
Malam ini Satya, Yoga dan Arga akan menemui Arnold di kafetaria. Sesampainya di kafetaria Arga segera turun di ikuti oleh Satya dan Yoga.
"Itu dia," ucap Satya sambil menunjuk meja di sudut belakang.
"Lo yakin?" tanya Yoga.
"Yakinlah bro, dulu kami dekat waktu SMA," jawab Satya sambil menghampiri Arnold.
"Kenapa lama sekali! sampai lumutan gue nunggu," sungut Arnold.
"Sorry bro," jawab Satya sambil duduk di samping Arnold.
Arnold memanggil Pelayan, tak lama meraka memesan kopi untuk menemani obrolan, Yoga dari tadi memperhatikan Arnold yang terlihat cuek padanya.
"Bro kenalin ini Arga, dan yang satu ini lo sudah tahu' kan." ucap Satya sambil menunjuk ke arah Yoga.
"Sudahlah, tiap hari gue ngikutin dia," jawab Arnold sambil tersenyum.
"Lo ya, kurang kerjaan!" ucap Yoga kesal.
"Gue hanya melaksanakan tugas," sahut Arnold
"Serah lo, deh!" sungut Yoga.
Arga hanya tersenyum melihat Yoga yang sudah sangat kesal dengan Arnold. Sedangkan Satya memperhatikan Arnold dan Yoga masih sama-sama ketus saat berbicara.
"Jangan lupa apa tujuan kita!" ucap Satya yang mulai jengah melihat Arnold dan Yoga yang masih berdebat.
Yoga langsung terdiam saat suara Satya mulai datar, Yoga sebenarnya ingin sekali menghajar lelaki di depannya ini, kalau tidak Ingat pesan Satya tadi. Jangan sampai terbawa emosi.
"Apa lo tahu? kenapa papa Robby selalu mengutus lo, untuk mengikuti gue." ucap Yoga
"Jujur, sebenarnya gue terpaksa mengikuti permintaan Papa untuk mengurusi lo," ucap Arnold.
"Terus, apa yang membuat lo nurut sama bokap lo?" tanya Arga dengan tatapan mengintimidasi.
"Santai, enggak usah ngegas lo!" sungut Arnold membalas tatapan Arga dengan tajam.
"Sudahlah, kita di sini bukan untuk ribut, ingat itu!" ucap Satya penuh penekanan.
Arga akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mata Arga langsung berbinar saat pandangannya menangkap sosok wanita yang sibuk dengan lektopnya.
Satya yang sedang membicarakan hal penting dengan Arnold dan Yoga langsung mengikuti arah pandang Arga.
"Woi...!" ucap Satya yang mengejutkan Arga.
"Sialan lo!" gerutu Arga sambil mengusap kepalanya yang di lempar botol air mineral oleh Satya.
__ADS_1
Satya dan Yoga hanya terkekeh melihat tingkah Arga, sedangkan Arnold menoleh ke belakang melihat siapa yang dari tadi di perhatikan Arga.
"Kenapa lo perhatian to cewek?" tanya Arnold
"To cewek calon Ibu anak-anak gue," jawab Arga santai.
Arnold yang mendengar ucapan Arga langsung tersedak, Satya segera memberikan air ke Arnold.
Arga menatap tajam ke Arnold, jangan-jangan Arnold mengenal wanita yang sedang duduk di meja yang menghadap ke jalan.
"Lo kenal dia?" tanya Arga.
"Kenallah, itu sepupu gue," jawab Arnold cuek.
"What, serius lo!" teriak Arga yang terkejut.
"Iya, lagian ngapain gue bohong," jawab Arnold.
Yoga melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga pas, Satya yang mengerti maksud Yoga segera pamit kepada Arnold dan Arga.
Arga sengaja tinggal karena ingin mengenal wanita yang sudah menarik hatinya di awal melihatnya. Arnold tersenyum melihat tingkah Arga yang tadi begitu kesal kepadanya.
"Lo bisa kenalin gue enggak?" tanya Arga
"Bisa, ayo kita datangi dia, eh lo bawak mobil kagak?" tanya Arnold.
"Cih... dasar!" ucap Arnold.
Arga mengikuti Arnold dari belakang menghampiri Suci Ramadhan adik sepupu Arnold, Suci anak dari adiknya Ronald yang sudah meninggal karena kecelakaan mobil. Suci dari kecil di rawat oleh Nenek Wati.
"Dek," sapa Arnold yang langsung duduk di depan Suci.
"Ia Kak, ada apa?" jawab Suci lembut.
