PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 162


__ADS_3

Di bandara Juanda Surabaya seorang pria dan wanita yang baru sampai, sang pria dengan gaya cool berjalan sambil menggandeng tangan sang wanita.


"Sayang lain kali kamu pakai masker kalau bepergian," katanya.


Hanum menatap wajah pria yang dingin di sampingnya.


"Apa Anda malu saat berjalan dengan wanita pilihanmu sendiri, Tuan!" Katanya kesal.


"Bukan itu, aku hanya tak ingin kamu jadi perhatian pria lain!" Tegasnya


"Hai, apa Anda enggak sadar sedari tadi mereka memperhatikan wajah tampanmu, menyebalkan!" Gerutunya.


"Jangan cemburu, tetap Hanum dalam hatiku," rayunya sambil mengecup pipi sang istri.


Hanum terkejut refleks ia menghentikan langkahnya, melihat itu Afkar hanya terkekeh geli.


"Kamu baru aku cium sudah shock, bagaimana malam pertama nanti," bisiknya di telinga istrinya.


Hanum langsung mengalihkan pandangannya, gadis itu yakin sekarang pasti wajahnya sudah seperti udang rebus.


"Astagfirullah, Ya Allah kuatkan imanku. Yang, kalau lihat kamu merona malu begitu jadi gemes, ingin segera pesan kamar hotel," kata Afkar sambil mengusap wajahnya.


"Ya Allah, kenapa suamiku jadi begitu mesum," katanya lirih.


Kini keduanya sudah di dalam taksi dan langsung menuju hotel dimana tempat resepsi si kembar.


Afkar yang sudah lebih dulu memesan kamar untuk istirahat sebelum menghadiri acara resepsi bosnya.


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, keduanya sampai di hotel bintang lima.


"Kamu tinggi di sini," kata Afkar lalu dia berjalan ke arah resepsionis untuk mengkonfirmasi kamarnya.


Setelah selesai, keduanya menuju dimana letak kamarnya di antarkan oleh petugas hotel.


Hanum begitu kagum dengan interior kamar yang akan ditempatinya.


"Mas, ini pasti mahal," katanya sambil membuka balkon kamarnya.


Afkar yang baru siap dari kamar mandi hanya tersenyum, kemudian dia ikut sang istri untuk melihat keindahan kota Surabaya dari tempatnya berdiri.


"Apa kamu senang sayang?" Tanya Afkar sambil menarik tubuh Hanum agar lebih dekat dengan tubuhnya.


"Mas, ini masih siang," katanya dengan malu.


"Jadi kalau malam boleh," godanya


Wajah Hanum semakin merona atas apa yang dilontarkan suaminya itu, tapi akhirnya dia mengangguk membuat Afkar begitu senang seakan tidak sabar menunggu malam tiba.


Pria itu bisa saja melakukannya sekarang, tapi dia khawatir kalau nanti sang istri tidak bisa berjalan karena ulahnya. Apalagi nanti masih harus menghadiri acara Arga dan Ranga.


Afkar mengecup kening Hanum, ia baru merasakan begini rasanya pacaran dalam keadaan halal.

__ADS_1


"Sayang, kamu bersih-bersih dulu ya. Aku mau keluar sebentar," pamitnya.


"Iya Mas, jangan lama-lama aku asing kalau di tempat baru sendirian," ujarnya.


"Pasti sayang," ucapnya sambil mengecup kening Hanum, tapi sedetik kemudian ia mengecup bibir ranum istrinya sekilas.


"Mas!" Kata Hanum yang terkejut.


"Nyicil!" teriak Afkar sambil keluar dari kamar.


"Nyicil? Ada-ada saja seperti bayar hutang!" gerutunya sambil menggelengkan kepalanya.


Hanum segera membersihkan diri karena sudah merasa gerah, karena cuaca di Surabaya begitu terik hari ini. Gadis itu segera mengambil baju ganti dan membawanya ke kamar mandi.


***


Afkar yang menghubungi Arga, dan sudah tahu dimana keluarga besar berkumpul, tapi sebelumnya pria itu membeli gaun untuk sang istri untuk pergi ke resepsi nanti.


Pria itu tersenyum saat melihat Arga menunggunya di depan ruangan, keduanya berjabat tangan.


"Mana bini lo?" tanya Arga.


"Ada di kamar sedang istirahat," jawabnya.


Keduanya berjalan menuju di mana keluarga besar sedang berkumpul, Afkar begitu takjub bagaimana semua keluarga dari Nugraha berkumpul. Matanya menatap tak percaya saat melihat gadis yang dulu menolaknya mentah-mentah.


