PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Masa lalu Senja


__ADS_3

Ayah Nugraha yang penasaran langsung ikut naik diikuti  istrinya dan bertanya."Ada apa ini?"


Satya perlahan masuk, ia memperhatikan sekeliling hanya pakaian saja yang dikeluarkan dari  dalam lemari. Dilihatnya arah balkon kamarnya hingga melihat ke arah bawah. Pria itu mengernyitkan keningnya saat melihat topi yang terjatuh.


Satya keluar dari kamarnya dan berjalan menuju taman di mana tempat topi itu ada, Arga yang dari atas melihat itu langsung mengernyitkan matanya.


Kini semua sudah  duduk di ruang keluarga, sedangkan topi yang berada di tangan Satya membuat Diana tidak asing lagi. Wanita itu mendorong kursi rodanya dan  ingin melihat topi warna hitam yang ditinggalkan sang empunya.


Ranga melihat istrinya menatap topi itu merasa kalau ada yang diketahui oleh istrinya Dan bertanya."Sayang, Apa ada yang kamu tahu dengan topi itu?"


"Mas Boleh teman-teman datang, ada yang mau aku tanyakan!" pinta Diana menatap sang suami.


"Diana, apa kamu mengenal topi ini?" tanya Satya.


"Aku juga belum yakin, Kak." Diana ingin bertanya kepada sahabatnya.


Senja menatap sahabatnya itu, gadis itu mencoba mengingat siapa yang di kampus tidak pernah lepas memakai  topi. Namun, sayang ia tidak begitu mengingat karena baru satu semester ia harus cuti karena hamil.


Setelah satu jam tiga pria tampan dan dua orang gadis datang, mereka menatap Satya dan Senja seakan bertanya ada apa. 


"Maaf, aku yang meminta kalian untuk datang. Terutama kalian berdua Diah dan Yeni," ujar Diana.


Deo, Alan dan Leo saling pandang, karena bukan hanya mereka saja ada juga teman dekat Sasa hadir.


"Apa kalian mengenal topi ini?" tanya Diana.


Semua menatap topi itu dengan intens, ketiga pria itu menggelengkan kepalanya. Diana menatap Dua sahabatnya dulu.


"Boleh aku lihat," kata Diah.


Gadis berambut panjang itu memperhatikan dengan seksama kemudian ia menatap Yeni dan berkata."Yogi."


Keduanya bersamaan menyebut nama Yogi, membuat Diana dan yang lainnya terkejut. Alan mengambil topi dan memperhatikannya. Yogi adalah salah satu mahasiswa angkatan mereka. Namun, pria itu tidak pernah bergabung. Ia selalu menyendiri di perpustakaan.


"Sasa pernah bilang ia bertemu Yogi, dan pria itu mengatakan cinta kepadanya," ujar Diah.


Leon yang mendengar itu merasa tertarik, pria itu menatap dua gadis yang sedang tersenyum malu ke arahnya.


"Apa kalian tahu di mana Yogi tinggal?" tanya Leon.


"Satu apartemen dengan Sasa, karena Sasa tidak ingin tinggal sama Tante Ajeng," jelas Yeni.


"Ada yang punya fotonya?" tanya Leon. 

__ADS_1


Keduanya menggelengkan kepalanya dan Diah berkata."Selama ini kami tidak melihat sosial medianya."


Satay diam melihat kedua wanita yang suka membully istrinya itu dan berkata."Kalian jangan bilang masalah ini kepada siapapun, jika mendapat info jika Yogi kuliah kasih tahu kami."


"Iya Pak," jawab Diah dan Yeni bersamaan.


Setelah kedua gadis itu pergi Setelah dua gadis itu pergi, Alan dan Leo bertanya kepada Leon. Satya menjelaskan  kepada ketiga sahabat istrinya itu untuk jika ada yang masuk dalam kamarnya.


"CCTV," kata Deo.


Satya menarik napas dalam," hanya Kelihatan baju dan topi  ini."


Ayah Nugraha hanya diam, karena baru kali ini ada yang masuk dalam rumahnya  diam-diam. Yang membuatnya tidak habis pikir karena yang  dituju kamar putranya.


"Aku nggak kebayang  jika Jingga ada di kamar tadi," kata Senja sambil mengusap air matanya.


