
Di Jakarta.
Mentari begitu bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan anaknya. Tidak ada kecurigaan sama sekali di hati Mentari.
Berbeda dengan Yoga ia merasa ada yang janggal dengan kedatangan anaknya ke Jakarta tanpa suaminya. Yang membuatnya lebih curiga lagi bik Sum ikut ke Jakarta.
"Sayang, kita makan dulu ya....pasti kamu lapar," ajak Mentari.
Senja menganggukkan kepalanya, sampai sekarang suaminya belum mengirimkan pesan dan menghubunginya. kini Yoga mengajak anak dan istrinya menuju restoran siap saji.
Senja segera duduk di samping Bik Sum, saat makanan datang mereka langsung memakannya.
"Pelan-pelan makannya," kata Mentari sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu.
"Enak ... Bu," jawabnya sambil tersenyum.
Setelah selesai makan kini mereka segera pulang karena hari sudah jam 9 malam.
Mobil yang dikemudikan oleh Yoga melaju dengan kecepatan sedang, sesekali mereka tertawa karena ocehan Senja.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mobil memasuki gerbang rumah bercat putih yang terlihat asri..
"Kamu tahukan kamarmu yang mana?" tanya Mentari yang melihat anaknya sudah menguap karena lelah dan ngantuk.
"Iya Bu," jawabnya sambil menaiki tangga menuju ke lantai dua.
Sedangkan Mentari mengantarkan Bik Sum menuju kamar tamu.
"Ini kamar Bibik, semoga nyaman ya," kata Mentari sambil membuka pintu kamar dan membuat bik Sum melongo Karena kamarnya begitu mewah menurutnya.
"Non, ini kamarnya berlebihan," katanya merasa nggak enak.
"Nggak papa Bibi istirahat saja," kata Mentari kemudikan ia keluar menuju ke lantai dua dimana suaminya pasti sudah menunggunya.
"Mas... panggilan saat melihat yoga yang duudk di sofa kamarnya.
"Sayang apa menurutmu tidak ada yang janggal dari anak kita?" tanya yoga sambil menepuk sofa kosongkan supaya istrinya duduk.
"Maksudnya janggal bagaimana?" tanyanya balik.
"Nggak biasanya saja dia ke Jakarta sendiri tanpa suaminya," jawabnya.
__ADS_1
"Mas itu berpikirnya terlalu berlebihan, tadikan Senja sudah menjelaskan kalau Satya harus ke Singapura karena ada kerjaan di sana" jawab Mentari.
"Semoga saja seperti itu," kata Yoga.
"Ayo kita istirahat, kasihan anak ayah yang disini capek," katanya sambil mengusap perut Mentari.
Keduanya istirahat dan akhirnya terlelap dalam mimpi, berbeda di kamarnya Senja sedari tadi ia menunggu kabar dari suaminya tapi tidak ada juga.
Wanita itu kini duduk di balkon kamarnya, ia menatap malam yang penuh bintang di langit.
"Apa Bby tidak kangen dengan Mmy," kata Senja bermonolog sendiri.
Karena malam kian larut ia segera masuk dan menutup pintunya, Senja segera membaringkan tubuhnya di atas kasur, karena begitu lelah sejak pulang dari rumah sakit tadi.
Tanpa menunggu lama akhirnya, ia terlelap.dengan memegang handphonenya.
Di Singapura.
Di Apartemen citadines Balestier Satya yang baru sampai begitu lelah ia segera mengambil handphonenya dan mengisi daya baterainya.
Setelah itu ia segera mandi karena merasa badannya begitu lengket. Setelah lima belas menit Pria itu selesai mandi. kini ia membaringkan tubuhnya di ranjang.
Saat ia mau memejamkan mata ingat belum menghubungi istrinya. Satya segera menghidupkan handphonenya.
Saat Satya menghubungi Nomor telepon istrinya tidak ada jawabnya membautnua semakin frustasi, Satya ingat kalau Mr Kim tadi menawarkan zet pribadinya untuk segera pulang ke Surabaya karena ia tahu kalau istri Satya sedang hamil dan baru keluar dari rumah sakit.
