
Setelah selesai memeriksa kini perawat memindahkan Ranga ke ruang rawat.
Satya mengirimkan pesan kepada Ayahnya jika Ranga sudah melewati masa kritisnya.
Kini Ketiganya sudah berada di ruang rawat Ranga, Diana dengan setia menemani suaminya. Air matanya tidak berhenti mengalir dari sumbernya.
"Diana kamu pulang ya istirahat, besok ke sini lagi," ujar Leon yang tidak tega melihat adiknya seperti itu.
Diana hanya menggelengkan kepala, wanita itu ingin selalu ada berada di dekat suaminya.
Satya yang melihat Diana menggelengkan kepala hanya bisa menarik napas dalam. Kemudian ia menghampiri adik iparnya.
"Diana, Ranga pasti akan sedih saat melihatmu seperti ini saat ia sadar nanti," ujar Satya.
Diana terdiam, wanita itu tahu sekarang ia begitu berantakan, ia mengangguk membuat Leon merasa lega. Setelah pamit kepada Satya keduanya keluar dari ruang rawat Ranga.
Perlahan Ranga mengerjapkan matanya, pria hanya bisa melihat sinar yang begitu menyilaukan, ia tadi mendengar suara istrinya, saat akan memanggil Diana entah kenapa rasanya suara itu kian menjauh dan hilang begitu saja.
Satya yang melihat adiknya sadar langsung menekan tombol samping branker, tak lama dua orang perawat dan seorang dokter datang.
"Dokter adik saya sudah sadar," kata Satya.
Dokter segera memeriksa Ranga, sedangkan Satya dipersilahkan keluar lebih dulu oleh perawat. Satya kini duduk di ruang tunggu, ada rasa was-was karena dokter juga belum keluar.
Setelah dua puluh menit dokter keluar dan tersenyum menatap Satya, Melihat itu Satya merasa heran karena pria itu tersenyum dan bertanya." Bagaimana, Dok?"
"Alhamdulillah, Semua baik-baik saja. Untuk pembekuan darah di kepalanya akan meminum obat saja cukup," ujar dokter itu sambil tersenyum dan pergi begitu saja.
Satya masuk ruang rawat Ranga, dilihatnya pria itu sedang menatapnya sambil tersenyum. Dan menunjuk air di atas meja.
"Lo itu kalau ada masalah cerita napa!" kata Satya rasanya ingin sekali memukul Ranga yang sedang berbaring sambil terkekeh.
"Gue hanya main-main, tapi sampai kayak gini," kata Ranga santai.
"Tidurlah ini masih malam," kata Satya yang melihat benda kecil yang melingkar di tangannya.
"Sat, Bunda mana?" tanya Ranga dengan wajah sendu.
"Bunda di rumah, lo ada masalah apa?" tanya Satya dengan raut wajah datarnya.
Ranga menarik napas panjang dan menceritakan apa yang membuatnya keluar saat malam hari, mendengar itu Satya hanya menarik napas.
"Lo salah sangka, hari ini lo ulang tahun, terus Diana mau buat kejutan minta tolong Alan, Leo dan Deo," ujar Satya.
Ranga menautkan kedua alisnya, ia mencoba mencerna apa yang disampaikan oleh Satya dan berkata."Jadi Diana enggak selingkuh."
__ADS_1
"Ya enggaklah, hampir anak lo jadi anak yatim," kata Satya sambil duduk di sofa karena ia merasa lelah.
"Anak?" tanya Ranga.
"Iya, Diana sedang hamil." ujar Satya.
Deg, Ranga terkejut dan saat bangun, ia merasakan tangannya sakit karena jarum infus masih terpasang di tangannya.
"Dasar ceroboh!" bentak Satya yang langsung memanggil perawat karena darah segar mengucur dari tangan Ranga. karena selang infusnya terlepas.
Perawat langsung menghentikan darah dan kembali lagi memasang jarum yang baru. Satya hanya menggelengkan kepala melihat Ranga yang sudah terlihat pucat.
"Istirahatlah!" perintah Satya.
"Sat, lo serius kalau Diana hamil?" tanya Ranga dengan suara lemahnya.
"Iya, tadi juga ada di sini. Namun, gue bujuk pulang," ujar Satya.
Ranga terdiam, alangkah bodohnya dirinya yang cemburu dan berprasangka yang tidak-tidak kepada istrinya.
