
Ranga menatap tidak suka melihat apa yang dilakukan Satya padanya, hal itu tak lepas dari perhatian Ayah Nugraha. Satya segera menarik istrinya untuk duduk di sampingnya.
“Dasar posesif,” gerutu Ranga.
Satya hanya cuek, tapi akhirnya keduanya memutuskan untuk menginap malam ini. Senja juga mengabari bik Sum kalau ia dan suaminya menginap tempat bunda.
Satya segera mengajak istrinya untuk masuk kamar beristirahat, kini keduanya jalan beriringan menuju lantai dua.
Sampai kamar Satya langsung memeluk istrinya dengan erat, ia merasa takut saat Ranga yang akan memeluk tadi.
"Sayang, jangan biarkan lelaki lain memelukmu, Bby enggak rela," ucapnya.
"Tadi Om Ranga hanya hanya canda," jawabnya yang tak mau ribut gara-gara hal itu.
Satya tersenyum, ia yakin istrinya ini setia padanya. Terkadang Satya ada rasa takut kehilangan, tapi ia segera membuang jauh perasaan itu.
Senja segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, Satya hanya menatap punggung istrinya.
Satya membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, tak lama ia terlelap. Senja yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat suaminya terlelap.
Karena hari sudah mau magrib, ia segera membangunkan suaminya.
"Sayang bangun," kata Senja sambil tersenyum.
"Bby ngantuk sayang," jawabnya.
"Bby ... sebentar lagi magrib," kata Senja yang sedang menutup jendela.
Satya dengan malas bangun, dia duduk di pinggir ranjang. Senja yang sudah menyiapkan air hangat untuk suaminya segera membuka kemeja bayi besarnya.
Bayi besarnya itu makin hari semakin manja pada dirinya, setelah selesai Satya segera menuju ke kamar mandi.
Senja segera mengambil pakainya untuk suaminya, tak lama Satya sudah selesai mandi. Wanita itu segera memberikan pakaian gantinya.
Satya segera menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa, dikecupnya keningnya dengan lembut.
"Mikirin apa?"Tanya Satya sambil mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Hanya mikirin Sasa aja, kenapa dia sebenci itu sama, Mmy," kata Senja sambil tersenyum menatap wajah suaminya.
"Itulah hidup, yang. Enggak semua yang kita lakukan orang menyukainya, tapi ada salah satu yang mereka tahu! asal kita masih di jalan poros tidak akan menabrak," kata Satya.
"Poros mana? dekat pasar atau dekat kampus?" tanya Senja sambil tersenyum menatap wajah tampan di depannya.
__ADS_1
Satya juga ikut tersenyum. Kini ia baru ingat ada yang akan ia tanyakan kepada istrinya.
"Yang," panggil Satya sambil membaringkan tubuhnya berbantalkan paha istrinya.
"Iya, apa ada yang bisa di bantu," godanya.
"Apa yang kamu suka dari aku, jawab jujur ya?" Tanya Satya.
Senja menarik hidung suaminya gemes, tapi ia mencoba mengingat lagi.
"Bby, waktu aku tahu harus menikah dengan seorang Satya Nugraha. rasanya masa depanku hancur. Entah pernikahan seperti apa yang akan dijalani nantinya.
Apa lagi Bby dulu begitu dingin dan tak acuh padaku. Namun, aku punya satu tekad, membuat Bby jatuh cinta ke Mmy," ujarnya.
"Apa itu berhasil?" tanya Satya.
"Awalnya ada rasa ragu, tapi setelah kejadian di rumah sakit itu menyadarkan Mmy. Tidak ada salahnya mencoba suatu hubungan, walau waktu itu seakan sulit untuk menembus dinding yang Bby bikin.
"Tetapi dengan dukungan dari, om Rendy dan Bunda. Yang mengatakan kalau sebenarnya sumiku ini sebenarnya rapuh dan membutuhkan seseorang yang kuat di sampingnya. Saat itu Mmy sempat ragu apa bisa, tapi seiring berjalanya waktu pernikahan kita semakin paham Bby seperti apa."
Satya tertegun mendengarnya, jadi selama ini istri kecilnya bukan hanya untuk mendampingi saja, tapi dia juga sering memperhatikan dari hal terkecil tentang dirinya.
