
Siang berganti sore langit sudah mulai berubah warna, Satya mengajak istrinya untuk masuk mobil sedangkan Yoga sudah lebih dulu pamit dengan Tari karena akan ada makan bersama rekan kerjanya.
"Langsung pulang, bos?" tanya Afkar yang kini sedang fokus mengemudi.
"Yang, mau kemana dulu?" tanya Satya kepada istrinya.
Senja terlihat sedang berpikir sambil mengetuk-getuk dagunya, tapi ia tak mendapatkan bayangan hendak kemana. Langsung pulang juga ia bosan, akhirnya ia mempunyai ide untuk menonton bertiga.
"Kita nonton saja, Bagaimana?" tanyanya sambil menatap suaminya.
"Baiklah," Jawab Satya yang sebenarnya malas, tapi demi istrinya ia akan pergi.
Afkar hanya bisa pasrah, kini mobil sudah sampai di mall terbesar di ibu kota. Senja yang melihat Afkar hanya diam tidak ikut turun menghentikan langkahnya.
"Ayo," ajaknya sambil menarik tangan pria itu.
Satya hanya diam, karena ia sudah begitu lelah. Kini ketiganya berjalan menuju bioskop di lantai empat. Satya dan Afkar melihat film yang tayang hari ini, saat keduanya sedang asik tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Afkar dengan kuat hingga minuman yang dibawanya tumpah.
Satya berdiri terpaku melihat Asistennya yang melihat bajunya basah, sedangkan Afkar kini menatap tajam kepada seseorang yang menabraknya yang tak lain Hanum. Gadis itu membulatkan matanya saat sadar siapa yang sudah di tabraknya.
"Maaf," katanya dengan wajah memelas, tapi Afkar hanya menatapnya datar! setelah itu berlalu meninggalkan Satya dan Hanum begitu saja.
Senja yang baru siap membeli makanan, melihat suami dan seorang wanita yang kini sedang menundukkan kepalanya merasa heran.
"Ada apa ini, By?" tanyanya sambil melihat gadis yang menunduk itu.
"Hanya kejadian kecil, ayo kita nonton," ajaknya sambil meraih tangan istrinya.
"Tunggu, Afkar di mana?" tanyanya sambil menghentikan langkahnya.
"Nanti dia menyusul," jawabnya.
Setelah kepergian Satya dan Senja, Hanum baru berani mengangkat wajahnya. Saat ia akan pergi tiba-tiba ada tangan kekar mencekal tangannya.
"Aau," teriaknya karena merasa nyeri di tangannya.
__ADS_1
Wajah Hanum terlihat begitu pucat, gadis itu melihat Afkar sudah berganti pakaian, tapi kali ini pria itu terlihat santai hanya memakai kaos dan celana jeans hitam, rambutnya yang berantakan membuatnya lebih cool dari biasanya di kantor.
"Pak, mau kemana?" tanyanya sambil setengah berlari untuk mengimbangi langkah panjang Afkar.
Pria itu hanya diam, tapi tak melepaskan cekalan tangannya, Hanum hanya bisa pasrah kalau sampai ia dipecat nantinya, kini Afkar membawa Hanum makan di restaurant jepang.
Gadis itu begitu kagum saat melihat dalam restaurant, rata-rata yang makan orang yang berpakaian elegan dan terlihat orang berada semuanya.
Afkar menekan bahu Hanum, untuk duduk di kursi. Setelah itu ia duduk di depannya. Saat pelayan datang memberikan buku menu Afkar segera ,menyebutkan pesanannya. Sedangkan Hanum yang tidak tahu nama dari makanan itu hanya membolak-balikan buku menu membuat Afkar geram.
"Kamu mau pesan apa?" tanyanya sambil menatap tajam ke arah gadis di depannya.
"Saya Samain sama Bapak saja," jawabnya,
Mendengar itu Afkar hanya mendengus kesal, setelah pelayan pergi ia sibuk dengan ponselnya sedangkan Hanum hanya memperhatikan sekeliling restaurant.
"Pak, saya berasa mimpi di ajak makan kemari," katanya sambil tersenyum.
"Nanti bayar sendiri!" katanya ketus.
