
Satya yang sudah bersiap sedangkan Rendy mundur satu langkah," gue takut ada Sasa di dalam."
Satya melotot, Leon menatap tajam ke arah dua pria itu dalam kondisi tenggang masih bisa bercanda.
Leon memberikan kode untuk Satya saat pintu terbuka ketiga pria itu terkejut melihat apa yang berada di dalam kamar Sasa.
Jenazah Sasa ada di kamarnya mengenakan gaun pengantin, begitu juga kamarnya dirias begitu indah ada bunga mawar hitam dan putih.
Leon langsung menghubungi polisi dan orang tua Sasa, pria itu juga meminta anak buahnya untuk mengecek makam Sasa.
Rendy berdiri jauh dari kamar, tubuh pria itu bergetar. Satya melihat itu hanya bisa menarik napas dan berkata."Gue bilang nggak usah ikut."
Satya memapah Rendy dan memberikan minum air dingin dari kulkas. Namun, Rendy menolaknya membuat pria itu heran.
"Kenapa?" tanya Satya.
"Gue mual, pasti roh Sasa masih ada di sini." Rendy mengusap tengkuknya karena merinding.
Dua puluh menit kemudian Ayah Nugraha dan istrinya sampai apartemen, pria itu yang kebetulan berada di luar saat Satya menghubunginya langsung memutar balik mobilnya menuju apartemen Sasa.
Bunda menutup mulutnya tidak percaya karena saat pemakaman Sasa ia dan suaminya hadir.
"Sayang ini kenapa bisa?" tanya Bunda menatap Satya dan Leon.
"Kita tunggu polisi datang Bun," jawab Satya.
Ajeng yang datang bersama seorang polisi merasa bingung karena ia tidak tahu apa-apa tiba -tiba dijemput di bawa ke apartemen putrinya. Bunda melihat sahabatnya itu datang langsung memeluknya.
"Mbak ada apa?" tanya Ajeng.
"Kamu yang sabar," kata Bunda.
Polisi menggelengkan kepalanya, pria berbadan tegap itu menatap Satya dan Leon bergantian dan berkata." Ini pelakunya bukan orang waras."
Ajeng yang penasaran berdiri dan perlahan melihat ke arah kamar putrinya, wanita itu menggelengkan kepalanya rasanya tidak mungkin karena putrinya sudah di makamkan.
"Sasa!" teriak Ajeng yang langsung terkulai lemas dengan reflek Leon menangkapnya.
Kini jenazah Sasa kembali dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan, Leon mendapat laporan dari anak buahnya jika makam Sasa masih utuh, hal itu membuat Satay dan polisi merasa heran.
Satya mengajak Ayah dan Bundanya untuk pulang, Ajeng sementara di ajak pulang ke kediaman Nugraha.
"Sat, apa kita bawa ke rumah sakit dulu?" tanya Bunda.
__ADS_1
"Satya sudah hubungi Faisal, Bun." Satya menatap Bundanya lewat spion.
Bunda hanya mengangguk, ia begitu iba kepada Ajeng. Sudah kehilangan suami kini harus kehilangan anak dan begitu kejam orang tidak bertanggung jawab mengambil jasad Sasa yang sudah dimakamkan.
Setelah empat puluh menit mobil yang dikemudikan Satya sampai di depan rumah Ayah Nugraha.
Pria paruh baya itu menarik napas panjang saat ada beberapa orang tidak jauh dari kediamannya. Satya yang melihat Ayahnya merasa risih hanya tersenyum tipis.
"Itu anak buah Leon, sedangkan yang tinggal di ujung sana polisi yang mengintai rumah sebelah, Yah." Satya menjelaskan kepada Ayahnya.
Kini mereka masuk Ajeng yang belum sadar diangkat oleh Satya dan dibaringkan ke kamar tamu, Faisal yang baru sampai merasa heran karena banyak pria berpakaian hitam hilir mudik dekat rumah Satya.
"Ada apa?" tanya Faisal.
"Kepo," jawab Satya ketus.
Faisal hanya terkekeh, pria itu masuk dan bertanya."Siapa yang sakit?"
Bunda mengajak Faisal untuk masuk kamar tamu, tanpa menunggu lama dokter muda itu langsung memeriksanya. diambilnya infus dan langsung memasangkan di tangan wanita yang baru dilihatnya itu.
