PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Penghianat


__ADS_3

Bunda Fifi mendengar itu menggelengkan kepalanya, ia merasa bersalah dengan Senja. Ia juga baru tahu kalau anaknya dulu sering membully istri Satya.


Ferdi yang melihat istrinya menatap Senja mengusap bahunya dan berkata."Semua akan berakhir sayang."


Bunda Fifi mengangguk, ia juga berharap begitu, jujur ia tidak tahu kalau anaknya mengenal wanita kejam seperti Yona. Namun, kini nasi sudah menjadi bubur apa pun yang terjadi akan menerimanya.


Satya mengajak istrinya untuk pulang karena tidak bisa meninggalkan Jingga lama-lama. Saat ia akan menghampiri sang istri. Bunda mencekal tangannya dan berkata."Bunda mau bicara dengan Senja hanya berdua saja."


"Bunda serius?" tanya Satya.


"Iya Nak, ini penting kamu juga harus ada di sini serta Ayahmu," ujar wanita paruh baya itu karena ia sudah menemukan fakta yang sesungguhnya hingga membuatnya sakit.


Satya mengangguk, tidak lama ia mengirimkan pesan kepada istrinya jika tidak bisa pulang sekarang karena Bunda aka membicarakan sesuatu yang penting.


Senja yang duduk di sofa begitu santai mendapat pesan dari suaminya, Wanita itu sama sekali tidak melihat ke arah Satya karena ia yakin selama ini hanya bukan Diana yang akan menikamnya dari belakang.


Satya tersenyum tipis, istrinya itu sudah mirip cupu yang ditugaskan agen khusus. Mendapatkan pesan darinya sama sekali tidak mencurigakan untuk yang lainnya.


Pria itu yakin sekarang istrinya begitu hati-hati, tidak akan mudah percaya begitu saja dengan siapapun. Pintu ruang rawat terbuka muncul Rendy, Yoga dan Ibnu.


"Kok bisa samaan?" tanya Satya.


"Napa curiga!" seru Yoga.


Satya menatap mertuanya itu jengah, Yoga menghampiri Bunda yang terbaring lemah. Wanita itu jarang sekali sakit. Sudah dipastikan kalau ada yang mengganggu pikirannya.


Satya menatap Yoga dan Bundanya, pria itu kini berdiri samping brankar dan berkata."Bunda lihatlah anak Bunda ini datang dengan tangan kosong."


"Kalian ini tidak bisa nggak usah ribut!" seru Rendy.


"Satya duluan," bela Yoga.


Satya menatap mertuanya malas, pria berjalan mendekati istrinya dan berkata."Ayahmu marah -marah."


Senja hanya tersenyum, wanita berhijab itu mengusap kepala suaminya yang berbaring di pangkuannya.


"Bunda sakit apa?" tanya Yoga.


"Hanya kecapekan saja, apa kabar cucu Bunda, Nak?" tanya Bunda karena begitu rindu dengan Elvano. 


"Baik Bun, Tari titip salam," ujar Yoga mengusap lembut punggung tangan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Bunda tersenyum menatap Yoga, wanita itu kini menatap Senja yang sedang mengusap kepala suaminya. Melihat itu Ayah dua anak itu menggelengkan kepalanya.


"Maaf kalau mereka mengganggu ya, Bun," kata Yoga merasa tidak enak karena melihat anaknya tidak tahu tempat itu.


"Biarkan saja begitu, berarti keduanya baik-baik saja, Nak." Bunda menatap sambil tersenyum karena putranya bisa berkumpul lagi dengan istrinya.


Leon dan kedua orang tuanya pamit, begitu juga Ibnu karena tidak bisa lama-lama meninggalkan anak dan istrinya.


"Gue pamit, ingat apa yang lo butuhkan sudah ada, di mobil, "Kata Ibu lirih.


Satay mengangguk, pria itu menepuk punggung Satya berharap sahabatnya itu bisa menangkap Yona karena begitu meresahkan untuk keluarganya.


Setelah Ibnu pulang Satya duduk samping Ayahnya, kedua pria beda usia itu masing-masing main ponsel untuk membalas chat


Ayah Nugraha yang paham maksud putranya itu mengajak Rendy dan Yoga untuk berbicara penting. Kini ketiganya keluar menuju kantin. Satya langsung mengunci pintu sedangkan Arga berdiri langsung memeriksa ruang rawat Bunda mencari alat penyadap dan kamera mini yang biasa digunakan Cepu.


