
Pagi ini cuaca begitu cerah, waktu sudah menunjukkan jam 6:30, Senja yang sudah siap mandi segera membereskan barang-barang Satya, karena Senja yakin hari ini suaminya di perbolehkan pulang oleh Dokter Diki.
Satya berlahan membuka matanya dilihatnya istri kecilnya sedang sibuk mengemas pakaiannya, Satya turun dari ranjang kemudian mengecup bibir Istrinya kilat dan Langsung berlari kekamar mandi sebelum Senja berteriak.
Senja yang sudah berkacak pinggang dengan sorotan mata tajam akhirnya melunak kembali sambil tersenyum mengingat suaminya yang secepat kilat masuk kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritualnya Satya sudah terlihat tampan dengan memakai kaos warna coklat dan celana jeans warna hitam. Senja diam mematung melihat suaminya dengan rambut basah di biarkan berantakan.
Satya memberikan handuk kecil ke Senja, Senja yang sadar suaminya membasahi kepalanya sangat panik dan segera menekan bel di ranjang Satya. Satya yang terkejut melihat istrinya panik segera berdiri.
"Ada apa?" tanya Satya sambil memegang bahu Senja.
Tak lama Dokter datang dengan suster yang jalan buru-buru ke ruangan Satya, Dokter Diki berdiri mematung melihat Satya dan Senja sedang saling pandang. Tak lama terdengar suara Suster untuk menyadarkan pasangan di depannya.
"Ehhmm maaf" ucap Suster sambil melangkah mendekati Satya dan Senja.
Senja menoleh ke asal suara, matanya Senja bertemu dengan mata Dokter Diki yang begitu hangat menatapnya, Satya mengerutkan keningnya saat melihat Senja dan Dokter Diki saling pandang.
"Dokter suami saya cuci rambut, apa tidak masalah dengan luka di kepalanya." kata Senja
Dokter Diki dan suster terkejut dengan pertanyaan Senja, kenpa gara-gara cuci rambut sampai menekan bel.
"Tidak apa, sekarang biar saya lepas perbannya," jawab Dokter Diki.
Senja bernafas lega, sedang Satya memijat pelipisnya, merasa malu dengan kelakuan Senja pagi ini, Satya menatap Dokter Diki yang sedang serius membuka perban di kepalanya.
"Maafkan istri saya, Dok," ucap Satya.
Dokter Diki menatap Satya sambil tersenyum, seperti menjawab kalau tidak maslah.
Satya melihat Dokter Diki sudah selesai, segera mengucapkan terimakasih kepada Dokter Diki yang sudah menyelamatkannya waktu itu.
Setelah selesai Dokter Diki pamit karena Satya sudah di perbolehkan pulang.
"Alhamdulillah Bby, Mmy senang akhirnya Bby sudah di perbolehkan pulang," ucap Senja
"Sungguh?" tanya Satya sambil mengecup kening Senja.
"Ia sudah enggak sabar untuk pulang ke Surabaya," jawab Senja
__ADS_1
"Bukankah kata Ayah kita bulan madu dulu," goda Satya membuat wajah Senja merona.
"Bby!" seru Senja yang selalu salah tingkah dengan godaan suaminya.
Satya terkekeh, melihat wajah Senja memerah karenanya, keduanya sedang menunggu Ranga untuk menjemputnya, sudah lebih lima belas menit Ranga belum juga terlihat.
Satya berdiri menatap ke jendela, Senja yang melihat suaminya sudah mulai bosan segera menghampirinya.
"Sabar Sayang," ucap Senja
Satya tersenyum saat Senja berdiri di sampingnya, tangan Satya memeluk pinggang Senja, Satya ingin Istrinya menceritakan tentang teror yang di terimanya, tapi sampai pagi ini Senja tetap diam seakan tidak terjadi apa-apa.
"Sayang, apa ada yang kau sembunyikan dari suamimu ini?" tanya Satya.
" Enggak ada Bby, Mmy masih bisa menanganinya jangan Khwatir," jawab Senja dengan senyum manisnya.
Satya menarik nafas dengan berat saat melihat istrinya seakan-akan baik-baik saja, tapi Satya percaya Senja suatu saat akan menceritakan siapa yang selalu mengirimkan chat padanya .
