PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Fakta siapa Leon


__ADS_3

Senja berharap jika semua akan baik-baik saja, tapi jika Diana tidak mau dicerai itu yang membuatnya pusing.


Senja merasa lapar saat mie kuah buatan mertuanya langsung kandas begitu saja, Ranga melihat itu berkata," Makan itu di kunyah Senja tidak langsung telan."


Senja hanya diam, sedangkan Bunda tersenyum dan berkata ."Besok pagi kak, karena kalau siang pasti Leon sudah berada di sana.


"Kita akan temui kepala rumah sakit dan memberikan bukti, aku yakin ada orang dalam yang dibayar Leon untuk memperlancar kan kebohongannya.


"Benar juga, tapi jika kepala rumah sakit yang di bayar bagaimana, Kak?' tanya Senja.


Ranga mantap Senja dan Bundanya bergantian, kenapa ia tidak berpikir sampai ke sana. Pria itu menatap istri Satya itu dan berkata."Kita jual nama Ayah."


"Apa kamu yakin, Nak?" tanya Bunda.


"Iya, Bun, Ayah harus ikut kalau sampai kepala rumah sakit berkilah kita tinggal laporkan saja.


Senja diam, wanita itu seakan sedang berpikir jika mengikuti arah Ranga pasti akan ada dua pilihan gagal atau berhasil.


"Kak , tahan dulu. Ada baiknya kita selidiki apa kepala rumah sakit itu bersengkokol dengan Leon dan kita juga harus menyelidiki apa Bunda Fifi dan suaminya terlibat," jelas Senja.


"Ayah setuju, Nak," sahut Ayah Nugraha.


"Ayah, sampai kapan?' tanya Ranga.


Ayah Nugraha dudu di samping istrinya dan berkata."Paling lama seminggu."


Ranga menarik napas panjang, pria itu ingin secepatnya untuk berpisah dengan Diana. Senja tersenyum akhirnya ia ada waktu untuk pamit kepada suaminya. Kalau tidak izin bisa gawat nantinya.


Senja pamit untuk istirahat, wanita itu membawa piring kotor ke dapur dan langsung mencucinya. Ia segera ke kamar dan melihat suaminya menatapnya tajam karena Satya paling tidak suka jika sedang tidur ditinggalkan begitu saja.


"Mas, aku siap makan mie sama bund," ujar Senja.


"Hem," jawab Satya kembali fokus ke arah laptopnya.


Senja yang sudah hafal betul dengan apa sikap suaminya itu mau tidak mau harus memakai rayuan mautnya. Baru nanti minta izin kepada suaminya untuk menemani Ranga.


Senja naik ke ranjang dan duduk bersandar di bahu suaminya sambil berkata."Mas, jadi aku nggak jadi ke Malang?"


"Mau ngapain, Yang?" tanya Satya.


"Main di kamar mandi," jawab Senja sambil tertawa jika mengingat apa yang keduanya lakukan bersama suaminya waktu itu/

__ADS_1


Satya hanya tersenyum tipis, pria itu entah kenapa rasa ingin marah kepada istrinya selalu kalah dengan sikap Senja saat ini.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, Yang?" tanya Satya karena sudah paham maksud istrinya itu.


Senja begitu gemas dengan suaminya, karena sudah tahu jika ia menginginkan sesuatu. Sneja menceritakan apa yang sedang ia dan mertuanya obrolkan tadi.


"Biar mas aja yang menemaninya," kata Satya.


"kenapa kau nggak boleh?" tanya Senja sambil cemberut.


Satya memeluk tubuh istrinya yang kini mulai berisi semenjak menyusui Senja jauh dari kata diet.


"Mas, nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, Yang." Satya berharap istrinya mengerti.


Senja paham hanya bisa mengangguk, wanita itu hanya penasaran bagaimana nanti saat Ranga menceraikannya. Kalau diperhatikan sudah tidak ada lagi cinta di hati adik iparnya itu.


"Mas, apa Ilham bersih?" tanya Senja.


"Apa aku kurang tampan hingga kamu masih memikirkannya pria lain, hem?" tanya Satya.


"Mas, mulai deh, ngomong yang engak-engak, "jawab senja kesal.


