
...Hayo... siapa yang dari kemarin tanya kapan up, insyaallah mulai up rutin lagi ya di bulan baru dan semangat baru....
...Janga lupa selalu jaga kesehatan, karena pandemi masih bertahan dan semakin .......
...Author ucapkan terimakasih atas doanya, maaf enggak bisa balas satu-persatu. ...
...Senja ❤️Satya...
...Happy reading...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Tepat pukul 3 Yoga mengajak Satya untuk berkunjung rumah pak RT, karena rumahnya hanya berjarak lima rumah dengannya Yoga memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Satya hanya menurut apa kata mertuanya, pria itu merasa bersyukur karena saat ia berjalan ke rumah pak RT tidak bertemu dengan warga.
Kini keduanya sudah berdiri di depan pintu tak lama Yoga menekan tombol bel rumah pak Hamzah. Tak berapa lama keluar wanita yang umurnya berkisar dua puluh tahun.
Wanita yang tak lain anak pak Hamzah itu begitu terkejut saat melihat kedua pria yang masih terlihat tampan datang ke rumahnya.
"Maaf mau cari siapa?" tanya Siska menatap kedua pria itu begitu kagum.
"Pak Hamzah nya ada?" tanya Yoga sambil tersenyum menatap wanita di depannya.
"Oh Papi ada, silahkan masuk," katanya sambil memberikan kedua tamunya ruang untuk masuk.
Tak lama Satya dan Yoga masuk dan dipersilahkan duduk di ruang tamu, setelah itu Siska memanggil Papinya.
Pak Hamzah yang melihat Yoga tersenyum hangat, kemudian keduanya saling berjabat tangan diikuti oleh Satya.
"Ada angin apa seorang Yoga mampir ke gubuk saya," ucapnya sambil tersenyum menatap ramah kedua pria di depannya.
"Begini Pak, karena selama tiga bulan ini anak dan menantu saya Insya Allah akan tinggal di rumah saya. Makanya saya melapor ke Pak Hamzah," ujarnya.
"Ini Pak foto copy KTP dan KK serta buku nikah saya," sambung Satya.
Pak Hamzah begitu terkejut melihat menantu Yoga ternyata pria yang kini duduk di depannya.
Namun pria paruh baya itu hanya tersenyum menatap Satya, tak lama Sisca datang membawakan minum untuk kedua tamu Papinya.
__ADS_1
Setelah itu wanita itu pergi meninggalkan ruang tamu, walau dalam hati ia sebenarnya ingin ikut duduk di samping Papinya. Sisca entah kenapa begitu tertarik dengan Satya pria yang terlihat begitu dewasa dan matang.
Sisca nekat menghampiri Papinya, kemudian gadis itu langsung duduk begitu saja di samping Pak Hamzah, walau sempat heran dengan tingkah putrinya. Namun, pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya.
Tak lama Yoga yang tahu Satya merasa risih saat Sisca selalu menatap Satya sedari tadi, kemudian keduanya pamit tidak ingin berlama-lama di rumah Pak Hamzah.
Setelah keduanya sampai jalan menuju ke rumah Yoga, ada perasaan lega di hati Satya. keduanya berjalan dengan beriringan. Saat sampai pagar, pintu dibuka oleh satpam Satya segera mengambil langkah cepat mendahului mertuanya.
"Dasar menantu enggak ada akhlak!" umpat Yoga sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Satya.
Kejadian itu tak lepas dari perhatian Pak Selamat. Pria yang berumur empat puluh tahun itu hanya tersenyum melihat tingkah kedua pria itu.
"Jodoh mana ada yang tahu kalau Non Senja harus menikah dengan sahabat Ayahnya sendiri," kata Pria itu dengan lirih setelah Yoga masuk ke rumahnya.
Satya yang kini duduk di samping istrinya di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya merasa sangat bosan karena dirinya harus menunggu email dari Arga yang dari tadi di tunggunya.
Senja yang melihat suaminya sepertinya sedang menunggu pesan dari orang lain menatapnya intens.
"By, lagi nunggu pesan dari siapa?" tanya Senja sambil memakan buah pepaya.
"Nunggu email dari Arga, ada berkas yang harus aku cek," jawabnya tanpa menatap wajah istrinya.