"Bos dia ada disini?" tanya Afkar.


Arga mengikuti pandangan asistennya itu, pria itu tersenyum sinis. Ia bersyukur karena Afkar tak jadi sama Rania.


"Lo sakit?' tanya Arga menatap wanita yang sedang hamil tua itu.


"Enggak, cuma sakit pinggang saja, tapi kata Tante Mela wajar karena aku lagi hamil tua," ujarnya sambil duduk di samping suci.


"Kak Afkar, Hanum mana?" tanya Senja.


"Sedang istirahat di kamar," jawabnya.


"Kenapa enggak lo bawa ke sini ada kamar di sini," kata Satya.


"Tidak masalah, gue sudah pesan kamar khusus bulan madu," jawabnya sambil tersenyum.


"Sombong lo!" kata Arga.


Satya terkekeh, ia tidak terbayang sama Arga akhirnya harus puasa walaupun sudah sah, Afkar yang tidak tahu apa-apa hanya menatap bosnya itu yang terlihat kesal.


Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, para undangan satu persatu sudah datang, sedangkan Arga dan Rangga masih duduk santai di kursi ruang tunggu, tak lama dua bidadari berjalan dengan susah payah karena gaun keduanya yang terlalu panjang, tanpa disuruh kedua pria itu menghampiri istri masing-masih.


Satya dan Yoga sibuk untuk mengantarkan pengantin baru menuju ke pelaminan diikuti oleh Ayah Nugraha dan istri, sedangkan Bunda Fifi berjalan beriringan dengan Leon. Senja yang duduk dengan Hanum di ruang tunggu bisa melihat acara yang meriah itu lewat televisi yang langsung terhubung.


Mata Senja melebar saat melihat suaminya jalan beriringan bersama Rania, kedua tangannya mengepal. Hanum melihat itu mengikuti arah pandang istri bosnya itu.

__ADS_1


"Dia siapa?" tanyanya 


"Sepupu suamiku," jawa Senja dengan tatapan lurus ke depan.


"Au," rintih Senja memegang perut bagian bawahnya.


"Kenapa Mbak?" tanya Hanum panik.


"Perutku sakit banget Hanum," jawabnya sambil mencengkeram lengan istri Afkar itu.


Hanum melihat jam sudah pukul sepuluh, tapi undangan masih terlihat banyak, gadis itu menghubungi suaminya tapi sayangnya tidak diangkat.


Senja duduk bersandar di sofa dengan keringat membasahi keningnya, di tempat lain Mentari merasakan perutnya semakin sakit, perasaan dia tidak makan yang aneh-aneh, tapi begitu mules perutnya.


Wanita itu beranjak berdiri diikuti oleh Popy adik iparnya, "Kamu tunggu saja, perutku mules, Pop."


"Tapi Mbak."


"Tidak apa-apa." ujarnya.


Mentari berjalan keluar dari ruangan untuk mencari toilet, tapi langkahnya belum sampai ia sudah terduduk sambil memegang perutnya.


"Ya Allah kenapa sakit sekali," rintihnya.


Seorang pelayan mendatanginya, "Ibu kenapa?" 


"Perut saya sakit Mbak," jawabnya.


"Apa mau melahirkan?" tanyanya.


"Kayaknya belum soalnya masih lama ini baru tujuh bulan," jawabnya sambil menahan sakit.


Pelayan itu memanggil salah satu rekannya, untuk meminta bantuan. Mentari mengambil ponselnya untuk menghubungi Yoga, sayangnya telepon suaminya tidak aktif.


"Ya Allah, Mas. Kenapa saat seperti ini nomornya tidak aktif.


Popy yang dari tadi gelisah, akhirnya mencari kakak iparnya itu. Wanita itu terkejut saat melihat Mentari dipapah orang yang tak dikenalnya.


"Mbak kenapa?" tanya Popy panik.


"Perutku sakit," jawabnya.


"Ya Allah bagaimana ini, Kak tolong jagain saya panggil suaminya!" pinta nya Langsung lari menuju tempat resepsi seakan tidak ingat kalau dia juga sedang hamil.


Popi berlari dan matanya mencari sosok Yoga, tapi karena tidak memperhatikan jalan ia menabrak wanita yang juga terlihat panik.


"Hanum, apa kamu lihat Yoga?" tanya popy.


"Tidak saya juga lagi cari Tuan Satya, itu istrinya sakit perut!" katanya panik


"What?" Tanya Popy terkejut.

__ADS_1


Bersambung ya….


Jujur ngebayangin Senja dan Mentari sesak napas saya ngetiknya.🤭


__ADS_2