PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Ranga panik


__ADS_3

Pagi harinya Senja disibukkan dengan mengurus Jingga putrinya, di sela-sela itu ia juga tidak melupakan bayi besarnya.


Satya paling nggak suka kalau istrinya mengabaikan dirinya, tetapi dia harus sabar mungkin Senja belum terbiasa.


Senja setelah selesai membantu membuat sarapan, wanita itu melihat putrinya masih terlelap, sedang Satya sedang berkutat dengan laptopnya.


"Mas, enggak sarapan dulu?" tanya Senja sambil membereskan tempat tidur.


"Bentar, Sayang," jawab Satya tanpa melihat istrinya.


Senja sudah terbiasa dengan sikap suaminya itu, apalagi jika sedang sibuk pria itu akan lupa waktu. Satya segera menutup laptopnya sambil melihat istrinya yang sedang melipat pakaian Jingga.


"Sayang, ayo kita turun," ajal Satya sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang.


Senja hanya tersenyum, saat membuka pintu bersamaan Bik Sum yang hendak memanggilnya untuk Sarapan karena yang lain sudah menunggu. Wanita paruh baya itu segera masuk kamar majikannya untuk menjaga Jingga.


Sampai di bawah sudah ada Arga dan Suci, Yoga terlihat menatap anak dan menantunya itu dengan tatapan berbeda.


"Apa? tanya Satya kepada Yoga.


Yoga tidak menjawab, ia hanya mendengus saja. Hal itu membuat yang lainnya tertawa. Ayah Nugraha hanya tersenyum, dari dulu kalau masalah makan selalu Satya yang telat datang.


Kini mereka sudah mulai makan, hanya terdengar dentingan sendok saja saat ini, Satya dan Yoga yang sudah selesai lebih dulu, karena keduanya hanya makan roti dan minum kopi saja.


"Sat, lo ada bantu Senja mengurus Jingga, kan?" tanya Yoga sambil menatap menantunya intens.


"Kenapa lo masih ragu?" tanya Satya.


"Buka itu, gue senin langsung ke Jakarta, jadi biar bini gue di sini dulu sampai sebulan. Karena gue enggak enak sama Adrian." Yoga sambil menghela napas dalam.


Satya mengerti pria itu mengangguk, ia juga tidak mungkin tidak memperhatikan mertuanya, Apalagi di rumah ramai ada bik Sum dan Bik Ida. 


"Jadi Senin pagi langsung?" tanya Satya.


"Iya, gue harap jaga bini dan anak-anak gue ya," kata Yoga dengan tatapan yang berbeda seakan-akan dia tidak akan bertemu lagi dengan keluarganya lagi.


"Lo ngomong apa sih!" geram Satya menatap tidak suka pria yang dulu selalu jahil padanya itu.

__ADS_1


Yoga hanya terkekeh, lo secinta itu sama gue," goda Yoga.


"Najis gue, sudah ada bukti Jingga!" seru Satya.


"Lah, apalagi gue udah ada dua, tambah cucu satu lagi," jelas Yoga.


"Kalian berdua itu bisa akur enggak!" sahut Bunda yang baru datang bersama suaminya.


"Dia duluan, Bun," kata keduanya serempak.


Senja yang baru datang membawakan kue untuk yang lainya terkekeh melihat kedua pria itu kompak.


"Cie ..., sudah akur ya, kompak banget," goda Senja.


Membuat yang lain ikut menertawakan kata-kata Senja, Satya hanya cuek begitu juga dengan Yoga.


" Acara untuk lusa jangan lupa!"pesan Bunda.


Tak lama Ibnu datang karena Satya minta dijemput, pria itu tersenyum menatap semuanya. Ayah Nugraha terlihat senang akhirnya dekan di kampusnya sudah kembali lagi seperti biasanya.


"Lo kenapa minta dijemput?" tanya Ibnu merasa heran.


Ibnu mengerti langsung mengangguk, "Sat!"


"Apa?" tanya Satya.


Ibnu menjelaskan masalah Desti di depan semuanya, mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Pria itu.


"Orang strés lo terima!" sahut Arga.


"Dia bawa surat lengkap, dan ada buktinya kalau sembuh," jawab Ibnu.