Pria itu begitu senang kerja sama dengan Mr Kim akhirnya sudah bisa dikerjakan mulai besok. Ada rasa lega dalam hatinya, di tatapnya istrinya yang sedang cemberut menatapnya. Satya tersenyum ia merasa bersalah karena sedari tadi mengacuhkan istrinya.
"Jangan marah, sayang. Ada kabar gembira kalau kerja sama dengan Mr Kim sudah dimulai besok ini," ucapnya sambil tersenyum mengusap pipi istrinya.
"Apa Bby akan kesana lagi?" tanyanya sambil menatap sedih wajah suaminya. Sejujurnya Senja tidak ingin jauh -jauh dari suaminya.
"Tidak. Karena Bby tidak ingin jauh dari anak dan istriku tercinta," rayunya sambil mengecup kening Senja dengan lembut.
"Sudah pintar gombal sekarang ya," ucapnya dengan wajah yang merona.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya Satya hanya terkekeh, tak lama Yoga menghampiri keduanya.
"Kapan kalian akan bertemu Tante Mela?" tanya Yoga.
"Insya Allah besok pas istirahat siang, gue sudah menghubungi asisten Arga untuk membuat janji," katanya sambil mengusap perut istrinya.
"Apa Ibu bulan ini sudah periksa, Yah?" tanya Senja dengan menatap wajah Ayahnya.
__ADS_1
"Sudah sayang, bulan depan lagi atau kamu mau ditemani oleh Ibu?" tanyanya kepada putri satu-satunya itu.
"Tidak! biar gue yang antar." Jawab Satya tegas.
Yoga yang mendengar jawaban Satya hanya menatapnya jengah, menantunya itu selalu seperti itu. Satya yang tahu kalau Yoga kesal dengannya hanya tersenyum tipis.
Senja hanya memijat keningnya melihat Ayah dan suaminya yang tidak pernah mau mengalah satu dengan yang lainnya.
"Apa Ayah dan Bby tidak malu, hah. Sebentar lagi akan menjadi Kakek dan Ayah masih juga seperti anak kecil, selalu berdebat." Ucap Senja kesal.
Keduanya saling tatap, kemudian tertawa bersamaan saat melihat Senja kesal kepada keduanya. Tawa para pria itu membuat Bik Sum yang baru saja lewat terkejut, karena latah Bik Sum mengikuti tawa Satya dan Yoga sehingga keduanya langsung terdiam. Senja tertawa melihat suami dan Ayahnya bengong melihat Bik Sum jalan sambil tertawa sendiri.
Satya yang ingat Bik Sum latah hanya bisa memijat keningnya. sedangkan Yoga yang masih bingung hanya menatap kesal kepada wanita paruh baya itu.
"Kenapa Bik Sum tertawa sendiri?" tanya Yoga yang tidak tahu kalau Bik Sum latah.
"Tanya aja sendiri," jawab Satya sambil tersenyum.
Yoga hanya diam menatap anak dan menantunya, tak lama terdengar helaan nafas Senja, wanita itu menatap Ayahnya yang masih menunggu jawaban dari dirinya.
Tak lama Bik Sum lewat sambil membawa kopi hitam milik Satya dan Yoga sedangkan untuk Senja jus buah naga.
Setelah selesai meletakan gelas di atas meja Bik Sum yang hendak berbalik ke dapur di panggil Senja.
"Bik, dor... dor...dor...." Kata Senja sambil menunjuk tangannya ke arah Bik Sum dengan gaya menembak, tak lama Bik Sum tergeletak di lantai seperti orang yang tertembak betulan.
Melihat itu Yoga dan membelalakkan matanya dan reflek langsung berdiri.
"Non!" kata Bik Sum yang melihat Nona nya kembali usil kepadanya.
Satya hanya tersenyum melihat tingkah mertuanya yang terkejut melihat apa yang terjadi di depannya saat ini.
Yoga berjalan melangkah mendekati wanita paruh baya itu, " Bibik enggak apa-apa?" tanyanya sambil mengusap bahu Bik Sum dengan pelan.
Senja yang melihat itu hanya tertawa terbahak sampai air matanya keluar, saat Bik Sum yang sedang ingin berdiri Senja langsung berteriak.
"Awas Bik ada bom!" katanya sambil berjongkok.
Bersambung ya … semoga bisa up rutin lagi.
__ADS_1