
Yoga mendengar apa yang dikatakan Satya langsung menatap tajam menantunya itu.
"Otak lo itu harus dicuci!" cibir Yoga kesal.
Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan mertuanya itu, ia tahu Yoga kesal hanya sebentar saja.
"Den Yoga harus belajar mandikan El juga, biar dia dekat dengan Ayahnya," kata bik Sum.
"Jangan sekarang, Bik. Tunggu umur setahun," jawab Yoga.
Mentari hanya menarik napas panjang, sedangkan Ayah Nugraha bisa memakluminya karena waktu Senja lahir Yoga diusir oleh mertuanya.
Kalau saling menyalahkan semua tidak akan ada penyelesaian, hanya harus ikhlas menerima apa yang dulu Yoga alami.
Semua terbukti cinta Yoga dan Menteri bisa bersatu lagi dan sekarang menambah putra yang begitu tampan.
Tak lama Bik Ida masuk bersama Rendy di ikuti para sahabatnya Senja yang tak lain Sari, Alan, Deo dan leo.
Satya yang melihat Alan terlihat tidak suka, walau dia tahu pria itu tidak akan mengejar istrinya lagi.
"Selamat ya, Senja. Anak Lo cantik banget," kata Alan.
"Siapa dulu Mamanya," sahut Sari.
"Sudah jangan muji terus, lihat itu pawangnya lihatin lo mulu," kata Leo.
"Gue muji anaknya, bukan emaknya, dodol!" kesal Alan.
"Sama saja, p,a!"sahut Deo.
Ibnu hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar perdebatan antara sahabat istrinya itu yang akan selalu ribut dimanapun berada.
"Dosen killer marah," bisik Deo.
"Dia laki gue!" geram Sari menatap tajam kedua sahabatnya.
Senja hanya tersenyum menanggapi ucapan Sari dan Deo.
"Mau pada minum apa?" tanya Senja yang sudha akan beranjak berdiri.
"Lo duduk saja," cegah Sari.
"Kenapa?" tanya Senja balik.
"Gue ngilu lihat jalan lo kayak gitu, sakit ya," bisik Sari lirih.
"Lumayan," jawab Senja sambil tersenyum menatap wajah Sari yang terlihat berbeda.
Tak lama Bik Sum datang membawa minuman dingin untuk teman-teman Senja.
"Senja," kata Sari menatap wanita yang kini sudah menjadi mama muda itu.
"Ada apa? ada yang mau lo tanya?" tanya Senja menatap sahabatnya itu.
Sari hanya mengangguk menanggapi ucapan dari sahabatnya itu.
Senja mengajak Sari untuk ke taman belakang, keduanya duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon mangga yang buahnya sudah mau mulai masak.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Senja tanpa menatap Sari.
"Di kampus ada dosen baru, dia cantik," kata Sari lirih.
Senja mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Bukankah dosen wanita banyak," ucap Senja sambil menatap Sari yang menunduk.
"Beberapa kali, aku melihat chat dari Mas Ibnu ke dosen itu terlihat mesra dan sepertinya sudah kenal lama," ujar Sari mengusap bulir bening yang sudah membasahi kedua pipinya.
Senja menarik napas panjang, sekarang dia mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Apa kamu pernah menanyakan kepada suamimu siapa dosen itu?" tanya Senja.
Sari menceritakan terdiam, ia ingat saat menanyakan apa maksud dari pesan wanita itu kepada suaminya yang menayangkan 'apa Ibnu sudah makan malam'
"Apa dibalas sama Ibnu?" tanya Senja kian penasaran.
"Iya, 'belum karena baru sampai' balas laki gue" jawab Sari.
Sari sudah terisak, wanita itu selama hamil tidak bisa mencium bau masakan, hingga dia tidak pernah memasak.
Sari juga bilang Ibnu juga tahu, kalau dirinya akan mual jika bau masakan. Namun, setelah kehamilan Sari memasuki lima bulan suaminya mulai berubah sikapnya.
"Waktu lo tanya siapa dosen itu apa jawab Ibnu?" tanya Senja.
Sari menatap sahabatnya itu ia menceritakan kalau awalnya suaminya bilang hanya teman, tapi saat ditanya apa wajar wanita jam sebelas malam mengirimkan pesan kepada pria yang sudah beristri.