"Maaf, gue enggak bisa ngantar lo pulang," ucap Arnold.
"Ia enggak apa-apa Kak, Suci naik kendaraan online saja." kata Suci sambil tersenyum menatap lelaki yang sudah di anggap Ayahnya sendiri.
Arnold menarik nafas panjang, Arnold gemes melihat Arga hanya diam dan salah tingkah.
"Dek, lo diantar teman Kakak ya, kenalin ini Arga." Ucap Arnold.
Suci yang hendak menolak, langsung tertunduk saat Arnold menatapnya. Arnold sebenarnya merasa bersalah, tapi hanya ini yang bisa dia lakukan supaya ada yang melindungi Suci di kemudian hari.
Arnold sudah sangat tahu bagaimana Arga seorang pengusaha sukses yang selalu jadi panutan untuk pengusaha muda yang ingin merintis mendirikan usahanya.
"Ya ..sudah bro gue duluan," ucap Arnold sambil mengedipkan matanya ke arah Arga.
__ADS_1
Arga menerima kunci mobil Arnold, sampai di parkiran Arga berhenti, di tatapnya Suci yang sedang mengutak-atik handphonenya.
"Kenapa Kak?" tanya Suci.
"Enggak apa-apa," jawab Arga yang sebenarnya bingung dimana mobil Arnold parkir.
Suci yang mengetahui kalau Arga bingung mencari mobil milik Kakaknya hanya tersenyum, setelah berjalan agak jauh, ternyata mobil Arga parkir di tepi jalan.
Keduanya masuk kedalam, tapi Arga langsung menoleh kebelakang, Suci sedang menyandarkan kepalanya di jok bangku penumpang. Suci yang merasa di perhatikan, membuka matanya melihat ke arah Arga.
"Ada apa, Kak?" tanya Suci.
"Pindah duduk di depan," kata Arga.
Suci yang terlihat sudah lelah, hanya menurut saja, setelah itu mobil melaju dengan kecepatan sedang, Arga sangat senang saat bisa mengantarkan pulang wanita idamannya.
Di kediaman Yoga.
Mobil yang dikemudikan olah Satya memasuki gerbang yang sudah di buka oleh penjaga yang bernama Pak Jaka, Satya memarkirkan mobil milik mertuanya itu di samping garasi.
Saat Yoga dengan santai berjalan mau masuk rumah, tepat di depan pintu Satya menghentikan langkahnya Yoga.
"Bro," panggil Satya membuat Yoga berhenti tepat di depan pintu.
"Dasar lo mantu kagak ada sopannya," ujar Yoga saat Satya memanggilnya dengan sebutan Bro.
Satya hanya terkekeh mendengar ucapan Ayah mertuanya, setelah sampai di samping Yoga menepuk bahu Yoga.
"Maaf, biar mantumu ini duluan masuk sudah kangen dengan istri tercinta," ucap Satya langsung mendahului Yoga yang masih berdiri di depan pintu masuk.
"Astagfirullah, mimpi apa gue!" guman Yoga.
Yoga melangkah dengan cepat untuk mendahului Satya yang sudah mau sampai tangga. Satya yang tidak menyadari kalau Yoga sudah di belakangnya terkejut, saat ada yang memegang bahunya.
"Dimana-mana mantu ngalah sama mertua," ucap Yoga segera berjalan hendak menaiki tangga.
"Eh, tadi gue duluan," sahut Satya yang tidak terima dengan menahan bahu Yoga.
Keduanya berebut mau duluan sampai lantai dua, tanpa keduanya sadari, Senja berdiri di belakang suaminya sambil melipatkan tangan di dadanya.
"Astagfirullah Ayah, Bby sudah tua masih berebut naik tangga!" ucap Senja sambil menggeleng melihat tingkah Ayah dan suaminya.
"Eh Mmy, belum tidur?" tanya Satya sambil menghampiri Istrinya.
Tiba-tiba Senja langsung melompat bergelayut di leher Satya dengan kaki sudah melingkar di pinggangnya Satya. Satya yang sudah biasa dengan ulah istri kecilnya sudah tidak terkejut lagi, Satya membawa Senja menaiki tangga dengan pelan-pelan, sambil menyunggingkan senyum kemenangan kepada Yoga.
Yoga hanya berdiri mematung melihat sepasang suami istri yang sudah sampai Kelantai dua. dengan gontai akhirnya Yoga menaiki tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Bersambung ya jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like 👍 dan votenya, jika suka silakan berikan hadiahnya 🙏🙏🙏