
Malam yang sudah larut akhirnya Satya mengajak istrinya untuk beristirahat, keduanya menginap di rumah Kakek Roby. Satya yang masih sangat penasaran dengan ucapan Rendy yang mengatakan ingat apa kata Dokter begitu menganggu pikirannya.
Senja sudah tidur nyenyak, berlahan Satya keluar kamar dilihatnya ruang kerja Rendy lampunya masih menyala.
"Sebaiknya aku tanya langsung ke Rendy," guman Satya.
Tok...tok.. Satya mengetuk pintu ruang kerja Rendy, tak lama Rendy membukakan pintu dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Ada apa?" tanya Rendy sambil melangkah menuju kursi kerjanya.
"Gue enggak bisa tidur," jawab Satya padahal ingin langsung membicarakan intinya.
Rendy menarik nafas panjang melangkah menghampiri sahabatnya waktu kuliah dulu.
"Apa lo masih penasaran dengan yang tadi?" tebak Rendy.
Satya hanya menganggukkan kepalanya, Rendy tersenyum melihat CEO dari Nugraha itu.
"Dua tahun yang lalu waktu bini loo kelas satu SMA, diam-diam suka pakai motor sport gue." kata Rendy.
"Elo yang ngajarin dia," ucap Satya.
"Bukan gue, tapi sahabatnya." jawab Rendy
Kemudian Rendy menarik nafas panjang, lalu menceritakan kalau Senja dulu suka ikut Balapan liar tanpa sepengetahuan Mentari dan dirinya.
Sampai suatu hari dapat telepon Senja masuk rumah sakit akibat kecelakaan.
Rendy terdiam mengingat kejadian dulu, saat Senja di nyatakan koma oleh Dokter akibat benturan yang begitu keras di kepalanya.
"Lo tahu dia kecelakaan saat mengendarai motor sport gue," ucap Rendy sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"lalu?" tanya Satya menatap Rendy dengan intens
"Senja dinyatakan koma," jawab Rendy
"Berapa lama!" kata Satya.
"Dua bulan, tiba-tiba dia sadar dan mencari Sahabatnya Ilham," jawab Rendy.
"Siapa Ilham, apa dia yang mengajarkan Senja naik motor," tebak Satya.
"Ia, tidak hanya itu Ilham juga yang mengajarkan ilmu bela diri padanya." ucap Rendy
Satya terdiam kemudian menyandarkan kepalanya di sofa, Rendy tersenyum dengan tingkah anehnya Satya.
__ADS_1
"Kemana sekarang Ilham?" tanya Satya.
"Dia meninggal saat kecelakaan hari itu," jawab Rendy.
Satya menatap intens wajah Rendy yang terlihat serius, jadi yang meninggal adalah Ilham, saat dulu mendengar kecelakaan cucu dari Roby Sanjaya.
"Apa dia tahu kalau sahabatnya meninggal?" tanya Satya.
"Tidak, saat dia sadar kami bilang kalau Ilham pergi keluar negeri karena merasa bersalah," ucap Rendy sambil menunduk.
Satya kembali lagi terdiam, pikirannya kembali lagi teringat waktu kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya andai saja tidak ada Radit waktu itu pasti nyawanya tidak akan tertolong.
"Apa dia tidak menanyakan bagaimana kabar Sahabatnya yang langsung menghilang." kata Satya.
"Dulu kalau dia berfikir keras kepalanya akan terasa sakit, dan Dokter berpesan jangan sampai kepala bagian belakang terbentur lagi," ucap Rendy ke Satya.
Satya yang paham maksud dari ucapan sahabat sekaligus Omnya itu hanya bisa menghela nafas panjang, hampir saja dia membahayakan Istrinya.
"Gue balik ke kamar bro," ucap Satya kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Rendy.
Rendy hanya tersenyum menatap kepergian Satya, dunia ini begitu sempit dulu hubungannya harus putus dengan Mery karena karena perjodohan.
Mery lebih mengikuti keinginan orang tuanya untuk menikah dengan Satya, sedangkan saat itu yang ia tahu kalau Satya sedang dekat dengan Popy.
Rendy merapikan meja kerjanya, kemudian keluar menuju kekamarnya untuk istirahat.
Pagi hari menjelang suara burung berkicau sangat merdu saling bersahut-sahutan, Senja membuka jendela kamarnya sambil tersenyum menatap langit berwarna biru pertanda cuaca akan cerah dihiasi awan putih.