Satya menatap kelakuan istrinya karena seharusnya buka Senja yang marah melainkan dirinya.


"Mas nyebelin!"cibir Senja.


"Tidak apa-apa, asal kamu suka sama aku, yang," jawab Satya.


Senja yang sudah mengantuk membaringkan tubuhnya di samping suaminya sdan berkata."Mas, peluk,"


Satya meletakan ponselnya dan berkata,." Bobok jangan membayangkan pria lain."


Senja hanya tersenyum, pria itu menatap lekat mata Satya yang sudah mulai akan terpejam. Ia bergerak dan memberikan kecupan sekilas di bibir suaminya itu.


Rasa cinta kepada suaminya kian besar, walau dulu ia pernah menolak saat akan dinikahkan dengan Satya. Namun, kini ia sadar tiap kejadian pasti akan ada hikmahnya. Senja yang sudah begitu lelah Akhirnya tertidur memeluk suaminya.


***


DI kediaman Ferdi, Pria itu merasa asa yang tidak beres dengan putranya, entah apa yang sedang dikerjakan oleh Leon saat ini. sesuai laporan dari orang kepercayaannya jika Leon jarang datang ke kantor semenjak dua minggu ini.


"Ada apa Mas?' tanya Fifi yang baru datang.

__ADS_1


"Apa Leon suah pulang?' tanya Ferdi.


"Belum, kemarin katanya ia akan selama seminggu keluar kota," jawab Fifi.


"Sayang. aku dapat laporan jika Leon jarang datang ke kantor sekarang katanya," ujar Ferdi.


Fifi hanya menarik napas dalam, ia tidak tahu jika akan menjadi seperti ini. Anaknya di rawat dirawat dan Leon sering keluar rumah semenjak ia pindah ke rumah ini. Sedangkan butiknya di kelola sama orang kepercayaannya.


"Sayang aku harus ke kantor," pamit Ferdi untuk menyelesaikan perkerjakan Leon.


"Iya mas hati-hati," kata Fifi.


Fifi yang hendak ke kamarnya, tiba-tiba menghentikan langkahnya karena seorang pelayan mengatakan jika kamar Leon jangan di masukin. Rasa penasarannya membuat Fifi berjalan dan membuka kamar Leon.


Setelah menutup pintu kembali, Dilihatnya kamar putranya itu begitu rapi. Saat Fifi akan meninggalkan kamar Leon ia mendengar suara aneh dari pintu di dekat lemari.


Wanita itu perlahan membuka pintu hanya ada gelap yang kini dirasakannya. Fifi menghidupkan lampunya. Seketika ia menutup mulutnya tidak percaya.


Ada Diah dan Yeni sahabat putrinya dulu sedang di ikat din kursi, Diah menatap wanita yang kini sedang membuka katakan tangannya.


"Bunda bawak kamu ke tempat Senja," kata Diah setelah tali yang mengikatnya terlepas.


Fifi yang bingung segera membawa dua wanita yang begitu kurus dan Leon dengan kejam menyiksanya.


"Dibawah banyak penjaga bagaimana kalian akan keluar dari sini." Wanita itu menarik Fifi untuk ikut bersamanya.


"Bun dimana jalan keluar," kata Yeni.


"Ikut masuk mobilku, kalian jangan kemana!"kata Fifi.


Fifi izin suaminya untuk pergi butik, Setelah mengeluarkan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.


"Bun, kita langsung ke rumah Senja karena ada yang akan kami kasih tahu padanya." ujar Yeni.


Bunda langsung muter mobilnya, wanita itu melajukan mobilnya akhirnya sampai. Bik Sum melihat besannya dari majikanya datang bersama wanita yang terlihat begitu kusut merasa heran.


"Bik Senja ada?' tanya Fifi.


"Ada Bu, mari masuk," kata Bik Sum.


Semua keluarga Nugraha saat hari libur sedang berkumpul di ruang keluarga, wanita itu menatap Bik Sum untuk panggilkan Senja dan suaminya.

__ADS_1


"Den ada tamu," kata bik Sum.


Senja dan Satya saling pandang, dan bertanya," siapa Bik?


__ADS_2