
Leon langsung berkoordinasi dengan RT dan anak buahnya untuk mengecek setiap kamar. Semua tetangga tidak menyangka karena Ilham sudah dimakamkan dan lebih mengejutkan di kamar orang tua Ilham ditemukan mayat kedua orang tuanya.
Senja yang masih terlihat shock masih dipeluk oleh Satya, sedangkan Rendy menatap tidak percaya tiga kantong jenazah itu adalah orang yang dikenalnya.
Leon dan petugas sedang berbicara serius, hingga mobil jenazah membawa tiga kantong untuk dibawa ke rumah sakit guna penyelidikan.
Kini semua kembali ke rumah Rendy, Senja masih menangis di pelukan suaminya. Bik Sum yang baru tahu tidak percaya karena saat Ilham dimakamkan kedua orang tuanya masih ada.
"Yogi sebenarnya sepupu Nak Ilham yang di rawat oleh tantenya dari bayi." Bik Sum menjelaskan hal itu membuat yang lain terkejut.
Leon menatap bik Sum, perlahan dengan pasti perbuatan jahat Yogi mulai terkuak. Sekarang Leon tidak ikut lagi dalam penyelidikan. Para petugas juga mengucapkan terimakasih atas bantuannya.
Satya menatap istrinya yang kini duduk sambil bersandar ke bahu Mentari, Sebagai seorang Ibu Mentari begitu paham karena dulu suka main bersama ilham kadang anaknya itu sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
"Kita doakan semoga Yogi segera kutangkap," kata Yoga.
"Aku khawatir kalau ia masih mengincar Senja," kata Satya.
"Anak buahku akan tetap mengawasi rumahmu, Senja jangan keluar sendiri!"pesan Leon.
Senja hanya mengangguk, sedangkan Rendy menatap Satya dan Leon bergantian dan berkata."Gue rasa anak itu sudah keluar negeri."
Leon menatap Rendy, apa mungkin anak itu memakai data orang lain karena saat anak buahnya memeriksa rumah yang berada di samping kediaman Satya rumah itu sudah kosong dan tidak ada yang mencurigakan.
"Bisa jadi, tapi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga," ujar Leon.
"Tadi waktu membantu memindahkan jenazah Ilham, di sampingnya ada nama Senja," kata Rendy.
"Itu persisi di samping Sasa tertulis nama Yogi, tapi yang menjadi tanda tanya siapa yang melakukannya," kata Leon.
Yoga menatap putrinya dan berkata, "Jika itu perbuatan Yogi kenapa ada namanya di samping Sasa."
Senja beranjak dari duduknya, wanita itu menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya tidak lama ia keluar dan duduk di samping suaminya sambil memberikan foto.
"Ini Yogi dan Yona," kata Senja.
"Siapa Yona?" tanya Leon sambil melihat dua anak sekitar umur tujuh tahun itu tersenyum manis.
Bik Sum mendekati Senja dan melihat anak kecil yang yang tidak lain yang dulu menjadi anak asuhnya itu. Tangis bik Sum pecah saat mengingat saat Yona dinyatakan hilang saat bermain bersama Yogi dan Ilham.
"Kenapa semakin rumit, apa Yona tidak ditemukan?" tanya Leon.
__ADS_1
Bik Sum menggelengkan kepalanya, mungkin sekarang akan seumuran Senja kalau masih hidup. Senja memeluk wanita yang sudah berjasa untuknya itu.
"Bibik tetap terhebat, ibu keduaku," kata Senja memeluk wanita paruh baya itu yang begitu menyayanginya.
"Hanya Non yang bibik punya," kata Bik Sum.
"Uh, manisnya," kata Senja yang langsung dilempar bantal Mentari.
Rendy menatap kakaknya sambil tersenyum, Mentari kadang kesal karena anaknya suka tidak sopan dengan Bik Sum.
Leon langsung pamit karena masih ada kerjaan, Satya juga mengajak istrinya untuk pulang dan lusa akan kembali lagi acara syukuran anak Rendy.
Kini Satya dan istrinya sudah berada di mobil, selama mengemudikan mobil pria itu beberapa kali melihat spionnya ada dua motor yang sedari tadi mengikuti mobilnya. Dilihatnya senja sedang menyusui Jingga hinga tidak menyadari jika ada bahaya yang mengancamnya.
Satya mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Leon, tapi sayang pria itu tidak mengangkatnya. Setelah panggilan kedua barulah diangkat.
"Halo, mobil gue diikuti dua motor besar, kalau gue nggak bawa bini dan Jingga pasti mudah untuk memberi mereka pelajaran." Satya begitu geram karena dari simpang yang dilewatinya muncul dua pengendara lainnya.
