sebenarnya males mau pergi, lo tau enggak siapa aja yang datang di acara nanti?" tanya Satya kepada sang asistennya itu.


"Apa lagi gue bos, Ayah kasih tahu pas gue mau jalan sama bini gue," jawabnya.


Satya yang mendengar jawaban Ranga langsung melemparkan bantal sofa kearah Ranga.


"Sembarangan lo! anak gadis orang itu," kata Satya menatap tajam ke arah Ranga.


Ranga hanya tertawa saat melihat Satya kesal padanya, pasalnya mereka dulu di didik oleh bunda jangan merusak anak gadis orang. Namun, kalau suka lebih baik diajak nikah.


Tak lama Senja datang dengan gaun warna hitam meeprlihatkan lengannya yang putih mulus, hal itu membuat Satya mendengus kesal.


"Yang.....kok pakai baju itu?" tanya Satya terlihat tak menyukainya.


"Memangnya kenapa?" tanya balik Satya.

__ADS_1


"Ayo ganti!" katanya sambil menarik tangan istrinya.


"Dasar posesif!" teriak Ranga.


"Kak jangan teriak-teriak," kata Diana.


"Heheehh..maaf, yang," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tak lama Satya dan Senja turun dari lantai dua, Diana tersenyum melihat Senja memakai gaun warna coklat muda dengan model tertutup.


"Cantik," bisik Diana lirih.


Senja hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu, tak lama mereka jalan beringin menuju mobil Satya.


Selama diperjalanan baik Satya maupun Ranga hanya diam, sampai mereka berhenti di restoran mewah.


Satya melihat istrinya yang masih terlihat marah dengannya, Satya langsung memegang tangan istrinya untuk masuk ruangan khusus yang di pesan oleh papanya.


Sesampainya di sana sudah banyak yang datang, Alan yang melihat kedua sahabatnya ingin menghampirnya. Namun, ada takut akan ada kesalahpahaman lagi antara Senja dan suaminya serta Diana dengan kekasihnya.


Alan akhirnya kembali lagi duduk di mejanya, tapi saat melihat ada keluarga Wijaya entah kenapa ia raut wajahnya mulai memerah menahan marah saat melihat wanita yang sudah menghina mamanya waktu di mall dulu.


Iya ingat betul dengan wajah wanita itu, tapi di saat bersamaan Mery menatapnya dengan pandangan yang berbeda.


Alan langsung mengalihkan pandangannya, bagainya ia tidak ingin melihat dan mengenal wanita itu.


Tak lama pak Wijaya mengobrol dengan Papa Kusuma, Alan kurang menyukai keramaian kemudian pergi meninggalkan ruangan.


Kini ia duduk disamping taman belakang restauran, di sini ia bisa menghirup udara segar.


"Apa ada maslah," kata wanita paruh baya yang begitu ia kenal suaranya.


"Mama," ucaonya terkejut.


Mamanya yang dari tadi memperhatikan Alan, saat melihat anaknya keluar Ibu satu anak itu mengikutinya.


"Lain kali jagan langsung kabur!" kata Mama sambil menatap lurus kedepan.


"Apa Mama ingat siapa wanita yang sudah menghina mama itu?" tanyanya.


Wanita itu hanya menarik nafas panjang, kemudian ia tersenyum kepada ananya.


"Dia Mery mantan istrinya Satya Nugraha, tapi sekarang ia menikah dengan Raditya Wijaya.


"Pantas Satya menceraikan!" katanya.


"Ingat pesan Mama, jangan pernah menanamkan dendam disini," kata mamanya sambil menunjuk dada bidang anaknya.

__ADS_1


__ADS_2