"Apa jawab suami lo?" tanya Senja sambil mengusap bahu Sari.
"Dia marah, nggak semua apa yang ada pada diri Ibnu gue harus tau semua," jawab Sari langsung dipeluk oleh Senja.
"Tadi malam, setelah itu dia tidak pernah kembali lagi, entah tidur dimana," jelas Sari.
Senja menarik napas panjang, sahabatnya itu menikah tanpa pacaran, tidak jauh beda dengan dirinya.
"Tadi waktu lo mau kemari apa katanya?" tanya Senja.
"Leo datang mau jemput ngajak gue, kata mas Ibnu sekalian saja sama. Selama di perjalanan kami hanya diam," kata Sari sambil mengusap air matanya.
"Tanya yang jelas apa maunya, jika dia marah lagi lo diemin aja dulu tunggu suasananya tenang," kata Senja
Sari mengangguk, hatinya merasa lega setelah menceritakan kepada Senja.
Bik Sum datang mengatakan kepada Senja kalau Jingga menangis. Kedua wanita itu berjalan beriringan masuk rumah. Sampai di dalam Sari dan Senja saling tatap.
"Kemana yang lain, Bik?" tanya Senja.
"Teman Non sudha pulang, katanya mau main basket, kalau nak Ibnu harus ke bandara jemput temannya," jawab Bik Sum.
"Mas Satya mana?" tanya Senja saat wanita paruh baya itu hendak ke dapur.
"Di ruang kerja, Non," jawab Bik Sum.
Satya yang melihat Sari dan istrinya hendak naik ke lantai dua mengerutkan keningnya.
"Sari, Ibnu mana?" tanya Satya.
__ADS_1
Senja dan Sari saling pandang, "Harusnya kami yang tanya Ibnu ke mana?"
"Tadi dia pamit mau ke bandara jemput-," kata-kata Satya terhenti membuat Senja dan Sari menatap curiga.
"Jemput siapa, sampai dia lupa kalau ada istri?" tanya Senja menatap suaminya tajam.
Satya menggaruk kepalanya, ia bingung mau jawab apa, pria itu begitu merutuki mulutnya yang hampir keceplosan.
"Senja gue pamit ya," kata Sari karena tidak ingin pasangan bahagia di depannya itu bertengkar karena dirinya.
"Lo mau kemana?" tanya Senja.
"Gue ada janji sama Leo dan lainnya," jawab Sari langsung keluar dari rumah Satya.
Senja ikut mengantarkan sahabatnya sampai taksi yang dipesan Sari datang. Namun, entah mengapa perasaannya tidak tenang melepaskan sahabatnya itu pulang sendiri.
Setelah kepergian Sari, Senja segera masuk kamar untuk memberikan asi ke putrinya.
Satya menatap wajah istrinya yang terlihat masih kesal kepadanya.
"Yang" kata Satya.
"Sudahlah Mas, terserah!" kata Senja.
"Yang serius, aku enggak tahu kalau Sari masih di rumah," kata Satya.
Senja menatap suaminya, akhirnya ia menceritakan semuanya apa yang dikatakan Sari tadi, wajah Satya terlihat terkejut.
"Apa kamu yakin?" tanya Satya.
"Iya Mas," jawab Senja.
"Nanti coba aku bicara padanya, takutnya dia sedang ada masalah," kata Satya.
Satya membaringkan tubuhnya, di dekat Senja yang sedang memberikan asi ke Jingga.
"Yang," kata Satya.
"Apa Mas?" tanya Senja
"Jangan dibuka semua mas nggak kuat," kata Satya sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Dasar mesum!" seru Senja.
Satya hanya tertawa, tapi bantal yang menutupi wajahnya tidak dibukanya.
"Yang," panggil Satya.
"Apa lagi sih?" tanya Senja kesal.
"Jahitannya masih sakit nggak?" tanya Satya.
Senja menarik napas dalam, entah mengapa tiba-tiba suaminya ini begitu cerewet.
"Yang, jawab dong," kata Satya dengan suara lirihnya supaya Jingga tidak kaget.
"Belum, karena lobangnya dijahit semua!" jawab Senja geram kepada Satya.
__ADS_1
"What? tanya Satya langsung duduk menatap istrinya.
Bersambung ya….