Faisal keluar diikuti Bunda, pria itu duduk di samping Senja. Namun, baru saja mendaratkan tubuhnya tiba-tiba tangannya ditarik Satya hingga berdiri.
"Dasar posesif!" gerutu Faisal.
Kini Satya bingung cara mengatakan kepada istrinya jika Ilham sudah meninggal, saat kecelakaan itu terjadi.
"Sayang, kamu jangan terlalu memikirkan apa yang terjadi."Satya menggenggam tangan istrinya.
Arga dan Ranga yang baru pulang melihat ada Fasial terkejut dan bertanya."Siapa yang sakit?"
Ranga yang ingat istrinya langsung berlari ke kamarnya, melihat tingkah Ranga yang lain terkejut.
"Bunda!" teriak Ranga.
"Huff, dasar manja," gerutu Faisal yang langsung ditatap tajam oleh Arga.
Bunda berdiri dan berjalan ke arah kamar putranya, "Kenapa?"
"Istri Ranga mana?" tanya Ranga sudah mau menangis.
"Bunda baru pulang, Nak." Bunda memeluk putra bungsunya itu.
Satya yang tidak tega saat mendengar suara Ranga menangis akhirnya menuju kamar adiknya, pria itu hanya bisa menarik napas panjang dan bertanya."Ada apa lagi?"
__ADS_1
"Diana mana?" tanya Ranga.
Satya hanya bisa mendengus, pria itu keluar dari kamar Ranga menuju ruang keluarga dan bertanya."Diana mana?"
"Di taman belakang makan rujak dengan bik Ida," jawab Senja.
Satya berjalan ke arah taman belakang, dilihatnya Diana sedang asik makan dengan bik Ida sambil bercerita. Pria itu menghampiri Adik iparnya itu dan berkata."Diana, Ranga sudah menangis mencarimu, 'istriku mana'."
Diana tersenyum geli melihat sikap Satya uang menakuti gaya suaminya saat merajuk. Wanita yang sedang hamil muda itu didorong kursi rodanya oleh Bik Ida.
"Mas," panggil Diana.
Ranga yang berbaring di pangkuan Bunda langsung bangun dan langsung memeluk istrinya dan bertanya."Kamu sakit apa, kenapa Faisal ada di rumah?"
"Aku baik-baik saja, Mas." Diana merasa bingung karena suaminya menanyakan dokter muda itu.
Bunda menarik napas kini wanita itu mengerti karena ada Faisal putranya itu kira Diana yang sakit."Moga ini bawakan Cucu Bunda."
Diana hanya terkekeh, karena selama ia hamil suaminya begitu sensitif. Diana mengusap kepala Ranga lembut dan berkata." Lain kali cari tahu dulu ya, Mas."
Ranga hanya memejamkan matanya, melihat itu Diana hanya tersenyum tipis. Setelah Ranga tertidur Diana keluar kamar.
"Udah diam?" tanya Senja.
Diana hanya mengangguk, wanita itu ikut bergabung bersama yang lainnya. Arga merasa kasihan melihat adik iparnya itu. Ia heran kenapa Ranga tidak berubah masih kekanak-kanakan.
"Sudah ada kabar?" tanya Arga yang merasa penasaran.
Satya menggelengkan kepalanya, ditatapnya Ayah Nugraha yang hanya menatap Jingga. melihat itu Satya tersenyum karena putrinya itu begitu menggemaskan sekarang.
"Ayah ada yang mau Satya bicarakan." Satya beranjak berdiri dari sofa menuju ruang kerja Ayahnya.
Keduanya duduk berhadapan, "Ada apa?" tanya Ayah Nugraha.
Satya lalu menceritakan semua kejadian sampai sang istri akan dijadikan target selanjutnya. Ayah Nugraha menatap putranya dan berkata."Jadikan Senja umpan."
"Ayah, tidak mungkin Satya lakukan itu!" serunya.
"Ini hanya umpan," jelas Ayah Nugraha,
Satya menggelengkan kepalanya karena itu terlalu membahayakan istrinya, ide dari Ayahnya itu tidak masuk akal menurutnya.
Bersambung ya...
__ADS_1