"Oke, anak buah gue bantu," ucap Leon dan sambungan langsung terputus.
Bik Sum yang duduk di belakang langsung menoleh ada dua motor besar yang mengikutinya mobil majikannya.
Senja mengumpat siapa yang akan bermain dengan suaminya itu, bik pegang Jingga dan pakai gendongannya. Bik Sum dengan cepat memakai gendongan Jingga dan sabuk pengamannya.
"Yang, dari mana itu?" tanya Satya.
"Kamar Kakek, aku yakin akan memerlukannya." Senja tersenyum membuat Satya bergidik karena istrinya sudah seperti orang yang tidak dikenalnya.
"Mas, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Senja.
Satya hanya menggelengkan kepalanya, tidak lama ada pesan masuk dari Leon meminta mengarahkan mobilnya sesuai lokasi yang diberikan Leon.
"Sayang pegangan," kata Satya.
Mobil yang dikemudikan Satya langsung mengambil tikungan ke kiri bahu jalan membuat dua motor yang mengikutinya hampir menabrak. Setelah itu Satya mengemudikan dengan kecepatan tinggi, hingga dua pengendara itu tertinggal jauh. Sampai simpang Leon turun dan memindahkan Senja dan Bik Sum ke mobilnya, sedangkan Satya langsung menginjak gas untuk melabuh dua pengendara yang mengikutinya.
Leon setelah motor itu sudah melewatinya barulah ia meminta sang sopir untuk mengantarkan Senja ke rumah Satya. Senja tidak bisa berkata banyak karena ada Jingga yang harus dijaganya.
"Non, tadi siapa?" tanya Bik Sum.
"Senja juga tidak tahu, Bik," jawab Senja menatap bik sum yang masih menggendong Jingga.
__ADS_1
"Pak itu ada motor hitam siapa?" tanya Senja.
Senja mendengar pria itu mengumpat, tidak lama pria itu berbicara dengan menekan alat di telinganya.
"Nona pakai sabuk pengamannya," kata pria yang kini berada di sampingnya.
Senja langsung memakai sabuk pengamannya, mata Senja membulat saat tahu siapa yang sedang mengendarai motor itu. Namun pakaiannya berbeda.
"Yogi," kata Senja.
Bik Sum memeluk Jingga begitu erat, berharap Nona kecilnya tidak terbangun. Motor yang dikendarai Yogi mendahului Mobil yang ditumpangi Senja. Dilihatnya Yogi memberi kode. Deg, dada Senja sesak karena kode itu hanya Ia dan ilham yang tahu.
Senja menatap pria yang berada di sampingnya dengan tenang dan bertanya." Apa Nona tahu apa maksud kode itu?"
"Iya, tapi kode itu hanya kami berdua yang tahu." jawab Senja.
"Baik saya mengerti, apa arti kode itu, Nona?" tanya sopir itu.
"Kita harus mengikutinya," jawab Senja.
Mobil menuju ke arah rumah kediaman Ayah Nugraha saat pak Yanto akan membuka pagar Senja meminta Bik Sum turun dan segera masuk.
"Non, ayo," kata Bik Sum.
"Bibik jaga Jingga, aku mau tahu kenapa Yogi memintaku untuk mengikutinya," ujar Senja.
"Ayo jalan," kata Senja tidak mengindahkan apa yang dikatakan Bik Sum.
Pria yang di samping Senja bingung karena ia hanya disuruh mengantarkan wanita itu untuk pulang. Senja yang melihat pria itu akan membelokkan mobilnya langsung menodongkan pistolnya.
"Tepikan mobilnya cepat!"bentak Senja.
Pria itu langsung menepikan mobilnya dan Senja berkata." Turun!"
"Tapi Nona," kata pria itu tidak mungkin membiarkan wanita itu sendiri.
Senja menatap tajam pria itu dan membentak."Turun atau tembak alat vital Anda."
Pria itu turun, sedangkan Senja langsung berpindah di belakang kemudi dan mematikan ponselnya karena ia kana menyelesaikannya sendiri dan berkata."Ilham aku kembali."
bersambung ya....
__ADS_1
Maaf kalau ada yang terganggu dan bertanya kenapa alurnya jadi begini. harusnya sudah masuk sesi dua tapi saya gabung saja di sesi 1. Semoga tidak kecewa.
"Kenapa nama Ranga dan bukan Rangga Saya jawab di sini karena Ranga mengingatkan saya sosok sahabat yang bernama Ranga Ardiansyah."