Satya yang baru terbangun melihat sekeliling langsung tersenyum takala melihat istrinya sedang memejamkan matanya sambil mengadahkan wajahnya keatas.
"Pagi sayang," ucap Satya sambil memeluk pinggang Istrinya dari belakang.
Senja tersenyum mendengar suara yang tidak asing baginya, suara lelaki yang mampu membuat hatinya selalu tenang.
"Pagi Bby," sahut Senja.
"Apa langit itu lebih menggoda dari suamimu ini," ujar Satya kemudian memutarkan badan Istrinya menghadap ke arahnya.
Senja terkekeh mendengar ucapan suaminya, seakan cemburu dengan alam semesta.
"Langit itu begitu Indah di pagi hari, tapi tidak akan mengalahkan ketampanan suamiku ini," rayu Senja sambil mengecup wajah tampan di hadapannya.
"Kamu masih pagi sudah pandai menggoda ya!" ucap Satya sambil mengangkat tubuh istrinya membawanya kekamar mandi.
"Bby....., Mmy sudah mandi," ucap Senja sambil meronta minta di turunkan.
__ADS_1
"Mandi lagi sayang, sekalian kita olahraga pagi," ucap Satya sambil tersenyum penuh arti.
Senja kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Satya sambil tersenyum malu saat Satya mengucapkan olahraga pagi.
Setelah satu jam keduanya keluar dari kamar lebih terlihat segar, tapi tidak dengan Senja terlihat lelah.
Satya yang melihat istrinya menuju kelemari pakaian segera mengikutinya, dipeluknya tubuh kecil yang membuatnya candu.
"Bby...," kata Senja
"hemmm," jawab Satya singkat sambil mengendus tengkuk Senja.
"Bby..., Mmy lelah," elak Senja yang tahu nanti kemana arah keinginan suaminya.
"Mmy nikmati saja, biar Bby yang berkerja," jawab Satya tak menunggu lama Senja merasakan tubuhnya melayang karena suaminya mengangkat badan rampingnya kemudian membaringkan pelan-pelan diranjang.
Satya tersenyum melihat istrinya sudah memejamkan matanya karena kelelahan, dia kemudian menutup tubuh polos Senja dengan selimut. Keduanya kembali lagi tertidur setelah melakukan olahraga pagi beberapa kali.
...💞💞💞💞💞...
Sementara di lantai bawah, semua sudah berkumpul menunggu sepasang pengantin baru untuk sarapan pagi bersama. Rendy terlihat kesal sudah tiga puluh menit menunggu, tapi pasangan beda umur itu belum juga menampakkan wajahnya.
"Mam, Rendy sudah lapar!" kata Rendy dengan raut wajah yang memelas.
"Kamu itu seperti anak kecil saja," jawab Papa Roby sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya.
"Ya sudah kita sarapan dulu, biar nanti mereka menyusul," ujar mama Marni
Rendy yang mendengar itu segera mengambil nasi goreng buatan Mamanya yang selalu menjadi favoritnya.
Mereka menikmati sarapan tanpa Senja dan Satya, Kakek Roby terlihat kurang berselera makannya karena tidak bisa sarapan bersama cucu kesayangannya.
Mama Marni yang melihat suaminya hanya mengaduk-aduk nasi dipiringnya hanya menghela nafas panjang.
"Makanlah Pa, apa kamu ingin melihat cucumu bersedih karena melihamu murung," kata mama Marni sambil mengambilkan telur separuh masak kepiring suaminya.
Rendy melihat itu hanya tersenyum tipis, begitu perhatiannya Mamanya kepada Papa walau Rendy tahu Mama sudah sering dibuat kecewa.
"Papa tahu semalam Senja menangis melihat Kakek kesayangan berbaring dengan lemah," ucap Rendy.
Kakek Roby langsung melihat ke arah anaknya, apa benar cucunya semalam melihatnya di kamar. batin Kakek.
Setelah mendengar kata-kata istri dan anaknya, Kakek Roby segera memakan sampai habis sarapannya. Hal itu tidak lepas dari pandangan istri dan anaknya.
Rendy tersenyum menatap ke arah Mamanya, mama Marni hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang akan kalah telak kalau sudah menyangkut cucu kesayangannya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan meninggalkan jejaknya.