
Hanum menatap pria yang kini menghampirinya di sofa, Afkar hanya menatapnya dengan tersenyum melihat wajah gadis itu shock melihat isinya.
"Pak ini makanan jepang lagi?" tanyanya.
"Iya."
Hanum segera menyiapkan semuanya di meja, setelah itu dia beranjak dari duduknya, saat akan pergi seseorang menghentikannya.
"Temani aku sarapan!" pintanya.
"Pak, saya enggak ada uang lagi kalau harus bayar makanan ini," ucapnya.
Afkar terkekeh membuat Hanum tertegun, pria dingin ini bisa tertawa di depannya, tak lama pria itu mengajaknya untuk duduk di sampingnya.
"Saya enggak akan minta ganti, ayo saya sudah lapar," ucapnya.
Hanum dengan ragu mengambil piring di depannya, hal itu membuat pria itu menatapnya heran. Afkar hanya bisa menarik napas dalam.
"Aa ... buka mulutnya!"
Hanum tertegun dengan wajah yang merona saat pria itu menyodorkan sendoknya ke arahnya, dengan gugup dia membuka mulutnya. Jantungnya berdebar saat diperlakukan manis oleh pria dingin itu.
"Tadi pagi aku lihat kamu memakai jaket driver online?" tanya Afkar.
"Iya Pak, maaf karena motornya saya pakai buat ngojek saat saya libur dan kalau ada waktu kaya pagi tadi sekalian pergi ke kantor," jawabnya sambil menunduk.
"Apa gaji di sini kurang untuk kebutuhan dan di kirim ke orang tuamu?" tanyanya.
Hanum tersenyum lembut menatap pria di depannya, sebelum menjawab dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
"Kemarin Ayah sakit, karena uang untuk biaya kurang Ibu meminjam ke juragan, dia rentenir," ujarnya.
"Kenapa kamu enggak bilang ke saya kalau butuh uang untuk berobat Ayahmu?" tanya Afkar.
"Untuk apa, Pak," jawabnya.
keduanya mengobrol tanpa ada rasa canggung lagi, Afkar juga merasa sudah nyaman untuk mengobrol dengan wanita di depannya.
"Dari pada kamu pinjam di rentenir," balasnya.
Hanum hanya mengangguk, karena pinjam ke juragan itu dia harus membayar sehari dua ratus ribu membayar bunganya.
"Berapa kamu pinjam?" tanya Afkar
"Hanya lima juta, Pak. Namun, saya harus bayar dua puluh juga sama bunganya.
"What?" kata Afkar terkejut.
__ADS_1
Hanum terkejut saat pria itu berteriak, gadis itu mengusap dadanya. Hal itu tak lepas dari pandangan Afkar.
"Maaf, kenapa bayarnya tiga kali lipat?" tanyanya.
"Ya sudah aturannya seperti itu, Pak." jawabnya.
Huff, Afkar menghembuskan nafas kasar, sedetik kemudian dia terlintas ide untuk membantu wanita yang sedang asik memakan sarapannya.
"Mulai besok kamu enggak usah jadi driver lagi, saya akan bantu membayar hutang ke rentenir, tapi ada syaratnya kamu kerja sama saya membersihkan apartemen!" katanya tegas tidak menerima penolakan.
"Dari jam berapa, Pak?" tanyanya.
"Dua puluh empat jam, itu artinya nanti sore kamu pindah ke apartemen saya."
"Hah, kenapa harus pindah?" tanyanya.
"Ingat saya tidak terima penolakan, kalau enggak mau saya pecat!" ancamnya.
Hanum menatap kesal pria itu, dia sedang berfikir membuat alasan. "Pak, kata ibu saya laki-laki dan perempuan tidak boleh tinggal satu rumah tanpa ikatan," jelasnya.
"Benarkah?" tanyanya.
"Iya, jadi maaf saya tidak bisa pindah ke apartemen Anda," jawabnya tersenyum merasa menang.
"Enggak masalah kalau begitu besok kita menikah dulu, itu mau kamu' kan!" katanya dengan menaikan kedua alisnya.
"Saya serius Hanum, besok kita ke rumah orang tua kamu, nanti malam kita berangkat." Jawabnya sambil beranjak ke mejanya.
"Bapak jangan aneh-aneh, saya tidak mau nikah," katanya.