Bunda mengambil ponsel Satya dan menulis di mana Diana meletakan alat-alat penyadap.


Senja dengan cepat langsung mengambil laptop yang dibawakan oleh Ibnu tadi. Mereka bekerja cepat. Tidak lama Senja memberi kode oke.


"Kok Bunda bisa tahu?" tanya Senja.


"Maafkan Bunda, Nak. Waktu itu Bunda pura-pura tidur. Bunda merasakan ada yang mendekatinya. Namun, setelah itu menjauh." ujar Bunda.


"Tidak. Ranga waktu itu sedang pamit mau ke kantin beli makanan buat Diana." Bunda mencoba mengingat saat itu.


"Sebaiknya biarkan Ranga tidak tahu," kata Arga.


"Tapi Kak-" ucapan Senja dihentikan Satya.


"Benar apa kata Arga, sebaiknya anak itu tahu nanti saja. Dan itu ada email dari Ibnu jika semua bukti itu sudah ada kalau Diana orang Yona yang sengaja ingin menghancurkan kita." Satya menatap Senja dan Arga.


"Maksudnya?" tanya Senja.


"Diana tidak berubah sayang, ia akan menghancurkan rumah tangga kita dan hubungan kami bertiga," ucap Satya membuat Senja menutup mulutnya.


"Mas yakin?" tanya Senja seperti tidak percaya.


"Iya, itu rekaman mereka sudah ada, Sasa dan Diah sekarang juga sedang berada di dekat rumah Ayah. Tujuannya akan mengambil Jingga dan membuatmu menderita," jelas Satya.


Senja terduduk, banyak yang terlibat dari orang dalam," Jingga di mana sekarang?"

__ADS_1


"Ibu, Popy dan anak-anak sudah berada di tempat aman," jawab Satya.


"Senja, kami juga tidak memberi tahu Rendy dan Ayahmu. Ini kami lakukan setelah mereka keluar dari rumah. Semua sudah di urus oleh Ibnu." ujar Arga.


Senja hanya mengangguk, apa mungkin orang terdekatnya ada yang menghianatinya. lalu siapa? wanita itu memijat keningnya sulit untuk dipercaya.


Satya tersenyum, ini mungkin akan membuat istri dan yang lainya harus berpikir bagaimana cara mengakhiri perbuatan Yona.


"Apa semua sudah beres?" tanya Satya.


"Aman, kita mulai," ujar Satya.


Senja tanpa ragu langsung menekan tombol enter pada kamera dan alat penyadap yang sudah dihubungkan. 


"Untuk di rumah apa sudah dipasang, Kak?" tanya Senja.


"Aman sama Suci," jawab Arga.


"Kak Suci?" tanya Senja terkejut.


"Kamu belum tahu kalau suci salah satu agen Khusus yang dirahasiakan?" tanya Satya.


"Tidak. Apa ini sudah lama?" tanya Senja.


Arga tergelak dan memberikan kode ke Senja, jika alat penyadap sudah on satu menit yang lalu.


Melihat itu Senja menatap kesal ke arah Arga, Satya mengusap kepala istrinya yang berbalut jilbab.


Satya begitu gemas melihat istrinya saat marah, jika saja tidak sedang keadaan berbahaya pasti sudah dibawanya ke hotel istrinya itu.


Pintu kamar terbuka, Yoga dan Rendy masuk sedangkan n Ayah Nugraha masuk paling belakang dan langsung mengirimkan pesan kepada Putranya jika semua sudah aman.


Satya bukan curiga dengan Rendy atau pun Yoga, ia tidak bisa memberitahukan  karena bibir lames keduanya kadang lepas landas gitu saja.


Bunda membuka matanya saat merasakan tubuhnya kian melemah, Senja melihat Wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu merasa iba.


"Kenapa selama kita disini tidak ada perawat yang datang, Bun?" tanya Senja lirih.


Bunda menggelengkan kepalanya, Wanita itu memberikan kertas kepada Senja. Perlahan Senja membacanya.


Air mata wanita itu langsung menganak sungai sambil menggelengkan kepalanya karena mertuanya sudah diancam Diana jika harus bertahan di rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung ya...


__ADS_2