Satya segera menghubungi Mr Kim, apa penawarannya tadi masih bisa karena ia harus ke Jakarta. setelah menunggu 30 menit Mr Kim menghubungi Satya untuk segera bersiap dan anak buahnya akan menjemputnya.
Satya segera bersiap memasukan pakaian nya , saat ia keluar kamar ada Arga yang sedang duduk sambil minum kopi.
"Lo mau kemana?" tanya Arga yang melihat Satya sedang menarik kopernya.
"Gue harus pulang malam ini, Bini gue ke Jakarta, pada hal dia baru keluar dari rumah sakit, nanti lo suruh sopir jemput gue ya," kata Satya, sedangkan Arga hanya mengangguk menanggapi ucapan Satya.
"Lo nanti tinggal di rumah mertua lo atau apartemen gue," kata Arga.
"Gue belum tahu, tapi nanti gue kabarin lagi," kata Satya.
Tak lama bel apartemen berbunyi, Satya segera membuka pintu ternyata yang datang Asistennya Mr Kim, Satya segera pamit kepada Arga.
Kini keduanya masuk dalam mobil menuju ke Bandar Udara Changi Singapura, setelah menempuh perjalanan selama satu jam mobil sampai di Bandara, Satya langsung disambut oleh anak buah dari Mr Kim untuk menuju zet pribadinya.
__ADS_1
Satya segera masuk, Satya berharap istrinya tidak marah padanya. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam 50 menit Satya sampai ke Bandara Sukarno Hatta.
Kini ia segera menuju di mana anak buah Arga menunggunya, apalagi sekarang sudah jam 11 malam.
"Kita kemana, Pak?" tanyanya kepada Satya.
"Langsung kerumah Yoga saja, o...iya pak tolong besok antarkan mobil satu ya," kata Satya.
"Baik Pak," jawabnya.
Karena hari yang sudah malam perjalanan tidak begitu macet, mobil sampai di depan gerbang rumah yoga melihat ada yang datang sekuriti segera membuka pintu gerbang ia terkejut karena menantu dari majikannya datang.
"Malam Den," katanya sambil tersenyum menyapa Satya.
"Malam pak, kayaknya sudah pada istirahat ya," katanya sambil menatap lampu yang sudah mati semuanya.
"Sepertinya ia, Den," jawab pak Supri.
Satya segera mengambil handphonenya untuk menghubungi Yoga, panggilan pertama nggak di angkat, yang keduanya juga, akhirnya Satya menghubungi lagi.
"Halo....Lo kurang kerjaan kali jam segini telepon gue," kata Yoga dengan kesal.
"Ayah tolong bukakan pintu," kata Satya lalu mematikan sambungan teleponnya.
Tak lama pintu terbuka muncul wajah Yoga dengan kesal.
"Ini jam berapa?" katanya sambil melipatkan tangannya di dada.
"Maaf, gue kangen sama bini gue," kata Satya langsung masuk dan naik tangga meninggalkan Yoga sendiri di bawah.
"Ya Allah, punya mantu nggak ada sopan-sopannya!" umpat Yoga.
Satya yang sudah sampai depan kamar istrinya berlahan membuka pintu. Dilihatnya istri sudah tertidur dengan lelapnya.
Satya segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah lima belas menit ia selesai dan kini merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Senja yang merasa ada yang memeluknya, merasa nyaman tidurnya. Namun, karena masih setengah sadar ia rasa hanya mimpi kalau suaminya sekarang yang memeluknya.
Karena masih begitu ngantuk, ia kembali lagi tertidur di dekapan suaminya, Satya hanya tersenyum saat istrinya memeluknya.
Dikecupnya kening Senja beberapa kali, tapi wanita itu tak bergeming dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
__ADS_1
Karena merasa lelah, tak lama Satya mulai terlelap mengarungi mimpi indahnya.