Satya hanya diam, dia tidak tahu harus bilang kepada sahabatnya itu. Sekarang Ibnu harus menjaga ekstra keluarganya. Takutnya Desti akan berulah dan mencelakai Sari.


"Lo sudah bilang ke Pak Firman?" tanya Satya.


"Sudah, untuk melarang siapa saja masuk," jawab Ibnu.

__ADS_1


Sejujurnya Ibnu begitu khawatir meninggalkan istri dan mamanya tadi, tapi dia juga harus bekerja. Entah kenapa perasaannya tidak enak sekarang. Haruskah dia lapor polisi, ia merasa begitu frustasi memikirkan itu.


Satya melihat sahabatnya itu hanya bisa menarik napas saja, dan berkata."Kalau kamu ragu jemput dan ajak kemari."


Ibnu menoleh ke arah Satya, tapi ia rasa di rumah aman karena dia sudah berpesan jangan buka pintu kepada Mamanya. Selama di kampus Ada Leo yang dia suruh datang ke rumah karena sepupunya itu sedang tidak ada jadwal kuliah.


"Enggak usah, Ada Leo di rumah," ucap Ibnu.


"Sebaiknya cepat pergi, nanti kalau makin lama mengobrol  jadi lama urusannya," seru Senja.


Semua tertawa melihat tingkah Mamanya Jingga itu, Senja dengan pakaian daster dan sambil menggendong bayi mungil Jingga itu terlihat begitu lucu.


Satya menghampiri istri dan anaknya, diciumnya Jingga dan gantian ke kening Senja. Semua itu tidak lepas dari perhatian semua yang ada di ruang keluarga.


Ayah dan Bunda tersenyum, keduanya begitu bahagia melihat Satya yang sekarang. Bunda begitu terharu karena melihat kebahagiaan dari putra semata wayangnya, seakan sekarang bebannya sudah lepas karena anak-anaknya sudah berkeluarga semua.


Air matanya menetes, tetapi dengan segera usapnya karena tidak ingin membuat putra-putranya khawatir. Ayah Nugraha tersenyum, di usapnya punggung tangan Istrinya dengan lembut.


Ranga yang melihat kedua orang tuanya terlihat bahagia merasa senang, ia berharap suatu saat akan mempunyai anak seperti Satya. Pulang kerja ada yang menyambutnya dengan senyuman dan pelukan hangat dari istri dan anaknya.


Yoga yang duduk di sebelah istrinya terkekeh, karena melihat Ranga yang senyum-senyum sendiri. Diambilnya bantal sofa dan langsung dilempar ke arah Ranga. Hal itu membuat pria itu terjingkat dan langsung menatap tajam kepada Yoga.


"Lo anak sudah dua masih kayak anak kecil!" seru Ranga kesal.


"Lah, timbang lo istri di sebelah masih melamun sambil senyum-senyum sendiri, kenapa masih susah move on dari yang sono?" tanya  Yoga sengaja mengerjai pengantin baru itu.


Ranga terlihat panik dia menatap Diana yang hanya diam asik dengan El di pangkuannya, melihat istrinya acuh membuat Ranga begitu kesal kepada Yoga.


Satya yang sudah terlambat segera pamit kepada semuanya bersama Ibnu. Senja mengantarnya sampai ke teras dan berkata."Jangan lama-lama, kasihan Sari."


Ibnu hanya mengangguk dan tersenyum menatap istri Satya itu, melihat itu Satya langsung membunyikan klakson mobilnya membuat Jingga langsung menangis karena terkejut.


Senja hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya itu, setelah mobil Satya sudah tidak terlihat ibu satu anak itu segera kembali bergabung dengan yang lainnya.


"Yang, jangan dengaran pria tua itu ," bujuk Ranga kepada Diana.


Yoga menahan senyum melihat Ranga panik karena Diana hanya diam saja. Arga  hanya menggeleng dengan sikap Yoga yang dari dulu suka mengerjai adiknya itu.

__ADS_1


"Bunda, Ayah, Yoga si tua ganggu lagi," cibir Yoga mengikuti gaya Ranga dulu saat dia ganggu akan menangis dan mengadu kepada Bunda.


Bersambung ya


__ADS_2