Tak lama pintu terbuka muncul wajah dengan senyuman yang penuh arti, Satya yang tahu betul bagaimana sikap Sahabatnya itu menaikkan bahunya.
"Kenapa lama sekali sih, bro?" tanya Satya yang membantu Ranga membawa barang-barangnya.
"Om, semula ngumpul di rumah' kan?" tanya Senja sambil memeluk tubuh suaminya.
Rangga yang melihat sekilas dari spion hanya menggelengkan kepalanya.
"Ia semua ada," jawab Ranga.
Senja terlihat senang, karena sebentar lagi akan sampai di rumah Ayahnya dengan fersi lengkap kecuali Kakek dan Neneknya.
Sebenarnya Senja kangen juga dengan Kakek dan Neneknya, tapi kalau ingat Kakeknya yang terus berusaha memisahkan kedua orang tuanya Senja kadang geram sendiri.
Tak lama mobil memasuki gang rumah Yoga, rumah yang yang berdiri megah dengan urmamen klasik itu mulai terbuka gerbangnya, mobil yang di kemudikan oleh Ranga berhenti di dekat teras.
Tak lama Bunda yang sudah menunggu dari tadi anak dan mantunya datang segera menyambutnya, Senja berhambur di pelukan Bunda mertuanya yang langsung di sentil keningnya oleh Satya.
Ketiganya masuk kerumah, di ruang keluarga sudah berkumpul semuanya menyambut Satya dan Senja dengan senyum bahagia, Senja duduk di samping Ayah Yoga yang di ikuti oleh Satya.
"Alhamdulillah Ayah senang melihat kamu sudah sehat, Nak." ucap Ayah Nugraha sambil memegang bahu Satya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, yah." jawab Satya sambil tersenyum menatap wajah Ayahnya.
"Jadi bagaimana mau langsung pergi bulan madu atau pulang ke Surabaya?" tanya Ayah Nugraha kemudian tersenyum melihat Senja yang malu smabil menunduk.
Semua menunggu jawaban dari Satya dan Senja, Satya yang tau Istrinya Minggu depan sudah mulai masuk kuliah, akhirnya memutuskan untuk pulang Surabaya.
Senja merasa lega mendengarnya, karena Senja sudah kangen dengan Kakek dan Neneknya. Mentari yang hanya diam saja sebenarnya merasa aneh dengan Popy sekertaris dari Adiknya Rendy
"Maaf saya permisi sebentar," ucap Satya yang segera berdiri menuju taman belakang, Ranga yang tahu segera mengikuti bos sekaligus sahabatnya.
Satya berdiri menghadap kolam renang yang airnya sangat jernih, Ranga menghampiri Satya berdiri tepat di sampingnya, keduanya sama-sama terdiam dengan gaya coolnya.
"Bagaimana?" tanya Satya
"Nomernya tidak aktif, gue rasa nomer itu aktif saat mengirimkan pesan saja,' jawab Ranga
"Apa Senja punya musuh? apa ini ada hubungannya dengan Mery?" tanya Satya lagi sambil duduk di tepi kolam.
"Gue sedang menyuruh anak buah kita buat menyelidiki," ucap Ranga.
"Katakan padanya, cari tahu secepatnya," ucap Satya dingin.
Setelah itu Ranga segera menghubungi anak buahnya untuk secepatnya mencari tahu karena Satya memintanya cepat. Ranga mengaruk kepalanya saat melihat Satya kembali lagi dingin.
"Apa lo tahu, kenapa Rendy datang?" tanya Satya
"Lo tenang saja Rendy ada di pihak kita,' ucap Ranga kemudian menceritakan semuanya kepada Satya, Satya terlihat mengepalkan kedua tangannya.
"Besok kita pulang ke Surabaya, gue mau lihat sampai mana pria tua itu akan bertindak!" kata Satya tidak terbantahkan.
" Siap Bos," jawab Ranga.
Keduanya sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing, samar-samar Satya mendengar langkah kaki mendekatinya, Satya dan Ranga tidak bergeming saat langkah kaki itu berhenti di antara keduanya.
"Ada apa?" tanya Satya.
Tidak ada Jawaban dari sosok yang baru datang, akhirnya Satya membuka matanya dan menoleh ke samping, mata Satya langsung terbelalak melihat siapa yang datang.
Bersambung ya...
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏😍💞