Senja begitu shock saat tahu ada yang masuk dalam kamarnya. Apa lagi sempat mengacak pakaiannya.


Satya beranjak dari sofa dan menghampiri  sang istri.


"Jangan sedih, Allah masih melindungi  putri kita," kata Satya mengusap kepala istrinya lembut.


Tangis Senja pecah karena biasa ia akan meninggalkan putrinya saat tidur. Namun, entah mengapa tadi ada perasaannya tidak enak untuk meninggalkan putrinya.


Satya memeluk istrinya berharap akan tenang. Leon menatap Senja  ia begitu paham pasti sangat shock.


Satya hanya mengangguk dan berkata." Bisa bicara sebentar?" 


"Bisa, apa yang enggak buat lo," jawab Leon sambil berdiri.


Keduanya berjalan menuju  ke arah taman tepatnya di bawah kamar Satya.


"Balkon kamar gue sama kamar Arga bersebelahan, orang itu masuk pasti manja pohon sebelah, dan melompat ke arah pohon  itu karena cabangnya bersebelahan." Satya memberitahu  Leon.


"Bisa jadi," jawab Leon.


Leon berjalan menuju ke pohon yang dekat pagar yang tinggi itu. Pria itu memanjatnya, dari atas ia melihat sekeliling. Kini mata Leon  fokus ke arah rumah dilihatnya pria yang memakai jaket hitam dan topi  hampir mirip  dengan  yang didapatkan Satya. 


Leon mengambil  ponselnya  untuk mengambil plat mobil yang sekarang sudah meninggalkan rumah mewah di samping rumah Satya itu.


Leon turun  kemudian  menghampiri  Satya, keduanya  berjalan beriringan menuju ke rumah.


Keduanya masuk dan bergabung dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Rumah sebelah milik siapa?" tanya Leon.


Ayah Nugraha  dan Bunda saling pandang. Seingatnya rumah itu sudah lama kosong. 


"Kenapa Nak?" tanya Ayah Nugraha.


Leon menceritakan kepada semuanya apa yang dilihatnya  tadi,  ia juga membandingkan  topi yang dipakai pria berjaket itu.


"Alan apa lo tahu wajah Yogi,?" tanya Leon.


"Iya," jawab Alan.


Leon memberikan  foto kepada Alan, Leo dan Deo ikut melihatnya. Ketiganya saling pandang. 


"Iya ini orangnya," jawab Alan yang diagukkan oleh Leo dan Deo.


"Sini lihat," kata Senja.


Senja menatap foto pria yang sedang berjalan, tapi yang ia ingat jika Yogi itu memakai kacamata, sedangkan ini. Mata Senja melebar ia begitu mengingat siapa yang orang itu.


"Sayang, "kata Satya.


"Ini teman aku, semenjak kecelakaan itu kami tidak bertemu," ujar Senja.


Satya menatap Senja intens, ia ingat apa kata Rendy jika sahabat Senja itu meninggal. Lalu siapa pria itu. 


"Apa kamu yakin, Nak?" tanya Bunda.


"Iya Bun, lalu ada apa ia harus datang lewat balkon dan mengeluarkan pakaian dan dari lemari," ucap Senja.


Satya hanya diam, entah kenapa ia curiga dengan sahabat Senja yang dulu. Ia akan bertanya dengan Bik Sun dan Rendy. Apa benar sudah meninggal atau masih hidup.


"Sekarang kita harus berhati-hati, siapapun pria itu kalau tujuannya baik pasti akan datang lewat pintu," kata Ayah Nugraha.


"Sayang, jangan terlalu kamu pikirkan," kata Bunda.


Senja hanya mengangguk, jujur ia begitu sedih karena sahabatnya bertahun-tahun baru datang, tapi kenapa lewat jendela.


Air matanya terus berlinang, Satya melihat itu merasa iba. Bagaimana jika istrinya tahu kalau sahabatnya itu sudah meninggal dunia saat ia kecelakaan dulu.


"Nak, ajak istrimu tidur di kamar tamu. Bik Ida sudah membersihkannya!"perintah Bunda.


"Iya Bun," jawab Satya. 

__ADS_1


Bunda melihat itu mengambil alih cucunya dan berkata." Tenangkan dirimu dulu, biar Jingga sama Bunda."


bersambung ya….


__ADS_2