"Tapi saya mau."
"Bapak nyebelin!" teriaknya kesal.
"Tapi kamu suka' kan. Sudah saya ada meeting di luar, nanti kamu makan siang sama Fitri saja," katanya sambil memberikan uang lima lembar kepada Hanum.
"Ini untuk apa?"
"Nafkah buat calon istri," katanya sambil tersenyum.
Mata Hanum melotot, mendengar apa yang dikatakan pria yang dingin, tapi menyebalkan, setelah Afkar keluar dari ruangan Hanum duduk memikirkan apa yang diucapkan pria itu, "Apa benar dia mengajakku menikah?"
Gadis itu segera membersihkan ruangan setelah selesai dia keluar untuk membersihkan tempat lainya.
***
Surabaya.
__ADS_1
Rendy yang sedang menjemput Mentari dan Yoga, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, pria itu begitu rindu dengan kakaknya itu. Apalagi sekarang tengah hamil tua sama dengan ponakannya.
Senyum mengembang saat dia dan Senja akan sama-sama memiliki anak nantinya, wajahnya berubah sendu saat mengingat Papa Roby, seandainya masih ada pastinya dia akan begitu bahagia akan memiliki cicit.
Rendy memarkirkan mobilnya, ia berjalan untuk mencari sang kakak yang katanya sedang makan di kafe yang tak jauh dari Atm. Yoga yang melihat pria tak asing segera menghampirinya.
"Mau jemput siapa?" tanya Yoga dengan santai.
"Jemput Kakak," jawabnya tanpa menyadari siapa yang bertanya.
Rendy membalikan tubuhnya, dengan melotot karena Yoga mengerjainya, "Sialan lo Mas!" katanya kesal.
"Lagian lo main jawab saja," balasnya.
"Kakak mana?" tanyanya sambil melihat sekelilingnya.
"Ada itu di sudut," kata Yoga sambil berjalan menuju ke arah istrinya.
"Kak, kangen," kata Rendy langsung memeluk kakaknya dari samping tanpa melihat perut Tari.
"Kakak juga kangen," katanya sambil tersenyum.
Saat menyadari perut kakaknya besar, Rendy perlahan mundur menjauh, hal itu membuat Yoga tertawa lepas dia masih ingat betul kalau adik iparnya itu akan menjauh jika melihat wanita hamil besar.
"Sudah enggak akan meledak," kata Tari mencoba menenangkan adiknya.
Rendy lagi-lagi berkeringat dingin. Melihat hal itu Yoga meminta kunci mobil adiknya tak akan dia membiarkan Rendy mengemudikan mobil sendiri. Tari dan Rendy menunggu Yoga mengambil mobil.
"Kamu nanti bagaimana kalau perut Popy sudah besar, Ren?" tanya kakaknya.
"Entahlah Kak, aku juga enggak mau seperti ini," katanya.
"Ya sudah nanti kita konsultasi ke dokter."
"Rencananya juga begitu, kemarin Popy ngajak," ujarnya.
Melihat mobil yang dikemudikan oleh Yoga sudah sampai, Rendy membantu Kakak dan memasukan koper ke bagasi.
"Mas yakin yang bawa mobil?" tanyanya.
"iya."
Rendy langsung duduk di bangku penumpang, mobil mulai meninggalkan area Bandara Juanda, Yoga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, selama di perjalanan Rendy memilih untuk tidur karena kepalanya merasa pusing.
Mentari yang melihat itu hanya tersenyum, sedangkan Yoga fokus mengemudikan mobilnya, rencana keduanya akan langsung menuju rumah Ayah Nugraha sesuai rencana dari awal, Satya tidak bisa jemput karena Senja sering mendapat kontraksi palsu membuat pria itu tak tega untuk meninggalkannya.
Sedangkan si kembar masih menjalani pingitan sampai saat ijab kabul nanti, rombongan dari Keluarga Suci juga sudah sampai di hotel, yang sudah disediakan oleh besannya. Diana juga yang tidak jauh beda dari calon suaminya dia di pingit oleh Bundanya.
__ADS_1
Mobil yang dikemudikan Yoga akhirnya sampai di depan rumah keluarga Nugraha, Senja yang sedang duduk di taman samping rumah melihat mobil Rendy langsung berdiri hal itu membuat Satya hanya menggeleng.