"Makasih sayang, sudah hadir dalam hidup Bby,walau sebelumnya tidak pernah terbayangkan untuk menikah dengan gadis berumur 18 tahun. Namun, dengan keyakinan itu jodoh yang terbaik Allah SWT berikan untuk hambanya."
Setelah selesai, Satya segera mengajak istrinya untuk segera turun, dan bergabung dengan yang lainnya.
Saat sampai bawah wanita itu dikejutkan dengan kedatangan Rendy dan Popy ketiganya saling berpelukan.
"Kamu tahu ini demi apa Om sampai sini, ibumu menyuruh untuk melihat anaknya yang tercinta," ucapnya kesal.
Senja tersenyum melihat Omnya yang mengoceh karena ulah Ibunya, ia yakin pasti tadi sudah sampai rumah.
Tak lama handphone Rendy berdering menandakan ada vcall, Rendy segera mengangkatnya.
terlihat wajah kakaknya tersenyum menatapnya, tak lama muncul juga wajah Yoga.
"Mana Senja, Dek?" tanya Mentari.
Tak lama Rendy memberikan handphonenya kepada keponakannya itu, dengan senang hati Senja mengambil alih.
"Ibu ...., Ayah ... kangen," ucapanya sambil meneteskan air matanya.
Di lihatnya anaknya menangis, Mentari tak kuat menahan bulir bening dari matanya.
__ADS_1
"Ibu juga kangen, Nak. Kandungan kamu bagaimana? apa ada kendala selama ini, sayang?" tanya Mentari.
"Alhamdulillah enggak,Bu. Semuanya baik-baik saja," Senja tersenyum.
"Suamimu tidak berubah,kan,Nak?" tanya Ayahnya.
"Astagfirullah, kok lo gitu tanyanya! emangnya gue mau berubah jadi apa?" tanya Satya yang terlihat kesal dengan mertuanya itu.
"Heheeh ... sorry gue kira lo enggak ada disitu," ucap Yoga sambil tersenyum menatap menantunya yang terlihat kesal padanya.
Bunda datang membawa teh hangat untuk, untuk dinikmati bersama, melihat putranya sedang vcall Bunda langsung menghampirinya.
"Wah .... besan, apa kabar?" tanya Bunda tersenyum saat melihat Yoga.
"Alhamdulillah, baik Bunda. kabar Bunda dan Ayah bagaimana?" tanyanya balik.
"Kami sehat, Nak. bagaimana dengan kandungannya Mentari apa masih sering mual?" tanya Bunda.
"Alhamdulilah, sudah berkurang,Bun," jawab Yoga tersenyum.
"Senja kemarin kangen sama Ibunya, makanya di suruh menginap disini, tapi Alhamdulillah kalian sudah bisa di hubungi," jawab Bunda.
"Maaf ya ... Bun merepotkan," kata Yoga merasa tidak enak.
"Husssttt ... kamu itu ngomong apa, Nak!" kata Bunda terlihat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Yoga.
Tak lama Ayah Nugraha mengambil alih handphonenya, dan tersenyum saat melihat Yoga di ruang kerjanya. Ayah Nugraha membawanya menjauh sepertinya ada yang mau dibicarakan penting.
Sedangkan Rendy sedang kesal dengan Senja, karena nomornya tidak bisa dihubungi sedari siang.
Ranga yang baru turun dari lantai dua ikut bergabung apa lagi ada Rendy, sedangkan Senja dan Popy membantu Bunda menyiapkan makan malam.
"Apa kabar, Bro?" tanya Ranga.
"Alhamdulillah, baik." Jawab Rendy.
"Lo ... kenapa terlihat kesal sama gue?" Tanya Ranga
Rendy hanya diam, kalau kakaknya enggak merengek seperti tadi pastinya sekarang ia sedang dinner romantis dengan istrinya. Namun, semua gagal karena nomor Satya dan Senja enggak aktif.
Akhirnya ia membatalkan dinnernya, ia merasa kasihan dengan istrinya. Namun, Popy mau mengalah untuk makannya lain kali saja.
Rendy beruntung istrinya tidak marah, tapi dia yang jadi uring-uringan karena ulah ponakannya.
__ADS_1