Afkar menatap tajam kepada wanita yang kini melotot menatapnya, entah kenapa ia ingin mengerjai gadis yang terkejut di depannya.
"Ya Allah, Pak. Saya baru siap kirim uang ke kampung. Ini saja saya harus makan mie bulan ini demi adik saya biar bisa masuk SMK," ujarnya sambil menundukan kepalanya.
Entah mengapa tiba-tiba Hanum bisa bercerita seperti itu, padahal selama ini ia begitu tertutup dengan teman-temannya. Namun, kali ini ia dengan mudah mengatakan kepada pria dingin di depannya.
"Itu bukan urusanku!" jawabnya ketus.
Hanum hanya menarik napas kasar, ternyata ia percuma cerita dengan pria kaku di depannya. Gadis itu beranjak menuju ke arah kasir, ia menanyakan harga makanan yang dipesannya tadi. Matanya langsung melotot saat melihat bill harganya.
"Kenapa mahal sekali, ini bisa buat aku makan dua minggu," katanya lirih.
Dilihatnya uang dalam dompetnya, kalau uang ini buat bayar pastinya ia besok akan pergi dan pulang kerja jalan kaki. Ditatapnya pria yang menariknya di restaurant mahal ini dengan kesal.
"Mbak punya saya bungkus saja," katanya sambil berjalan menuju ke toilet.
__ADS_1
Setelah dari toilet Hanum menuju kasir langsung membayar makanannya, tapi sebelum ia pergi di lihatnya Afkar masih sibuk dengan ponselnya. Ia segera keluar dari restaurant yang begitu mahal itu.
Gadis itu jalan menyelusuri trotoar sambil menenteng bungkusan yang tadi dibelinya, ia merasa hari ini begitu sial karena bertemu pria dingin yang selalu membuat dirinya sengsara enggak di kantor dan di luar kantor.
***
Di restaurant Afkar menaikan kedua alisnya saat hanya satu pesanan saja yang di antarkan kepada, ia juga heran kenapa gadis itu tidak juga kembali.
"Mbak kenapa hanya satu pesanan saya?" tanya Afkar merasa curiga.
"Maaf Tuan, wanita yang bersama Anda tadi katanya buru-buru, jadi minta di bungkus saja," ujarnya.
Afkar mengepalkan kedua tangannya, ia meninggalkan pesanannya begitu saja, setelah itu dia pergi ke kasir dengan tatapan dingin serta wajah sudah memerah. Baginya ini adalah suatu penghinaan, karena baru sekali ini dirinya ditinggalkan wanita yang membuatnya geram gadis itu salah satu Ob kantornya.
Afkar mengemudikan mobilnya sambil melihat kanan jalan dimana banyak pejalan kaki saat sore hari. Pria itu menyeringai saat melihat wanita yang sudah membuatnya kesal hari ini.
Afkar menepikan mobilnya, ia segera keluar dan langsung mencekal tangan Hanum dengan kuat menariknya menuju mobilnya.
"Pak, lepaskan sakit," ucapnya sambil meringis.
Afkar seakan menulikan telinganya, saat Hanum mengancam akan berteriak. Namun, bukan Afkar namanya kalau tidak bisa mengendalikan keadaan.
"Tolong!" terika Hanum, membuat orang menatap keduanya dengan heran.
"Maaf, istrinya saya cemburu." Katanya sambil tersenyum tipis.
Hanum mendengar itu membelalakkan matanya tak percaya, ingin rasanya ia menyumpahi pria bréngsék yang kini mendorongnya ke dalam mobil.
"Pak, tolong lepaskan saya!" pintanya sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
Afkar tak menjawab, tapi ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa ia tahu kalau gadis di sampingnya pernah mengalami trauma saat kecelakaan Ayahnya.
Wajah Hanum terlihat begitu pucat, tangan saling bertautan dengan air mata membasahi pipinya. Afkar merasa tidak ada penggerakan dari sebelahnya, perlahan ia melihat dengan sudut matanya.
Pria itu begitu terkejut saat melihat apa yang terjadi, ia mengerem mendadak hingga tubuh Hanum huyung ke depan, kalau saja Afkar tidak menahannya pasti tubuh itu akan menabrak dasbor mobil.
__ADS_1