Satya melihat Ranga sedang menatap langit-langit kamarnya hanya bisa menarik napas dan berkata." Nyesel lo."
"Gue merasa bersalah, Bos," ujar Ranga.
"Bukan hanya Diana, Bunda begitu kecewa saat tahu balapan liar. Untung ada Radit dan Faisal," kata Satya.
Satya melotot, ia begitu kesal kepada pria yang sudah dianggap adik itu dan berkata." Lo hampir buat kita panik dan khawatir, sekarang lo khawatir dengan motor Faisal."
Ranga mengernyitkan keningnya melihat Satya marah padanya, dari situ ia yakin kalau dirinya tidak parah berarti motor hancur.
"Apa motornya hancur?" tanya Ranga merasa tidak ada yang salah.
"Bukan hanya hancur, tapi hangus!" kata Satya kesal.
"What? bos lo serius! gue lagi mau beli rumah buat Diana," kata Ranga.
Satya yang kesal, keluar begitu saja dari ruang rawat Ranga. Pria itu tidak habis pikir kalau ia dan keluarganya begitu khawatir, Hingga pagi menjelang ia masih duduk di depan ruang rawat Ranga sambil memejamkan matanya.
Tangan lembut mengusap bahunya, perlahan Satya membuka matanya. Dilihatnya kedua orang tuanya sudah ada di depannya.
"Kenapa tidur sini?" tanya Bunda.
Satya menceritakan kepada kedua orang tuanya tentang obrolannya tadi malam, mendengar itu Ayah Nugraha dan Bunda tergelak.
"Kamu pulang saja, pasti butuh istirahat, "kata Bunda.
__ADS_1
"Satya ada meeting pagi ini, Bun," ujar Satya.
Ayah Nugraha yang sudah memeriksa agenda putranya akhirnya hanya mengangguk.
Namun, sebelum pulang Satya pamit dulu kepada Ranga. Setelah itu barulah ia pulang bersama Pak Yanto.
Ayah Nugraha dan istrinya menghampiri putranya itu. Tanpa ragu wanita itu menarik telinga Ranga ia begitu kesal karena anaknya itu hanya cengengesan.
"Aduh, Bunda sakit," kata Ranga dengan manja.
"Kamu buat Bunda nggak bisa tidur semalaman, "ujar Bunda.
"Maaf ,"kata Ranga sambil menggenggam tangan Wanita yang begitu berjasa dalam hidupnya itu.
"Kamu harus kuat karena sebentar lagi akan menjadi Ayah," ujar Ayah Nugraha.
Ranga tersenyum, ia juga begitu bahagia karena ia merasa bisa membuktikan kalau ia bukan pria kaleng-kaleng.
Saat ketiganya sedang asik mengobrol masuk Faisal dan Radit untuk menjenguk Ranga.
"Udah baikan lo, asik bisa balapan lagi," goda Faisal yang langsung ke kena pukul pakai bantal sofa di sampingnya.
"Bunda, Ampun," mohon Faisal.
Radit terkekeh, saat melihat sahabatnya dipukul sama wanita yang ia tahu Bundanya Satya.
"Kalian kalau mau mengganggu, jangan di sini!",sentak Bunda.
"Fai, motor lo nggak apa-apa, Kan?" tanya Ranga lirih.
"Motor Faisal nggak hancur, tapi hangus," jawab Radit.
Mata Ranga melotot tidak percaya, bukannya ia sudah menghindari dari pohon itu. Bunda mendengar itu menutup mulutnya, Ia beruntung anaknya tidak mengalami cedera serius.
"Ini kalian jadikan pelajaran, untuk kamu juga Ranga!" kata Bunda tegas.
"iya Bun," jawab ketiga pria itu bersamaan.
"Apa yang kalian peroleh dari balapan liar itu, Kamu Radit apa kamu nggak pikirkan anak dan istrimu, hem!" Bunda menatap tajam ketiganya bergantian.
"Maaf," jawab ketiganya.
Ayah Nugraha sudah menahan tawanya karena ada Dokter , Ceo Wijaya, Asisten dari grup Nugraha sedang dinasehati oleh istrinya.
"Kamu Ranga, Diana sedang hamil bukannya ditemani malah keluar dan ikut yang nggak jelas begitu.
__ADS_1
Semua terdiam hingga pintu terbuka membuat Ranga terkejut." Kamu?"
bersambung.